Mungkin, catatan ini terlalu dini saya buat di sini. Catatan yang menginspirasiku untuk menarikan daya imajinasi menjadi utuh. Tentang potongan dari sastra yang mengumbar estetika dalam berbahasa. Bagaimana menerjemahkan sebuah gelombang impuls syaraf yang kemudian disebut oleh gagasan. Gagasan inilah yang kemudian disebut nyawa dari munculnya kehidupan cerpen yang dibentuk si empunya.
Namun, estetika berbahasa dalam prosa cerpen tidak melulu bagaimana kisah itu punya kemasan indah untuk dibaca. Ada unsur yang lebih universal lagi untuk kita pahami dan kita rasakan. Terlebih, bagi yang ingin benar-benar serius menggeluti pekerjaan menerjemahkan gagasan ini menjadi cerpen.
Ada ragam abjad goresan pena beberapa pengarang yang saya yakin itu bukan sesuatu yang didapat dari kemahirannya menjeremuskan gagasan berdasarkan aturan-aturan baku. Penilaianku, abjad itu muncul dari kegigihan pengarangnya dalam mengemas sebuah cerita. Di sini abjad itu menyerupai training tabiat yang menganjurkan kepribadian pengarangnya menuliskan jejak-jejak peristiwa. Semakin terasah kemahirannya, semakan tajam pula insting-insting pengarang itu menajamkan naluri berceritanya.
Lalu, mengapa goresan pena ini muncul dan kemudian tidak saya publish ke publik sebagai argumentasi yang mereka perlu juga mengetahui ini?
Jawabanku tidak. Sebab ini bukan sebuah isu yang sanggup saya pertanggungjawabkan. Argumentasi ini perlu saya uji untuk sanggup memperlihatkan jalan atas kehendak menentukan jalan menulis cerpen. Aku menuliskan pendapatku di sini sebagai potongan dari pembuktian pada hakikat menulis cerpen ala gaya dan karakteristikku sendiri.
Sampai di sini, amat terang bahwa saya sedang membaca karakterku sendiri dalam menulis. Karakter yang mengokohkan kekhasanku dalam menuturkan cerita. Bagian dari ciri-ciri menulis yang membedakan saya dengan pengarang-pengarang yang lain.
Kemudian, saya akan membebaskan dan memproklamirkan kemerdekaan diriku melalui karya-karya sebagai wujud diplomasi ke-akuanku dalam bergaya sastra. Meskipun begitu, saya terlalu dini mengakui dan memperkenalkan karakteristikku bersastra.
Karakter dari seorang pengarang bukan dinilai dari evaluasi pengarang itu sendiri. Pengarang hanya membatasi diri dari keingianannya meramu isu di kepalanya, yang berwujud gagasan itu, kemudian melemparkannya kepada pembaca. Apresiasi macam apa yang diterima pembaca setelahnya yakni evaluasi objektif atas suka-tidaknya dengan gaya penuturran-penuturanku bercerita. Dengan begitu, dikala mulai menyadari ada kekhususanku mendikter cerita, mereka juga menyimpan indikator-indikator dari kisah yang saya usung.
***
Seperti hari ini, saya membaca beberapa karya pengarang ternama. Cerpen pertama, kemudian saya jadikan sebagai refrensi karakter, dari seorang cerpenis wanita, Yetti KA. Cerpennya berjudul "Ia yang menyimpan Api di hatinya" amat meninggalkan bekas sesudah kumembacanya. Mengapa? Karena kisah ini bukan ending yang menjadi tujuan dari cerita. Tapi bagaimana si pengarang meledakkan emosi dari setiap jalinan-jalinan ceritanya. Emosi mengakibatkan kekuatan terbesar pada cerpen ini. Cerpen yang kemudian berlanjut pada pemahaman dan filosofi kehidupan serta pemberontakan emosi yang meluap.
Beralih pada cerpen selanjutnya. Meski sesudah membaca cerpen milik Yetti KA telah membuatku haus pada kisah yang lebih baik darinya, telah membuatku malas melanjutkan baris-baris cerpen selanjutnya yang kubaca. Namun, harapan mengetahui abjad dari cerpen telah meronggotiku untuk mencarinya.
Aku beralih membaca cerpen terbitan Media Indonesia. Aku menentukan Media Indonesia alasannya yakni redaktur untuk cerpennya yakni Damhuri Muhammad. Seorang cerpenis yang kukenal lewat cerpen "Talang Perindu" di koran lokal daerahku. Aku menghipotesa gaya-gaya Damhuri Muhammad dalam mendapatkan abjad cerpen macam apa yang menarik minatnya untuk mempubllikasi cerpen kontributor.
Aku membaca 2 cerpen terbitan ahad terakhir. Pertama berjudul "Mariantje dan Pasangan Tua" milik Erni Aladjai. Cerpen ini mengisahkan Mariantje seorang pembantu di rumah pasangan tua--Luna dan Don. Alur kisah ini bekerjsama sederhana, namun pengarangnya memasukan unsur-unsur kehidupan yang lebih padat. Sehingga, kisah ini semakin kenyal dan berisi serta penuturan yang semakin menguji imajinasi.
Cerpen kedua berjudul "Ayat Kedelapan", milik Budi Hatees. Mengisahkan seorang mubaligh yang sering merasa dihantui oleh seorang pembunuh, sementara pembantunya--santri yang sering membantunya, Yusuf--memberikan ending dengan menerangkan bahwa simpulan hidup mestipun tak diminta niscaya akan tiba menjemput siapa saja.
Cerpen dari Media Indonesia ini ternyata lebih mendoktrin wacana nilai-nilai humanitas kemanusiaan. Lebih menyadarkan dan mengutamakan misi pencerahan bagi pembacanya. Aku tidak tahu apakah abjad dari redaktur, Damhuri Muhammad, yakni seorang visonis ataupun bagaimana.
Untuk kedua cerpen ahad terakhir, saya menjawab hipotesas awalku. Bahwa, Damhuri lebih mengutamakan misi penyampaian gagasan-gagasan pencerahan untuk sanggup ia loloskan kepada pembacanya.
Berbeda dengan Media Indonesia dengan Kompas. Seperti cerpen Yetti KA tadi, cerpen yang lebih saya nilai sebagai eksplorasi emosional dibandingkan pencerahan. Tampaknya, Kompas benar-benar lebih mengutamakan abjad dalam cerpen yang akan diterbitkannya. Gaya-gaya cerpen yang saya baca beberapa ahad ini, ternyata lebih mempunyai gaya-gaya yang tidak umum saya temukan di cerpen-cerpen yang seirng saya baca. Gaya yang lebih menohok pada pembagian terstruktur mengenai naluri-naluri cerita, juga alur-alur yang lebih mengedepankan "bagaimana" dibandingkan "mengapa" dalam menjelaskan cerita-cerita. Bagaimana menjelaskan keadaan, bukan menjelaskan alasan-alasan. Alhasil, cerpen kompas menjadi koran yang semakin sulit ditembus dan ditebak minat redakturnya untuk mempublikasikan seluruh karya-karya kontributornya. Meski begitu, nama-nama besar cerpenis yang sering memunculkan karyanya juga sering dikatakan alasan terbesar redaktur meloloskan karya mereka terbit.
Indramayu, 31/05/2013
Opini ini pernah saya arsipkan di tahun 2013. Belum pernah saya publish ke publik dan tersimpan rapih di 'catatan' facebook.
Namun, estetika berbahasa dalam prosa cerpen tidak melulu bagaimana kisah itu punya kemasan indah untuk dibaca. Ada unsur yang lebih universal lagi untuk kita pahami dan kita rasakan. Terlebih, bagi yang ingin benar-benar serius menggeluti pekerjaan menerjemahkan gagasan ini menjadi cerpen.
Baca juga: Epigonis Bagi seseorang yang Memulai jadi Penulis
Ada ragam abjad goresan pena beberapa pengarang yang saya yakin itu bukan sesuatu yang didapat dari kemahirannya menjeremuskan gagasan berdasarkan aturan-aturan baku. Penilaianku, abjad itu muncul dari kegigihan pengarangnya dalam mengemas sebuah cerita. Di sini abjad itu menyerupai training tabiat yang menganjurkan kepribadian pengarangnya menuliskan jejak-jejak peristiwa. Semakin terasah kemahirannya, semakan tajam pula insting-insting pengarang itu menajamkan naluri berceritanya.
Lalu, mengapa goresan pena ini muncul dan kemudian tidak saya publish ke publik sebagai argumentasi yang mereka perlu juga mengetahui ini?
Jawabanku tidak. Sebab ini bukan sebuah isu yang sanggup saya pertanggungjawabkan. Argumentasi ini perlu saya uji untuk sanggup memperlihatkan jalan atas kehendak menentukan jalan menulis cerpen. Aku menuliskan pendapatku di sini sebagai potongan dari pembuktian pada hakikat menulis cerpen ala gaya dan karakteristikku sendiri.
Sampai di sini, amat terang bahwa saya sedang membaca karakterku sendiri dalam menulis. Karakter yang mengokohkan kekhasanku dalam menuturkan cerita. Bagian dari ciri-ciri menulis yang membedakan saya dengan pengarang-pengarang yang lain.
Kemudian, saya akan membebaskan dan memproklamirkan kemerdekaan diriku melalui karya-karya sebagai wujud diplomasi ke-akuanku dalam bergaya sastra. Meskipun begitu, saya terlalu dini mengakui dan memperkenalkan karakteristikku bersastra.
Karakter dari seorang pengarang bukan dinilai dari evaluasi pengarang itu sendiri. Pengarang hanya membatasi diri dari keingianannya meramu isu di kepalanya, yang berwujud gagasan itu, kemudian melemparkannya kepada pembaca. Apresiasi macam apa yang diterima pembaca setelahnya yakni evaluasi objektif atas suka-tidaknya dengan gaya penuturran-penuturanku bercerita. Dengan begitu, dikala mulai menyadari ada kekhususanku mendikter cerita, mereka juga menyimpan indikator-indikator dari kisah yang saya usung.
***
Seperti hari ini, saya membaca beberapa karya pengarang ternama. Cerpen pertama, kemudian saya jadikan sebagai refrensi karakter, dari seorang cerpenis wanita, Yetti KA. Cerpennya berjudul "Ia yang menyimpan Api di hatinya" amat meninggalkan bekas sesudah kumembacanya. Mengapa? Karena kisah ini bukan ending yang menjadi tujuan dari cerita. Tapi bagaimana si pengarang meledakkan emosi dari setiap jalinan-jalinan ceritanya. Emosi mengakibatkan kekuatan terbesar pada cerpen ini. Cerpen yang kemudian berlanjut pada pemahaman dan filosofi kehidupan serta pemberontakan emosi yang meluap.
Beralih pada cerpen selanjutnya. Meski sesudah membaca cerpen milik Yetti KA telah membuatku haus pada kisah yang lebih baik darinya, telah membuatku malas melanjutkan baris-baris cerpen selanjutnya yang kubaca. Namun, harapan mengetahui abjad dari cerpen telah meronggotiku untuk mencarinya.
Aku beralih membaca cerpen terbitan Media Indonesia. Aku menentukan Media Indonesia alasannya yakni redaktur untuk cerpennya yakni Damhuri Muhammad. Seorang cerpenis yang kukenal lewat cerpen "Talang Perindu" di koran lokal daerahku. Aku menghipotesa gaya-gaya Damhuri Muhammad dalam mendapatkan abjad cerpen macam apa yang menarik minatnya untuk mempubllikasi cerpen kontributor.
Aku membaca 2 cerpen terbitan ahad terakhir. Pertama berjudul "Mariantje dan Pasangan Tua" milik Erni Aladjai. Cerpen ini mengisahkan Mariantje seorang pembantu di rumah pasangan tua--Luna dan Don. Alur kisah ini bekerjsama sederhana, namun pengarangnya memasukan unsur-unsur kehidupan yang lebih padat. Sehingga, kisah ini semakin kenyal dan berisi serta penuturan yang semakin menguji imajinasi.
Cerpen kedua berjudul "Ayat Kedelapan", milik Budi Hatees. Mengisahkan seorang mubaligh yang sering merasa dihantui oleh seorang pembunuh, sementara pembantunya--santri yang sering membantunya, Yusuf--memberikan ending dengan menerangkan bahwa simpulan hidup mestipun tak diminta niscaya akan tiba menjemput siapa saja.
Cerpen dari Media Indonesia ini ternyata lebih mendoktrin wacana nilai-nilai humanitas kemanusiaan. Lebih menyadarkan dan mengutamakan misi pencerahan bagi pembacanya. Aku tidak tahu apakah abjad dari redaktur, Damhuri Muhammad, yakni seorang visonis ataupun bagaimana.
Untuk kedua cerpen ahad terakhir, saya menjawab hipotesas awalku. Bahwa, Damhuri lebih mengutamakan misi penyampaian gagasan-gagasan pencerahan untuk sanggup ia loloskan kepada pembacanya.
Berbeda dengan Media Indonesia dengan Kompas. Seperti cerpen Yetti KA tadi, cerpen yang lebih saya nilai sebagai eksplorasi emosional dibandingkan pencerahan. Tampaknya, Kompas benar-benar lebih mengutamakan abjad dalam cerpen yang akan diterbitkannya. Gaya-gaya cerpen yang saya baca beberapa ahad ini, ternyata lebih mempunyai gaya-gaya yang tidak umum saya temukan di cerpen-cerpen yang seirng saya baca. Gaya yang lebih menohok pada pembagian terstruktur mengenai naluri-naluri cerita, juga alur-alur yang lebih mengedepankan "bagaimana" dibandingkan "mengapa" dalam menjelaskan cerita-cerita. Bagaimana menjelaskan keadaan, bukan menjelaskan alasan-alasan. Alhasil, cerpen kompas menjadi koran yang semakin sulit ditembus dan ditebak minat redakturnya untuk mempublikasikan seluruh karya-karya kontributornya. Meski begitu, nama-nama besar cerpenis yang sering memunculkan karyanya juga sering dikatakan alasan terbesar redaktur meloloskan karya mereka terbit.
Indramayu, 31/05/2013
Opini ini pernah saya arsipkan di tahun 2013. Belum pernah saya publish ke publik dan tersimpan rapih di 'catatan' facebook.

Post a Comment