Halloween Costume ideas 2015

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Cerpen: Saksikanlah Aku, Bu! Saya Bangun Di Sini Dengan Seragam Togaku

Aku turun selepas sambutan yang saya bawa sebagai perwakilan wisuda. Seragam melekat pada kebesaran badan kami yang telah rampungkan masa-masa berguru di sekolah tinggi. Aku dan beberapa temanku sering melempar harapan di manakah nantinya kita akan bertemu kembali. Jawabannya dengan beberapa pengharapan supaya suatu masa kami sanggup bertemu dan mengenang masa-masa kuliah di sini.

 Aku turun selepas sambutan yang saya bawa sebagai perwakilan wisuda Cerpen: Saksikanlah aku, Bu! Aku bangun di sini dengan seragam togaku


Namun, di samping harapan yang selalu kami jajakan kepada teman-temanku yang entah terwujud kapan, saya menunggu ibuku tiba menjemputku kemudian bangun di sampingku dan mengabadikannya dalam bingkaian jepertan tustel. Foto  itu nantinya akan kami pajang besar-besar melengkapi foto keluarga di kamar tamu rumahku. Sayangnya, hampir program ini rampung, ibuku belum hadir juga.

Aku  ingat ketika dia melepaskan saya untuk pertama kalinya. Senang bercampur sedih ketika mengantarkan saya keluar rumah. Katanya, "Kamu harus benar-benar serius mengejar cita-citamu itu, Nak. Jangan pikirkan ibu nanti ketika Kau menuntut ilmu." Maka sederati butiran air mata haru melinang di pipi ibu. Aku  ingin memeluknya ketika itu, sayangnya dia menapik. Ibu minta saya bersegara berangkat sebab kereta yang saya tumpangi itu bisa terlambat.

Aku  tahu saya begitu terlambat memberi kabar ibu bawa saya sudah lulus dari universitas favoritku. Cita-cita yang selalu saya ingin buktikan tatkala orang lain begitu gagu untuk mewujudkannya. Bagiamanapun saya tidak mau teracuni anutan ndeso bahwa ijazah kuliah tidak menjamin kehidupan mapan seorang anak. Lebih-lebih, ibuku hanya seorang penjual jamu gendong. Cibiran dan sindiran bisa saja menciptakan hidup ibu sepeninggalku di kampung putus asa. Dan itu terbukti, ketika dia sering kali memintaku pulang ketika telpon mengabarinya tidak bisa memberiku biaya hidup di Jakarta.

Sungguhpun saya tidak ingin membebani ibu. Aku  meyakini usahaku yang jerih. Aku tidak peduli pada harga diri yang seriing mencerca bahwa saya ini yaitu mahasiswa. Demi menyambung hidup dan mimpi, saya sudi memungut sampah dan mengumpulkannya menjadi barang jadi yang entah didaur ulang menjadi apa. Aku hanya pemulung yang kemudian dijual perkilonya dengan upah yang kubutuhkan menyambung hidup. Kadang pula saya mencuci pakaian teman-teman demi upah sesuap nasi bungkus yang saya makan menambal rasa lapar setiap saat. Tapi, semua yang saya lakukan itu, ibu tidak pernah tahu dan saya tidak mau hingga ibu mengetahuinya.

Kami berdiri, menanti urutan nama kami dipanggil rektor. Menyaksikan anaknya ini disebut ke depan pada ritual pemindahan bandul di topi toga: Tentu menjadi syarat haru. Aku masih menunggu ibu. Aku tahu ibu niscaya datang, saya minta Awang—pamanku-- supaya mengantar ibu hingga ketempat wisuda. Biaya ibu nanti saya ganti di sini, yang penting bagiku yaitu kehadirannya di sini. Begituulah mintaku pada Awang seminggu sebelum program ini tergelar

Nama-nama lulusan dibacakan dengan lantang. Sepertinya formasi nama yang disebut itu dari fakultas lain. Aku kenal Rahmadi Jayadhipa, nama yang gres saja disebut. Disusul temannya, yang juga saya kenal sering bersama Rahmadi. Nama selanjutnya memang dari teman-teman fakultas Rahmadi. Aku sering melongok ke pintu masuk, mungkinkah ada orang yang saya kenal darikampung. Awang, atau siapalah yang mengantarkan ibu menyaksikan namaku disebut ke depan podium.

Setengah jam kemudian, nama dari temanku yang satu fakultas disebut. Degup jantungku mengencang. Keringatku memeras. Seorang sahabat menyadarkanku, “Kamu kenapa Riyan? Kamu gugup?”

Aku menggeleng, tertunduk, kemudian mengatur ketenanganku supaya tak terbaca kegelisahanku. Sesekali saya melongok pintu itu. Tidak ada wajah yang saya kenal. Aku lempar senyum kepada temanku itu. “Kamu tiba bersama keluargamu?”

Dia pun tersenyum, dia menunjukkan ke arah orang tuanya. Di sana ada senyum senang dari seseorang yang duduk di barisan orang tua. Aku begitu senang padanya. Sungguh, jikalau ibu pun duduk di sana, bersama orang bau tanah kami. Aku sungguh merasa duniaku penuh dengan rasa bangga. Sayangnya, hingga lima belas menit berlalu tidak ada ssama sekali wajah yang saya kenal dari kampung.

Mungkin saya harus merelakan bahwa program yang sungguh membuatku merasa mempunyai sejarah ini tidak dihadiri oleh ibuku. Aku hanya ingin pertanda bahwa keinginan almarhum ayah terwujud di sini. Di kawasan ini. Meski kadang ibu selalu menggeleng-gelengkan kepala bercampur tangisnya mengenang almarhum. Kuyakinakn itu bahwa saya sanggup membuatnya tersenyum melihat anaknya sanggup menyemat gelar keserjanaan. Dan itu, kuyakinkan ibu sebelum keberangkatanku.

Sebentar lagi namaku disebut. Aku harus bersiap-siap. Berdiri, kemudian menanti giliranku. Aku yakinkan bahwa ibu memang tidak bisa menghadiri. Kuyakinkan pula bahwa saya harus tersenyum, mungkin saja ibu berhalangan. Maka keberanianku, kegelishanku, saya hampas pada setarikan napas. Meski rasa rindu pada ibu itu menggelayuti, saya yakinkan itu.

“Riyan Sutama!”

Namaku menggema, bunyi yang didengunakan pengeras bunyi itu memanggilku. Aku tegarkan. Aku yakinkan. Aku yakin ibu menyaksikan saya disebut. Entah pada kawasan mana dia berada. Entah kekuatan apa yang menyengatku, saya menyaksikan ayahku berada di pojokan ruangan itu. Pun ibuku, orang tuaku melempar senyum. Mereka tersenyum, wajahnya begitu hening dan senang. Kenapa ada bayangan ayah bersama ibu?

Aku berhenti melangkah, saya memastikan kehadiran ayah dan ibuku. Di pojok ruangan itu. Benar-benar mereka berdua hadir.

“Riyan Sutama!”

Buyar lamunanku melanjutkan langkahku. Menyalami rektor dan mendapatkan segulung ijazah, kemudian bandul toga dipindahkan. Aku sbahagia alhasil ibu datang, meski hal lain menjanggal di hati.

Aku keluar dari ruang itu kemudian mencari sosok ibu. Bersama ayah? Tidak mungkin. Aku cari hingga kupastikan wajah-wajah yang selalu kucurigai itu ibu. Nihil. Tak ada sosok ibu. Belum yakin, saya menyerupai kecemasan sendiri. Berlari ke sana ke mari mencari sosoknya. Entah berapa usang saya mengitari ruang program ini. Aku tak dapati siapapun hingga saya lemah, saya pasrah. Tubuhku saya sandarkan pada kursi yang tergelatk di ruangan sana.

“Riyan!”

Suara itu ...

“Awang?”

Awang datang. Tapi mengapa seorang diri? Dia tersenyum mendekati aku. Lalu duduk, sembari menepuk pundakku.

“Kamu ahli Awang. Ibumu niscaya bangga. Maaf, Ibumu tidak bisa menengokmu pada hari bersejarahmu itu. Dia hanya menitipkan surat ini untuk saya antar ketika program wisudamu berlangsung.”
Surat itu saya gelar lekas-lekas. Mungkinkah ibu ...

-------------------------------------------------
Riyan ...
Ibu tahu kau niscaya bisa meyakinkan dunia bahwa kau mampu. Ibu tahu kau niscaya sanggup pertanda cita-citamu dan pertanda bahwa pesan ayahmu sanggup.
Namun, maaf, Nak. Seandainya surat ini hingga kepadamu, Berarti ibu belum sembuh juga dari sakit ibu. Atau mungkin ..., ibu akan menyusul ayahmu.
Semalam ibu bermimpi, ayahmu menjemput ibu. Ibu kangen sama ayahmu, Nak. Ibu sampaikan salammu dan harapanmu bahwa kau sungguh-sungguh mewujudkan cita-citamu. Dan itu ibu saya minta Awang menuliskannya.
Ibu besar hati padamu, Nak... Selalu bangga!
---------------------------------------------- --


Aku melipat kertas itu, Menatap tajam kepada Awang, “Di mana ibu, Awang? Di mana?”

“Maaf, Yan. Ibumu ... “

“Apa, Awang!? Ibu kenapa?”

“Sehari sebelum kepulangannya, ibumu memintaku untuk menuliskan surat ini untukmu. Aku sempat menolak dan berharap ibumu saja yang menyampaikannya. Tapi ia memaksa. Aku menuliskan surat ini di samping bangsalnya. Sehari kemudian, ibumu ...,” Isakan Awan melahirkan lelehan mata di pipiku. Aku ...

Duniaku tertutup awan sedih di hari yang cerah. Ibu, saya tahu saya terlambat menyampaikannya. Bahwa saya telah lulus menjadi orang yang pertama. Aku Cummlaude, Bu. Aku orang yang telah berhasil mempunyai nilai tinggi, dan itu saya ingin ibu menyaksikan aku—anakmu.

Awan cerah bagiku gelap, mendungku pecah. Ditipkan mata yang mengalir gerimis. Merindukan ibu di sini.

Indramayu, 16 Maret 2013
Labels:

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget