Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Informasi"
Adsense ANEKA AYAM ANEKA BUBUR KOLAK ANEKA CAMILAN ANEKA DAGING ANEKA ES ANEKA GORENGAN ANEKA IKAN SEAFOOD ANEKA JAJANAN ANEKA KUE ANEKA KUE BASAH ANEKA KUE KERING ANEKA MAKANAN BAYI ANEKA MIE PASTA ANEKA MINUMAN ANEKA NASI ANEKA PUDING ANEKA ROTI ANEKA SAMBAL ANEKA SAYUR MAYUR ANEKA SUP SOTO ANEKA TAHU TEMPE ANEKA TELUR Bahasa Indonesia baju Blogging Catatan Guru SD Cerpen Css/Javascript Designs harga souvenir pernikahan murah bekasi harga souvenir pernikahan murah bogor harga souvenir pernikahan murah depok harga souvenir pernikahan murah jakarta harga souvenir pernikahan murah tangerang How To Informasi Informasi Pendidikan Informasi Umum Internet IPA jual souvenir pernikahan berkualitas bali jual souvenir pernikahan berkualitas bandung jual souvenir pernikahan berkualitas banjarmasin jual souvenir pernikahan berkualitas batam jual souvenir pernikahan berkualitas bekasi jual souvenir pernikahan berkualitas bogor jual souvenir pernikahan berkualitas depok jual souvenir pernikahan berkualitas jakarta jual souvenir pernikahan berkualitas medan jual souvenir pernikahan berkualitas palembang jual souvenir pernikahan berkualitas tangerang jual souvenir pernikahan lucu bali jual souvenir pernikahan lucu bandung jual souvenir pernikahan lucu banjarmasin jual souvenir pernikahan lucu batam jual souvenir pernikahan lucu bekasi jual souvenir pernikahan lucu bogor jual souvenir pernikahan lucu depok jual souvenir pernikahan lucu jakarta jual souvenir pernikahan lucu medan jual souvenir pernikahan lucu palembang jual souvenir pernikahan lucu tangerang jual souvenir pernikahan murah bali jual souvenir pernikahan murah bandung jual souvenir pernikahan murah banjarmasin jual souvenir pernikahan murah batam jual souvenir pernikahan murah bekasi jual souvenir pernikahan murah bogor jual souvenir pernikahan murah depok jual souvenir pernikahan murah medan jual souvenir pernikahan murah palembang jual souvenir pernikahan murah tangerang jual souvenir pernikahan rekomended bali jual souvenir pernikahan rekomended bandung jual souvenir pernikahan rekomended banjarmasin jual souvenir pernikahan rekomended batam jual souvenir pernikahan rekomended bekasi jual souvenir pernikahan rekomended bogor jual souvenir pernikahan rekomended depok jual souvenir pernikahan rekomended jakarta jual souvenir pernikahan rekomended medan jual souvenir pernikahan rekomended palembang jual souvenir pernikahan rekomended tangerang jual souvenir pernikahan terlaris bali jual souvenir pernikahan terlaris bandung jual souvenir pernikahan terlaris banjarmasin jual souvenir pernikahan terlaris batam jual souvenir pernikahan terlaris bekasi jual souvenir pernikahan terlaris bogor jual souvenir pernikahan terlaris depok jual souvenir pernikahan terlaris jakarta jual souvenir pernikahan terlaris medan jual souvenir pernikahan terlaris palembang jual souvenir pernikahan terlaris tangerang jual souvenir pernikahan termurah bali jual souvenir pernikahan termurah bandung jual souvenir pernikahan termurah banjarmasin jual souvenir pernikahan termurah batam jual souvenir pernikahan termurah bekasi jual souvenir pernikahan termurah bogor jual souvenir pernikahan termurah depok jual souvenir pernikahan termurah medan jual souvenir pernikahan termurah palembang jual souvenir pernikahan termurah tangerang jual souvenir pernikahan terpercaya bali jual souvenir pernikahan terpercaya bandung jual souvenir pernikahan terpercaya banjarmasin jual souvenir pernikahan terpercaya batam jual souvenir pernikahan terpercaya bekasi jual souvenir pernikahan terpercaya bogor jual souvenir pernikahan terpercaya depok jual souvenir pernikahan terpercaya jakarta jual souvenir pernikahan terpercaya medan jual souvenir pernikahan terpercaya palembang jual souvenir pernikahan terpercaya tangerang jual souvenir pernikahan unik bali jual souvenir pernikahan unik bandung jual souvenir pernikahan unik banjarmasin jual souvenir pernikahan unik batam jual souvenir pernikahan unik bekasi jual souvenir pernikahan unik bogor jual souvenir pernikahan unik depok jual souvenir pernikahan unik jakarta jual souvenir pernikahan unik medan jual souvenir pernikahan unik palembang jual souvenir pernikahan unik tangerang Kisi-kisi Soal Komputer Label Based Sitemap Themes lainnya Matematika Materi Ajar Multimedia Opini Otak-atik Blog Pages Pedagogis Pendidikan Posts SEO Settings Sitemap Themes Tips TIPS DAN INFO Tools Tutorial Tutorial Ms. Excel Tutorial Print Widgets

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Assalamualaikum,

Kali ini saya ingin membagikan ringkasan materi soal PPG yang berkaitan dengan soal PPG. Contoh soal PPG sanggup Anda lihat dalam postingan di blog ini sebelumnya dengan judul Contoh Soal PPG. Pada soal PPG menyangkut soal-soal wacana kompetensi pedagogi. Salah satunya ialah soal wacana Teori Belajar. Guru harus paham mengenai teori-teori berguru sehingga sanggup melaksanakan pembelajaran yang lebih efektif dalam mencapai kompetensi penerima didik yang diinginkan.

 Kali ini saya ingin membagikan ringkasan materi soal PPG yang berkaitan dengan soal PPG Rangkuman Materi PPG untuk Soal PPG Bab Teori Belajar

Indikator Pencapaian Kompetensi Soal PPG pada Bab Teori Belajar


1.   Menjelaskan manfaat guru mempelajari teori belajar


Dengan memahami teori belajar, pengajar akan memahami proses terjadinya berguru pada manusia. Pengajar akan mengetahui apa yang harus dilakukan sehingga siswa sanggup berguru dengan optimal.

2.   Menjelaskan hakekat berguru dengan benar


Menurut Hudoyo (1988) berguru merupakan suatu perjuangan yang berupa acara hingga terjadi perubahan tingkah laris yang relatif  usang dan tetap. Kegiatan yang dimaksud itu sanggup diamati dengan adanya interaksi individu dengan lingkungannya.


3.   Menjelaskan teori berguru behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme dan humanisme 

a.    Behaviorisme

Pavlov

Dengan memakai rangsangan-rangsangan tertentu,  perilaku  insan sanggup berubah  sesuai  dengan apa yang diinginkan melalui 4 fase, yaitu:
1)   akuisisi,
2)   eliminasi,
3)   generalisasi,
4)   deskriminasi

Throndik

berguru ialah upaya untuk membentuk korelasi stimulus dan respon sebanyak- banyaknya, sehingga paham ini disebut paham koneksionisme.
1.   Hukum Kesiapan (law of readiness),
2.   Hukum Latihan (law of exercise),
3.   Hukum Akibat (law of effect)

Skinner

Usaha untuk memodifikasi sikap antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi  penghargaan pada sikap yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada sikap yang tidak tepat.

Bandura

orang sanggup mempelajari tindakan-tindakan gres hanya dengan mengamati bagaimana orang lain melakukannya.

Gutrie

Peningkatan hasil berguru secara berangsur-angsur sanggup dicapai oleh siswa lantaran kedekatan asosiasi antara stimulus  dan respon.

b.   Kognitivisme


Peaget

proses berpikir insan sebagai suatu perkembangan yang sedikit demi sedikit dari berpikir intelektual konkrit ke abnormal yang berurutan melalui empat periode.
1.   Periode sensori motor (0 -2 tahun),
2.   Periode pra  operasional (2 -7 tahun ),
3.   Periode operasional konkrit (7 – 11/12 tahun), dan
4.   Periode operasi formal (11/12 tahun ke atas)

Gagne

Proses yang terjadi  menyerupai cara kerja komputer, yang dimulai  dari masukan
(input) kemudian proses (procces) dan keluaran (output).
Stimulus tidak hingga kepada ingatan jangka pendek lantaran stimulus tersebut tidak sanggup menjadi perhatian, untuk itu guru perlu menyusun materi pelajaran tersebut biar gampang diingat, contohnya menyusun menurut kekompleksitasnya atau dengan jembatan keledai.

Bruner

memahami konsep-konsep dan struktur-struktur  yang  terdapat  dalam   materi yang  dipelajari   serta  mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut.

Enactive.

belajarnya memakai / memanipulasi objek-obek secara langsung.

Ikonic.

memanipulasi dengan memakai citra dari objek.

Symbolic.

memanipulasi simbol-simbol secara pribadi dan tidak lagi ada kaitannya dengan objek-objek.

Enaktif

siswa memanipulasi obyek secara langsung. Guru membawa benda konkrit berupa 3 buah jeruk kemudian guru memperlihatkan lagi 2 buah jeruk. Siswa dan guru bersama- sama  menghitung  buah jeruk, sehingga ada 5 buah jeruk.

Ikonik

Guru menyajikan gambar jeruk dipapan tulis, biar siswa mempunyai citra dari objek

Simbolik

Selanjutnya guru  menuliskan dalam simbol bilangan dipapan tulis.   3+2= 5

Ausubel

Belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa sanggup mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya.

Dienes

Setiap konsep atau prinsip matematika sanggup dimengerti secara tepat hanya bila pertama-tama disajikan kepada siswa dalam bentuk-bentuk konkrit.
1)   Permainan bebas (free play),
2)   Permainan yang memakai hukum (games),
3)   Permainan mencari kesamaan sifat (searching for comunalities),
4)   Permainan dengan representasi (representation),
5)   Permainan dengan simbulisasi (simbolization),
6)   Formalisasi (formalization).

Van Hiele

Tiga unsur utama dalam pembelajaran Geometri, yaitu waktu, materi pembelajaran, dan metode pembelajaran yang diterapkan.
Tahapan-tahapan berguru Geometri :
  1. Pengenalan bentuk suatu berdiri geometri,
  2. Analisis sifat-sifat dari berdiri geometri,
  3. Pengurutan bangun-bangun geometri yang satu dengan lainnya saling berhubungan,
  4. Deduksi, dan
  5. Akurasi

Brownell dan Van Engen

Belajar matematika itu harus merupakan berguru bermakna dan pengertian

c.    Konstruktivisme


Jean Piaget

Belajar itu tidak hanya mendapatkan informasi dan pengalaman gres saja, tetapi juga penstrukturan kembali informasi dan pengalaman yang baru.
Misalnya  di  dalam  struktur  mental  siswa  telah  ada  pengorganisasian  dan

pengelompokan bentuk-bentuk persegi, persegi panjang, jajargenjang. Kemudian siswa  diberikan berdiri trapesium,  siswa  mengerti  bahwa trapesium  merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan struktur kognitif yang telah dimilki. Berarti siswa tersebut menyatukan objek ke dalam struktur kognitif yang sudah dimilikinya dan terjadilah apa yang disebut asimilasi. Setelah itu, terjadi penstrukturan kembali konsep yang telah dimiliki siswa lantaran adanya informasi gres wacana trapesium tadi. Ini berarti terjadi akomodasi.


Vygotsky

Perkembangan kognitif terbatas dalam rentang kecil pada setiap usia dan interaksi sosial dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dibutuhkan untuk menemukan “zona perkembangan terdekat” yang dikenal dengan ZPD (Zone of Proximal Development).

Sumbangan penting teori Vygotsky ialah pemfokusan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky ialah menekankan interaksi antara  aspek  internal  dan  eksternal  dari  pembelajaran  dan  penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran.


d.   Humanisme

Humanisme memandang bahwa berguru ialah perjuangan untuk memanusiakan manusia. Proses berguru dianggap berhasil bila si pelajar memahami lingkungannya  dan  dirinya  sendiri.

Arthur Combs


Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Perilaku jelek itu sesungguhnya tak lain hanyalah  dari  ketidakmampuan  seseorang  untuk  melakukan  sesuatu yang  tidak akan memperlihatkan kepuasan baginya, sehingga yang penting ialah bagaimana  membawa  siswa  untuk  memperoleh  arti/makna  bagi  pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Maslow


Dalam   diri   individu   ada   dua   hal,  yaitu  suatu  usaha  yang  positif  untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Maslow   mengemukakan   bahwa   individu   berperilaku   dalam   upaya   untuk memenuhi kebutuhan    yang    bersifat    hirarkis.    Menurut    Maslow,    setiap individu      memiliki  kebutuhan-kebutuhan  yang tersusun  secara  hirarki  dari tingkat yang paling fundamental hingga pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada tingkatan  paling  bawah  terpenuhi  maka  akan  muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi.


Carl Rogers

 Carl  Rogers  (dalam  Suranto,  2015)  membedakan  dua  tipe  belajar,  yaitu: Kognitif (kebermaknaan) dan     experiential (pengalaman atau signifikansi). Setiap individu mempunyai impian untuk mengaktualisasi diri dan mempunyai dorongan  untuk  menjadi  dirinya  sendiri.  Karena  setiap  individu    terdapat kemampuan untuk mengerti dirinya sendiri, memilih hidupnya    sendiri, dan    menangani    sendiri    masalah    yang    dihadapinya.    Itulah sebabnya dalam proses pembelajaran hendaknya diciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif mengaktualisasi dirinya.

Menurut  Rogers  (2002)  yang  terpenting  dalam  proses  pembelajaran  ialah guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
  1. Menjadi  insan berarti  memiliki  kekuatan yang masuk akal untuk belajar.
  2. Siswa tidak harus berguru wacana hal-hal yang tidak ada artinya.
  3. Siswa     akan     mempelajari     hal-hal     yang     bermakna     bagi     dirinya.
  4. Pengorganisasian bahan  pelajaran  berarti  mengorganisasikan  bahan  dan wangsit gres sebagai potongan yang bermakna bagi siswa
  5. Pengorganisasian  bahan  pembelajaran  berarti  mengorganisasikan  materi dan wangsit gres sebagai potongan yang bermakna bagi siswa.
  6. Belajar  yang  bermakna  dalam  masyarakat  modern  berarti  berguru wacana proses.

6.   Menjelaskan tugas hakekat berguru untuk   merumuskan banyak sekali teori belajar

Untuk lebih mengoptimalkan hasil pembelajaran, guru perlu memadukan beberapa teori belajar. Namun harus diperhatikan bahwa tidak semua teori berguru sanggup dipadukan,
lantaran berangkat dari asumsi-asumsi yang berbeda dalam penyusunan teori belajar
tersebut

7.   Membedakan behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme dan humanism

a.    Behavioristik

  1. Menekankan pada stimulus dan respon dalam pembentukan perilaku.
  2. Setiap sikap sanggup dipelajari.
  3. Tingkah laris usang sanggup diganti dengan tingkah laris baru.
  4. Menekankan pada perubahan sikap yang teramati.

b.   Humanistik

  1. Menekankan pada keunikan sikap individu.
  2. Individu ialah orang yang bebas memilih apa yang dipelajarinya.
  3. Belajar dipandang sebagai pemerolehan informasi atau pengalaman dan menemukan maknanya secara personal atau pribadi.

c.    Kognitif

1.   Menekankan pada perubahan atau proses-proses mental dan sikap tidak kasat mata.

d.   Konstruktivistik sosial

  1. Pebelajar ialah orang yang secara aktif membangun pengetahuan danketerampilan melalui interaksi atau kerja sama dengan orang lain.
  2. Siswa tidak mempunyai pemahaman satu persepsi.

e.   Konstruktivistik kognitif

  1. Individu membangun pemahamannya melalui eksplorasi
  2. Menyatakan bahwa pebelajar ialah orang yang secara individual harus menemukan , mentransformasi, dan mengecek kemballi, serta merevisi informasi yang lama.
  3. Siswa mempunyai pemahaman satu persepsi.

9.   Menjelaskan prinsip-prinsip pembelajaran

  1. Proses pembelajaran ialah membentuk kreasi lingkungan yang sanggup membentukdan mengubah struktur kognitif siswa,
  2. Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. Pengetahuan tersebut ialah pengetahuan fisis, sosial dan logika.
  3. Dalam proses pembelajaran harus melibatkan tugas lingkungan sosial


Nah, itulah beberapa rangkuman materi soal PPG bila dilihat dari indikator kompetensi yang diujikan. Semoga bermanfaat
10. Menjelaskan implikasi prinsip- prinsip pembelajaran bagi siswa dan guru Sekolah Dasar. a.    Agar perhatian dan motivasi siswa menjadi lebih, guru perlu memakai model,
metode yang bervariasi. Guru perlu memakai media pembelajaran yang tepat biar perhatian dan motivasi siswa menjadi meningkat dalam mempelajari materi pembelajaran.

b.  Implikasi  dari  prinsip  keaktifan  adalah  guru  harus  berupaya  biar pembelajaran yang dilakukan menimbulkan siswa aktif berguru baik secara fisik maupun psikis dengan menggunakan   berbagai   macam   model   dan metode yang bervariasi dan juga harus menghadirkan multimedia yang tepat.

c.    Guru  harus  mementingkan  kegiatan  pembelajaran  yang  menimbulkan siswa melaksanakan acara eksperimen dari pada hanya sekedar demonstrasi.

d.   Perilaku  guru  sebagai  implikasi  dari  prinsip  pengulangan  antara  lain,  guru sanggup merancang kegiatan-kegiatan pengulangan, misalnya  memberikan  soal- soal   yang   sejenis.   Mengembangkan   soal-soal   latihan yang terstruktur. Mengembangkan petunjuk acara psikomotorik dan menyebarkan alat penilaian acara pengulangan.

e.    Perilaku   guru   sebagai   implikasi   prinsip   tantangan      antara   lain   ialah merancang dan mengelola acara eksperimen yang memperlihatkan kesempatan siswa untuk tertantang melaksanakan kegiatan   tersebut.

f.     Implikasi dari prinsip balikan dan penguatan bagi guru, perilaku-perilaku yang dilakukan guru antara lain,  perlu memberikan tanggapan yang benar dari soal- soal yang diberikan kepada siswa.

g.    guru   harus   mau   dan   mampu   mengenali     karakteristik  setiap  siswanya, sehingga sanggup memilih pembelajaran yang tepat bagi siswa tersebut.  Guru harus    berusaha    melayani    setiap    siswa    sesuai    dengan  karakteristiknya. Dalam acara pembelajaran, garu harus bisa memakai teknik yang bervariasi sehingga diharapkan sanggup melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya.


Assalamualaikum,

Kali ini saya ingin membagikan ringkasan materi soal PPG yang berkaitan dengan soal PPG. Contoh soal PPG sanggup Anda lihat dalam postingan di blog ini sebelumnya dengan judul Contoh Soal PPG. Pada soal PPG menyangkut soal-soal wacana kompetensi pedagogi. Salah satunya ialah soal wacana Teori Belajar. Guru harus paham mengenai teori-teori berguru sehingga sanggup melaksanakan pembelajaran yang lebih efektif dalam mencapai kompetensi penerima didik yang diinginkan.

 Kali ini saya ingin membagikan ringkasan materi soal PPG yang berkaitan dengan soal PPG Rangkuman Materi PPG untuk Soal PPG Bab Teori Belajar

Indikator Pencapaian Kompetensi Soal PPG pada Bab Teori Belajar


1.   Menjelaskan manfaat guru mempelajari teori belajar


Dengan memahami teori belajar, pengajar akan memahami proses terjadinya berguru pada manusia. Pengajar akan mengetahui apa yang harus dilakukan sehingga siswa sanggup berguru dengan optimal.

2.   Menjelaskan hakekat berguru dengan benar


Menurut Hudoyo (1988) berguru merupakan suatu perjuangan yang berupa acara hingga terjadi perubahan tingkah laris yang relatif  usang dan tetap. Kegiatan yang dimaksud itu sanggup diamati dengan adanya interaksi individu dengan lingkungannya.


3.   Menjelaskan teori berguru behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme dan humanisme 

a.    Behaviorisme

Pavlov

Dengan memakai rangsangan-rangsangan tertentu,  perilaku  insan sanggup berubah  sesuai  dengan apa yang diinginkan melalui 4 fase, yaitu:
1)   akuisisi,
2)   eliminasi,
3)   generalisasi,
4)   deskriminasi

Throndik

berguru ialah upaya untuk membentuk korelasi stimulus dan respon sebanyak- banyaknya, sehingga paham ini disebut paham koneksionisme.
1.   Hukum Kesiapan (law of readiness),
2.   Hukum Latihan (law of exercise),
3.   Hukum Akibat (law of effect)

Skinner

Usaha untuk memodifikasi sikap antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi  penghargaan pada sikap yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada sikap yang tidak tepat.

Bandura

orang sanggup mempelajari tindakan-tindakan gres hanya dengan mengamati bagaimana orang lain melakukannya.

Gutrie

Peningkatan hasil berguru secara berangsur-angsur sanggup dicapai oleh siswa lantaran kedekatan asosiasi antara stimulus  dan respon.

b.   Kognitivisme


Peaget

proses berpikir insan sebagai suatu perkembangan yang sedikit demi sedikit dari berpikir intelektual konkrit ke abnormal yang berurutan melalui empat periode.
1.   Periode sensori motor (0 -2 tahun),
2.   Periode pra  operasional (2 -7 tahun ),
3.   Periode operasional konkrit (7 – 11/12 tahun), dan
4.   Periode operasi formal (11/12 tahun ke atas)

Gagne

Proses yang terjadi  menyerupai cara kerja komputer, yang dimulai  dari masukan
(input) kemudian proses (procces) dan keluaran (output).
Stimulus tidak hingga kepada ingatan jangka pendek lantaran stimulus tersebut tidak sanggup menjadi perhatian, untuk itu guru perlu menyusun materi pelajaran tersebut biar gampang diingat, contohnya menyusun menurut kekompleksitasnya atau dengan jembatan keledai.

Bruner

memahami konsep-konsep dan struktur-struktur  yang  terdapat  dalam   materi yang  dipelajari   serta  mencari hubungan-hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut.

Enactive.

belajarnya memakai / memanipulasi objek-obek secara langsung.

Ikonic.

memanipulasi dengan memakai citra dari objek.

Symbolic.

memanipulasi simbol-simbol secara pribadi dan tidak lagi ada kaitannya dengan objek-objek.

Enaktif

siswa memanipulasi obyek secara langsung. Guru membawa benda konkrit berupa 3 buah jeruk kemudian guru memperlihatkan lagi 2 buah jeruk. Siswa dan guru bersama- sama  menghitung  buah jeruk, sehingga ada 5 buah jeruk.

Ikonik

Guru menyajikan gambar jeruk dipapan tulis, biar siswa mempunyai citra dari objek

Simbolik

Selanjutnya guru  menuliskan dalam simbol bilangan dipapan tulis.   3+2= 5

Ausubel

Belajar dikatakan menjadi bermakna (meaningful) bila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa sanggup mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya.

Dienes

Setiap konsep atau prinsip matematika sanggup dimengerti secara tepat hanya bila pertama-tama disajikan kepada siswa dalam bentuk-bentuk konkrit.
1)   Permainan bebas (free play),
2)   Permainan yang memakai hukum (games),
3)   Permainan mencari kesamaan sifat (searching for comunalities),
4)   Permainan dengan representasi (representation),
5)   Permainan dengan simbulisasi (simbolization),
6)   Formalisasi (formalization).

Van Hiele

Tiga unsur utama dalam pembelajaran Geometri, yaitu waktu, materi pembelajaran, dan metode pembelajaran yang diterapkan.
Tahapan-tahapan berguru Geometri :
  1. Pengenalan bentuk suatu berdiri geometri,
  2. Analisis sifat-sifat dari berdiri geometri,
  3. Pengurutan bangun-bangun geometri yang satu dengan lainnya saling berhubungan,
  4. Deduksi, dan
  5. Akurasi

Brownell dan Van Engen

Belajar matematika itu harus merupakan berguru bermakna dan pengertian

c.    Konstruktivisme


Jean Piaget

Belajar itu tidak hanya mendapatkan informasi dan pengalaman gres saja, tetapi juga penstrukturan kembali informasi dan pengalaman yang baru.
Misalnya  di  dalam  struktur  mental  siswa  telah  ada  pengorganisasian  dan

pengelompokan bentuk-bentuk persegi, persegi panjang, jajargenjang. Kemudian siswa  diberikan berdiri trapesium,  siswa  mengerti  bahwa trapesium  merupakan segi empat dengan sifat yang sedikit berbeda dengan struktur kognitif yang telah dimilki. Berarti siswa tersebut menyatukan objek ke dalam struktur kognitif yang sudah dimilikinya dan terjadilah apa yang disebut asimilasi. Setelah itu, terjadi penstrukturan kembali konsep yang telah dimiliki siswa lantaran adanya informasi gres wacana trapesium tadi. Ini berarti terjadi akomodasi.


Vygotsky

Perkembangan kognitif terbatas dalam rentang kecil pada setiap usia dan interaksi sosial dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dibutuhkan untuk menemukan “zona perkembangan terdekat” yang dikenal dengan ZPD (Zone of Proximal Development).

Sumbangan penting teori Vygotsky ialah pemfokusan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky ialah menekankan interaksi antara  aspek  internal  dan  eksternal  dari  pembelajaran  dan  penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran.


d.   Humanisme

Humanisme memandang bahwa berguru ialah perjuangan untuk memanusiakan manusia. Proses berguru dianggap berhasil bila si pelajar memahami lingkungannya  dan  dirinya  sendiri.

Arthur Combs


Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Perilaku jelek itu sesungguhnya tak lain hanyalah  dari  ketidakmampuan  seseorang  untuk  melakukan  sesuatu yang  tidak akan memperlihatkan kepuasan baginya, sehingga yang penting ialah bagaimana  membawa  siswa  untuk  memperoleh  arti/makna  bagi  pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Maslow


Dalam   diri   individu   ada   dua   hal,  yaitu  suatu  usaha  yang  positif  untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Maslow   mengemukakan   bahwa   individu   berperilaku   dalam   upaya   untuk memenuhi kebutuhan    yang    bersifat    hirarkis.    Menurut    Maslow,    setiap individu      memiliki  kebutuhan-kebutuhan  yang tersusun  secara  hirarki  dari tingkat yang paling fundamental hingga pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada tingkatan  paling  bawah  terpenuhi  maka  akan  muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi.


Carl Rogers

 Carl  Rogers  (dalam  Suranto,  2015)  membedakan  dua  tipe  belajar,  yaitu: Kognitif (kebermaknaan) dan     experiential (pengalaman atau signifikansi). Setiap individu mempunyai impian untuk mengaktualisasi diri dan mempunyai dorongan  untuk  menjadi  dirinya  sendiri.  Karena  setiap  individu    terdapat kemampuan untuk mengerti dirinya sendiri, memilih hidupnya    sendiri, dan    menangani    sendiri    masalah    yang    dihadapinya.    Itulah sebabnya dalam proses pembelajaran hendaknya diciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif mengaktualisasi dirinya.

Menurut  Rogers  (2002)  yang  terpenting  dalam  proses  pembelajaran  ialah guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
  1. Menjadi  insan berarti  memiliki  kekuatan yang masuk akal untuk belajar.
  2. Siswa tidak harus berguru wacana hal-hal yang tidak ada artinya.
  3. Siswa     akan     mempelajari     hal-hal     yang     bermakna     bagi     dirinya.
  4. Pengorganisasian bahan  pelajaran  berarti  mengorganisasikan  bahan  dan wangsit gres sebagai potongan yang bermakna bagi siswa
  5. Pengorganisasian  bahan  pembelajaran  berarti  mengorganisasikan  materi dan wangsit gres sebagai potongan yang bermakna bagi siswa.
  6. Belajar  yang  bermakna  dalam  masyarakat  modern  berarti  berguru wacana proses.

6.   Menjelaskan tugas hakekat berguru untuk   merumuskan banyak sekali teori belajar

Untuk lebih mengoptimalkan hasil pembelajaran, guru perlu memadukan beberapa teori belajar. Namun harus diperhatikan bahwa tidak semua teori berguru sanggup dipadukan,
lantaran berangkat dari asumsi-asumsi yang berbeda dalam penyusunan teori belajar
tersebut

7.   Membedakan behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme dan humanism

a.    Behavioristik

  1. Menekankan pada stimulus dan respon dalam pembentukan perilaku.
  2. Setiap sikap sanggup dipelajari.
  3. Tingkah laris usang sanggup diganti dengan tingkah laris baru.
  4. Menekankan pada perubahan sikap yang teramati.

b.   Humanistik

  1. Menekankan pada keunikan sikap individu.
  2. Individu ialah orang yang bebas memilih apa yang dipelajarinya.
  3. Belajar dipandang sebagai pemerolehan informasi atau pengalaman dan menemukan maknanya secara personal atau pribadi.

c.    Kognitif

1.   Menekankan pada perubahan atau proses-proses mental dan sikap tidak kasat mata.

d.   Konstruktivistik sosial

  1. Pebelajar ialah orang yang secara aktif membangun pengetahuan danketerampilan melalui interaksi atau kerja sama dengan orang lain.
  2. Siswa tidak mempunyai pemahaman satu persepsi.

e.   Konstruktivistik kognitif

  1. Individu membangun pemahamannya melalui eksplorasi
  2. Menyatakan bahwa pebelajar ialah orang yang secara individual harus menemukan , mentransformasi, dan mengecek kemballi, serta merevisi informasi yang lama.
  3. Siswa mempunyai pemahaman satu persepsi.

9.   Menjelaskan prinsip-prinsip pembelajaran

  1. Proses pembelajaran ialah membentuk kreasi lingkungan yang sanggup membentukdan mengubah struktur kognitif siswa,
  2. Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. Pengetahuan tersebut ialah pengetahuan fisis, sosial dan logika.
  3. Dalam proses pembelajaran harus melibatkan tugas lingkungan sosial


Nah, itulah beberapa rangkuman materi soal PPG bila dilihat dari indikator kompetensi yang diujikan. Semoga bermanfaat
10. Menjelaskan implikasi prinsip- prinsip pembelajaran bagi siswa dan guru Sekolah Dasar. a.    Agar perhatian dan motivasi siswa menjadi lebih, guru perlu memakai model,
metode yang bervariasi. Guru perlu memakai media pembelajaran yang tepat biar perhatian dan motivasi siswa menjadi meningkat dalam mempelajari materi pembelajaran.

b.  Implikasi  dari  prinsip  keaktifan  adalah  guru  harus  berupaya  biar pembelajaran yang dilakukan menimbulkan siswa aktif berguru baik secara fisik maupun psikis dengan menggunakan   berbagai   macam   model   dan metode yang bervariasi dan juga harus menghadirkan multimedia yang tepat.

c.    Guru  harus  mementingkan  kegiatan  pembelajaran  yang  menimbulkan siswa melaksanakan acara eksperimen dari pada hanya sekedar demonstrasi.

d.   Perilaku  guru  sebagai  implikasi  dari  prinsip  pengulangan  antara  lain,  guru sanggup merancang kegiatan-kegiatan pengulangan, misalnya  memberikan  soal- soal   yang   sejenis.   Mengembangkan   soal-soal   latihan yang terstruktur. Mengembangkan petunjuk acara psikomotorik dan menyebarkan alat penilaian acara pengulangan.

e.    Perilaku   guru   sebagai   implikasi   prinsip   tantangan      antara   lain   ialah merancang dan mengelola acara eksperimen yang memperlihatkan kesempatan siswa untuk tertantang melaksanakan kegiatan   tersebut.

f.     Implikasi dari prinsip balikan dan penguatan bagi guru, perilaku-perilaku yang dilakukan guru antara lain,  perlu memberikan tanggapan yang benar dari soal- soal yang diberikan kepada siswa.

g.    guru   harus   mau   dan   mampu   mengenali     karakteristik  setiap  siswanya, sehingga sanggup memilih pembelajaran yang tepat bagi siswa tersebut.  Guru harus    berusaha    melayani    setiap    siswa    sesuai    dengan  karakteristiknya. Dalam acara pembelajaran, garu harus bisa memakai teknik yang bervariasi sehingga diharapkan sanggup melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya.


Assalamualaikum, Kawan Blogger ....

Gimana kabarnya hari ini, hehehe... usang saya tidak mengupate goresan pena di blog ini. Kalau boleh beralasan saya lagi banyak kiprah lain yang menyita waktu. Meski bekerjsama alasan apapun tidak bisa dijadikan untuk bolos membuatkan informasi. Iya kan?

Nah, kali ini saya mencoba untuk membuatkan bagaimana menciptakan Laporan Pengembangan diri terutama bagi mereka yang akan naik pangkat ke golongan III B (Penata Muda Tingkat 1). Bagian ini merupakan kepingan dari Part II.

Berikut ulasannya:

Contoh Laporan Pengembangan Diri

 usang saya tidak mengupate goresan pena di blog ini Contoh Laporan Pengembangan Diri untuk Kenaikan Pangkat

Penulis telah mengikuti kegiatan pengembangan diri melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
  1. Workshop KKG/Kelompok Kerja Guru SD se-Kota Depok perihal Pendidikan Inklusi
  2. Pembekalan Instruktur Nasional  (IN) Baru Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Jenjang SD Kelas Tinggi
  3. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Moda Tatap Muka
  4. Pengembangan Kurikulum dan Penyusunan Perangakt Penilaian Tengah Semester 2 Tahun Pelajaran 2017/2018 Kecamatan Cipayung
  5. Penyegaran Instruktur Nasional (IN) Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Pendidikan Pelatihan Jenjang SD Tahun 2018

A.    Workshop KKG/Kelompok Kerja Guru SD se-Kota Depok perihal Pendidikan Inklusi

1.    Latar Belakang

Pendidikan inklusi dikala ini tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah dengan penerima didiknya mempunyai kekhususan tertentu. Misalnya Sekolah Luar Biasa yang merupakan sekolah berkebutuhan khusus. Paradigma masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus dianggap gambaran negatif sehingga masyarakat menyekolahkan anaknya tersebut di sekolah-sekolah umum. Padahal, anak dengan kebutuhan khusus ini memiliiki penanganan yang sedikit berbeda dengan penanganan anak pada umumnya.

2.    Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan Workshop KKG Guru tersebut adalah”
a.    Memberikan dan mengembangkan kinerja KKG di tingkat kecamatan semoga sanggup mengimplementasikan Pendidikan Inklusi
b.    Sekolah sanggup menerapkan kurikulum modifikasi dan akomodatif bagi penerima didik inklusi
c.    Setiap anggota KKG, baik itu guru maupun tenaga pendidikan lainnya memahami pendidikan inklusif

3.    Pelaksanaan

Pelaksanaan Workshop KKG (Kelompok Kerja Guru) se-Kota Depok dilaksanakan pada:
Hari/tanggal        :   19 hingga 21 Desember 2016
Tempat                :   Pusdiklat Graha Insan Cita
                                Jl. Prof Lafran Pane, Sugutamu, Bhakti Jaya, Sukmajaya- Depok

4.    Uraian Materi

Dalam pelaksanaannya, workshop KKG (Kelompok Kerja Guru) SD se-Kota Depok dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut. Adapun kegiatannya adalah:
a.    Pembukaan
b.    Sambutan dari Kepala Dinas yang diwakili oleh Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Kejuruan (Kabid Dikmenjur), Ibu Tatik Wijayati, S.Pd.,M.Pd. Dalam sambutannya ia memberikan bahwa pendidikan inklusi merupakan bentuk pelayanan guru terhadap siswa yang mengalami kebutuhan pendidikan khusus di sekolahnya masing-masing. Pendidikan inklusi tidak harus bersekolah di sekolah luar biasa alasannya setiap penerima didik mempunyai kesamaan hak dalam pendidikan. Oleh alasannya itu, guru wajib mempunyai kemampuan dalam mengajarkan dan mendidik penerima didik melalui pendidikan inklusi
c.    Pemaparan materi selama tiga hari dengan Materi:
  • o    Kurikulum 2013
  • o    Implementasi Pendidikan Inklusif
  • o    Kurikulum Modifikasi dan Akomodatif
  • o    Prinsip dan Perencanaan Pembelajaran (Inklusi)
  • o    Metode Pembelajaran
  • o    Penilaian dan Assesmen
  • o    Remedial Pembelajaran
  • o    Beda SKL
  • o    Penyusunan Kisi-kisi
  • o    Penyusunan Naskah Soal

5.    Tindak Lanjut

Tindak lanjut dari kegiatan ini berfokus pada sasaran guru dalam kelompok kinerja guru. Dimana KKG mempunyai kiprah dalam mengembangkan pendidikan inklusif di masing-masing sekolah.

b.    Pembekalan Instruktur Nasional  (IN) Baru Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Jenjang SD Kelas Tinggi

1.    Latar Belakang
Pada  tahun 2017,  Ditjen  GTK mengembangkan Program  Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang merupakan kelanjutan dari Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dengan tujuan utama untuk meningkatkan kompetensi guru yang ditunjukkan dengan kenaikkan capaian nilai UKG dengan rata-rata nasional yaitu 70. Program Pengembangan Keprofesian 

Berkelanjutan ini dilaksanakan berbasis komunitas guru dan tenaga kependidikan (komunitas GTK).
Pemberdayaan komunitas GTK, dalam hal ini Pusat Kegiatan Gugus/Kelompok Kerja Guru (KKG)/Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)/Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK)/Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS)/Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), merupakan salah satu prioritas Ditjen GTK. Komunitas GTK merupakan kawan strategis Ditjen GTK dalam peningkatan kompetensi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas di daerah. Oleh alasannya itu dalam rangka pemberdayaan komunitas GTK, Ditjen GTK melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dalam hal ini Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan, Teknologi Informasi, dan Komunikasi (LPPPTK KPTK), serta Dinas Pendidikan atau instansi publik lainnya     menyelenggarakan     Program     Pengembangan     Keprofesian Berkelanjutan yang berbasis komunitas GTK
 
Penyelenggaraan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melibatkan Pemerintah serta partisipasi publik yang meliputi pemerintah daerah, asosiasi profesi, perguruan tinggi tinggi, dunia perjuangan dan dunia industri, organisasi kemasyarakatan, serta orangtua siswa. Bentuk pelibatan publik lainnya sanggup dilakukan dengan banyak sekali cara ibarat memperlihatkan proteksi bagi terselenggaranya Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, baik dalam moda tatap muka, dalam jejaring (daring) murni, maupun daring kombinasi.

2.    Tujuan

a. Tujuan Umum
Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan tugasnya melalui peningkatan kompetensi  baik pedagogik maupun profesional, serta mempunyai performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi penerima didiknya.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus, Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bertujuan semoga peserta:
1)    memperlihatkan kemampuan sebagai profesional dalam melakukan tugasnya sebagai guru;
2)    menguasai kompetensi pedagogik dan profesional sesuai dengan kelompok kompetensi yang dipelajari;
3)    mempunyai performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi penerima didiknya;
4)    menjadi teladan perihal ketangguhan, optimisme, dan keceriaan bagi penerima didiknya; dan
5)    mempunyai kemauan untuk terus mencar ilmu mengembangkan potensi dirinya. 

3.    Pelaksanaan

Pembekalan Instruktur Nasional Baru Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini dilaksanakan pada:
Hari/tanggal         :   27 April hingga dengan 6 Mei 2017
Tempat        :   PPPPTK IPA – Bandung

4.    Uraian Materi

Selama pembekalan, materi yang disampaikan dalam adalah:
a.    Materi Umum
Materi Kebijakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Materi ini disampaikan oleh Bpk. Drs. Heryawan, M.S.i. Beliau memberikan bahwa pembekalan Instruktur Nasional Baru dalam Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan merupakan alat atau sarana dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di wilayahnya masing-masing.
b.    Materi Pokok
Materi pokok ini disampaikan oleh Narasumber Nasional (NS) selaku tutor, yaitu oleh Ibu Komalasari dan Bapak Dian Nugraha. Materi-materi yang disampaikan terkait dengan materi pada Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, yaitu:
1)    Petunjuk Teknis Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
2)    Penguatan Pendidikan Karakter dalam Modul pengembangan keprofesian Berkelanjutan
3)    Pengembangan soal USBN
4)    Literasi TIK Pendudukan pembelajaran Daring
5)    Pendekatan andragogi
6)    Kajian dan simulasi penggunaan modul pengembangan keprofesian berkelanjutan
7)    Strategi fasilitasi kelas pada moda tatap muka, daring murni, dan daring kombinasi
5.    Tindak Lanjut
Pembekalan IN Baru dalam kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan akan mementori kelompok guru dalam mengembangan pengembangan diri melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.
 

c.    Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Moda Tatap Muka

1.    Latar Belakang
Peningkatan kompetensi guru terkait dengan profesionalismenya, harus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Negara PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 perihal Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya serta Permendiknas No. 35 Tahun 2010 perihal petunjuk teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya untuk kenaikan karir dan kepangkatannya.

Tahun 2017, Ditjen GTK mengembangkan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang merupakan kelanjutan dari Program Guru Pembelajar dengan tujuan utama untuk meningkatkan kompetensi guru yang ditunjukkan dengan kenaikkan capaian nilai UKG dengan rata-rata nasional yaitu 70.
 
Penyelenggaraan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melibatkan banyak sekali macam pihak. Bentuk pelibatan dilakukan dengan banyak sekali cara ibarat memperlihatkan proteksi bagi terselenggaranya Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, baik dalam moda tatap muka, dalam jejaring (daring) murni, maupun daring kombinasi. Salah satu komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini yakni Instruktur Nasional/Mentor.
 
Bentuk pelibatan Instruktur Nasional/Mentor dalam Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini merupakan salah satu amanah ibarat yang tertuang pada Lampiran I Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi Dan Tambahan Penghasilan Bagi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah bahwa bagi guru yang menerima kiprah komplemen sebagai Instruktur Nasional untuk Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan atau pelaksanaan diklat kurikulum, mempunyai beban mengajar paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka per ahad untuk mata pelajaran yang diampu, sesuai dengan akta pendidik yang dimilikinya.
 
Dalam hal guru yang menerima kiprah komplemen sebagai pelatih nasional pada kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan minimal satu kali, maka guru tersebut mempunyai beban mengajar paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka per ahad untuk mata pelajaran yang diampu, sesuai dengan akta pendidik yang dimilikinya.
2.    Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini yakni membimbing dan memfasilitasi penerima pada Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan sehingga sanggup menjadi penerima yang aktif, mencar ilmu secara individu sesuai kebutuhan, dan juga sanggup saling membuatkan (sharing) pengetahuan/keterampilan dan pengalaman dengan penerima lainnya sehingga sanggup meningkatkan kompetensinya
3.    Pelaksanaan
a)    Peserta
Peserta yang telah mengikuti kelas Modul I   kelompok kompetensi PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL yakni sejumlah 40 orang guru
b)    Waktu Pelaksanaan dan Materi
Menjelaskan perihal waktu pelaksanaan dan materi yang diberikan. Pada kegiatan tatap muka IN-ON-IN.
c)    Waktu pelaksanaan
Kegiatan pada Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan pada modul Pedagogik dan Profesional kelompok kompetensi J dilaksanakan
IN1     :   9 - 11 September 2017
ON    :   12 – 21 September 2017
IN2    :   22 September 2017
Pola kegiatan dilaksanakan selama 60 JP yang meliputi 6 sesi ( sesi pendahuluan, 4 sesi inti dan sesi penutup)

4.    Uraian Materi
Materi  (materi  mencakup  uraian  yang  disesuaikan  dengan  struktur program)
No    Materi    JP
UMUM    4
1.    Kebijakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan    2
2.    Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)    2
POKOK    54
3.    Pendalaman Materi Pedagogik Kelompok Kompetensi I (ke-1)    9
4.    Pendalaman Materi Profesional Kelompok Kompetensi I (ke-1)    18
5.    Pendalaman Materi Pedagogik Kelompok Kompetensi J ke-1)    9
6.    Pendalaman Materi Profesional Kelompok Kompetensi J (ke-1)    18
PENUNJANG    2
7.    Tes Akhir    2
    Total    60

5.    Tindak Lanjut
Tindak lanjut dari kegiatan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Moda Tatap Muka ini yakni tercapainya peningkatan kompetensi yang dipetakkan oleh kemendikbud sehingga ketercapaian kompetensi tercapai.


d.    Penyegaran Instruktur Nasional (IN) Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Pendidikan Pelatihan Jenjang SD Tahun 2018

1.    Latar Belakang
Pada tahun 2016, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) mengembangkan kegiatan untuk memfasilitasi peningkatan kompetensi guru menurut hasil UKG 2015 yang disebut dengan Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dengan sasaran capaian nilai rata-rata nasional yaitu 65. Jumlah guru yang telah mengikuti Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar pada tahun 2016 sebanyak 427.189 orang atau 15,82% dari 2.699.516 orang guru. Persentase partisipasi guru dalam Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar sebesar 15,82% memang belum menggambarkan populasi guru secara utuh, namun sanggup memperlihatkan sekilas gambaran mengenai hasil fasilitasi yang diberikan kepada guru dalam Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar. Program peningkatan kompetensi guru tersebut dilanjutkan pada  tahun 2017 melalui Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. 
Rerata Hasil UKG 2015, UKG 2016 dan UKG 2017 untuk setiap jenjang pendidikan, bahwa kegiatan peningkatan kompetensi guru yang diselenggarakan oleh Ditjen GTK dalam bentuk Program Peningkatan
Kompetensi Guru Pembelajar pada tahun 2016 dan dilanjutkan dengan Program
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan pada tahun 2017 memperlihatkan imbas signifikan yang ditunjukkan dengan kenaikan hasil UKG melalui tes final pada tahun 2017.
Pada tahun 2018, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menyelenggarakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui Pendidikan dan Pelatihan Guru berbasis komunitas GTK. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional yang dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) bagi guru kelas, guru mapel dan guru Bimbingan Konseling (BK) untuk semua jenjang pendidikan dengan rata-rata nasional yaitu 75 dan melalui Uji Kompetensi Keahlian (UKK) bagi guru kejuruan.
Penyelenggaraan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui
Pendidikan dan Pelatihan Guru melibatkan Pemerintah serta partisipasi publik yang meliputi pemerintah daerah, asosiasi profesi, perguruan tinggi tinggi, dunia perjuangan dan dunia industri, organisasi kemasyarakatan, serta orangtua siswa. Bentuk pelibatan publik lainnya sanggup dilakukan dengan banyak sekali cara ibarat memperlihatkan proteksi bagi terselenggaranya Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui  Pendidikan dan Pelatihan Guru.
2.    Tujuan
a. Tujuan Umum
Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan tugasnya melalui peningkatan kompetensi  baik pedagogik maupun profesional, serta mempunyai performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi penerima didiknya.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus, Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bertujuan semoga peserta:
1)    memperlihatkan kemampuan sebagai profesional dalam melaksanakan  tugasnya sebagai guru;
2)    menguasai kompetensi pedagogik dan profesional sesuai dengan kelompok kompetensi atau unit kompetensi yang dipelajari;
3)    mempunyai performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi penerima didiknya;
4)    menjadi teladan perihal ketangguhan, optimisme, dan keceriaan bagi  penerima didiknya;
5)    mempunyai kemauan untuk terus mencar ilmu mengembangkan potensi dirinya;
6)    meningkatkan kompetensi guru kejuruan yang memenuhi kualifikasi  sesuai Skema Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level IV;
7)    membekali guru kejuruan sehingga bisa menjadi guru yang  profesional di SMK;
8)    mempunyai akta kompetensi sesuai Skema Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level IV bagi guru kejuruan.
3.    Pelaksanaan
Penyegaran Instruktur Nasional Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini dilaksanakan pada:
Hari/tanggal         :   23 hingga dengan 26 September 2018
Tempat        :   Brits Hotel, Karawang

4.    Uraian Materi
Selama pembekalan, materi yang disampaikan dalam adalah:
a.    Materi Umum
Materi Kebijakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Materi ini disampaikan oleh Bpk. Agus Mulyadi, M.S.i. Beliau memberikan bahwa penyegaran Instruktur Nasional  dalam Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan merupakan alat atau sarana dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di wilayahnya masing-masing semoga peningkatan kualifikasi pendidikan tercapai.
b.    Materi Pokok
Materi pokok ini disampaikan oleh Narasumber Nasional (NS) selaku tutor, yaitu oleh Ibu Dewi dan Ibu Euis. Materi-materi yang disampaikan terkait dengan materi pada Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, yaitu:
1)    Pengembangan Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Atas Tinggi (High Order Tinkning Skills)
2)    Pendalaman Materi Pedagogik
3)    Pendalaman Materi Profesional
4)    Strategi Fasilitasi Pelatihan
5.    Tindak Lanjut
Penyegaran IN dalam kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan akan mementori kelompok guru dalam mengembangan pengembangan diri melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Semua teladan kegiatan pengemabangan diri tersebut harus dibuktikan dengan adanya akta yang mendukung. Sebab akta tersebut menjadi bentuk laporan semoga evaluasi angka kredit kita valid dan terpercaya.

Demikian teladan Laporan pengembangan Diri ini, semoga bermanfaat.

Assalamualaikum, Kawan Blogger ....

Gimana kabarnya hari ini, hehehe... usang saya tidak mengupate goresan pena di blog ini. Kalau boleh beralasan saya lagi banyak kiprah lain yang menyita waktu. Meski bekerjsama alasan apapun tidak bisa dijadikan untuk bolos membuatkan informasi. Iya kan?

Nah, kali ini saya mencoba untuk membuatkan bagaimana menciptakan Laporan Pengembangan diri terutama bagi mereka yang akan naik pangkat ke golongan III B (Penata Muda Tingkat 1). Bagian ini merupakan kepingan dari Part II.

Berikut ulasannya:

Contoh Laporan Pengembangan Diri

 usang saya tidak mengupate goresan pena di blog ini Contoh Laporan Pengembangan Diri untuk Kenaikan Pangkat

Penulis telah mengikuti kegiatan pengembangan diri melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
  1. Workshop KKG/Kelompok Kerja Guru SD se-Kota Depok perihal Pendidikan Inklusi
  2. Pembekalan Instruktur Nasional  (IN) Baru Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Jenjang SD Kelas Tinggi
  3. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Moda Tatap Muka
  4. Pengembangan Kurikulum dan Penyusunan Perangakt Penilaian Tengah Semester 2 Tahun Pelajaran 2017/2018 Kecamatan Cipayung
  5. Penyegaran Instruktur Nasional (IN) Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Pendidikan Pelatihan Jenjang SD Tahun 2018

A.    Workshop KKG/Kelompok Kerja Guru SD se-Kota Depok perihal Pendidikan Inklusi

1.    Latar Belakang

Pendidikan inklusi dikala ini tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah dengan penerima didiknya mempunyai kekhususan tertentu. Misalnya Sekolah Luar Biasa yang merupakan sekolah berkebutuhan khusus. Paradigma masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus dianggap gambaran negatif sehingga masyarakat menyekolahkan anaknya tersebut di sekolah-sekolah umum. Padahal, anak dengan kebutuhan khusus ini memiliiki penanganan yang sedikit berbeda dengan penanganan anak pada umumnya.

2.    Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan Workshop KKG Guru tersebut adalah”
a.    Memberikan dan mengembangkan kinerja KKG di tingkat kecamatan semoga sanggup mengimplementasikan Pendidikan Inklusi
b.    Sekolah sanggup menerapkan kurikulum modifikasi dan akomodatif bagi penerima didik inklusi
c.    Setiap anggota KKG, baik itu guru maupun tenaga pendidikan lainnya memahami pendidikan inklusif

3.    Pelaksanaan

Pelaksanaan Workshop KKG (Kelompok Kerja Guru) se-Kota Depok dilaksanakan pada:
Hari/tanggal        :   19 hingga 21 Desember 2016
Tempat                :   Pusdiklat Graha Insan Cita
                                Jl. Prof Lafran Pane, Sugutamu, Bhakti Jaya, Sukmajaya- Depok

4.    Uraian Materi

Dalam pelaksanaannya, workshop KKG (Kelompok Kerja Guru) SD se-Kota Depok dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut. Adapun kegiatannya adalah:
a.    Pembukaan
b.    Sambutan dari Kepala Dinas yang diwakili oleh Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Kejuruan (Kabid Dikmenjur), Ibu Tatik Wijayati, S.Pd.,M.Pd. Dalam sambutannya ia memberikan bahwa pendidikan inklusi merupakan bentuk pelayanan guru terhadap siswa yang mengalami kebutuhan pendidikan khusus di sekolahnya masing-masing. Pendidikan inklusi tidak harus bersekolah di sekolah luar biasa alasannya setiap penerima didik mempunyai kesamaan hak dalam pendidikan. Oleh alasannya itu, guru wajib mempunyai kemampuan dalam mengajarkan dan mendidik penerima didik melalui pendidikan inklusi
c.    Pemaparan materi selama tiga hari dengan Materi:
  • o    Kurikulum 2013
  • o    Implementasi Pendidikan Inklusif
  • o    Kurikulum Modifikasi dan Akomodatif
  • o    Prinsip dan Perencanaan Pembelajaran (Inklusi)
  • o    Metode Pembelajaran
  • o    Penilaian dan Assesmen
  • o    Remedial Pembelajaran
  • o    Beda SKL
  • o    Penyusunan Kisi-kisi
  • o    Penyusunan Naskah Soal

5.    Tindak Lanjut

Tindak lanjut dari kegiatan ini berfokus pada sasaran guru dalam kelompok kinerja guru. Dimana KKG mempunyai kiprah dalam mengembangkan pendidikan inklusif di masing-masing sekolah.

b.    Pembekalan Instruktur Nasional  (IN) Baru Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Jenjang SD Kelas Tinggi

1.    Latar Belakang
Pada  tahun 2017,  Ditjen  GTK mengembangkan Program  Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang merupakan kelanjutan dari Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dengan tujuan utama untuk meningkatkan kompetensi guru yang ditunjukkan dengan kenaikkan capaian nilai UKG dengan rata-rata nasional yaitu 70. Program Pengembangan Keprofesian 

Berkelanjutan ini dilaksanakan berbasis komunitas guru dan tenaga kependidikan (komunitas GTK).
Pemberdayaan komunitas GTK, dalam hal ini Pusat Kegiatan Gugus/Kelompok Kerja Guru (KKG)/Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)/Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK)/Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS)/Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), merupakan salah satu prioritas Ditjen GTK. Komunitas GTK merupakan kawan strategis Ditjen GTK dalam peningkatan kompetensi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas di daerah. Oleh alasannya itu dalam rangka pemberdayaan komunitas GTK, Ditjen GTK melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dalam hal ini Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan, Teknologi Informasi, dan Komunikasi (LPPPTK KPTK), serta Dinas Pendidikan atau instansi publik lainnya     menyelenggarakan     Program     Pengembangan     Keprofesian Berkelanjutan yang berbasis komunitas GTK
 
Penyelenggaraan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melibatkan Pemerintah serta partisipasi publik yang meliputi pemerintah daerah, asosiasi profesi, perguruan tinggi tinggi, dunia perjuangan dan dunia industri, organisasi kemasyarakatan, serta orangtua siswa. Bentuk pelibatan publik lainnya sanggup dilakukan dengan banyak sekali cara ibarat memperlihatkan proteksi bagi terselenggaranya Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, baik dalam moda tatap muka, dalam jejaring (daring) murni, maupun daring kombinasi.

2.    Tujuan

a. Tujuan Umum
Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan tugasnya melalui peningkatan kompetensi  baik pedagogik maupun profesional, serta mempunyai performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi penerima didiknya.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus, Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bertujuan semoga peserta:
1)    memperlihatkan kemampuan sebagai profesional dalam melakukan tugasnya sebagai guru;
2)    menguasai kompetensi pedagogik dan profesional sesuai dengan kelompok kompetensi yang dipelajari;
3)    mempunyai performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi penerima didiknya;
4)    menjadi teladan perihal ketangguhan, optimisme, dan keceriaan bagi penerima didiknya; dan
5)    mempunyai kemauan untuk terus mencar ilmu mengembangkan potensi dirinya. 

3.    Pelaksanaan

Pembekalan Instruktur Nasional Baru Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini dilaksanakan pada:
Hari/tanggal         :   27 April hingga dengan 6 Mei 2017
Tempat        :   PPPPTK IPA – Bandung

4.    Uraian Materi

Selama pembekalan, materi yang disampaikan dalam adalah:
a.    Materi Umum
Materi Kebijakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Materi ini disampaikan oleh Bpk. Drs. Heryawan, M.S.i. Beliau memberikan bahwa pembekalan Instruktur Nasional Baru dalam Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan merupakan alat atau sarana dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di wilayahnya masing-masing.
b.    Materi Pokok
Materi pokok ini disampaikan oleh Narasumber Nasional (NS) selaku tutor, yaitu oleh Ibu Komalasari dan Bapak Dian Nugraha. Materi-materi yang disampaikan terkait dengan materi pada Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, yaitu:
1)    Petunjuk Teknis Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
2)    Penguatan Pendidikan Karakter dalam Modul pengembangan keprofesian Berkelanjutan
3)    Pengembangan soal USBN
4)    Literasi TIK Pendudukan pembelajaran Daring
5)    Pendekatan andragogi
6)    Kajian dan simulasi penggunaan modul pengembangan keprofesian berkelanjutan
7)    Strategi fasilitasi kelas pada moda tatap muka, daring murni, dan daring kombinasi
5.    Tindak Lanjut
Pembekalan IN Baru dalam kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan akan mementori kelompok guru dalam mengembangan pengembangan diri melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.
 

c.    Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Moda Tatap Muka

1.    Latar Belakang
Peningkatan kompetensi guru terkait dengan profesionalismenya, harus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Negara PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 perihal Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya serta Permendiknas No. 35 Tahun 2010 perihal petunjuk teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya untuk kenaikan karir dan kepangkatannya.

Tahun 2017, Ditjen GTK mengembangkan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang merupakan kelanjutan dari Program Guru Pembelajar dengan tujuan utama untuk meningkatkan kompetensi guru yang ditunjukkan dengan kenaikkan capaian nilai UKG dengan rata-rata nasional yaitu 70.
 
Penyelenggaraan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melibatkan banyak sekali macam pihak. Bentuk pelibatan dilakukan dengan banyak sekali cara ibarat memperlihatkan proteksi bagi terselenggaranya Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, baik dalam moda tatap muka, dalam jejaring (daring) murni, maupun daring kombinasi. Salah satu komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini yakni Instruktur Nasional/Mentor.
 
Bentuk pelibatan Instruktur Nasional/Mentor dalam Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini merupakan salah satu amanah ibarat yang tertuang pada Lampiran I Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi Dan Tambahan Penghasilan Bagi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah bahwa bagi guru yang menerima kiprah komplemen sebagai Instruktur Nasional untuk Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan atau pelaksanaan diklat kurikulum, mempunyai beban mengajar paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka per ahad untuk mata pelajaran yang diampu, sesuai dengan akta pendidik yang dimilikinya.
 
Dalam hal guru yang menerima kiprah komplemen sebagai pelatih nasional pada kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan minimal satu kali, maka guru tersebut mempunyai beban mengajar paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka per ahad untuk mata pelajaran yang diampu, sesuai dengan akta pendidik yang dimilikinya.
2.    Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini yakni membimbing dan memfasilitasi penerima pada Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan sehingga sanggup menjadi penerima yang aktif, mencar ilmu secara individu sesuai kebutuhan, dan juga sanggup saling membuatkan (sharing) pengetahuan/keterampilan dan pengalaman dengan penerima lainnya sehingga sanggup meningkatkan kompetensinya
3.    Pelaksanaan
a)    Peserta
Peserta yang telah mengikuti kelas Modul I   kelompok kompetensi PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL yakni sejumlah 40 orang guru
b)    Waktu Pelaksanaan dan Materi
Menjelaskan perihal waktu pelaksanaan dan materi yang diberikan. Pada kegiatan tatap muka IN-ON-IN.
c)    Waktu pelaksanaan
Kegiatan pada Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan pada modul Pedagogik dan Profesional kelompok kompetensi J dilaksanakan
IN1     :   9 - 11 September 2017
ON    :   12 – 21 September 2017
IN2    :   22 September 2017
Pola kegiatan dilaksanakan selama 60 JP yang meliputi 6 sesi ( sesi pendahuluan, 4 sesi inti dan sesi penutup)

4.    Uraian Materi
Materi  (materi  mencakup  uraian  yang  disesuaikan  dengan  struktur program)
No    Materi    JP
UMUM    4
1.    Kebijakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan    2
2.    Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)    2
POKOK    54
3.    Pendalaman Materi Pedagogik Kelompok Kompetensi I (ke-1)    9
4.    Pendalaman Materi Profesional Kelompok Kompetensi I (ke-1)    18
5.    Pendalaman Materi Pedagogik Kelompok Kompetensi J ke-1)    9
6.    Pendalaman Materi Profesional Kelompok Kompetensi J (ke-1)    18
PENUNJANG    2
7.    Tes Akhir    2
    Total    60

5.    Tindak Lanjut
Tindak lanjut dari kegiatan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Moda Tatap Muka ini yakni tercapainya peningkatan kompetensi yang dipetakkan oleh kemendikbud sehingga ketercapaian kompetensi tercapai.


d.    Penyegaran Instruktur Nasional (IN) Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Pendidikan Pelatihan Jenjang SD Tahun 2018

1.    Latar Belakang
Pada tahun 2016, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) mengembangkan kegiatan untuk memfasilitasi peningkatan kompetensi guru menurut hasil UKG 2015 yang disebut dengan Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dengan sasaran capaian nilai rata-rata nasional yaitu 65. Jumlah guru yang telah mengikuti Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar pada tahun 2016 sebanyak 427.189 orang atau 15,82% dari 2.699.516 orang guru. Persentase partisipasi guru dalam Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar sebesar 15,82% memang belum menggambarkan populasi guru secara utuh, namun sanggup memperlihatkan sekilas gambaran mengenai hasil fasilitasi yang diberikan kepada guru dalam Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar. Program peningkatan kompetensi guru tersebut dilanjutkan pada  tahun 2017 melalui Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. 
Rerata Hasil UKG 2015, UKG 2016 dan UKG 2017 untuk setiap jenjang pendidikan, bahwa kegiatan peningkatan kompetensi guru yang diselenggarakan oleh Ditjen GTK dalam bentuk Program Peningkatan
Kompetensi Guru Pembelajar pada tahun 2016 dan dilanjutkan dengan Program
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan pada tahun 2017 memperlihatkan imbas signifikan yang ditunjukkan dengan kenaikan hasil UKG melalui tes final pada tahun 2017.
Pada tahun 2018, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menyelenggarakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui Pendidikan dan Pelatihan Guru berbasis komunitas GTK. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional yang dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) bagi guru kelas, guru mapel dan guru Bimbingan Konseling (BK) untuk semua jenjang pendidikan dengan rata-rata nasional yaitu 75 dan melalui Uji Kompetensi Keahlian (UKK) bagi guru kejuruan.
Penyelenggaraan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui
Pendidikan dan Pelatihan Guru melibatkan Pemerintah serta partisipasi publik yang meliputi pemerintah daerah, asosiasi profesi, perguruan tinggi tinggi, dunia perjuangan dan dunia industri, organisasi kemasyarakatan, serta orangtua siswa. Bentuk pelibatan publik lainnya sanggup dilakukan dengan banyak sekali cara ibarat memperlihatkan proteksi bagi terselenggaranya Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui  Pendidikan dan Pelatihan Guru.
2.    Tujuan
a. Tujuan Umum
Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan tugasnya melalui peningkatan kompetensi  baik pedagogik maupun profesional, serta mempunyai performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi penerima didiknya.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus, Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bertujuan semoga peserta:
1)    memperlihatkan kemampuan sebagai profesional dalam melaksanakan  tugasnya sebagai guru;
2)    menguasai kompetensi pedagogik dan profesional sesuai dengan kelompok kompetensi atau unit kompetensi yang dipelajari;
3)    mempunyai performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi penerima didiknya;
4)    menjadi teladan perihal ketangguhan, optimisme, dan keceriaan bagi  penerima didiknya;
5)    mempunyai kemauan untuk terus mencar ilmu mengembangkan potensi dirinya;
6)    meningkatkan kompetensi guru kejuruan yang memenuhi kualifikasi  sesuai Skema Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level IV;
7)    membekali guru kejuruan sehingga bisa menjadi guru yang  profesional di SMK;
8)    mempunyai akta kompetensi sesuai Skema Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level IV bagi guru kejuruan.
3.    Pelaksanaan
Penyegaran Instruktur Nasional Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini dilaksanakan pada:
Hari/tanggal         :   23 hingga dengan 26 September 2018
Tempat        :   Brits Hotel, Karawang

4.    Uraian Materi
Selama pembekalan, materi yang disampaikan dalam adalah:
a.    Materi Umum
Materi Kebijakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Materi ini disampaikan oleh Bpk. Agus Mulyadi, M.S.i. Beliau memberikan bahwa penyegaran Instruktur Nasional  dalam Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan merupakan alat atau sarana dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di wilayahnya masing-masing semoga peningkatan kualifikasi pendidikan tercapai.
b.    Materi Pokok
Materi pokok ini disampaikan oleh Narasumber Nasional (NS) selaku tutor, yaitu oleh Ibu Dewi dan Ibu Euis. Materi-materi yang disampaikan terkait dengan materi pada Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, yaitu:
1)    Pengembangan Pembelajaran Berorientasi Keterampilan Berpikir Atas Tinggi (High Order Tinkning Skills)
2)    Pendalaman Materi Pedagogik
3)    Pendalaman Materi Profesional
4)    Strategi Fasilitasi Pelatihan
5.    Tindak Lanjut
Penyegaran IN dalam kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan akan mementori kelompok guru dalam mengembangan pengembangan diri melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Semua teladan kegiatan pengemabangan diri tersebut harus dibuktikan dengan adanya akta yang mendukung. Sebab akta tersebut menjadi bentuk laporan semoga evaluasi angka kredit kita valid dan terpercaya.

Demikian teladan Laporan pengembangan Diri ini, semoga bermanfaat.


Assalamualaikum, Berikut saya sajikan bahan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), dulu namanya yakni MOS (Masa Orientasi Sekolah).

  Berikut saya sajikan bahan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah  Materi MPLS ke-1: Arti MPLS dan Makna Wawasan Wiyata Mandala


Materi MPLS ini ada dalam 7 potongan yaitu:
1. Materi MPLS dan Makna Wawasan Wiyata Mandala
2. Materi MPLS Kepramukaan
3. Materi Kesadaran Berbangsa dan Bernegara
4. Materi MPLS Belajar EfektifPendidikan
5. Materi MPLS Pendidikan Karakter
6. Materi MPLS Tata Krama Siswa
7. Materi MPLS Pengenalan Kurikulum

Pada kesempatan ini, saya bagikan potongan pertama (Bagian 1) terlebih dahulu. Silakan cermati bahan berikut ini perihal Arti MPLS dan Makna Wawasan Wiyata Mandala

ARTI DAN MAKNA WAWASAN WIYATA MANDALA
A. Wawasan : Suatu pandangan atau perilaku yang mendalam terhadap suatu hakikat. Wiyata : Pendidikan Mandala : Tempat atau lingkungan Wiyata mandala yakni perilaku menghargai dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah sebagai daerah menuntut ilmu pengetahuan. Unsur-unsur wiyata mandala:
1. Sekolah merupakan lingkungan pendidikan
2. Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan dalam lingkungan sekolah.
3. Antara guru dan orang renta siswa harus ada saling pengertian dan kerjasama erat untuk mengemban kiprah pendidikan (hubungan yang serasi)
4. Warga sekolah di dalam maupun di luar sekolah harus menjunjung tinggi martabat dan gambaran guru.
5. Sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya dan mendukung antarwarga.

B. SEKOLAH DAN FUNGSINYA
Sekolah merupakan daerah penyelenggaraan PBM, menanamkan dan berbagi banyak sekali nilai, ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Sekolah merupakan forum pendidikan formal daerah berlangsungnya PBM untuk membina dan mengembangkan:
1. Ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Pandangan hidup/kepribadian
3. Hubungan antara insan dengan lingkungan atau insan dengan Tuhannya
4. Kemampuan berkarya.

C. FUNGSI SEKOLAH
Fungsi sekolah yakni sebagai daerah masyarakat berguru sebab mempunyai aturan/tata tertib kehidupan yang mengatur kekerabatan antara guru, pengelola pendidikan siswa dalam PBM untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dlam suasana yang dinamis.

D. CIRI-CIRI SEKOLAH SEBAGAI MASYARALAT BELAJAR
Ciri-ciri sekolah sebagai masyarakat berguru yakni :
1. Ada guru dan siswa, timbulnya PBM yang tertib
2. Tercapainya masyarakat yang sadar, mau berguru dan bekerja keras.
3. Terbentuknya insan Indonesia seutuhnya.

E. PRINSIP SEKOLAH
Sekolah sebagai Wiyata Mandala selain harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya, juga harus mencegah masuknya faham perilaku dan perbuatan yang secara sadar ataupun tidak sanggup menjadikan kontradiksi antara sesama sebab perbedaan suku, agama, asal/usul/keturunan, tingkat sosial ekonomi serta perbedaan paham politik. Sekolah dihentikan hidup menyendiri melepaskan diri dari tantangan sosial budaya dalam masyarakat daerah sekolah itu berada. Sekolah juga menjadi suri pola bagi kehidupan masyarakat sekitarnya, serta bisa mencegah masuknya perilaku dan perbuatan yang akan menjadikan pertentangan. Untuk itu sekolah mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Sekolah sebagai wadah/lembaga yang menunjukkan bekal hidup. Dalam hal ini sekolah seharusnya bukan hanya sekedar forum yang mencetak para intelektual muda namun lebih dari itu sekolah harus menjadi rumah kedua yang menunjukkan pelayanan dan pengalaman perihal hidup, mulai dari berorganisasi, bermasyarakat (bersosialisasi), pendidikan lingkungan hidup (PLH) atau bahkan pengalaman hidup yang sesungguhnya.
2. Sekolah sebagai institusi daerah akseptor didik berguru dibawah bimbingan pendidik. Bimbingan lebih dari sekedar pengajaran. Dalam bimbingan kiprah pendidik berubah dari seorang pendidik menjadi seorang orangtua bahkan menjadi seorang kakak.
3. Sekolah sebagai forum dengan pelayanan yang adil/merata bagi stakeholdernya. Hal tersebut bisa berupa pemerataan kesempatan mendapat transfer of knowledge, maupun transfer of experience, dengan tanpa membedakan baik dari segi kemampuan ekonomi, kemampuan intelegensia, dan juga kemampuan fisik (gagasan sekolah inklusi).
4. Sekolah sebagai forum pengembangan talenta dan minat siswa. Prinsip ini sejalan dengan teori multiple intelligence (Howard Gardner) yang memandang bahwa kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya yang perlu diperhatikan oleh forum pendidikan, terutama sekolah. Kemampuan bersosialisasi, kemampuan kinestik, kemampuan seni dan kemampuan-kemampuan lainnya juga perlu diperhatikan secara seimbang.
5. Sekolah sebagai forum pelatihan potensi di luar intelegensi. Peningkatan kemampuan intelektual, emosional maupun kemampuan-kemampuan lainnya mendapat perhatian yang seimbang.
6. Sekolah harus menunjukkan perhatian serius untuk berbagi kemampuan emosional dan sosial, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, kemampuan bekerjasama dalam kelompok, dan lain-lain.
7. Sekolah sebagai wahana pengembangan perilaku dan watak. Sikap sederhana, jujur, terbuka, penuh toleransi, rela berkomunikasi dan berinteraksi, ramah tamah dan bersahabat, cinta negara, cinta lingkungan, siap bantu membantu khususnya kepada yang kurang beruntung merupakan perilaku dan tabiat yang perlu dibuat di dalam lingkungan sekolah.
8. Sekolah sebagai wahana pendewasaan diri. Di dalam dunia yang berubah begitu cepat, salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki tiap akseptor didik yakni kompetensi dasar: berguru secara mandiri. Dengan proses pendewasaan yang diberikan di sekolah, pendidik tidak lagi perlu menjejali pemikiran akseptor didik dengan perintah. Lebih dari itu akseptor didik akan mendapat sesuatu yang jauh lebih besar ketika ia mencari dan mendapat apa yang ia butuhkan untuk hidupnya.
9. Sekolah sebagai potongan dari masyarakat berguru (learning society). Sekolah bukan hanya sebagai daerah pembelajaran bagi akseptor didik, namun juga seharusnya sekolah bisa menjadi sentra pembelajaran bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

F. PENGGUNAAN SEKOLAH
Sekolah sebagai suatu forum pendidikan yang diperuntukan sebagai daerah proses kegiatan berguru mengajar, tidak diperbolehkan dijadikan sebagai daerah :
1. Ajang promosi /penjualan produk-produk perniagaan yang tidak berafiliasi dengan pendidikan.
2. Sekolah merupakan lingkungan bebas rokok bagi semua pihak.
3. Penyebaran aliran sesat atau penyebarluasan aliran agama tertentu yang bertentangan dengan undang-undang.
4. Propaganda politik/kampanye.
5. Shooting film dan atau sinetron tanpa seijin Pemerintah Daerah.
6. Kegiatan-kegiatan yang sanggup menjadikan kerusakan, perpecahan, dan perselisihan, sehingga menjadikan suasana sekolah tidak kondusif.

G. PENATAAN WIYATA MANDALA DALAM UPAYA KETAHANAN SEKOLAH
1. Ketahanan sekolah lebih menitikberatkan pada upaya-upaya yang bersifat preventif.
2. Untuk menjadikan sekolah sesuai dengan tujuan dan fungsinya, perlu dilakukan penataan Wiyata Mandala di sekolah melalui langkah-langkah :
a) Meningkatkan koordinasi dan konsolidasai sesama warga sekolah untuk sanggup mencegah sedini mungkin adanya kegiatan dan tindakan yang sanggup mengganggu proses berguru mengajar.
b) Melaksanakan tata tertib sekolah secara konsisten dan berkelanjutan.
c) Melakukan koordinasi dengan Komite sekolah dan pihak keamanan setempat untuk terselenggaranya ketahanan sekolah.
d) Mengadakan penyuluhan bagi orangtua dan siswa yang bermasalah
e) Mengadakan penyuluhan dan pembinanan kesadaran aturan bagi siswa.
f) Pembinaan dan pengembangan keimanan, ketaqwaan, susila bermoral Pancasila, kepribadian sopan santun dan berdisiplin.
g) Pengembangan logika para siswa, rajin belajar, gairah menulis, gemar membaca/ informasi/penemuan para ahli.
h) Mengikutsertakan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri.
i) Mengadakan karya wisata dalam rangka pengembangan iptek.

H. TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH DALAM HAL PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Kepala Sekolah sebagai pimpinan utama, bertugas dan bertanggung jawab memimpin penyelenggaraan berguru mengajar serta membina pendidik dan tenaga kependidikan serta membina kekerabatan kolaborasi dan kiprah serta masyarakat. Kepala Sekolah dalam melaksanakan penataan Wiyata Mandala di sekolah, dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan :
1. Melaksanakan program-program yang telah disusun bersama Komite Sekolah.
2. Menyelenggarakan musyawarah sekolah yang melibatkan pendidik, OSIS, Komite Sekolah, tokoh masyarakat serta pihak keamanan setempat.
3. Menertibkan lingkungan sekolah baik yang berbentuk perangkat keras (sarana prasarana) dan perangkat lunak (peraturan-peraturan, tata tertib, tata upacara dan lain lain).
4. Mengadakan pertemuan baik rutin maupun insidentil yang bersifat intern sekolah (kepala sekolah, pendidik, orangtua siswa, siswa).
5. Menyelenggarakan kegiatan yang sanggup menunjang ketahanan sekolah menyerupai PKS, Pramuka, PMR, Paskibraka, kesenian dan sebagainya.

I. MEKANISME DALAM PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Dalam rangka pelaksanaan Wiyata Mandala perlu upaya penang-gulangan secara dini setiap permasalahan yang timbul sehingga sanggup menghilangkan efek negatifnya, yaitu dilaksanakan secara terpadu, sedikit demi sedikit dan berlanjut sebagai berikut :
5.1. Tahap Preventif Upaya untuk meniadakan peluang-peluang yang sanggup memungkinkan terjadinya kasus-kasus negatif di sekolah, melalui antara lain :
a) Memelihara sekolah, dan lingkungan sekolah serta membuat kebersihan dan ketertiban semoga siswa merasa nyaman dan menyenangkan dan tidak ada daerah tertentu yang dijadikan siswa untuk hal-hal negatif.
b) Menciptakan suasana yang serasi antara pihak pendidik/staf dan siswa serta penduduk di sekitar sekolah.
c) Membentuk jaring-jaring pengawasan/kontrol dan razia terhadap kegiatan siswa di lingkungan sekolah.
d) Menghilangkan bentuk-bentuk perpeloncoan pada ketika MOS.
e) Meminimalisir keterlibatan kelompok maupun perorangan dalam kegiatan sekolah.
f) Mengisi jam-jam kosong dengan pelajaran atau kegiatan ekstra lainnya.
g) Meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler pada masa awal/akhir semester dan masa liburan sekolah.
h) Peningkatan keamanan dan ketertiban khususnya pada ketika berangkat/ usai sekolah.
5.2. Tahap Represif Upaya untuk menindak siswa yang telah melanggar peraturan-peraturan dan tata tertib sekolah. Upaya Represif menyerupai :
a) Mendamaikan para pihak yang terlibat perselisihan berikut orangtua/pendidik pembinanya.
b) Membatasi areal daerah terjadinya aksi.
c) Menetralisir isu-isu yang berkembang dan mencegah timbulnya isu-isu baru.
d) Berkoordinasi dengan pihak keamanan apabila terdapat pihak luar sekolah yang melanggar keamanan, ketertiban dan perbuatan kriminalitas di lingkungan sekolah.
e) Mengungkap lebih lanjut keterlibatan pihak luar sekolah atas masalah yang timbul dan menuntaskan secara hukum.
f) Mengikutsertakan para jago untuk mengadakan bimbingan dan penyuluhan.
g) Memberikan hukuman sesuai tata tertib yang berlaku.


Itulah bahan ke-1 dari 7 bahan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah)

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget