Halloween Costume ideas 2015
January 2019
Adsense ANEKA AYAM ANEKA BUBUR KOLAK ANEKA CAMILAN ANEKA DAGING ANEKA ES ANEKA GORENGAN ANEKA IKAN SEAFOOD ANEKA JAJANAN ANEKA KUE ANEKA KUE BASAH ANEKA KUE KERING ANEKA MAKANAN BAYI ANEKA MIE PASTA ANEKA MINUMAN ANEKA NASI ANEKA PUDING ANEKA ROTI ANEKA SAMBAL ANEKA SAYUR MAYUR ANEKA SUP SOTO ANEKA TAHU TEMPE ANEKA TELUR Bahasa Indonesia baju Blogging Catatan Guru SD Cerpen Css/Javascript Designs harga souvenir pernikahan murah bekasi harga souvenir pernikahan murah bogor harga souvenir pernikahan murah depok harga souvenir pernikahan murah jakarta harga souvenir pernikahan murah tangerang How To Informasi Informasi Pendidikan Informasi Umum Internet IPA jual souvenir pernikahan berkualitas bali jual souvenir pernikahan berkualitas bandung jual souvenir pernikahan berkualitas banjarmasin jual souvenir pernikahan berkualitas batam jual souvenir pernikahan berkualitas bekasi jual souvenir pernikahan berkualitas bogor jual souvenir pernikahan berkualitas depok jual souvenir pernikahan berkualitas jakarta jual souvenir pernikahan berkualitas medan jual souvenir pernikahan berkualitas palembang jual souvenir pernikahan berkualitas tangerang jual souvenir pernikahan lucu bali jual souvenir pernikahan lucu bandung jual souvenir pernikahan lucu banjarmasin jual souvenir pernikahan lucu batam jual souvenir pernikahan lucu bekasi jual souvenir pernikahan lucu bogor jual souvenir pernikahan lucu depok jual souvenir pernikahan lucu jakarta jual souvenir pernikahan lucu medan jual souvenir pernikahan lucu palembang jual souvenir pernikahan lucu tangerang jual souvenir pernikahan murah bali jual souvenir pernikahan murah bandung jual souvenir pernikahan murah banjarmasin jual souvenir pernikahan murah batam jual souvenir pernikahan murah bekasi jual souvenir pernikahan murah bogor jual souvenir pernikahan murah depok jual souvenir pernikahan murah medan jual souvenir pernikahan murah palembang jual souvenir pernikahan murah tangerang jual souvenir pernikahan rekomended bali jual souvenir pernikahan rekomended bandung jual souvenir pernikahan rekomended banjarmasin jual souvenir pernikahan rekomended batam jual souvenir pernikahan rekomended bekasi jual souvenir pernikahan rekomended bogor jual souvenir pernikahan rekomended depok jual souvenir pernikahan rekomended jakarta jual souvenir pernikahan rekomended medan jual souvenir pernikahan rekomended palembang jual souvenir pernikahan rekomended tangerang jual souvenir pernikahan terlaris bali jual souvenir pernikahan terlaris bandung jual souvenir pernikahan terlaris banjarmasin jual souvenir pernikahan terlaris batam jual souvenir pernikahan terlaris bekasi jual souvenir pernikahan terlaris bogor jual souvenir pernikahan terlaris depok jual souvenir pernikahan terlaris jakarta jual souvenir pernikahan terlaris medan jual souvenir pernikahan terlaris palembang jual souvenir pernikahan terlaris tangerang jual souvenir pernikahan termurah bali jual souvenir pernikahan termurah bandung jual souvenir pernikahan termurah banjarmasin jual souvenir pernikahan termurah batam jual souvenir pernikahan termurah bekasi jual souvenir pernikahan termurah bogor jual souvenir pernikahan termurah depok jual souvenir pernikahan termurah medan jual souvenir pernikahan termurah palembang jual souvenir pernikahan termurah tangerang jual souvenir pernikahan terpercaya bali jual souvenir pernikahan terpercaya bandung jual souvenir pernikahan terpercaya banjarmasin jual souvenir pernikahan terpercaya batam jual souvenir pernikahan terpercaya bekasi jual souvenir pernikahan terpercaya bogor jual souvenir pernikahan terpercaya depok jual souvenir pernikahan terpercaya jakarta jual souvenir pernikahan terpercaya medan jual souvenir pernikahan terpercaya palembang jual souvenir pernikahan terpercaya tangerang jual souvenir pernikahan unik bali jual souvenir pernikahan unik bandung jual souvenir pernikahan unik banjarmasin jual souvenir pernikahan unik batam jual souvenir pernikahan unik bekasi jual souvenir pernikahan unik bogor jual souvenir pernikahan unik depok jual souvenir pernikahan unik jakarta jual souvenir pernikahan unik medan jual souvenir pernikahan unik palembang jual souvenir pernikahan unik tangerang Kisi-kisi Soal Komputer Label Based Sitemap Themes lainnya Matematika Materi Ajar Multimedia Opini Otak-atik Blog Pages Pedagogis Pendidikan Posts SEO Settings Sitemap Themes Tips TIPS DAN INFO Tools Tutorial Tutorial Ms. Excel Tutorial Print Widgets

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Assalamualaikum,

Sebagian mitra blogger mungkin menulis yaitu hal yang lumrah. Sesuatu yang biasa dilakukan untuk menghidupkan blognya.

 Sebagian mitra blogger mungkin menulis yaitu hal yang lumrah Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Prapenulisan


Menulis merupakan keterampilan dimana seseorang mempunyai keterampilan dalam menuangkan gagasan-gagasan dikepalanya untuk disampaikan kepada orang lain dalam bentuk simbol-simbol tulisan. Di dalam keterampilan sendiri akan ada seni dalam merangkaikan kata sehingga pembaca akan memahami gagasan yang disampaikan.

Sebagaimana suatu keterampilan pada umumnya, keterampilan membutuhkan suatu keberlanjutan atau kekontinuitas dalam melakukannya. Maka, menulis pun membutuhkan suatu latihan dalam merangkaikan gagasan. Oleh lantaran itu, keterampilan menulis membutuhkan upaya yang sangat gigih semoga tulisannya bermutu dan berkualitas.

Sayangnya, dari banyak yang enggan berjuang dalam melatih keterampilan ini. Terutama blogger ecek-ecek yang dengan sengaja tanpa aib meng-copy goresan pena orang lain untuk diakui sebagai tulisannya. Entah apa yang ada di benak tipe blogger ini, apakah tujuan bloggingnya itu sebatas untuk eksis saja atau malah menciptakan dirinya menjadi kerdil.

Untuk mengasah keterampilan menulis, maka perhatikan pula bagaimana kita menjadi mahir dan terampil dalam menguraikang gagasan dalam tulisan. Setidaknya, ada tiga tahapan dalam menulis yang harus kita pahami. Meski tidak harus demikian namun ketiga tahapan ini akan membantu penulis terampil dalam menguraikan gagasannya. Tahapan itu yaitu tahapan prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap pascapenulisan.

Tahap Prapenulisan


Dikatakan sebagai tahapan prapenulisan lantaran pada tahap ini merupakan fase persiapan dalam menulis. Kebanyakan dari penulis, kadang merasa mempunyai berjuta-juta gagasan di kepala. Akan tetapi, ketika akan memulai menuliskannya malah ia bingung. Sekalinya sudah bisa memulainya pun, gres beberapa alenia inspirasi itu serasa habis.

Sebenarnya, pedoman menyerupai di atas disebabkan lantaran penulis tersebut tidak pernah mempunyai inspirasi yang benar-benar lengkap, siap, dan tersusun sistematis. Mengapa demikian, lantaran inspirasi dasar kemunculan-kemunculan gagasan tersebut hanya muncul ketika 'napsu' keinginan menulis muncul begitu saja tanpa ada kesiapan sama sekali.

Baca juga seluruh materi Bahasa Indonesia di blog ini

Oleh lantaran itu, tahap prapenulisan ini akan mendorong kita mempersiapkan segala bentuk isu dari gagasan yang kita punya semoga menjadi inspirasi yang lengkap, siap, dan sistematis.

Pada tahap prapenulisan ini, kita harus merinci bebrapa hal berikut:


a. Menentukan topik


Menentukan topik merupakan hal yang paling utama yang harus dilakukan. Mengapa? Karena dalam topik goresan pena akan membahas persoalan-persoalan yang menjiwai seluruh karangan.

Mungkin bagi penulis yang sudah terlatih dalam menentukan topik ini tidak mesti ditulis atau diuraikan dalam lembar kerja. Mereka akan menyimpannya di otak mereka. Tapi ini tidak akan berlaku bagi penulis pemula atau penulis yang tidak terbiasa (jika tidak dikatakan mahir atau terampil)

Ada beberapa tips dalam menentukan topik, diantaranya:

1) seseorang mempunyai banyak topik yang dipilih, semua topik sangat menarik dan cukup dikenali. Maka pilihlah topik yang paling sesuai dengan maksud dan tujuan kita menulis. Berbeda jikalau seseorang mempunyai topik yang banyak dan semuanya menarik, tetapi pengetahuan wacana topik tersebut sangat minim dan beresiko akan menjadikan salah tafsir. Maka, pilihlah topik yang memang benar-benar kita kuasai.

2) Kita menentukan suatu topik, tetapi tidak ada inspirasi sama sekali wacana topik tersebut. Biasanya ini terjadi lantaran topik yang dipilih terlalu umum atau mungkin topik yang dipilih trlalu sempit sehingga kesulitan dalam mnari arah atau fokus dari id kita itu. Untuk mengatasinya, kita perlu berdiskusi atau meminta saran dari orang lain, membaca refrensi (buku, artikel, laporan penelitian, dll), melaksanakan refleksi atau pengamtan.

3) Terlalu ambisius dalam menentukan topik sehingga topik yang dipilih terlalu luas. Begitu banyak yang ingin ditulis dan dikupas dalam goresan pena dalam tulisannya sementara pengetahuan, waktu, dan rfrnsi sangat terbatas. Disini pnulis harus pandai-pandai dalam mengdalikan diri.


b.  Mempertimbangkan maksud dan tujuan penulisan


Tujuan penulisan mengarah pada corak (genre) dan bentuk karangan, gaya penyampaian, serta tingkat kerincian isi karangan. Tujuan penulisan berbeda dengan manfaat mengarang.

Misalnya begini: Seorang mahasiswa yang akan mengarang menentukan topiknya  Dampak negatif sajian televisi dan cara mengatasinya. Ketika ditanya apa tujuan mengarang dengan topik tersebut beliau mengatakan, "Agar belum dewasa terhindar dari dampak negatif program-program yang ditayangkan di televisi."

Rumusan tujuan karangan tersebut terasa aneh. Mustahil sebuah karangan sanggup menjaga belum dewasa dari dampak negatif tayangan televisi. Iya Nggak? Munculnya rumusan tersebut muncul lantaran penulis belum memahami dalam membedakan antara impian atau manfaat karangan dengan tujuan mengarangnya. Dalam hal ini tujuan penulisan karangan tersebut.

Tujuan penulisan dalam konteks ini yaitu tujuan mengarang. Seperti menghibur, memberi tahu atau menginformasikan, mngklarifikasi atau membuktikan, atau membujuk (persuasif). Di sinilah tujuan penulisan tersebut akan mengarah pada corak (genre) dan bentuk karangan.

Ditelisik dari permasalahan masalah penulis mahasiswa tersebut, tujuan penulisan dari topik yang beliau pilih kemunkinan tujuannya yaitu menunjukan atau menginformasikan kepada pembaca mengenai dampak negatif tayangan televisi terhadap sikap anak-anak. Dari tujuan penulisan ini maka corak karangan yang sesuai yaitu eksposisi dengahan gaya pemapaparan (prosa ekspositoris).


c.  Memperhatikan sasaran karangan (Sasaran pembaca)


Agar goresan pena itu hingga kepada pembaca, kita harus memperhatikan dan menyesuaikan goresan pena kita dengan level sosial, tingkat pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan kebutuhan pembaca. Terkesan deskiriminatif memang, tapi memang menyerupai itulah kenyataannya.

Tidak mungkin juga kan seorang dokter menulis ilmu kedokterannya, dengan memaparkan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh akademisi kedokteran, kemudian goresan pena tersbut disajikan kepada pembaca umum? Yang terjadi, isu yang disampaikan penulis melalui goresan pena tersebut tidak akan tercapai lantaran pemahamannya belum hingga kesitu.

Seorang hebat menyatakan bahwa keberhasilan menulis dipengaruhi oleh ketepatan pemahaman penulis terhadap pembaca tulisannya. Kemampuan ini memungkinkan kita sebagai penulis menentukan isu serta penyajian yang sesuai. Alasan ini pula yang kerap mendorong seorang penulis berulang-ulang membaca atau meminta orang lain membaca goresan pena kita, dan memperbaikinya.


d.  Mengumpulkan isu pendukung


Anda mungkin pernah membaca artikel bagus, tulisannya panjang dengan kupasan yang dalam, luas, dan kaya. Anda mungkin akan bertanya, darimana penulis tersebut mengumpulkan isu dari banyak sekali sumber, mengaitkan begitu banyak isu menjadi satu ksatuan utuh yang saling mendukung dan berhubungan, serta menyajikannya dengan enak?

Jawaban pastinya, yaitu lantaran penulis tersebut tidak terburu-buru menuliskan gagasannya menjadi bentuk karangan utuh yang dipublikasikan sebelum semua isu yang terkumpulkannya itu banyak dan saling berkaitan.

Pengumpulan isu sanggup dilakukan sebelum, sewaktu menulis, atau sesudah menulis. Namun, banyak pembinaan penulisan-penulisan ilmiah menyarankan proses pengumpulan isu ini dilakukan sebelum proses penulisan, yakni pada tahap prapenulisan ini. Tujuannya yaitu semoga proses penulisan tidak mengalami gangguan lantaran isu yang diperlukan telah terkumpul secukupnya. Meski begitu, ketika penulisan pun terkadang muncul kebutuhan akan isu tambahan, pencarian isu tambahan ini akan lebih gampang lantaran kita tahu persis apa yang kita perlukan.


e. Mengorganisasikan ide/gagasan


Kalau Anda sering mengalami kondisi dimana Anda begitu menggebu ingin menulis lantaran ide-ide di kepala begitu hebat, akan tetapi ketika Anda menuliskannya Anda galau mulai dari mana. Atau bisa jadi ketika Anda sudah menuliskan beberapa gagasan Anda namun hanya selesai pada beberapa alenia saja.

Mengatasi permasalahan ini, kita memerlukan kerangka karangan semoga semua inspirasi atau gagasan terjaring. Dari karangan tersebut kita akan menentukan gagasan-gagasan mana yang harus dimunculkan pertama, tengah, hingga akhiran.

Kerangka karangan merupakan suatau rencana kerja yang memuat garis-garis besar karangan yang akan ditulis. Sederhananya, kerangka karangan merupakan panduan seseorang dalam menulis ketika membuatkan suatu karangan.

Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kerangka karangan tidaklah selalu sanggup sekali jadi. Bisa berkali-kali, ditulis, dikaji ulang, dan diperbaiki lagi. Perbaikan itu tidak hanya berlaku sebelum menulis, bahkan ketika berada di tengah-tengah proses penyusunan kerangka karangan.

Refrensi:
  • Suparno., Yunus, Mohamad. 2009. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka
  • Tompkins, G.E. dan Hoskisson E. (1995). Language Arts: Content and Teaching Strategies. Colombus, OH: Prentice Hall
  • Keraf, G. (1984). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende-Flores: Nusa Indah

Assalamualaikum,

Sebagian mitra blogger mungkin menulis yaitu hal yang lumrah. Sesuatu yang biasa dilakukan untuk menghidupkan blognya.

 Sebagian mitra blogger mungkin menulis yaitu hal yang lumrah Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Prapenulisan


Menulis merupakan keterampilan dimana seseorang mempunyai keterampilan dalam menuangkan gagasan-gagasan dikepalanya untuk disampaikan kepada orang lain dalam bentuk simbol-simbol tulisan. Di dalam keterampilan sendiri akan ada seni dalam merangkaikan kata sehingga pembaca akan memahami gagasan yang disampaikan.

Sebagaimana suatu keterampilan pada umumnya, keterampilan membutuhkan suatu keberlanjutan atau kekontinuitas dalam melakukannya. Maka, menulis pun membutuhkan suatu latihan dalam merangkaikan gagasan. Oleh lantaran itu, keterampilan menulis membutuhkan upaya yang sangat gigih semoga tulisannya bermutu dan berkualitas.

Sayangnya, dari banyak yang enggan berjuang dalam melatih keterampilan ini. Terutama blogger ecek-ecek yang dengan sengaja tanpa aib meng-copy goresan pena orang lain untuk diakui sebagai tulisannya. Entah apa yang ada di benak tipe blogger ini, apakah tujuan bloggingnya itu sebatas untuk eksis saja atau malah menciptakan dirinya menjadi kerdil.

Untuk mengasah keterampilan menulis, maka perhatikan pula bagaimana kita menjadi mahir dan terampil dalam menguraikang gagasan dalam tulisan. Setidaknya, ada tiga tahapan dalam menulis yang harus kita pahami. Meski tidak harus demikian namun ketiga tahapan ini akan membantu penulis terampil dalam menguraikan gagasannya. Tahapan itu yaitu tahapan prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap pascapenulisan.

Tahap Prapenulisan


Dikatakan sebagai tahapan prapenulisan lantaran pada tahap ini merupakan fase persiapan dalam menulis. Kebanyakan dari penulis, kadang merasa mempunyai berjuta-juta gagasan di kepala. Akan tetapi, ketika akan memulai menuliskannya malah ia bingung. Sekalinya sudah bisa memulainya pun, gres beberapa alenia inspirasi itu serasa habis.

Sebenarnya, pedoman menyerupai di atas disebabkan lantaran penulis tersebut tidak pernah mempunyai inspirasi yang benar-benar lengkap, siap, dan tersusun sistematis. Mengapa demikian, lantaran inspirasi dasar kemunculan-kemunculan gagasan tersebut hanya muncul ketika 'napsu' keinginan menulis muncul begitu saja tanpa ada kesiapan sama sekali.

Baca juga seluruh materi Bahasa Indonesia di blog ini

Oleh lantaran itu, tahap prapenulisan ini akan mendorong kita mempersiapkan segala bentuk isu dari gagasan yang kita punya semoga menjadi inspirasi yang lengkap, siap, dan sistematis.

Pada tahap prapenulisan ini, kita harus merinci bebrapa hal berikut:


a. Menentukan topik


Menentukan topik merupakan hal yang paling utama yang harus dilakukan. Mengapa? Karena dalam topik goresan pena akan membahas persoalan-persoalan yang menjiwai seluruh karangan.

Mungkin bagi penulis yang sudah terlatih dalam menentukan topik ini tidak mesti ditulis atau diuraikan dalam lembar kerja. Mereka akan menyimpannya di otak mereka. Tapi ini tidak akan berlaku bagi penulis pemula atau penulis yang tidak terbiasa (jika tidak dikatakan mahir atau terampil)

Ada beberapa tips dalam menentukan topik, diantaranya:

1) seseorang mempunyai banyak topik yang dipilih, semua topik sangat menarik dan cukup dikenali. Maka pilihlah topik yang paling sesuai dengan maksud dan tujuan kita menulis. Berbeda jikalau seseorang mempunyai topik yang banyak dan semuanya menarik, tetapi pengetahuan wacana topik tersebut sangat minim dan beresiko akan menjadikan salah tafsir. Maka, pilihlah topik yang memang benar-benar kita kuasai.

2) Kita menentukan suatu topik, tetapi tidak ada inspirasi sama sekali wacana topik tersebut. Biasanya ini terjadi lantaran topik yang dipilih terlalu umum atau mungkin topik yang dipilih trlalu sempit sehingga kesulitan dalam mnari arah atau fokus dari id kita itu. Untuk mengatasinya, kita perlu berdiskusi atau meminta saran dari orang lain, membaca refrensi (buku, artikel, laporan penelitian, dll), melaksanakan refleksi atau pengamtan.

3) Terlalu ambisius dalam menentukan topik sehingga topik yang dipilih terlalu luas. Begitu banyak yang ingin ditulis dan dikupas dalam goresan pena dalam tulisannya sementara pengetahuan, waktu, dan rfrnsi sangat terbatas. Disini pnulis harus pandai-pandai dalam mengdalikan diri.


b.  Mempertimbangkan maksud dan tujuan penulisan


Tujuan penulisan mengarah pada corak (genre) dan bentuk karangan, gaya penyampaian, serta tingkat kerincian isi karangan. Tujuan penulisan berbeda dengan manfaat mengarang.

Misalnya begini: Seorang mahasiswa yang akan mengarang menentukan topiknya  Dampak negatif sajian televisi dan cara mengatasinya. Ketika ditanya apa tujuan mengarang dengan topik tersebut beliau mengatakan, "Agar belum dewasa terhindar dari dampak negatif program-program yang ditayangkan di televisi."

Rumusan tujuan karangan tersebut terasa aneh. Mustahil sebuah karangan sanggup menjaga belum dewasa dari dampak negatif tayangan televisi. Iya Nggak? Munculnya rumusan tersebut muncul lantaran penulis belum memahami dalam membedakan antara impian atau manfaat karangan dengan tujuan mengarangnya. Dalam hal ini tujuan penulisan karangan tersebut.

Tujuan penulisan dalam konteks ini yaitu tujuan mengarang. Seperti menghibur, memberi tahu atau menginformasikan, mngklarifikasi atau membuktikan, atau membujuk (persuasif). Di sinilah tujuan penulisan tersebut akan mengarah pada corak (genre) dan bentuk karangan.

Ditelisik dari permasalahan masalah penulis mahasiswa tersebut, tujuan penulisan dari topik yang beliau pilih kemunkinan tujuannya yaitu menunjukan atau menginformasikan kepada pembaca mengenai dampak negatif tayangan televisi terhadap sikap anak-anak. Dari tujuan penulisan ini maka corak karangan yang sesuai yaitu eksposisi dengahan gaya pemapaparan (prosa ekspositoris).


c.  Memperhatikan sasaran karangan (Sasaran pembaca)


Agar goresan pena itu hingga kepada pembaca, kita harus memperhatikan dan menyesuaikan goresan pena kita dengan level sosial, tingkat pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan kebutuhan pembaca. Terkesan deskiriminatif memang, tapi memang menyerupai itulah kenyataannya.

Tidak mungkin juga kan seorang dokter menulis ilmu kedokterannya, dengan memaparkan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh akademisi kedokteran, kemudian goresan pena tersbut disajikan kepada pembaca umum? Yang terjadi, isu yang disampaikan penulis melalui goresan pena tersebut tidak akan tercapai lantaran pemahamannya belum hingga kesitu.

Seorang hebat menyatakan bahwa keberhasilan menulis dipengaruhi oleh ketepatan pemahaman penulis terhadap pembaca tulisannya. Kemampuan ini memungkinkan kita sebagai penulis menentukan isu serta penyajian yang sesuai. Alasan ini pula yang kerap mendorong seorang penulis berulang-ulang membaca atau meminta orang lain membaca goresan pena kita, dan memperbaikinya.


d.  Mengumpulkan isu pendukung


Anda mungkin pernah membaca artikel bagus, tulisannya panjang dengan kupasan yang dalam, luas, dan kaya. Anda mungkin akan bertanya, darimana penulis tersebut mengumpulkan isu dari banyak sekali sumber, mengaitkan begitu banyak isu menjadi satu ksatuan utuh yang saling mendukung dan berhubungan, serta menyajikannya dengan enak?

Jawaban pastinya, yaitu lantaran penulis tersebut tidak terburu-buru menuliskan gagasannya menjadi bentuk karangan utuh yang dipublikasikan sebelum semua isu yang terkumpulkannya itu banyak dan saling berkaitan.

Pengumpulan isu sanggup dilakukan sebelum, sewaktu menulis, atau sesudah menulis. Namun, banyak pembinaan penulisan-penulisan ilmiah menyarankan proses pengumpulan isu ini dilakukan sebelum proses penulisan, yakni pada tahap prapenulisan ini. Tujuannya yaitu semoga proses penulisan tidak mengalami gangguan lantaran isu yang diperlukan telah terkumpul secukupnya. Meski begitu, ketika penulisan pun terkadang muncul kebutuhan akan isu tambahan, pencarian isu tambahan ini akan lebih gampang lantaran kita tahu persis apa yang kita perlukan.


e. Mengorganisasikan ide/gagasan


Kalau Anda sering mengalami kondisi dimana Anda begitu menggebu ingin menulis lantaran ide-ide di kepala begitu hebat, akan tetapi ketika Anda menuliskannya Anda galau mulai dari mana. Atau bisa jadi ketika Anda sudah menuliskan beberapa gagasan Anda namun hanya selesai pada beberapa alenia saja.

Mengatasi permasalahan ini, kita memerlukan kerangka karangan semoga semua inspirasi atau gagasan terjaring. Dari karangan tersebut kita akan menentukan gagasan-gagasan mana yang harus dimunculkan pertama, tengah, hingga akhiran.

Kerangka karangan merupakan suatau rencana kerja yang memuat garis-garis besar karangan yang akan ditulis. Sederhananya, kerangka karangan merupakan panduan seseorang dalam menulis ketika membuatkan suatu karangan.

Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kerangka karangan tidaklah selalu sanggup sekali jadi. Bisa berkali-kali, ditulis, dikaji ulang, dan diperbaiki lagi. Perbaikan itu tidak hanya berlaku sebelum menulis, bahkan ketika berada di tengah-tengah proses penyusunan kerangka karangan.

Refrensi:
  • Suparno., Yunus, Mohamad. 2009. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka
  • Tompkins, G.E. dan Hoskisson E. (1995). Language Arts: Content and Teaching Strategies. Colombus, OH: Prentice Hall
  • Keraf, G. (1984). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende-Flores: Nusa Indah

Postingan ini merupakan seri terakhir dari tahapan dalam mengasah keterampilan menulis. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan penting yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan kini tahap pascapenulisan.


 Postingan ini merupakan seri terakhir dari tahapan dalam mengasah keterampilan menulis Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Pascapenulisan

Saya menyarankan untuk membaca postingan sebelumnya biar pemahaman ihwal tahapan dalam mengasah keterampilan menulis. Pada tahapan ini ada dua acara yang harus dilakukan. Yaitu Penyuntingan dan Revisi.

Tahapan Penyuntingan dan Revisi suatu naskah


Kegiatan penyuntingan dan revisi mempunyai acara yang berbeda. Penyuntingan (editing) mempunyai makna investigasi dan perbaikan unsur mekanik karangan menyerupai ejaan, pengtuasi, dan konvensi penulisan lainnya. Sedangkan revisi atau perbaikan mengarah kepada investigasi dan perbaikan isi karangan.

Kegiatan penyuntingan merupakan acara membaca ulang suatu draft karangan dengan tujuan untuk merasakan, menilai, memeriksa, baik unsur mekanik maupun isinya. Tujuannya untuk memperoleh isu ihwal unsur-unsur karangan yang perlu disempurnakan. Kegiatan ini sanggup dilakukan sendiri ataupun orang lain.

Setelah hasil penyuntingana maka kegaitan revisi dilakukan. Kegiatan penambahan, penggantian, penghilangan, pengubahan, atau penyusunan kembali unsur-unsur karangan. Kadar revisi tergantung dari tingkat keperluannya saja. Bila revisi berat,  sanggup juga sedang atau ringan.

Agar lebih memahami, acara penyuntingan dan revisi sanggup dilakukan dengan kegiatan-kegiatan berikut:

1. Membaca keseluruhan karangan


Bacalah karangan beberapa kali biar tujuan penulisan karangan tercapai. Maksudnya, ketika membaca karangan kita sendiri pastikan bahwa segala isu yang ingin Anda sampaikan tersampaikan dengan baik dan jelas. Tidak menjadikan ambigu kepada pembaca karangan kita.
Selain itu, dikala membaca karangan posisikan diri bukan lagi sebagai penulis. Akan tetapi posisikan sebagai pembaca atau sasaran pembaca Anda.

2. Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki atau catatan penting.


Menanda hal-hal yang perlu disini sesudah Anda membaca beberapa kali goresan pena Anda. Disarankan Anda menandai karangan ini sesudah Anda minimal sudah membaca dua kali karangan Anda sendiri. Tujuannya yaitu untuk mengantisipasi subjektivitas diri Anda sebagai penulis.

Hal-hal yang perlu diperbaiki dengan menawarkan tanda atau catatan jika ada yang diganti, ditambahkan, atau disempurnakan pada draft karangan Anda. Setelah menawarkan Tanda, lalu lakukan revisi seperlunya.

3. Melakukan perbaikan sesuai dengan temuan dikala penyuntingan


Setelah membaca karangan secara umum, lalu menandai beberapa kesalahan atau perbaikan yang mesti dilakukan, maka acara selanjutnya yaitu perbaikan atau revisi. Kegiatan ini terus dilakukan bahkan akan mengalami proses penulisan dimana kembali membuatkan gagasan. Kegiatan revisi akan berakhir ketika karangan sudah menjadi karangan yang kita inginkan.

Postingan ini merupakan seri terakhir dari tahapan dalam mengasah keterampilan menulis. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan penting yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan kini tahap pascapenulisan.


 Postingan ini merupakan seri terakhir dari tahapan dalam mengasah keterampilan menulis Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Pascapenulisan

Saya menyarankan untuk membaca postingan sebelumnya biar pemahaman ihwal tahapan dalam mengasah keterampilan menulis. Pada tahapan ini ada dua acara yang harus dilakukan. Yaitu Penyuntingan dan Revisi.

Tahapan Penyuntingan dan Revisi suatu naskah


Kegiatan penyuntingan dan revisi mempunyai acara yang berbeda. Penyuntingan (editing) mempunyai makna investigasi dan perbaikan unsur mekanik karangan menyerupai ejaan, pengtuasi, dan konvensi penulisan lainnya. Sedangkan revisi atau perbaikan mengarah kepada investigasi dan perbaikan isi karangan.

Kegiatan penyuntingan merupakan acara membaca ulang suatu draft karangan dengan tujuan untuk merasakan, menilai, memeriksa, baik unsur mekanik maupun isinya. Tujuannya untuk memperoleh isu ihwal unsur-unsur karangan yang perlu disempurnakan. Kegiatan ini sanggup dilakukan sendiri ataupun orang lain.

Setelah hasil penyuntingana maka kegaitan revisi dilakukan. Kegiatan penambahan, penggantian, penghilangan, pengubahan, atau penyusunan kembali unsur-unsur karangan. Kadar revisi tergantung dari tingkat keperluannya saja. Bila revisi berat,  sanggup juga sedang atau ringan.

Agar lebih memahami, acara penyuntingan dan revisi sanggup dilakukan dengan kegiatan-kegiatan berikut:

1. Membaca keseluruhan karangan


Bacalah karangan beberapa kali biar tujuan penulisan karangan tercapai. Maksudnya, ketika membaca karangan kita sendiri pastikan bahwa segala isu yang ingin Anda sampaikan tersampaikan dengan baik dan jelas. Tidak menjadikan ambigu kepada pembaca karangan kita.
Selain itu, dikala membaca karangan posisikan diri bukan lagi sebagai penulis. Akan tetapi posisikan sebagai pembaca atau sasaran pembaca Anda.

2. Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki atau catatan penting.


Menanda hal-hal yang perlu disini sesudah Anda membaca beberapa kali goresan pena Anda. Disarankan Anda menandai karangan ini sesudah Anda minimal sudah membaca dua kali karangan Anda sendiri. Tujuannya yaitu untuk mengantisipasi subjektivitas diri Anda sebagai penulis.

Hal-hal yang perlu diperbaiki dengan menawarkan tanda atau catatan jika ada yang diganti, ditambahkan, atau disempurnakan pada draft karangan Anda. Setelah menawarkan Tanda, lalu lakukan revisi seperlunya.

3. Melakukan perbaikan sesuai dengan temuan dikala penyuntingan


Setelah membaca karangan secara umum, lalu menandai beberapa kesalahan atau perbaikan yang mesti dilakukan, maka acara selanjutnya yaitu perbaikan atau revisi. Kegiatan ini terus dilakukan bahkan akan mengalami proses penulisan dimana kembali membuatkan gagasan. Kegiatan revisi akan berakhir ketika karangan sudah menjadi karangan yang kita inginkan.

Cara ini bersama-sama pernah saya terapkan dikala aktif dalam lembaga penulis cerpen tahun 2013-an.  Catatan ini juga udah pernah saya bahas dalam grup Facebook saya dengan judul "Caraku Memanggil Gagasan".



 Cara ini bersama-sama pernah saya terapkan dikala aktif dalam lembaga penulis cerpen tahun  Cara Mengatasi Kebuntuan dalam Menulis Cerpen


Oke, beberapa cerpen yang baru-baru ini saya buat dengan menerapkan tehnik berikut. Tehnik yang saya analisa dan saya hipotesiskan sebagai suatu cara yang cocok untuk saya terapkan sendiri.

Pengalaman pertama, cerpen yang berjudul “Panggung Kenyataan di Ruang Tamu.” Cerpen ini bermula dari keniatanku menceritakan wacana seorang istri yang dilukai suaminya. Karma jadi ending niat titik puncak penuntasan ceritaku.


Mulanya saya buntu. Bingung akan memulai dari mana. Aku mencoba menghipotesis dengan menerapkan training Ideom Spontan. Sekalian dengan menerapkan bagan VOKAG, saya menentukan kata-kata yang masih mempunyai keterkaitan dengan teladan dongeng yang akan saya ceritakan.

Dari kumpulan kata-kata itu, saya berusaha mengoptimalkan otak kanan biar terjalin kalimat-kalimat yang bisa menempatkan semua kata-kata yang saya susun itu. Alhasil, saya ternyata begitu lanyah menuliskan gagasanku itu.


Pengalaman kedua, judul cerpen "Permintaan Ibu" mulanya gagasan dasarnya itu yaitu kerinduan sang ibu pada anaknya untuk pulang. Cuman itu. Tapi saya galau sendiri anaknya pergi kemana sehingga ibu itu harus merindukannya. Aku akan menciptakan kejutan macam apa dari gagasan baku tersebut. Kadang terbesit dongeng seorang istri yang patuh pada perintah suaminya bahwa dihentikan keluar rumah meski ibunya meninggal dunia. Tapi rasanya itu terlalu umum. Bagaimana kalau saya buat si anaknya itu pergi dengan merahasiakan pekerjaannya, berbohong demi menyenangkan hatinya. Sampai janjkematian sang ibu, si anak belum juga berani pulang karena merasa aib alasannya pekerjaan sang anak yaitu seorang pelacur.

Aku berpikir inilah caraku melancarkan energi tulisanku. Aku ingin terus menerus menulis dengan ada atau tidak adanya materi untuk kuceritakan. Kadang sesudah menyusun kata-kata yang sudah saya kumpulkan, imajinasiku menyentuh untuk segera bergesekan untuk segera menuliskan wacananya.

Aku ibarat terbesit gagasan cemerlang untuk memberikan sesuatu yang mengagumkan. Aku meyakini bahwa dengan ini menjadi salah satu penawar writerblock kala kubuntu.

Dari situ, saya menarik sesimpulan. Ternyata saya bisa menerapkan metode berikut dalam memancing ilham untuk menuliskan sesuatu.

1.    Apa yang ingin kau ceritakan? Tentukan!


Kalau dalam unsur interinsik prosa, langkah awal ini bisa saya sejajarkan dengan Tema. Tema apa yang ingin saya sampaikan kepada pembaca, itulah tema yang sedang saya akan sajikan kepada pembaca. Semisal begini, ada rasa yang menggebu-gebu kita diri ini ingin menuliskan sesuatu. 

Seperti cerpen yang kusebutkan tadi. Maka boleh kusebutkan bahwa saya ingin menuliskan sebuah dongeng yang berkaitan dengan keadaan istri dikala dilukai suaminya. Sebenarnya, saya bertanya apa penyebab yang cocok untuk saya jelaskan nantinya. Saat itu saya menemukan gagasan bahwa kelak suaminya itu akan mendapatkan karma.

2.    Biar merasa terpancing, saya susun kata-kata yang berklasifikasi VOKAG.


Kata-kata tersebut saya sengaja mendekati hal-hal yang berkaitan dengan dongeng yang saya buat. Semisal saya menentukan perih, lebam, jerit, kasar, manis. Kata tersebut sangat bersahabat dengan dongeng istri yang dilukai.

3.    Aku menuliskan menurut beberapa patokan kata tersebut.


Bila alur dan bahasan tulisanku separuh jalan. Aku mengatur budi supaya tidak terbentur kerancuan.

4.    Bila saya buntu di tengah jalan, sementara gagasan sudah tahu akan diapakan goresan pena ini. Aku mendaftarkan ulang-kata-kata yang bersinggungan dengan gagasan itu.

 

5.    Ulangi kebuntuan ini dengan cara-cara sebelumnya.


Kelebihan mendaftarkan kata-kata tersebut sebelum menulis yaitu mengurangi kadar kebuntuan ide. Bahkan, cara ini bisa memancing ending akan diapakan goresan pena ini.

Kelemahan dari cara ini yaitu kita mengesampingkan alur budi demi sebuah gagasan yang belum tersusun. Alhasil, masih banyak ketimpangan-ketimpangan logis sesudah rampung semua goresan pena dibuat.

Cara ini bersama-sama pernah saya terapkan dikala aktif dalam lembaga penulis cerpen tahun 2013-an.  Catatan ini juga udah pernah saya bahas dalam grup Facebook saya dengan judul "Caraku Memanggil Gagasan".



 Cara ini bersama-sama pernah saya terapkan dikala aktif dalam lembaga penulis cerpen tahun  Cara Mengatasi Kebuntuan dalam Menulis Cerpen


Oke, beberapa cerpen yang baru-baru ini saya buat dengan menerapkan tehnik berikut. Tehnik yang saya analisa dan saya hipotesiskan sebagai suatu cara yang cocok untuk saya terapkan sendiri.

Pengalaman pertama, cerpen yang berjudul “Panggung Kenyataan di Ruang Tamu.” Cerpen ini bermula dari keniatanku menceritakan wacana seorang istri yang dilukai suaminya. Karma jadi ending niat titik puncak penuntasan ceritaku.


Mulanya saya buntu. Bingung akan memulai dari mana. Aku mencoba menghipotesis dengan menerapkan training Ideom Spontan. Sekalian dengan menerapkan bagan VOKAG, saya menentukan kata-kata yang masih mempunyai keterkaitan dengan teladan dongeng yang akan saya ceritakan.

Dari kumpulan kata-kata itu, saya berusaha mengoptimalkan otak kanan biar terjalin kalimat-kalimat yang bisa menempatkan semua kata-kata yang saya susun itu. Alhasil, saya ternyata begitu lanyah menuliskan gagasanku itu.


Pengalaman kedua, judul cerpen "Permintaan Ibu" mulanya gagasan dasarnya itu yaitu kerinduan sang ibu pada anaknya untuk pulang. Cuman itu. Tapi saya galau sendiri anaknya pergi kemana sehingga ibu itu harus merindukannya. Aku akan menciptakan kejutan macam apa dari gagasan baku tersebut. Kadang terbesit dongeng seorang istri yang patuh pada perintah suaminya bahwa dihentikan keluar rumah meski ibunya meninggal dunia. Tapi rasanya itu terlalu umum. Bagaimana kalau saya buat si anaknya itu pergi dengan merahasiakan pekerjaannya, berbohong demi menyenangkan hatinya. Sampai janjkematian sang ibu, si anak belum juga berani pulang karena merasa aib alasannya pekerjaan sang anak yaitu seorang pelacur.

Aku berpikir inilah caraku melancarkan energi tulisanku. Aku ingin terus menerus menulis dengan ada atau tidak adanya materi untuk kuceritakan. Kadang sesudah menyusun kata-kata yang sudah saya kumpulkan, imajinasiku menyentuh untuk segera bergesekan untuk segera menuliskan wacananya.

Aku ibarat terbesit gagasan cemerlang untuk memberikan sesuatu yang mengagumkan. Aku meyakini bahwa dengan ini menjadi salah satu penawar writerblock kala kubuntu.

Dari situ, saya menarik sesimpulan. Ternyata saya bisa menerapkan metode berikut dalam memancing ilham untuk menuliskan sesuatu.

1.    Apa yang ingin kau ceritakan? Tentukan!


Kalau dalam unsur interinsik prosa, langkah awal ini bisa saya sejajarkan dengan Tema. Tema apa yang ingin saya sampaikan kepada pembaca, itulah tema yang sedang saya akan sajikan kepada pembaca. Semisal begini, ada rasa yang menggebu-gebu kita diri ini ingin menuliskan sesuatu. 

Seperti cerpen yang kusebutkan tadi. Maka boleh kusebutkan bahwa saya ingin menuliskan sebuah dongeng yang berkaitan dengan keadaan istri dikala dilukai suaminya. Sebenarnya, saya bertanya apa penyebab yang cocok untuk saya jelaskan nantinya. Saat itu saya menemukan gagasan bahwa kelak suaminya itu akan mendapatkan karma.

2.    Biar merasa terpancing, saya susun kata-kata yang berklasifikasi VOKAG.


Kata-kata tersebut saya sengaja mendekati hal-hal yang berkaitan dengan dongeng yang saya buat. Semisal saya menentukan perih, lebam, jerit, kasar, manis. Kata tersebut sangat bersahabat dengan dongeng istri yang dilukai.

3.    Aku menuliskan menurut beberapa patokan kata tersebut.


Bila alur dan bahasan tulisanku separuh jalan. Aku mengatur budi supaya tidak terbentur kerancuan.

4.    Bila saya buntu di tengah jalan, sementara gagasan sudah tahu akan diapakan goresan pena ini. Aku mendaftarkan ulang-kata-kata yang bersinggungan dengan gagasan itu.

 

5.    Ulangi kebuntuan ini dengan cara-cara sebelumnya.


Kelebihan mendaftarkan kata-kata tersebut sebelum menulis yaitu mengurangi kadar kebuntuan ide. Bahkan, cara ini bisa memancing ending akan diapakan goresan pena ini.

Kelemahan dari cara ini yaitu kita mengesampingkan alur budi demi sebuah gagasan yang belum tersusun. Alhasil, masih banyak ketimpangan-ketimpangan logis sesudah rampung semua goresan pena dibuat.

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat. Pada bulan ini, tidak hanya ibadah puasa saja yang menjadi kenikmatan dan keberkahan. Ibadah-ibadah lain pun menjadi ...

Sebelum menyusun jadwal rutinitas di bulan Ramadhan, alangkah baiknya kita tentukan dahulu apa sasaran ibadah kita. Misalnya saya daftarkan sebagai berikut:

- khatam Al Alquran 5 kali
- selalu shalat fardhu di masjid
- memper
- shadaqoh tiap hari
- menyantuni anak yatim
- mengikuti kuliah subuh setiap hari

Saatnya Menyusun Jadwal Rutinitas Kualitas di Bulan Ramadhan

Untuk itulah, saya sengaja menciptakan jadwal rutinitasku. Aku meyakini landasan-landasan bagaimana saya menciptakan jadwal ini. Dengan berharap perbaikan watak melalui jadwal yang lebih berpatokan pada waktu shalat mantubah, maka segala acara yang dilakukan di antara waktu-waktu shalat tersebut akan berkah. Harapan ini bagiku logis. Sebab saya meyakini bahwa orang yang berusaha memperbaiki hatinya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan gampang untuk memperbaiki kehidupannya yang lain. Bukan saja karena kebiasaan dan tanggung jawab menjalani jadwal itu, melainan Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membantu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Tidaklah Allah mengubah suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang mau mengubahnya."

***

==(( Jadwal Shalat yang Berpatokan pada Waktu Shalat ))==

Aku meyakini bahwa orang yang sedang memperbaiki shalatnya, maka segala sektor kehidupan yang lainnya juga otomatis akan berubah lebih baik. Begitupun jadwal yang berpatokan pada waktu shalat, maka yang menjadi pilar pembatas dan pengokoh seluruh acara akan lebih besar lengan berkuasa pondasinya. Bagi acara yang dijalankan pada hari itu akan serasa ringan dan hening sebab sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba. Apalagi kalau jadwal itu tertib dijalankan sesuai apa-apa yang sudah digariskan, tentu shalat lima waktu pun akan ditunaikan sempurna pada waktunya.

Jadwal yang sedang saya susun ini dimulai dari kegiatan pada pagi hari. Dimulai dari acara bangkit tidur hingga dengan waktu tidur lagi. Antara kedua waktu tersebut sebgai 'pos' acara yaitu waktu shalat. Pada 'pos' di sini akan ditempatkan acara eksplisit untuk merefleksikan seluruh kegiatan yang sudah terjadwalkan. Apakah sudah sesuai dengan apa-apa yang sudah direncakana atau belum. Apakah ada hambatan dalam pelaksanaan jadwal tersebut dan apa-apa yang menjadi solusinya untuk kedepannya. Jika ada jadwal yang tidak ditunaikan, layakkah mendapat toleransi. Konsekuensi apa yang sanggup kita terapkan biar mengakibatkan imbas jera dan tidak lagi mengulangi kemalasan mengulangi pelanggarannya terhadap apa-apa yang sudah direncanakan oleh jadwal.

Sebelum menuliskan jadwal, ada baiknya mendaftarkan terlebih dahulu seluruh acara yang biasa dilakukan. Aktivitas yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kelompokkan ke dalam acara rutinitas dan kewajiban serta acara kebutuhan. Jenis pengelompokkan ini pun perlu dirumuskan biar mengetahui urgensi/pentingnya jenis acara ini.

Jika semua sudah didaftarkan, tulislah kerangka jadwalnya. Tempatkan aktivitas-aktivitas tersebut di antara pos-pos tadi. Lalu tulislah dan pampang jadwal rutintias itu di daerah yang gampang kita lihat dan ingat. Boleh di dinding kamar dengan poster besar, atau dibentuk semenarik mungkin. Dengan begitu kita akan merasa gembira pada kesepakatan yang kita buat sendiri. Program ini selain untuk mendidik kedisiplinan juga sanggup menumbuhkan perilaku tanggung jawab terhadap apa-apa yang sudah dikomitmenkan.

***

contoh jadwal rutinitas
==(({ Jadwal Rutinitasku }))==



Subuh
    - Mandi + Shalat Subuh berjamaah
    - Tadarus dan Tadabur Al-Quran
    - Menyiapkan pembelajaran
    - Ro'an (bebersih)
    - Memanaskan sepeda Motor
    - mengajak persiapan sekolah adik
Dhuha
    - Wudhu + shalat sunah dhuha
    - berangkat ke sekolah
------------
ibadah kerja
------------
Dhuhur
    - Mandi/wudhu
    - Shalat Dhuhur berjamaah
    - Tadarus dan tadabur Al-quran
    - Makan siang
    - Mengevaluasi kerjaan
    - berkarya sastra
    - menyiapkan adik sekolah madrasah
    - membaca buku bacaan
    - ro'an
    - istirahat
Ashar
    - Mandi/wudhu
    - tadarus dan tadabur Al-Quran
    - membaca buku bacaan
    - berkarya sastra
    - ro'an
    - menjemput adik
Maghrib
    - mandi/wudhu
    - shalat maghrib
    - tadarus dan tadabur al-Quran
    - bimbingan terhadap adik
    - makan malam
Isya
    - shalat isya berjamaah
    - tadarus dan tadabur Al-Quran
    - menyiapkan persiapan kerja
    - berkarya sastra
    - membaca buku
    - bersantai/menonton televisi
    - tidur
Qiyamul Lail
    - shalat tahajud/tobat/tasbih/hajat
    - Dzikir dan Wirid
    - Muhasabah dan doa
    - tidur lagi*

***

Jadwal di atas yaitu jadwal harian. Maksudnya, jadwal di atas dibentuk untuk mewadahi atau menggarisi seluruh kegiatan sehari-hari. Adapun kegiatan semacam kiprah yang mengakibatkan terjadinya perubahan jadwal harus dibentuk terpisah. Kalau jadwal rutinitas ini berlaku juga untuk jadwal kegiatan tugas, atau beberapa proyek kerjaan, tentu keefektifan jadwal rutinitas ini akan terganggu.

Pemisahan jadwal kiprah atau proyek dilakukan biar tidak terjadi ketergantungan terhadap kegiatan sehari-hari. Boleh jadi kita terlalu memaksa dan turut pada jadwal rutinitas yang sudah ditetapkan di atas. Tetapi malah mengabaikan kiprah yang sama penting yang perlu sekali dikerjakan. Pemisahan jadwal kiprah tidak serta merta pula menghapus seluruh kegiatan harian. Jadwal kiprah menjadi teladan dari tenggat waktu kapan kiprah itu harus segera diselesaikan. Poin-poin jadwal kiprah yang sama pentingnya nanti akan dimasukan ke dalam waktu yang memungkinan tugas/kerjaan itu dikerjakan.

Contohnya begini, selain kiprah rutinitas yang terjadwalkan di atas. Tiba-tiba pekerjaan menugasi kita untuk menuntaskan laporan. Tenggat waktu laporan tersebut yaitu 2 minggu. Tugas tersebut sanggup diperinci dengan kegiatan mencari bahan-bahan laporan, pengolahan data laporan, dan penyusunan laporan. Masing-masing kegiatan itu dimasukan ke dalam jadwal rutinitasl pada waktu yang mungkin sanggup dikerjakan. Misalnya mencari bahan-bahan laporan sanggup dilakukan antara waktu Dhuhur hingga Ashar. Maka poin kiprah ini dimasukan ke jadwal rutinitas. Di sini berlaku juga toleransi pada jadwal kegiatan harian yang sudah ditetapkan. Dengan melihat urgensi/kepentingan jadwal pada waktu tersebut, kita sanggup menggantikan kegiatan yang sifatnya tidak terlalu penting dengan kegiatan jadwal kiprah ini.

Namun, perlu digarisbawahi di sini. Derajat kepentingan jadwal rutinitas bukan diartikan sebagai hal yang diremehkan derajat kepentingannya. Tadarus al quran menjadi sangat penting guna mendidik jiwa dan hati. Maka kalau kiprah tadarus ini diganti dengan kegiatan penting, alangkahnya sayangnya. Mestinya kegiatan tadarus al quran ini mendapat prioritas. Sebab kegiatan tadarus al quran juga berkhasiat membantu hati untuk melaukan tindakan biar hati tenang. Oleh karenanya, untuk memasukan jadwal kiprah mesti melihat mana-mana yang perlu digantikan dan mana-mana yang tidak perlu. Kita juga perlu memahami betul pada kegiatan-kegiatan mana yang perlu kita jadikan prioritas terkait duduk perkara mendidik hati. Sebab jadwal rutinitas ini dibentuk bertujuan pokok untuk menciptakan hati istiqomah dan terpaut pada haulah terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat. Pada bulan ini, tidak hanya ibadah puasa saja yang menjadi kenikmatan dan keberkahan. Ibadah-ibadah lain pun menjadi ...

Sebelum menyusun jadwal rutinitas di bulan Ramadhan, alangkah baiknya kita tentukan dahulu apa sasaran ibadah kita. Misalnya saya daftarkan sebagai berikut:

- khatam Al Alquran 5 kali
- selalu shalat fardhu di masjid
- memper
- shadaqoh tiap hari
- menyantuni anak yatim
- mengikuti kuliah subuh setiap hari

Saatnya Menyusun Jadwal Rutinitas Kualitas di Bulan Ramadhan

Untuk itulah, saya sengaja menciptakan jadwal rutinitasku. Aku meyakini landasan-landasan bagaimana saya menciptakan jadwal ini. Dengan berharap perbaikan watak melalui jadwal yang lebih berpatokan pada waktu shalat mantubah, maka segala acara yang dilakukan di antara waktu-waktu shalat tersebut akan berkah. Harapan ini bagiku logis. Sebab saya meyakini bahwa orang yang berusaha memperbaiki hatinya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan gampang untuk memperbaiki kehidupannya yang lain. Bukan saja karena kebiasaan dan tanggung jawab menjalani jadwal itu, melainan Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membantu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Tidaklah Allah mengubah suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang mau mengubahnya."

***

==(( Jadwal Shalat yang Berpatokan pada Waktu Shalat ))==

Aku meyakini bahwa orang yang sedang memperbaiki shalatnya, maka segala sektor kehidupan yang lainnya juga otomatis akan berubah lebih baik. Begitupun jadwal yang berpatokan pada waktu shalat, maka yang menjadi pilar pembatas dan pengokoh seluruh acara akan lebih besar lengan berkuasa pondasinya. Bagi acara yang dijalankan pada hari itu akan serasa ringan dan hening sebab sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba. Apalagi kalau jadwal itu tertib dijalankan sesuai apa-apa yang sudah digariskan, tentu shalat lima waktu pun akan ditunaikan sempurna pada waktunya.

Jadwal yang sedang saya susun ini dimulai dari kegiatan pada pagi hari. Dimulai dari acara bangkit tidur hingga dengan waktu tidur lagi. Antara kedua waktu tersebut sebgai 'pos' acara yaitu waktu shalat. Pada 'pos' di sini akan ditempatkan acara eksplisit untuk merefleksikan seluruh kegiatan yang sudah terjadwalkan. Apakah sudah sesuai dengan apa-apa yang sudah direncakana atau belum. Apakah ada hambatan dalam pelaksanaan jadwal tersebut dan apa-apa yang menjadi solusinya untuk kedepannya. Jika ada jadwal yang tidak ditunaikan, layakkah mendapat toleransi. Konsekuensi apa yang sanggup kita terapkan biar mengakibatkan imbas jera dan tidak lagi mengulangi kemalasan mengulangi pelanggarannya terhadap apa-apa yang sudah direncanakan oleh jadwal.

Sebelum menuliskan jadwal, ada baiknya mendaftarkan terlebih dahulu seluruh acara yang biasa dilakukan. Aktivitas yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kelompokkan ke dalam acara rutinitas dan kewajiban serta acara kebutuhan. Jenis pengelompokkan ini pun perlu dirumuskan biar mengetahui urgensi/pentingnya jenis acara ini.

Jika semua sudah didaftarkan, tulislah kerangka jadwalnya. Tempatkan aktivitas-aktivitas tersebut di antara pos-pos tadi. Lalu tulislah dan pampang jadwal rutintias itu di daerah yang gampang kita lihat dan ingat. Boleh di dinding kamar dengan poster besar, atau dibentuk semenarik mungkin. Dengan begitu kita akan merasa gembira pada kesepakatan yang kita buat sendiri. Program ini selain untuk mendidik kedisiplinan juga sanggup menumbuhkan perilaku tanggung jawab terhadap apa-apa yang sudah dikomitmenkan.

***

contoh jadwal rutinitas
==(({ Jadwal Rutinitasku }))==



Subuh
    - Mandi + Shalat Subuh berjamaah
    - Tadarus dan Tadabur Al-Quran
    - Menyiapkan pembelajaran
    - Ro'an (bebersih)
    - Memanaskan sepeda Motor
    - mengajak persiapan sekolah adik
Dhuha
    - Wudhu + shalat sunah dhuha
    - berangkat ke sekolah
------------
ibadah kerja
------------
Dhuhur
    - Mandi/wudhu
    - Shalat Dhuhur berjamaah
    - Tadarus dan tadabur Al-quran
    - Makan siang
    - Mengevaluasi kerjaan
    - berkarya sastra
    - menyiapkan adik sekolah madrasah
    - membaca buku bacaan
    - ro'an
    - istirahat
Ashar
    - Mandi/wudhu
    - tadarus dan tadabur Al-Quran
    - membaca buku bacaan
    - berkarya sastra
    - ro'an
    - menjemput adik
Maghrib
    - mandi/wudhu
    - shalat maghrib
    - tadarus dan tadabur al-Quran
    - bimbingan terhadap adik
    - makan malam
Isya
    - shalat isya berjamaah
    - tadarus dan tadabur Al-Quran
    - menyiapkan persiapan kerja
    - berkarya sastra
    - membaca buku
    - bersantai/menonton televisi
    - tidur
Qiyamul Lail
    - shalat tahajud/tobat/tasbih/hajat
    - Dzikir dan Wirid
    - Muhasabah dan doa
    - tidur lagi*

***

Jadwal di atas yaitu jadwal harian. Maksudnya, jadwal di atas dibentuk untuk mewadahi atau menggarisi seluruh kegiatan sehari-hari. Adapun kegiatan semacam kiprah yang mengakibatkan terjadinya perubahan jadwal harus dibentuk terpisah. Kalau jadwal rutinitas ini berlaku juga untuk jadwal kegiatan tugas, atau beberapa proyek kerjaan, tentu keefektifan jadwal rutinitas ini akan terganggu.

Pemisahan jadwal kiprah atau proyek dilakukan biar tidak terjadi ketergantungan terhadap kegiatan sehari-hari. Boleh jadi kita terlalu memaksa dan turut pada jadwal rutinitas yang sudah ditetapkan di atas. Tetapi malah mengabaikan kiprah yang sama penting yang perlu sekali dikerjakan. Pemisahan jadwal kiprah tidak serta merta pula menghapus seluruh kegiatan harian. Jadwal kiprah menjadi teladan dari tenggat waktu kapan kiprah itu harus segera diselesaikan. Poin-poin jadwal kiprah yang sama pentingnya nanti akan dimasukan ke dalam waktu yang memungkinan tugas/kerjaan itu dikerjakan.

Contohnya begini, selain kiprah rutinitas yang terjadwalkan di atas. Tiba-tiba pekerjaan menugasi kita untuk menuntaskan laporan. Tenggat waktu laporan tersebut yaitu 2 minggu. Tugas tersebut sanggup diperinci dengan kegiatan mencari bahan-bahan laporan, pengolahan data laporan, dan penyusunan laporan. Masing-masing kegiatan itu dimasukan ke dalam jadwal rutinitasl pada waktu yang mungkin sanggup dikerjakan. Misalnya mencari bahan-bahan laporan sanggup dilakukan antara waktu Dhuhur hingga Ashar. Maka poin kiprah ini dimasukan ke jadwal rutinitas. Di sini berlaku juga toleransi pada jadwal kegiatan harian yang sudah ditetapkan. Dengan melihat urgensi/kepentingan jadwal pada waktu tersebut, kita sanggup menggantikan kegiatan yang sifatnya tidak terlalu penting dengan kegiatan jadwal kiprah ini.

Namun, perlu digarisbawahi di sini. Derajat kepentingan jadwal rutinitas bukan diartikan sebagai hal yang diremehkan derajat kepentingannya. Tadarus al quran menjadi sangat penting guna mendidik jiwa dan hati. Maka kalau kiprah tadarus ini diganti dengan kegiatan penting, alangkahnya sayangnya. Mestinya kegiatan tadarus al quran ini mendapat prioritas. Sebab kegiatan tadarus al quran juga berkhasiat membantu hati untuk melaukan tindakan biar hati tenang. Oleh karenanya, untuk memasukan jadwal kiprah mesti melihat mana-mana yang perlu digantikan dan mana-mana yang tidak perlu. Kita juga perlu memahami betul pada kegiatan-kegiatan mana yang perlu kita jadikan prioritas terkait duduk perkara mendidik hati. Sebab jadwal rutinitas ini dibentuk bertujuan pokok untuk menciptakan hati istiqomah dan terpaut pada haulah terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Seseorang enggan menulis sebab tidak tahu untuk apa yang ia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana menulis. Ketidaksukaan menulis tidak lepas dari imbas lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat menulis.

 Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Pengalaman menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil dalam menulis dan mengajarkannya. sebab itu, untuk menutupi keadaan yang sebetulnya muncullah banyak sekali mitos atau pendapat yang keliru perihal menulis dan pembelajarannya.

Di antara mitos tersebut adalah:

1. Menulis itu Mudah


Teori menulis atau mengarang memang mudah. Gampang sekali dihafal. Tetapi menulis atau mengarang bukanlah sekadar teori, melainkan keterampilan. Bahkan ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang.

Sebagai analog, kita rasanya setuju bahwa mengendarai kendaraan itu bukan hanya teori. Sehebat apapun penguasaan teorinya tak akan sanggup menjadi pengandara yang baik. Dia akan arif mengendarai sehabis berlatih, beruji coba, serta mengasah keberanian dan kepekaan.

Begitu pula dengan menulis. Tanpa melibatkan pribadi dalam acara dan latihan menulis, seseorang tidak akan pernah bisa menulis dengan baik. Dia harus mencoba dan berlatih brulang kali: menentukan topik, menentukan tujuan, mengenali pembaca, mencari gosip pendukung, menyusun kerangka karangan, serta menata dan menuangkan ide-idenya. Secara runtut dan tuntas dalam racikan bahasa yang terpahami.

2. Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan Merupakan Inti dari Menulis


Unsur Mekanik ibarat penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengaleniaan, dan pewacanaan tidaklah cukup. Karangan harus mengandung sesuatu isi yang disampaikan. Isi itu berupa ide, gagasan, perasaan, atau gosip yang akan diungkapkan penulis kepada orang lain atau pembaca. Unsur mekanik hanyalah sebagai alat yang dipakai untuk mengemas dan menyajikan isi karangan biar sanggup dipahami dengan baik oleh pembacanya.


3. Menulis itu Harus Sekali Jadi


Menulis dengan sekali jadi sering menciptakan penulisnya tidak puas. Orang yang meyakini bahwa menulis itu harus sekali jadi akan pribadi meremas kertas atau men-delete-nya sebelum goresan pena itu dipublis. Bisa jadi goresan pena itu sudah terpublis atau dianggap selesai, kita akan menemukan celah kekurangan. Misalnya goresan pena itu perlu diperbaiki, ditulis lagi, hingga kita anggap selesai.

Tidak banyak orang yang sanggup menulis sekali jadi. Bahkan penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta pascapenulisan: penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.

4. Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah menulis Dapat Mengajarkan Menulis


Ini yang lebih bahaya. Semisal kita ambil analogi si pengendara kendaraan beroda empat tadi. Mungkinkah orang yang tidak suka dan tidak pernah mengendarai sanggup mengajarkan mengendarai kendaraan beroda empat kepada orang lain. Tentu jawabannya mustahil bisa. Sama halnya dengan mengarang, siapapun yang mengajar mengarang ia harus menyukai dan mempunyai pengalaman dan keterampilan mengarang. Mengapa? Dia harus sanggup menentukan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya mengarang. Sulit membayangkan seorang guru yang takut dan tidak suka menulis sanggup melaksanakan hal itu. Padahal, minat dan kemampuan siswa berguru menulis tak terlepas dari apa yang terjadi pada diri guru dan bagaimana ia mengajarkannya.

Itulah mitos-mitos dalam menulis. Intinya dalam menulis itu merupakan suatu proses yang harus dilalui. Mitos ini biasanya hinggap di antara para penulis pemula atau mereka yang ingin menjadi penulis.
Update: Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahapan Prapenulis

Informasi mengenai gosip mitos dalam menulis ini diajarkan dalam Keterampilan Dasar Menulis. Sumber artikel ini merupakan ringkasan modul PGSD UT. Semoga bermanfaat.

Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Seseorang enggan menulis sebab tidak tahu untuk apa yang ia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana menulis. Ketidaksukaan menulis tidak lepas dari imbas lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat menulis.

 Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Pengalaman menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil dalam menulis dan mengajarkannya. sebab itu, untuk menutupi keadaan yang sebetulnya muncullah banyak sekali mitos atau pendapat yang keliru perihal menulis dan pembelajarannya.

Di antara mitos tersebut adalah:

1. Menulis itu Mudah


Teori menulis atau mengarang memang mudah. Gampang sekali dihafal. Tetapi menulis atau mengarang bukanlah sekadar teori, melainkan keterampilan. Bahkan ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang.

Sebagai analog, kita rasanya setuju bahwa mengendarai kendaraan itu bukan hanya teori. Sehebat apapun penguasaan teorinya tak akan sanggup menjadi pengandara yang baik. Dia akan arif mengendarai sehabis berlatih, beruji coba, serta mengasah keberanian dan kepekaan.

Begitu pula dengan menulis. Tanpa melibatkan pribadi dalam acara dan latihan menulis, seseorang tidak akan pernah bisa menulis dengan baik. Dia harus mencoba dan berlatih brulang kali: menentukan topik, menentukan tujuan, mengenali pembaca, mencari gosip pendukung, menyusun kerangka karangan, serta menata dan menuangkan ide-idenya. Secara runtut dan tuntas dalam racikan bahasa yang terpahami.

2. Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan Merupakan Inti dari Menulis


Unsur Mekanik ibarat penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengaleniaan, dan pewacanaan tidaklah cukup. Karangan harus mengandung sesuatu isi yang disampaikan. Isi itu berupa ide, gagasan, perasaan, atau gosip yang akan diungkapkan penulis kepada orang lain atau pembaca. Unsur mekanik hanyalah sebagai alat yang dipakai untuk mengemas dan menyajikan isi karangan biar sanggup dipahami dengan baik oleh pembacanya.


3. Menulis itu Harus Sekali Jadi


Menulis dengan sekali jadi sering menciptakan penulisnya tidak puas. Orang yang meyakini bahwa menulis itu harus sekali jadi akan pribadi meremas kertas atau men-delete-nya sebelum goresan pena itu dipublis. Bisa jadi goresan pena itu sudah terpublis atau dianggap selesai, kita akan menemukan celah kekurangan. Misalnya goresan pena itu perlu diperbaiki, ditulis lagi, hingga kita anggap selesai.

Tidak banyak orang yang sanggup menulis sekali jadi. Bahkan penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta pascapenulisan: penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.

4. Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah menulis Dapat Mengajarkan Menulis


Ini yang lebih bahaya. Semisal kita ambil analogi si pengendara kendaraan beroda empat tadi. Mungkinkah orang yang tidak suka dan tidak pernah mengendarai sanggup mengajarkan mengendarai kendaraan beroda empat kepada orang lain. Tentu jawabannya mustahil bisa. Sama halnya dengan mengarang, siapapun yang mengajar mengarang ia harus menyukai dan mempunyai pengalaman dan keterampilan mengarang. Mengapa? Dia harus sanggup menentukan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya mengarang. Sulit membayangkan seorang guru yang takut dan tidak suka menulis sanggup melaksanakan hal itu. Padahal, minat dan kemampuan siswa berguru menulis tak terlepas dari apa yang terjadi pada diri guru dan bagaimana ia mengajarkannya.

Itulah mitos-mitos dalam menulis. Intinya dalam menulis itu merupakan suatu proses yang harus dilalui. Mitos ini biasanya hinggap di antara para penulis pemula atau mereka yang ingin menjadi penulis.
Update: Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahapan Prapenulis

Informasi mengenai gosip mitos dalam menulis ini diajarkan dalam Keterampilan Dasar Menulis. Sumber artikel ini merupakan ringkasan modul PGSD UT. Semoga bermanfaat.

VBA atau Visual Basic for Applications untuk Microsoft Excel ini merupakan bahasa pemograman yang gampang diterapkan dalam mengoperasikan di Excel. Sudah banyak pengguna Excel yang menerapkan isyarat ini untuk aneka macam keperluan.

Sebagaimana yang sudah diketahui, Excel mempunyai formula untuk memudahkan penggunanya dalam mengoperasikan angka-angka atau data. Selain formula, hampir semua aplikasi microsoft didukung oleh pemograman visual basic ini.

Baca juga: Semua tutorial microsoft Excel yang ada di blog ini

Oleh alasannya yakni itu, sedikit aku beberkan informasi mengenai salah satu isyarat dalam pembuatan kalender dengan memakai visual basic di microsoft excel. Kode ini aku terapkan di aplikasi excel buatan aku yang berbasis vba.

 VBA atau Visual Basic for Applications untuk Microsoft Excel ini merupakan bahasa pemogra VBA Excel: Kode VBA sebaran tanggal kalender dan pewarnaannya


Asumsikan bahwa pola bulan pada tiap kolom kalender itu ada di sel K5. Kemudian sebaran tanggalnya berada pada sel J7:P12, Koding pemanggilnya adalah:

    Call sebarinTgl(Range("K5"), Range("J7:P12"))

Koding ini ditaruh pada module

    Sub sebarinTgl(julidate As Range, AreaYgDiwarnai As Range)
    Dim csheet As Worksheet
    Dim rng As Range
    Dim firstKol, firstrow As String
    Dim fTgl, lTgl, PtkTgl As Date
    Dim julcol, julrow, firstT As String
    Dim fjul, ljul As Date
    Dim x As Integer
   
    Set csheet = ThisWorkbook.ActiveSheet

    AreaYgDiwarnai.ClearContents
    AreaYgDiwarnai.Borders.LineStyle = xlNone
    AreaYgDiwarnai.Interior.Color = xlNone

    If Weekday(julidate) = 1 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(1).Column
    If Weekday(julidate) = 2 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(2).Column
    If Weekday(julidate) = 3 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(3).Column
    If Weekday(julidate) = 4 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(4).Column
    If Weekday(julidate) = 5 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(5).Column
    If Weekday(julidate) = 6 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(6).Column
    If Weekday(julidate) = 7 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(7).Column

    fjul = DateSerial(Year(julidate), Month(julidate), 1)
    ljul = CDate(Application.WorksheetFunction.EoMonth(julidate, 0))

    julrow = AreaYgDiwarnai.Row

    If Weekday(fjul) = 1 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(1).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 2 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(2).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 3 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(3).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 4 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(4).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 5 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(5).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 6 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(6).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 7 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(7).Column
    End If
    

    For x = 1 To Day(ljul)
        If firstT = Empty Then
            csheet.cells(julrow, julcol) = fjul
            firstT = 1
            csheet.cells(julrow, julcol).NumberFormat = "[$-421] d"
            csheet.cells(julrow, julcol).Borders.LineStyle = xlContinuous
        Else
            fjul = fjul + 1
            csheet.cells(julrow, julcol) = fjul
            csheet.cells(julrow, julcol).NumberFormat = "[$-421] d"
            csheet.cells(julrow, julcol).Borders.LineStyle = xlContinuous
            End If

        If julcol = AreaYgDiwarnai(7).Column Then
            julcol = AreaYgDiwarnai(1).Column
            julrow = julrow + 1
        Else
            julcol = julcol + 1
        End If
    Next x
    End Sub

Sedangkan untuk menandai warna sesuai tanggalnya, Silakan sesuaikan formatnya menyerupai ini:

 VBA atau Visual Basic for Applications untuk Microsoft Excel ini merupakan bahasa pemogra VBA Excel: Kode VBA sebaran tanggal kalender dan pewarnaannya


Penjelasannya: Kolom yang berisi keterangan, kolom tanggal "dari Tanggal", hingga kolom "sampai tanggal" menerangkan berapa banyak hari libur tersebut. Pada kolom warna akan, nantinya tanggal yang sama dari tanggal hingga hingga tanggal pada isian ini akan otomatis berwarna menyerupai warna pada kolom "tanda warna".

Koding pemanggilnya:

    Call TandaWarna(Range("C6:C50"), Range("D6:D50"), Range("F6:F50"), Range("J7:AN12"))

    


Berikut isyarat yag ditaruh di module:

    Sub TandaWarna(TglAwal As Range, TglAkhir As Range, KolomWarna As Range, AreaYgDiwarnai As Range)
    Dim rng As Range
    Dim lAkhir As Long
    Dim lanjut As Label

    'hapus dulu warna yang ada
    AreaYgDiwarnai.Interior.Color = xlNone

    For Each rng In AreaYgDiwarnai
        For i = 1 To TglAwal.Rows.Count
            If TglAwal(i) = "" Then GoTo lanjut
             If TglAkhir(i) <> "" Then
                lAkhir = TglAkhir(i)
            Else
                lAkhir = TglAwal(i)
            End If

            For l = TglAwal(i) To lAkhir
                If rng.Value = l Then
                    rng.Interior.Color = KolomWarna(i).Interior.Color
                End If

            Next l

    lanjut:
        Next i
        If Weekday(rng) = 1 Then rng.Interior.Color = vbRed
        If rng = Empty Then rng.Interior.ColorIndex = Range("w3").Interior.ColorIndex
    Next rng
    
    End Sub

Itulah beberapa isyarat VBA untuk pembuatan kalender. Semoga bermanfaat.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget