Halloween Costume ideas 2015
December 2018
Adsense ANEKA AYAM ANEKA BUBUR KOLAK ANEKA CAMILAN ANEKA DAGING ANEKA ES ANEKA GORENGAN ANEKA IKAN SEAFOOD ANEKA JAJANAN ANEKA KUE ANEKA KUE BASAH ANEKA KUE KERING ANEKA MAKANAN BAYI ANEKA MIE PASTA ANEKA MINUMAN ANEKA NASI ANEKA PUDING ANEKA ROTI ANEKA SAMBAL ANEKA SAYUR MAYUR ANEKA SUP SOTO ANEKA TAHU TEMPE ANEKA TELUR Bahasa Indonesia baju Blogging Catatan Guru SD Cerpen Css/Javascript Designs harga souvenir pernikahan murah bekasi harga souvenir pernikahan murah bogor harga souvenir pernikahan murah depok harga souvenir pernikahan murah jakarta harga souvenir pernikahan murah tangerang How To Informasi Informasi Pendidikan Informasi Umum Internet IPA jual souvenir pernikahan berkualitas bali jual souvenir pernikahan berkualitas bandung jual souvenir pernikahan berkualitas banjarmasin jual souvenir pernikahan berkualitas batam jual souvenir pernikahan berkualitas bekasi jual souvenir pernikahan berkualitas bogor jual souvenir pernikahan berkualitas depok jual souvenir pernikahan berkualitas jakarta jual souvenir pernikahan berkualitas medan jual souvenir pernikahan berkualitas palembang jual souvenir pernikahan berkualitas tangerang jual souvenir pernikahan lucu bali jual souvenir pernikahan lucu bandung jual souvenir pernikahan lucu banjarmasin jual souvenir pernikahan lucu batam jual souvenir pernikahan lucu bekasi jual souvenir pernikahan lucu bogor jual souvenir pernikahan lucu depok jual souvenir pernikahan lucu jakarta jual souvenir pernikahan lucu medan jual souvenir pernikahan lucu palembang jual souvenir pernikahan lucu tangerang jual souvenir pernikahan murah bali jual souvenir pernikahan murah bandung jual souvenir pernikahan murah banjarmasin jual souvenir pernikahan murah batam jual souvenir pernikahan murah bekasi jual souvenir pernikahan murah bogor jual souvenir pernikahan murah depok jual souvenir pernikahan murah medan jual souvenir pernikahan murah palembang jual souvenir pernikahan murah tangerang jual souvenir pernikahan rekomended bali jual souvenir pernikahan rekomended bandung jual souvenir pernikahan rekomended banjarmasin jual souvenir pernikahan rekomended batam jual souvenir pernikahan rekomended bekasi jual souvenir pernikahan rekomended bogor jual souvenir pernikahan rekomended depok jual souvenir pernikahan rekomended jakarta jual souvenir pernikahan rekomended medan jual souvenir pernikahan rekomended palembang jual souvenir pernikahan rekomended tangerang jual souvenir pernikahan terlaris bali jual souvenir pernikahan terlaris bandung jual souvenir pernikahan terlaris banjarmasin jual souvenir pernikahan terlaris batam jual souvenir pernikahan terlaris bekasi jual souvenir pernikahan terlaris bogor jual souvenir pernikahan terlaris depok jual souvenir pernikahan terlaris jakarta jual souvenir pernikahan terlaris medan jual souvenir pernikahan terlaris palembang jual souvenir pernikahan terlaris tangerang jual souvenir pernikahan termurah bali jual souvenir pernikahan termurah bandung jual souvenir pernikahan termurah banjarmasin jual souvenir pernikahan termurah batam jual souvenir pernikahan termurah bekasi jual souvenir pernikahan termurah bogor jual souvenir pernikahan termurah depok jual souvenir pernikahan termurah medan jual souvenir pernikahan termurah palembang jual souvenir pernikahan termurah tangerang jual souvenir pernikahan terpercaya bali jual souvenir pernikahan terpercaya bandung jual souvenir pernikahan terpercaya banjarmasin jual souvenir pernikahan terpercaya batam jual souvenir pernikahan terpercaya bekasi jual souvenir pernikahan terpercaya bogor jual souvenir pernikahan terpercaya depok jual souvenir pernikahan terpercaya jakarta jual souvenir pernikahan terpercaya medan jual souvenir pernikahan terpercaya palembang jual souvenir pernikahan terpercaya tangerang jual souvenir pernikahan unik bali jual souvenir pernikahan unik bandung jual souvenir pernikahan unik banjarmasin jual souvenir pernikahan unik batam jual souvenir pernikahan unik bekasi jual souvenir pernikahan unik bogor jual souvenir pernikahan unik depok jual souvenir pernikahan unik jakarta jual souvenir pernikahan unik medan jual souvenir pernikahan unik palembang jual souvenir pernikahan unik tangerang Kisi-kisi Soal Komputer Label Based Sitemap Themes lainnya Matematika Materi Ajar Multimedia Opini Otak-atik Blog Pages Pedagogis Pendidikan Posts SEO Settings Sitemap Themes Tips TIPS DAN INFO Tools Tutorial Tutorial Ms. Excel Tutorial Print Widgets

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya


"Betapa bayak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga." Ini ialah salah satu hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam seputar puasa yang demikian lekat di memori kita, namun segelintir muslim saja yang sanggup menunaikannya. Semoga kita termasuk di dalamnya.



 Ini ialah salah satu hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam seputar puasa yang demi Puasa Lahir dan Puasa Batin: Meraih Pahala Puasa, Menyelami Jiwa Kembali


Hadits di atas selayaknya menjadi misi utama setiap muslim dikala berpuasa. Perlu digaris bawahi dari hadits di atas pada 'mendapatkan apa-apa' itu merupakan tujuan yang selama ini kita akrabi sebagai: kesepakatan pahala berlipat ganda, limpahan maghfirah, rahmat dan berkah Allah, derajat insan takwa, serta segenap kebaikan lainnya yang mnjadi misteri ilahi.

Untuk 'mendapatkan apa-apa' itu kita butuh latihan ruhani,  riyadhah ruhani. Tidak hanya jasmani saja yang perlu latihan, ruhani pun perlu latihan semoga terbiasa dan membentuk aksara berupa katakwaan.

Adapun riyadhah ruhani tersebut sanggup dilakukan dengan melaksanakan berikut:

Puasa lahir dan puasa batin


Anda berangkali sanggup lulus dalam puasa lahir alias puasa syariat yang memang harus menahan lapar, dahaga, dan kenikmatan seks semenjak fajar menyingsing sampai matahari terbenam. Namun, anda belum tentu lulus melalui puasa batin.

Dan puasa batin ini, menurut Syekh Qadir Al Jailani, puasa batin ialah menjaga semua indera dan pikiran dari sgala yang diharamkan. Ia merupakan laris meninggalkan ketidakselarasan baik lahir maupun batin.

Dalam tasawuf, puasa batin itu menahan 10 indera manusia, yaitu lima indera yang nampak:
  • pembicaraan
  • pendengaran
  • penglihatan
  • penyentuhan
  • penciuman
kelima indera lagi ialah lima indera yang tidak tampak. Yaitu:
  • pikiran
  • khayalan
  • rasa
  • malu
  • indra yang menggabungkannya

Sepuluh indera itu diibaratkan mirip kuda liar yang menarik kereta kencana dengan ruh insan sebagai pengendali kuda atau saisnya. Bila si Sais sukar mengendalikan salah satu dari kudanya, sudah niscaya kereta tidak akan berjalan seimbang. dan jikalau harus dipaksakan berjalan, ia kana melaju tanpa arah yang jelas.

ketika berpuasa dalam definisi puasa batin, misalnya, maka kita harus menjinakkan 'kuda' berjulukan pembicaraan kita untuk tidak menggunjing [gosip], tidak berdusta, tidak memfitnah, dan kata-kata lain yang memang tidak perlu  dan sia-sia.

kita harus menenangkan 'kuda' berjulukan indera pendengaran untuk tidak mendengar perbincangan yang membual; perkataan-perkatan yang tidak bermanfaat. kita harus menentramkan 'kuda' penglihatan kita dari segalah tontonan yang diharamkan Allah. Segala cuplikan atau tayangan yang merusak puasa. Jinakkan pula, misalnya, 'kuda' pikiran dan indra rasa Anda dari pemikiran-pemikiran negatif, dari perasaan-perasaan yang melemahkan jiwa, sampai prasangka-prasangka jelek lainnya.

Bila kita mrasa begitu berat melalui puasa batin itu semua, belajarlah menjinakannya secara bertahap. Anda, misalnya, sanggup mengawali dengan menundukkan satu 'kuda' berjulukan verbal terlebih dahulu dalam satu hari puasa, gres kemudian menjinakan 'kuda-kuda' lainnya di lain hari. Buatlah ia menjadi resolusi wajib Anda dikala Anda melafalkan niat puasa di malam harinya. Atau barangkali untuk lebih memudahkan melatih puasa batin ini, Anda sanggup mmulai dengan menjinakkan  sifat atau aksara jelek Anda sendiri yang selama ini Anda ingin hempaskan.  Sebab, segala sifat dan aksara jelek yang dalam al-Quran disebut sebagai al-nafs al-ammarah itu sejatinya kuda-kuda liara yang paling intim di dalam keseharian kita.

Puasa lahir itu terikat oleh waktu, sedang puasa batin itu selama-lamanya. Maka berguru puasa batin dari momen puasa lahir di bulan Ramadhan ini menjadi penting dan utama. Sebab puasa inilah hakekatnya padalah puasa sejati.

Rasulullah bersabda, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, satu kegembiraan dikala berbuka (puasa) dan kegembiraan lainnya dikala melihat Allah.” Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani, kata melihat di sini ialah kenikmatan nirwana dan perjumpaan dengan Allah SWT kelak. Untuk itulah satu kegembiraan pertama dalam hadits tersebut ialah kegembiraan orang yang puasa lahir. Sementara kegembiraan kedua ialah kegembiraan orang yang puasa batin.

Belajar puasa batin ialah prosesi menempuh jalan menuju jalan menuju rumah yang di dalamnya ada sang kekasih pujaan hati, sementara laris puasa lahir ialah prosesi menempuh jalan menjuju rumah yang di dalamnya tidak ada siapapun yang kita cintai. Rumah yang kosong. Dmikain perbandingan puasa lahir dan puasa batin.


"Betapa bayak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga." Ini ialah salah satu hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam seputar puasa yang demikian lekat di memori kita, namun segelintir muslim saja yang sanggup menunaikannya. Semoga kita termasuk di dalamnya.



 Ini ialah salah satu hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam seputar puasa yang demi Puasa Lahir dan Puasa Batin: Meraih Pahala Puasa, Menyelami Jiwa Kembali


Hadits di atas selayaknya menjadi misi utama setiap muslim dikala berpuasa. Perlu digaris bawahi dari hadits di atas pada 'mendapatkan apa-apa' itu merupakan tujuan yang selama ini kita akrabi sebagai: kesepakatan pahala berlipat ganda, limpahan maghfirah, rahmat dan berkah Allah, derajat insan takwa, serta segenap kebaikan lainnya yang mnjadi misteri ilahi.

Untuk 'mendapatkan apa-apa' itu kita butuh latihan ruhani,  riyadhah ruhani. Tidak hanya jasmani saja yang perlu latihan, ruhani pun perlu latihan semoga terbiasa dan membentuk aksara berupa katakwaan.

Adapun riyadhah ruhani tersebut sanggup dilakukan dengan melaksanakan berikut:

Puasa lahir dan puasa batin


Anda berangkali sanggup lulus dalam puasa lahir alias puasa syariat yang memang harus menahan lapar, dahaga, dan kenikmatan seks semenjak fajar menyingsing sampai matahari terbenam. Namun, anda belum tentu lulus melalui puasa batin.

Dan puasa batin ini, menurut Syekh Qadir Al Jailani, puasa batin ialah menjaga semua indera dan pikiran dari sgala yang diharamkan. Ia merupakan laris meninggalkan ketidakselarasan baik lahir maupun batin.

Dalam tasawuf, puasa batin itu menahan 10 indera manusia, yaitu lima indera yang nampak:
  • pembicaraan
  • pendengaran
  • penglihatan
  • penyentuhan
  • penciuman
kelima indera lagi ialah lima indera yang tidak tampak. Yaitu:
  • pikiran
  • khayalan
  • rasa
  • malu
  • indra yang menggabungkannya

Sepuluh indera itu diibaratkan mirip kuda liar yang menarik kereta kencana dengan ruh insan sebagai pengendali kuda atau saisnya. Bila si Sais sukar mengendalikan salah satu dari kudanya, sudah niscaya kereta tidak akan berjalan seimbang. dan jikalau harus dipaksakan berjalan, ia kana melaju tanpa arah yang jelas.

ketika berpuasa dalam definisi puasa batin, misalnya, maka kita harus menjinakkan 'kuda' berjulukan pembicaraan kita untuk tidak menggunjing [gosip], tidak berdusta, tidak memfitnah, dan kata-kata lain yang memang tidak perlu  dan sia-sia.

kita harus menenangkan 'kuda' berjulukan indera pendengaran untuk tidak mendengar perbincangan yang membual; perkataan-perkatan yang tidak bermanfaat. kita harus menentramkan 'kuda' penglihatan kita dari segalah tontonan yang diharamkan Allah. Segala cuplikan atau tayangan yang merusak puasa. Jinakkan pula, misalnya, 'kuda' pikiran dan indra rasa Anda dari pemikiran-pemikiran negatif, dari perasaan-perasaan yang melemahkan jiwa, sampai prasangka-prasangka jelek lainnya.

Bila kita mrasa begitu berat melalui puasa batin itu semua, belajarlah menjinakannya secara bertahap. Anda, misalnya, sanggup mengawali dengan menundukkan satu 'kuda' berjulukan verbal terlebih dahulu dalam satu hari puasa, gres kemudian menjinakan 'kuda-kuda' lainnya di lain hari. Buatlah ia menjadi resolusi wajib Anda dikala Anda melafalkan niat puasa di malam harinya. Atau barangkali untuk lebih memudahkan melatih puasa batin ini, Anda sanggup mmulai dengan menjinakkan  sifat atau aksara jelek Anda sendiri yang selama ini Anda ingin hempaskan.  Sebab, segala sifat dan aksara jelek yang dalam al-Quran disebut sebagai al-nafs al-ammarah itu sejatinya kuda-kuda liara yang paling intim di dalam keseharian kita.

Puasa lahir itu terikat oleh waktu, sedang puasa batin itu selama-lamanya. Maka berguru puasa batin dari momen puasa lahir di bulan Ramadhan ini menjadi penting dan utama. Sebab puasa inilah hakekatnya padalah puasa sejati.

Rasulullah bersabda, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, satu kegembiraan dikala berbuka (puasa) dan kegembiraan lainnya dikala melihat Allah.” Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani, kata melihat di sini ialah kenikmatan nirwana dan perjumpaan dengan Allah SWT kelak. Untuk itulah satu kegembiraan pertama dalam hadits tersebut ialah kegembiraan orang yang puasa lahir. Sementara kegembiraan kedua ialah kegembiraan orang yang puasa batin.

Belajar puasa batin ialah prosesi menempuh jalan menuju jalan menuju rumah yang di dalamnya ada sang kekasih pujaan hati, sementara laris puasa lahir ialah prosesi menempuh jalan menjuju rumah yang di dalamnya tidak ada siapapun yang kita cintai. Rumah yang kosong. Dmikain perbandingan puasa lahir dan puasa batin.

Kita masih menunggu masa baskara terbit di ufuk timur sana. Melepas jerat gelap dari rindu yang membekap. Kita tidak sedang dibui mimpi ataupun harap, tapi kita menunggu ketika tahajud kembali fajar tersibak: kembali menikmati aroma embun pada sepelupuk netra yang masih menggelayut lelap.

Aku mengajakmu bertikai dalam rindu yang berkecamuk selalu. Sekarang ini kita sedang berkisah seru. Ada degap jantung yang bertalu-talu memainkan pertikaiannya sendiri. Silakan dedah biar tak terselip pandangan yang berselimut. Lalu tak tampak kejujuran yang terang. Maka mata batin seakan tajam menyayat. Aku memintamu melerai yang kabut itu. Ubahlah menjadi kedamaian.

Pun bila purnama tak cukup membantu terang, saya pinjami suluh yang terbit dari pencahayaan hati. Terselip di sana ada api dari materi bakar nurani. Mungkin cukup untuk mengantarkan kita menjemput pagi. Mungkin juga akan lekas serap kala api benar-benar membeludak. Kita ciptakan api besar, padahal cukup sekelumit terperinci saja bisa merampok gelap untuk mencari apa yang kita harap. Sebesar beludakan api itu, tersirat pekikan napsu menjerat. Sungguh, saya memiskin diri atas sisa-sisa kekayaan suluhku. Cukup perantaraan itu, saya hendak mengajakmu menandakan segala yang terlelap di rahim gelap hatiku.

Namun sebelum itu, akan saya ceritakan mengapakah sosokmu kuundang dalam kidung kerinduan ini. Jujur, saya tidak pernah mengundang sesiapapun untuk menjadi tamu dalam ruang hatiku. Sebab saya masih tragedi alam dan malu. Betapa malang nasib penyesalan yang telah merundung tangis atas segala nikmat yang belum saya jawab. Dan kehadiranmu bisa menghadirkan tanggapan mantap. Apa hasilnya bila saya tak bersiap menjamu tamu hatiku. Aku kembali dalam ruang dekap, menengadah harap pada malam yang membekap. Bilangan istikharah, malam memilih. Aku membuka ketukan sambutmu. Dan  saya ... mantap menyajikanmu menjadi ratu di singgasana ruang hati.

Maaf, bila pepuji ini terlalu meninggi. Tak bisa kuutarakan yang lebih mantap dari kesederhanaan kata-kata ini. Telah langitkah rasa rindu ini sampai saya harus menggantung bintik-bintik serupa bintang membentuk sabitah rindu. Pijakku di bumi, telah tak cukup menghampar pengertian-pengertian makna rindu. Semuanya tercecar menyemai pandang. Saat itu, maka apa yang terlihat netra serupa adamu. Yang kudengar, bisik sayu mesramu. Yang kusentuh, lembut erat genggammu. Dan segala puji, tak mungkin bersemat dalam diri dan jagat raya ini. Maka, pepuji ini kekumbalikan pada Dzat Segala Maha Puji Rabb-ku. Kalian tahu? Setapak inilah derajatku sungguh mencium kerendahanku sebagai mahluk-Nya.

Kekasih, pernahkah kita mengutip satu lirik milik penyair. Cinta itu ruang dan waktu, katanya. Entah sedang berpuisi atau bertata kata penyair itu; saya tak peduli. Sebatas peduliku menggenggam kecamuk yang ada ketika ini. Saat kita sedang mengecamuk pertikaian rasa di dada kita masing-masing. Kita mafhum, bergotong-royong kita berada di ruang sama dan waktu yang kembar pula. Lantas, mengapa kita mengibarkan pertanyaan jarak yang jauh dan waktu yang lekas luruh? Itikadku, saya sudah memenatkan segala ruang menjadi satu dan waktu menjadi restu pula.

Aku tidak punya serupa makna yang pantas untuk mencari padanan kata yang sederhana dari penyampaian rasa ini kepada pembaca. Sampai pada ketikan alfabetis kata ini pun begitu lekas saja tanpa memikirkan apa dayaku menyajikan ungkapan rasa yang tercipta. Suluhku yang kaugenggam telah menandakan bagaimana usahaku menandakan peradaban restu itu kembali meminang ikatan satu. Tidakkah ini ibarat picisan? Aku tetap tidak peduli. Inilah ungkap yang menimpaku dan sering kambuh menahan rasa ngilu di hatiku. Saat penyematan namamu--saat kumantap nama itu ialah instruksi istikharahku--sungguh saya merasa ada dispensasi dalam mengindap sayat-sayat rindu.

Sungguh, saya tidak punya kemaharian apapun meramu diksi-diksi jentayu. Serupa penyair sastrawan yang melepas ambigu. Rasaku terlalu melebur menjadi kemantapan goresan pena ini. Kala malam menyelimuti kelamnya, cobalah temukan instruksi apa yang tersirat di rahim kata-kataku ini. Melamuni harapku, saya menyarung doa dalam bait renjana.

Tunduklah pada penjerangan takdir ilahiyah kita. Kita hanya sepasang lakon kekasih yang sedang mengutarakan pertikaian makna yang sedang mencebur di samudera hati. Aku tidak menentukan daerah atau ruang mana, pula waktu yang sempurna apa. Aku bergaris pada ikhtiar yang lurus begitu saja. Lurus mantapku membuka buta mata nurani. Ini kisah Rabbku yang melariskan kata-kata syahdu di catatan ini. Siapa yang sedang saya berkelahi untuk membandingkan kata-kata syahdu-Nya? Sementara ini terlalu dini saya ungkap, tapi semuanya terlalu berlari jauh di depan langkahku. Maka, saya hanya butuh kepakan sayap-sayap rindumu untuk menyalip sejajar harapku: padamu.

Ada lamunan panjang yang ingin saya semai di ladang masa datang. Bahwa saya hanya pelaku kezaliman diri. Betapa saya terlalu serakah menungku resah. Padahal mesti, tidaklah ada keragu-raguan hati bila menghadirkan Rabb kita di sisi hati. Rabb kita lebih bersahabat dari kita yang mengeja jarak. Rabb kita lebih lekas dari waktu yang kita sengaja gegas. Bila begini, saya sudah tak tampak kepongahanku. Sebab kutitipkan segala Rahmat-Nya pada peradilan ruang dan waktu-Nya. Aku selalu begitu, kekasih. Maafkan aku. Aku hanya ingin meleburkan hasrat satu itu dalam sesuci malam yang terus memebelenggu.

Jauh dari sini, saya selalu berbisik pada telisik. Kita mantap mengeja sisa malam yang berpamit. Kita akan menyaksikan sendiri baskara yang telah menuntut kita menghirup embun segar pengisi hari-hari. Kala dhuha menyungging terang, kita akan turut menyinggung jerang. Di sanalah ejaan harap mengukir di kanvas ruang serta waktu yang tuang. Apakah kita mampu menuangkan segala yang termaktab di mahabah ridha-Nya atau kita sedang membuang kesempatan yang terlepas dari sematan harap yang kita tunggu masa panennya. Saat itu, saya hanya mengabarkan telah kautemukan apa dari makna yang mantap dari goresan pena ini.

Lalu pada mimpi yang sedang berselimut, biar dia tenang. Sebab pertengahan malam masih menghitung bilangan jam. Ia akan bertemu dan berpamit untuk tiba di restu Rabb untuk kembali bertandang dalam lakon kenyataan kita. Saat itu, kita akan lekas menggenggam syah menyaksikan haru langit yang terbias memesra keadaan kita. Percayalah, ketika itu kita ialah sepasang kekasih yang sedang dimanja nikmat alam.

Terpantik pesan yang tersirat mengacu. Mengusulkan kemantapan syahdu. Bahwa kita sedang mengeja isyarat-isyarat ayat Rabb-ku. Aku pikir ini tidaklah berlebihan, alasannya ialah kita menjerang mula-mula pula menggaris pada pijakan mulia. Meski ada kecam, saya tegaskan lantang: Kita mengerat dalam nasihat-menasihati kebenaran juga kesabaran kita. Pula bila khianat, lekas buru dan bunuh sifat khianatnya. Itu prolog yang mesti kita hapus kala kita akan melanjutkan kisah yang terus melajukan arah kita meluruh.

Dan jangan mengira, meski bungkam tiada kata-kata, saya tidak memungut potongan pesan yang tersirat dari bergemingnya suara. Selama itikad itu melekat, pastilah mana dongeng bisa menyebabkan ibrah bagi kita yang menetap jarang nasihat. Maaf, bila kucuri setiap kebaikanmu semoga turut bersemat di tingkah lampahku. Maaf!

Inilah kerinduanku pada pagi yang ingin menjemputmu. Lekas pada tatapan adu, apakah kita lulus menguji ruang dan waktu. Serta memantap istikharah yang sedang kita aju. sebetapapun kelak itu, saya memasrahkan segalanya pada jalinan waktu yang memintal kisah kita. Dan aku, meyakini Rabbku menyaksikan ini. Serupa saya menyaksikan doaku mengiringi kisah kita tetap berpadu. Melesatkan segala arah yang tuju, tetap Rabb kita menjadi arah muara kita melarungkan waktu. Di situlah ruang yang kita tuju sebagai persinggahan mengisi detik sejarah syahdu.

Cukup! Aku tidak mau kata-kata ini meracuni bilangan kaku. Sebab goresan pena ini mungkin kita saja yang bisa memahaminya. Biar yang tersurat adanya kalimat ambigu, kelak akan menuangkan ceritanya sendiri. Itulah evaluasi mereka, alasannya ialah apapun, penilian kita hanya berstandar dari restu yang mengeja kemaharupaan rahmat-Nya yang berlaku: Untuk kita sudah niscaya tentu.

Kita masih menunggu masa baskara terbit di ufuk timur sana. Melepas jerat gelap dari rindu yang membekap. Kita tidak sedang dibui mimpi ataupun harap, tapi kita menunggu ketika tahajud kembali fajar tersibak: kembali menikmati aroma embun pada sepelupuk netra yang masih menggelayut lelap.

Aku mengajakmu bertikai dalam rindu yang berkecamuk selalu. Sekarang ini kita sedang berkisah seru. Ada degap jantung yang bertalu-talu memainkan pertikaiannya sendiri. Silakan dedah biar tak terselip pandangan yang berselimut. Lalu tak tampak kejujuran yang terang. Maka mata batin seakan tajam menyayat. Aku memintamu melerai yang kabut itu. Ubahlah menjadi kedamaian.

Pun bila purnama tak cukup membantu terang, saya pinjami suluh yang terbit dari pencahayaan hati. Terselip di sana ada api dari materi bakar nurani. Mungkin cukup untuk mengantarkan kita menjemput pagi. Mungkin juga akan lekas serap kala api benar-benar membeludak. Kita ciptakan api besar, padahal cukup sekelumit terperinci saja bisa merampok gelap untuk mencari apa yang kita harap. Sebesar beludakan api itu, tersirat pekikan napsu menjerat. Sungguh, saya memiskin diri atas sisa-sisa kekayaan suluhku. Cukup perantaraan itu, saya hendak mengajakmu menandakan segala yang terlelap di rahim gelap hatiku.

Namun sebelum itu, akan saya ceritakan mengapakah sosokmu kuundang dalam kidung kerinduan ini. Jujur, saya tidak pernah mengundang sesiapapun untuk menjadi tamu dalam ruang hatiku. Sebab saya masih tragedi alam dan malu. Betapa malang nasib penyesalan yang telah merundung tangis atas segala nikmat yang belum saya jawab. Dan kehadiranmu bisa menghadirkan tanggapan mantap. Apa hasilnya bila saya tak bersiap menjamu tamu hatiku. Aku kembali dalam ruang dekap, menengadah harap pada malam yang membekap. Bilangan istikharah, malam memilih. Aku membuka ketukan sambutmu. Dan  saya ... mantap menyajikanmu menjadi ratu di singgasana ruang hati.

Maaf, bila pepuji ini terlalu meninggi. Tak bisa kuutarakan yang lebih mantap dari kesederhanaan kata-kata ini. Telah langitkah rasa rindu ini sampai saya harus menggantung bintik-bintik serupa bintang membentuk sabitah rindu. Pijakku di bumi, telah tak cukup menghampar pengertian-pengertian makna rindu. Semuanya tercecar menyemai pandang. Saat itu, maka apa yang terlihat netra serupa adamu. Yang kudengar, bisik sayu mesramu. Yang kusentuh, lembut erat genggammu. Dan segala puji, tak mungkin bersemat dalam diri dan jagat raya ini. Maka, pepuji ini kekumbalikan pada Dzat Segala Maha Puji Rabb-ku. Kalian tahu? Setapak inilah derajatku sungguh mencium kerendahanku sebagai mahluk-Nya.

Kekasih, pernahkah kita mengutip satu lirik milik penyair. Cinta itu ruang dan waktu, katanya. Entah sedang berpuisi atau bertata kata penyair itu; saya tak peduli. Sebatas peduliku menggenggam kecamuk yang ada ketika ini. Saat kita sedang mengecamuk pertikaian rasa di dada kita masing-masing. Kita mafhum, bergotong-royong kita berada di ruang sama dan waktu yang kembar pula. Lantas, mengapa kita mengibarkan pertanyaan jarak yang jauh dan waktu yang lekas luruh? Itikadku, saya sudah memenatkan segala ruang menjadi satu dan waktu menjadi restu pula.

Aku tidak punya serupa makna yang pantas untuk mencari padanan kata yang sederhana dari penyampaian rasa ini kepada pembaca. Sampai pada ketikan alfabetis kata ini pun begitu lekas saja tanpa memikirkan apa dayaku menyajikan ungkapan rasa yang tercipta. Suluhku yang kaugenggam telah menandakan bagaimana usahaku menandakan peradaban restu itu kembali meminang ikatan satu. Tidakkah ini ibarat picisan? Aku tetap tidak peduli. Inilah ungkap yang menimpaku dan sering kambuh menahan rasa ngilu di hatiku. Saat penyematan namamu--saat kumantap nama itu ialah instruksi istikharahku--sungguh saya merasa ada dispensasi dalam mengindap sayat-sayat rindu.

Sungguh, saya tidak punya kemaharian apapun meramu diksi-diksi jentayu. Serupa penyair sastrawan yang melepas ambigu. Rasaku terlalu melebur menjadi kemantapan goresan pena ini. Kala malam menyelimuti kelamnya, cobalah temukan instruksi apa yang tersirat di rahim kata-kataku ini. Melamuni harapku, saya menyarung doa dalam bait renjana.

Tunduklah pada penjerangan takdir ilahiyah kita. Kita hanya sepasang lakon kekasih yang sedang mengutarakan pertikaian makna yang sedang mencebur di samudera hati. Aku tidak menentukan daerah atau ruang mana, pula waktu yang sempurna apa. Aku bergaris pada ikhtiar yang lurus begitu saja. Lurus mantapku membuka buta mata nurani. Ini kisah Rabbku yang melariskan kata-kata syahdu di catatan ini. Siapa yang sedang saya berkelahi untuk membandingkan kata-kata syahdu-Nya? Sementara ini terlalu dini saya ungkap, tapi semuanya terlalu berlari jauh di depan langkahku. Maka, saya hanya butuh kepakan sayap-sayap rindumu untuk menyalip sejajar harapku: padamu.

Ada lamunan panjang yang ingin saya semai di ladang masa datang. Bahwa saya hanya pelaku kezaliman diri. Betapa saya terlalu serakah menungku resah. Padahal mesti, tidaklah ada keragu-raguan hati bila menghadirkan Rabb kita di sisi hati. Rabb kita lebih bersahabat dari kita yang mengeja jarak. Rabb kita lebih lekas dari waktu yang kita sengaja gegas. Bila begini, saya sudah tak tampak kepongahanku. Sebab kutitipkan segala Rahmat-Nya pada peradilan ruang dan waktu-Nya. Aku selalu begitu, kekasih. Maafkan aku. Aku hanya ingin meleburkan hasrat satu itu dalam sesuci malam yang terus memebelenggu.

Jauh dari sini, saya selalu berbisik pada telisik. Kita mantap mengeja sisa malam yang berpamit. Kita akan menyaksikan sendiri baskara yang telah menuntut kita menghirup embun segar pengisi hari-hari. Kala dhuha menyungging terang, kita akan turut menyinggung jerang. Di sanalah ejaan harap mengukir di kanvas ruang serta waktu yang tuang. Apakah kita mampu menuangkan segala yang termaktab di mahabah ridha-Nya atau kita sedang membuang kesempatan yang terlepas dari sematan harap yang kita tunggu masa panennya. Saat itu, saya hanya mengabarkan telah kautemukan apa dari makna yang mantap dari goresan pena ini.

Lalu pada mimpi yang sedang berselimut, biar dia tenang. Sebab pertengahan malam masih menghitung bilangan jam. Ia akan bertemu dan berpamit untuk tiba di restu Rabb untuk kembali bertandang dalam lakon kenyataan kita. Saat itu, kita akan lekas menggenggam syah menyaksikan haru langit yang terbias memesra keadaan kita. Percayalah, ketika itu kita ialah sepasang kekasih yang sedang dimanja nikmat alam.

Terpantik pesan yang tersirat mengacu. Mengusulkan kemantapan syahdu. Bahwa kita sedang mengeja isyarat-isyarat ayat Rabb-ku. Aku pikir ini tidaklah berlebihan, alasannya ialah kita menjerang mula-mula pula menggaris pada pijakan mulia. Meski ada kecam, saya tegaskan lantang: Kita mengerat dalam nasihat-menasihati kebenaran juga kesabaran kita. Pula bila khianat, lekas buru dan bunuh sifat khianatnya. Itu prolog yang mesti kita hapus kala kita akan melanjutkan kisah yang terus melajukan arah kita meluruh.

Dan jangan mengira, meski bungkam tiada kata-kata, saya tidak memungut potongan pesan yang tersirat dari bergemingnya suara. Selama itikad itu melekat, pastilah mana dongeng bisa menyebabkan ibrah bagi kita yang menetap jarang nasihat. Maaf, bila kucuri setiap kebaikanmu semoga turut bersemat di tingkah lampahku. Maaf!

Inilah kerinduanku pada pagi yang ingin menjemputmu. Lekas pada tatapan adu, apakah kita lulus menguji ruang dan waktu. Serta memantap istikharah yang sedang kita aju. sebetapapun kelak itu, saya memasrahkan segalanya pada jalinan waktu yang memintal kisah kita. Dan aku, meyakini Rabbku menyaksikan ini. Serupa saya menyaksikan doaku mengiringi kisah kita tetap berpadu. Melesatkan segala arah yang tuju, tetap Rabb kita menjadi arah muara kita melarungkan waktu. Di situlah ruang yang kita tuju sebagai persinggahan mengisi detik sejarah syahdu.

Cukup! Aku tidak mau kata-kata ini meracuni bilangan kaku. Sebab goresan pena ini mungkin kita saja yang bisa memahaminya. Biar yang tersurat adanya kalimat ambigu, kelak akan menuangkan ceritanya sendiri. Itulah evaluasi mereka, alasannya ialah apapun, penilian kita hanya berstandar dari restu yang mengeja kemaharupaan rahmat-Nya yang berlaku: Untuk kita sudah niscaya tentu.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget