Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Catatan Guru SD"
Adsense ANEKA AYAM ANEKA BUBUR KOLAK ANEKA CAMILAN ANEKA DAGING ANEKA ES ANEKA GORENGAN ANEKA IKAN SEAFOOD ANEKA JAJANAN ANEKA KUE ANEKA KUE BASAH ANEKA KUE KERING ANEKA MAKANAN BAYI ANEKA MIE PASTA ANEKA MINUMAN ANEKA NASI ANEKA PUDING ANEKA ROTI ANEKA SAMBAL ANEKA SAYUR MAYUR ANEKA SUP SOTO ANEKA TAHU TEMPE ANEKA TELUR Bahasa Indonesia baju Blogging Catatan Guru SD Cerpen Css/Javascript Designs harga souvenir pernikahan murah bekasi harga souvenir pernikahan murah bogor harga souvenir pernikahan murah depok harga souvenir pernikahan murah jakarta harga souvenir pernikahan murah tangerang How To Informasi Informasi Pendidikan Informasi Umum Internet IPA jual souvenir pernikahan berkualitas bali jual souvenir pernikahan berkualitas bandung jual souvenir pernikahan berkualitas banjarmasin jual souvenir pernikahan berkualitas batam jual souvenir pernikahan berkualitas bekasi jual souvenir pernikahan berkualitas bogor jual souvenir pernikahan berkualitas depok jual souvenir pernikahan berkualitas jakarta jual souvenir pernikahan berkualitas medan jual souvenir pernikahan berkualitas palembang jual souvenir pernikahan berkualitas tangerang jual souvenir pernikahan lucu bali jual souvenir pernikahan lucu bandung jual souvenir pernikahan lucu banjarmasin jual souvenir pernikahan lucu batam jual souvenir pernikahan lucu bekasi jual souvenir pernikahan lucu bogor jual souvenir pernikahan lucu depok jual souvenir pernikahan lucu jakarta jual souvenir pernikahan lucu medan jual souvenir pernikahan lucu palembang jual souvenir pernikahan lucu tangerang jual souvenir pernikahan murah bali jual souvenir pernikahan murah bandung jual souvenir pernikahan murah banjarmasin jual souvenir pernikahan murah batam jual souvenir pernikahan murah bekasi jual souvenir pernikahan murah bogor jual souvenir pernikahan murah depok jual souvenir pernikahan murah medan jual souvenir pernikahan murah palembang jual souvenir pernikahan murah tangerang jual souvenir pernikahan rekomended bali jual souvenir pernikahan rekomended bandung jual souvenir pernikahan rekomended banjarmasin jual souvenir pernikahan rekomended batam jual souvenir pernikahan rekomended bekasi jual souvenir pernikahan rekomended bogor jual souvenir pernikahan rekomended depok jual souvenir pernikahan rekomended jakarta jual souvenir pernikahan rekomended medan jual souvenir pernikahan rekomended palembang jual souvenir pernikahan rekomended tangerang jual souvenir pernikahan terlaris bali jual souvenir pernikahan terlaris bandung jual souvenir pernikahan terlaris banjarmasin jual souvenir pernikahan terlaris batam jual souvenir pernikahan terlaris bekasi jual souvenir pernikahan terlaris bogor jual souvenir pernikahan terlaris depok jual souvenir pernikahan terlaris jakarta jual souvenir pernikahan terlaris medan jual souvenir pernikahan terlaris palembang jual souvenir pernikahan terlaris tangerang jual souvenir pernikahan termurah bali jual souvenir pernikahan termurah bandung jual souvenir pernikahan termurah banjarmasin jual souvenir pernikahan termurah batam jual souvenir pernikahan termurah bekasi jual souvenir pernikahan termurah bogor jual souvenir pernikahan termurah depok jual souvenir pernikahan termurah medan jual souvenir pernikahan termurah palembang jual souvenir pernikahan termurah tangerang jual souvenir pernikahan terpercaya bali jual souvenir pernikahan terpercaya bandung jual souvenir pernikahan terpercaya banjarmasin jual souvenir pernikahan terpercaya batam jual souvenir pernikahan terpercaya bekasi jual souvenir pernikahan terpercaya bogor jual souvenir pernikahan terpercaya depok jual souvenir pernikahan terpercaya jakarta jual souvenir pernikahan terpercaya medan jual souvenir pernikahan terpercaya palembang jual souvenir pernikahan terpercaya tangerang jual souvenir pernikahan unik bali jual souvenir pernikahan unik bandung jual souvenir pernikahan unik banjarmasin jual souvenir pernikahan unik batam jual souvenir pernikahan unik bekasi jual souvenir pernikahan unik bogor jual souvenir pernikahan unik depok jual souvenir pernikahan unik jakarta jual souvenir pernikahan unik medan jual souvenir pernikahan unik palembang jual souvenir pernikahan unik tangerang Kisi-kisi Soal Komputer Label Based Sitemap Themes lainnya Matematika Materi Ajar Multimedia Opini Otak-atik Blog Pages Pedagogis Pendidikan Posts SEO Settings Sitemap Themes Tips TIPS DAN INFO Tools Tutorial Tutorial Ms. Excel Tutorial Print Widgets

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Perkembangan Teknologi hingga Sistem Pendidikan Saat ini


Perkembangan teknologi ketika ini sudah dirasakan oleh semua kalangan. Bahkan usia berapapun tidak luput dari perkembangan teknologi ini.
 Perkembangan Teknologi hingga Sistem Pendidikan Saat ini Peran Pendidik di Era Youtube dan Instagram

Bisa kita bayangkan di sekitar kita. Anak seusia balita sudah disodorkan tontonan Youtube oleh orang tuanya hanya sekadar menonton video-video anak-anak. Belum lagi, orang tuanya pun sudah terserang keasyikan sendiri dengan perkembangan teknologi ini. Tak ayal, teknologi kini sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang.

Perangkat teknologi ini bisa menghubungkan seseorang dengan orang lain tanpa harus bertemu langsung. Melalui media umum orang mulai terhubung dengan banyak orang. Baik mereka yang sudah kenal maupun tidak asal mempunyai ketertarikan yang sama pada suatu hal, pertemanan pun akan terjalin. Media sosial juga bisa berkomunikasi secara pribadi dengan idola mereka dengan hanya mengikuti akun media umum sang idola.

Keberadaan media umum memang mengatakan dampak yang signifikan dalam perkembangan teknologi. Setiap orang bebas mengekspresikan apa saja di laman media sosialnya. Unggahan-unggahan poto, video, cuitan, dan curahan perasaan bebas mereka ekspresikan di sini. Kebebasan itu sebagai bentuk pelampiasan yang boleh jadi sebagai bentuk ekspresi diri ketika dirinya tidak bisa melampiaskan sesuatu di dunia nyata.

Kemunculan informasi hoax boleh jadi lantaran kebebasan berekspresi ini. Penyebarnya mungkin saja lebih mengutamakan egonya daripada fakta-fakta yang sebenarnya. Mengesampingkan kebenaran untuk menciptakan kebenaran gres sesuai persepsinya juga membentuk norma gres yang terjadi remaja ini.

Namun, tidak semua suguhan-suguhan di media umum tersebut mengatakan dampak buruk. Ada juga orang-orang yang masih menebarkan kebaikan-kebaikan, nasihat-nasihat, atau apapun yang sifatnya kebaikan di media sosial.

Selain itu, media umum juga menyuguhkan peluang untuk mendapatkan penghasilan. Media sosial merupakan alat komunikasi paling efektif untuk memasarkan produk atau jasa. Selain itu, akomodasi pembayaran, pengiriman, hingga aplikasi transaksi jual beli online juga turut mengatakan andil semakin besar peluang mendapatkan penghasilan.

Peluang untuk mendapatkan penghasilan juga tidak hanya mengatakan produk dan jasa. Bahkan dengan menampilkan konten-konten menarik pun sanggup menghasilkan pundi-pundi rupiah. Misalnya saja Youtuber dan selebgram. Mereka bermodal akun media umum untuk menampilkan konten menarik yang sanggup ditonton oleh ribuan hingga jutaan orang. Rupiah pun gampang mengalir dari bermacam-macam sisi. Bisa berasal dari iklan yang dipasang melalui chanel youtubenya atau bisa juga melalui endors-endors beberapa produk yang bekerja sama dengannya.

Dari sinilah sanggup disimpulkan bahwa peranan gadget, internet, media umum menjadi lingkungan gres bagi kehidupan insan modern.  Di dalamnya terdapat interaksi sosial yang sanggup mengubah sikap manusia. Entah itu dari sisi ekonomi, psikologi, norma, hingga pendidikan model gres yang dilakukannya tanpa sadar.

Sebagai pendidik, melihat fenomena di atas bukanlah sesuatu yang aneh. Sebab guru dipersiapkan untuk mengatasi dilema globalisasi ini kepada siswa-siswanya. Meski perkembangan teknologi ini bukan suatu masalah, tetapi perkembangannya jangan hingga merusak jati diri anak bangsa.

Kemunculan berita-berita bohong, mis-persepsi, dan hoax menciptakan dunia pendidikan sadar bahwa ada hal yang mesti dibenahi dalam dunia pendidikan kita. Salah satunya dengan Penguatan Pendidikan Karakter dan Gerakan Literasi Nasional. Guru-guru disiapkan untuk memondasi abjad akseptor didik biar tidak gampang menjadi korban dari informasi bohong yang betebaran di internet.

Kemudahan setiap orang mendapatkan informasi melalui internet memberi dampak dalam sistem pendidikan kita. Pendidik maupun akseptor didik harus sanggup menentukan dan memilah informasi yang benar-benar valid. Keberadaan internet jangan hingga melunturkan nilai-nilai normatif. 

Salah satu upaya biar generasi penerus bangsa  tidak terjebak oleh buyarnya informasi ini dibutuhkan kemampuan literasi. Kemampuan literasi tidak hanya sebatas membaca dan memahami informasi, tetapi juga kemampuan dalam mengolah informasi.

Gerakan literasi nasional diberlakukan di setiap lingkungan akseptor didik. Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat pun literasi harus dibangun. Literasi juga tidak sebatas pada pemaksaan untuk bisa menulis atau mengungkapkan pikiran melalui tulisan. Lebih dari itu, kemampuan literasi dibutuhkan bisa membawa generasi penerus untuk berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, sebelum mengomunikasikannya.


Memanfaatkan Youtube sebagai Media Pembelajaran


Bagi pendidik, niscaya sering melihat atau menyaksikan sendiri akseptor didik kita melaksanakan kebiasaan yang sedang trends ketika ini. Mereka bekerjsama telah melihat tontonan dari aneka macam sumber. Terutama Youtube dan Instragram.

Usia sekolah jenjang sd sudah mengenal youtube dan instagram lantaran lingkungannya. Entah itu berasal dari keluarganya, temannya, ataupun masyarakatnya. Proses peniruan ini bagi pendidik harus menjadi perhatian yang serius. Sebab, lingkungan mereka benar-benar mengatakan dampak proses pendidikan mereka.

Materi-materi sekolah yang disampaikan dengan metode biasa-biasa saja menciptakan siswa merasa bosan. Sebagian dari mereka bahan sekolah itu dipelajari untuk dilupakan. Dipelajari lantaran bahan ini menjadi evaluasi sebagai bentuk proses pembelajaran. Dilupakan alasannya ialah bahan ini tidak diyakini akan mengatakan manfaat bagi kehidupan mereka kelak.

Melihat peluang bawah umur menjiplak tontonan video di youtube sebagai proses pendidikan mereka, maka guru sanggup menyajikan youtube sebagai media pembelajaran. Guru sanggup mengunduh video kemudian menyesuaikan dengan skenario pembelajarannya.

Bagi pendidik yang sudah melek teknologi, menciptakan konten video menarik bersama siswa dengan memasukkan unsur pembelajaran ini menjadi salah satu alternatif. Peserta didik  merasa terlibat dalam prosea kreatifnya. Materi yang harus dikuasainya juga terasa gampang dipahami.

Keuntungan memakai media pembalajaran dengan youtube jangkauannya lebih luas. Video pembelajaram yang kita susun tidak secara khusus hanya peaerta didik kita. 

Perkembangan Teknologi hingga Sistem Pendidikan Saat ini


Perkembangan teknologi ketika ini sudah dirasakan oleh semua kalangan. Bahkan usia berapapun tidak luput dari perkembangan teknologi ini.
 Perkembangan Teknologi hingga Sistem Pendidikan Saat ini Peran Pendidik di Era Youtube dan Instagram

Bisa kita bayangkan di sekitar kita. Anak seusia balita sudah disodorkan tontonan Youtube oleh orang tuanya hanya sekadar menonton video-video anak-anak. Belum lagi, orang tuanya pun sudah terserang keasyikan sendiri dengan perkembangan teknologi ini. Tak ayal, teknologi kini sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang.

Perangkat teknologi ini bisa menghubungkan seseorang dengan orang lain tanpa harus bertemu langsung. Melalui media umum orang mulai terhubung dengan banyak orang. Baik mereka yang sudah kenal maupun tidak asal mempunyai ketertarikan yang sama pada suatu hal, pertemanan pun akan terjalin. Media sosial juga bisa berkomunikasi secara pribadi dengan idola mereka dengan hanya mengikuti akun media umum sang idola.

Keberadaan media umum memang mengatakan dampak yang signifikan dalam perkembangan teknologi. Setiap orang bebas mengekspresikan apa saja di laman media sosialnya. Unggahan-unggahan poto, video, cuitan, dan curahan perasaan bebas mereka ekspresikan di sini. Kebebasan itu sebagai bentuk pelampiasan yang boleh jadi sebagai bentuk ekspresi diri ketika dirinya tidak bisa melampiaskan sesuatu di dunia nyata.

Kemunculan informasi hoax boleh jadi lantaran kebebasan berekspresi ini. Penyebarnya mungkin saja lebih mengutamakan egonya daripada fakta-fakta yang sebenarnya. Mengesampingkan kebenaran untuk menciptakan kebenaran gres sesuai persepsinya juga membentuk norma gres yang terjadi remaja ini.

Namun, tidak semua suguhan-suguhan di media umum tersebut mengatakan dampak buruk. Ada juga orang-orang yang masih menebarkan kebaikan-kebaikan, nasihat-nasihat, atau apapun yang sifatnya kebaikan di media sosial.

Selain itu, media umum juga menyuguhkan peluang untuk mendapatkan penghasilan. Media sosial merupakan alat komunikasi paling efektif untuk memasarkan produk atau jasa. Selain itu, akomodasi pembayaran, pengiriman, hingga aplikasi transaksi jual beli online juga turut mengatakan andil semakin besar peluang mendapatkan penghasilan.

Peluang untuk mendapatkan penghasilan juga tidak hanya mengatakan produk dan jasa. Bahkan dengan menampilkan konten-konten menarik pun sanggup menghasilkan pundi-pundi rupiah. Misalnya saja Youtuber dan selebgram. Mereka bermodal akun media umum untuk menampilkan konten menarik yang sanggup ditonton oleh ribuan hingga jutaan orang. Rupiah pun gampang mengalir dari bermacam-macam sisi. Bisa berasal dari iklan yang dipasang melalui chanel youtubenya atau bisa juga melalui endors-endors beberapa produk yang bekerja sama dengannya.

Dari sinilah sanggup disimpulkan bahwa peranan gadget, internet, media umum menjadi lingkungan gres bagi kehidupan insan modern.  Di dalamnya terdapat interaksi sosial yang sanggup mengubah sikap manusia. Entah itu dari sisi ekonomi, psikologi, norma, hingga pendidikan model gres yang dilakukannya tanpa sadar.

Sebagai pendidik, melihat fenomena di atas bukanlah sesuatu yang aneh. Sebab guru dipersiapkan untuk mengatasi dilema globalisasi ini kepada siswa-siswanya. Meski perkembangan teknologi ini bukan suatu masalah, tetapi perkembangannya jangan hingga merusak jati diri anak bangsa.

Kemunculan berita-berita bohong, mis-persepsi, dan hoax menciptakan dunia pendidikan sadar bahwa ada hal yang mesti dibenahi dalam dunia pendidikan kita. Salah satunya dengan Penguatan Pendidikan Karakter dan Gerakan Literasi Nasional. Guru-guru disiapkan untuk memondasi abjad akseptor didik biar tidak gampang menjadi korban dari informasi bohong yang betebaran di internet.

Kemudahan setiap orang mendapatkan informasi melalui internet memberi dampak dalam sistem pendidikan kita. Pendidik maupun akseptor didik harus sanggup menentukan dan memilah informasi yang benar-benar valid. Keberadaan internet jangan hingga melunturkan nilai-nilai normatif. 

Salah satu upaya biar generasi penerus bangsa  tidak terjebak oleh buyarnya informasi ini dibutuhkan kemampuan literasi. Kemampuan literasi tidak hanya sebatas membaca dan memahami informasi, tetapi juga kemampuan dalam mengolah informasi.

Gerakan literasi nasional diberlakukan di setiap lingkungan akseptor didik. Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat pun literasi harus dibangun. Literasi juga tidak sebatas pada pemaksaan untuk bisa menulis atau mengungkapkan pikiran melalui tulisan. Lebih dari itu, kemampuan literasi dibutuhkan bisa membawa generasi penerus untuk berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, sebelum mengomunikasikannya.


Memanfaatkan Youtube sebagai Media Pembelajaran


Bagi pendidik, niscaya sering melihat atau menyaksikan sendiri akseptor didik kita melaksanakan kebiasaan yang sedang trends ketika ini. Mereka bekerjsama telah melihat tontonan dari aneka macam sumber. Terutama Youtube dan Instragram.

Usia sekolah jenjang sd sudah mengenal youtube dan instagram lantaran lingkungannya. Entah itu berasal dari keluarganya, temannya, ataupun masyarakatnya. Proses peniruan ini bagi pendidik harus menjadi perhatian yang serius. Sebab, lingkungan mereka benar-benar mengatakan dampak proses pendidikan mereka.

Materi-materi sekolah yang disampaikan dengan metode biasa-biasa saja menciptakan siswa merasa bosan. Sebagian dari mereka bahan sekolah itu dipelajari untuk dilupakan. Dipelajari lantaran bahan ini menjadi evaluasi sebagai bentuk proses pembelajaran. Dilupakan alasannya ialah bahan ini tidak diyakini akan mengatakan manfaat bagi kehidupan mereka kelak.

Melihat peluang bawah umur menjiplak tontonan video di youtube sebagai proses pendidikan mereka, maka guru sanggup menyajikan youtube sebagai media pembelajaran. Guru sanggup mengunduh video kemudian menyesuaikan dengan skenario pembelajarannya.

Bagi pendidik yang sudah melek teknologi, menciptakan konten video menarik bersama siswa dengan memasukkan unsur pembelajaran ini menjadi salah satu alternatif. Peserta didik  merasa terlibat dalam prosea kreatifnya. Materi yang harus dikuasainya juga terasa gampang dipahami.

Keuntungan memakai media pembalajaran dengan youtube jangkauannya lebih luas. Video pembelajaram yang kita susun tidak secara khusus hanya peaerta didik kita. 

Menjelang selesai tahun pelajaran, guru kelas 6 akan selalu disibukkan dengan banyak sekali macam aktivitas jam pelengkap guna memperdalam pengetahuan siswa dalam menghadapi soal-soal Ujian Sekolah. Di antarnya guru kelas 6 akan melaksanakan jam pelengkap di luar jam pelajaran sekolah. Berbagai taktik pembelajaran pun diterapkan oleh guru kelas 6.


 akan selalu disibukkan dengan banyak sekali macam aktivitas jam pelengkap guna memperdalam penge Cara Mengajar siswa Kelas 6 dalam Mempersiapkan Ujian Sekolah

Beberapa cara berikut ini mungkin menjadi salah satu di antara banyak cara yang biasa dilakukan guru kelas 6 dalam mempersiapkan penerima didiknya menghadapi soal-soal Ujian Sekolah.

Tips Sukses Mengajar Siswa Kelas 6 dalam menghadapi Soal-Soal USBN 


1.    Mengatur ulang agenda pelajaran


Biasanya guru kelas 6 mengatur ulang agenda pelajaran. Mereka lebih cenderung akan memfokuskan pada tiga mata pelajaran yang diujikan. Tiga mata pelajaran yang di Uji Nasionalkan biasanya diatur dalam kisi-kisi yang diterbitkan oleh Kemendikbud. Yaitu Mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.

Kebiasaan mengatur ulang agenda pelajaran ini umum dilakukan oleh guru kelas 6 alasannya indikator dari diterima tidaknya siswa kelas 6 di jenjag Sekolah Menengah Pertama Negeri dilihat dari nilai ketiga mata pelajaran tersebut. Meski tidak mengesampingkan mata pelajaran lain, fokus ketiga mata pelajaran ini menjadi yang paling utama yang diajarkan oleh guru kelas 6.

Fokus terhadap pengajaran tiga mata pelajaran ini menjadi hal yang sangat tidak dianjurkan oleh pengawas sekolah sampai dinas pendidikan. Hal ini lantaran pendidikan seharusnya memberikan seluruh materi di setiap mata pelajaran. Kecenderungan guru yang hanya mengajarkan tiga mata pelajaran menjadi suatu budaya yang tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya oleh para guru kelas 6, mengingat tuntutan semoga lulusan bisa menuntaskan soal latihan juga guru dituntut menunjukkan output sekolah semoga mempunyai angka lulusan terbanyak masuk ke sekolah menengah favorit.


2.    Mengelempokkan beberapa siswa menurut kemampuannya


Materi kelas 6 merupakan materi pengulangan dari materi pelajaran di jenjang kelas sebelumnya. Terutama kelas 4 dan kelas 5. Hanya beberapa materi yang merupakan materi pengayaan yang benar diajarkan di kelas 6. Itu pun konsep dasarnya tetap berasal dari jenjang kelas sebelumnya.

Pemahaman terhadap materi di jenjang kelas sebelumnya menciptakan guru kelas 6 harus bisa mengelompokkan siswa siapa saja yang belum menguasai materi di kelas sebelumnya. Memang ini menjadi polemik sendiri dikala seharusnya siswa yang sudah naik kelas maka kompetensi yang sudah diajarkan di kelas sebelumnya juga tuntas dan sudah dipahami. Sayangnya, kenyataannya berbeda.

Sering guru kelas 6 mengeluhkan beberapa siswanya masih belum bisa melaksanakan operasi hitung dasar. Sedangkan kelas 6 sudah harus bisa mengerjakan operasi hitung yang lebih kompleks lagi. Ini sebagian pola kecil saja dari keluhan guru kelas 6 dikala menghadapi kenyataan bahwa siswa kelas 6 tidak sepenuhnya menguasai materi di kelas sebelumnya.

Oleh lantaran itu, banyak di antara guru kelas 6 mengelompokkan beberapa siswa menurut kemampuan-kemampuannya. Hal ini dilakukan semoga bisa memetakkan kelompok siswa yang membutuhkan pelayanan pembelajaran semoga semua kompetensi benar-benar sanggup dikuasai. Dan itu dibuktikan dengan ujian sekolah yang akan dihadapi siswa kelas 6.

Beberapa tujuan dari pengelempokkan ini di antaranya untuk memeberikan jenis pelayanan pembelajaran pada masing-masing kelompok. Misalnya saja guru melaksanakan pengelompokkan menurut siswa yang sudah menguasai materi tertentu dengan yang belum. Guru akan menunjukkan pelayanan pembelajaran berupa pengayaan kepada siswa yang telah menguasai materi pembelajaran. Sedangkan untuk yang kurang memahami materi, guru akan menunjukkan pelayanan pembelajaran berupa remedial.


3.    Memilih tutor sebaya untuk menyamaratakan kompetensi


Di antara tujuan mengelompokkan siswa di atas juga bertujuan untuk menentukan tutor sebaya. Tutor sebaya biasanya berasal dari kelompok siswa yang lebih pintar yang ditunjuk oleh guru untuk memimpin berguru sahabat sebayanya yang belum menguasai materi.

Tutor sebaya akan menunjukkan imbas psikologis lantaran yang menunjukkan materi pelengkap berasal dari sahabat seusianya. Kecenderungan siswa yang belum berani mengungkapkan pertanyaan kepada guru akan lebih berani mereka ungkapkan kepada tutor sebaya. Karena kedekatan emosional usia juga menjadi alasan mengapa guru kelas 6 sanggup menentukan taktik ini dalam menunjukkan pelayanan pendidikan.




Namun, tutor sebaya tidak dilepas guru begitu saja. Tutor sebaya akan terus diawasi oleh guru selama menunjukkan pembelajaran kepada temannya. Guru membimbing dan memfasilator terhadap kesulitan berguru yang dialami oleh siswa-siswanya. Termasuk kepada tutor sebaya yang telah ditunjuknya.

4.    Membuat media pembelajaran yang lebih menciptakan siswa memahami materi


Media pembelajar pun turut menjadi pendukung keberhasilan guru dalam memantapkan materi. Media visual ataupun audio-visual menunjukkan bantuan yang positif untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa.

Media pembelajaran visual bisa dibentuk oleh guru maupun alat peraga yang sudah tersedia di sekolah. Guru kelas 6 seyogianya memanfaatkan proyektor sebagai alat pembelajaran wajib setiap kali melaksanakan aktivitas pembelajaran.  Slide yang berisi ringkasan materi maupun gambar pendukung akan menunjukkan penguatan terhadap ingatan siswa melalui pengalaman berguru ini. Oleh karenanya, guru kelas 6 cenderung harus menguasai tehnologi guna mengupdate pengetahuan terkini semoga proses pembelajaran semakin menarik bagi siswa.

Media audio-visual pun akan menarik fokus siswa terhadap materi pembelajaran. Metode ceramah sering mereka alami sejak kelas 1. Melalui media audi-visual, siswa akan merasa bahwa mereka sedang mencari hiburan yang kontennya merupakan informasi materi ujian.


5.    Menyusun banyak sekali macam soal latihan Sesuai dengan kisi-kisi terbaru (Misalnya: Kisi-kisi USBN SD 2019)


Soal-soal latihan merupakan bab terpenting dalam menyukseskan pemantapan materi ujian nasional. Kumpulan beberapa soal ujian nasional dari tahun-tahun sebelumnya menjadi referensi latihan siswa kelas 6.

Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru kelas 6. Kumpulan soal-soal latihan yang merujuk dari pola soal latihan tahun sebelumnya harus diubahsuaikan dengan kisi-kisi Ujian Nasional terkini.

Terkadang, ada beberapa guru yang masih tetap memakai latihan soal-soal tahun sebelumnya yang tidak ada di dalam kisi-kisi Ujian Nasional tahun sekarang.  Latihan soal yang dikerjakan oleh siswa haruslah fokus semoga siswa bisa mengerjakan ragam soal yang tetap mengacu pada kisi-kisi soal ujian nasional tahun sekarang. Tujuannya yaitu semoga siswa lebih fokus memecahkan materi yang diprediksi sebagian besar muncul.

Kisi-kisi ujian nasional hampir tiap tahun mengalami perubahan. Setiap tahunnya guru harus jeli terhadap perubahan kisi-kisi ujian nasional. Guru juga harus mempunyai kemampuan menyusun soal sendiri. Caranya yaitu dengan menciptakan prediksi soal dengan mengacu pada kisi-kisi.

Jika guru hanya mengacu pada pola soal-soal latihan tahun sebelumnya, maka guru tersebut belum bisa memodifikasi kebutuhan soal latihan dengan kemampuan yang dibutuhkan dalam menguasai kompetensi yang akan diujikan.

Maka dari itu, untuk menyusun soal latihan guru harus mempunyai kumpulan soal latihan hasil karyanya semoga sanggup membantu pemahaman siswa lebih optimal.


Mungkin itu saja cukup mewakili semoga siswa kita sanggup lebih mantap dan yakin dalam menghadapi soal-soal Ujian Nasional.

Menjelang selesai tahun pelajaran, guru kelas 6 akan selalu disibukkan dengan banyak sekali macam aktivitas jam pelengkap guna memperdalam pengetahuan siswa dalam menghadapi soal-soal Ujian Sekolah. Di antarnya guru kelas 6 akan melaksanakan jam pelengkap di luar jam pelajaran sekolah. Berbagai taktik pembelajaran pun diterapkan oleh guru kelas 6.


 akan selalu disibukkan dengan banyak sekali macam aktivitas jam pelengkap guna memperdalam penge Cara Mengajar siswa Kelas 6 dalam Mempersiapkan Ujian Sekolah

Beberapa cara berikut ini mungkin menjadi salah satu di antara banyak cara yang biasa dilakukan guru kelas 6 dalam mempersiapkan penerima didiknya menghadapi soal-soal Ujian Sekolah.

Tips Sukses Mengajar Siswa Kelas 6 dalam menghadapi Soal-Soal USBN 


1.    Mengatur ulang agenda pelajaran


Biasanya guru kelas 6 mengatur ulang agenda pelajaran. Mereka lebih cenderung akan memfokuskan pada tiga mata pelajaran yang diujikan. Tiga mata pelajaran yang di Uji Nasionalkan biasanya diatur dalam kisi-kisi yang diterbitkan oleh Kemendikbud. Yaitu Mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.

Kebiasaan mengatur ulang agenda pelajaran ini umum dilakukan oleh guru kelas 6 alasannya indikator dari diterima tidaknya siswa kelas 6 di jenjag Sekolah Menengah Pertama Negeri dilihat dari nilai ketiga mata pelajaran tersebut. Meski tidak mengesampingkan mata pelajaran lain, fokus ketiga mata pelajaran ini menjadi yang paling utama yang diajarkan oleh guru kelas 6.

Fokus terhadap pengajaran tiga mata pelajaran ini menjadi hal yang sangat tidak dianjurkan oleh pengawas sekolah sampai dinas pendidikan. Hal ini lantaran pendidikan seharusnya memberikan seluruh materi di setiap mata pelajaran. Kecenderungan guru yang hanya mengajarkan tiga mata pelajaran menjadi suatu budaya yang tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya oleh para guru kelas 6, mengingat tuntutan semoga lulusan bisa menuntaskan soal latihan juga guru dituntut menunjukkan output sekolah semoga mempunyai angka lulusan terbanyak masuk ke sekolah menengah favorit.


2.    Mengelempokkan beberapa siswa menurut kemampuannya


Materi kelas 6 merupakan materi pengulangan dari materi pelajaran di jenjang kelas sebelumnya. Terutama kelas 4 dan kelas 5. Hanya beberapa materi yang merupakan materi pengayaan yang benar diajarkan di kelas 6. Itu pun konsep dasarnya tetap berasal dari jenjang kelas sebelumnya.

Pemahaman terhadap materi di jenjang kelas sebelumnya menciptakan guru kelas 6 harus bisa mengelompokkan siswa siapa saja yang belum menguasai materi di kelas sebelumnya. Memang ini menjadi polemik sendiri dikala seharusnya siswa yang sudah naik kelas maka kompetensi yang sudah diajarkan di kelas sebelumnya juga tuntas dan sudah dipahami. Sayangnya, kenyataannya berbeda.

Sering guru kelas 6 mengeluhkan beberapa siswanya masih belum bisa melaksanakan operasi hitung dasar. Sedangkan kelas 6 sudah harus bisa mengerjakan operasi hitung yang lebih kompleks lagi. Ini sebagian pola kecil saja dari keluhan guru kelas 6 dikala menghadapi kenyataan bahwa siswa kelas 6 tidak sepenuhnya menguasai materi di kelas sebelumnya.

Oleh lantaran itu, banyak di antara guru kelas 6 mengelompokkan beberapa siswa menurut kemampuan-kemampuannya. Hal ini dilakukan semoga bisa memetakkan kelompok siswa yang membutuhkan pelayanan pembelajaran semoga semua kompetensi benar-benar sanggup dikuasai. Dan itu dibuktikan dengan ujian sekolah yang akan dihadapi siswa kelas 6.

Beberapa tujuan dari pengelempokkan ini di antaranya untuk memeberikan jenis pelayanan pembelajaran pada masing-masing kelompok. Misalnya saja guru melaksanakan pengelompokkan menurut siswa yang sudah menguasai materi tertentu dengan yang belum. Guru akan menunjukkan pelayanan pembelajaran berupa pengayaan kepada siswa yang telah menguasai materi pembelajaran. Sedangkan untuk yang kurang memahami materi, guru akan menunjukkan pelayanan pembelajaran berupa remedial.


3.    Memilih tutor sebaya untuk menyamaratakan kompetensi


Di antara tujuan mengelompokkan siswa di atas juga bertujuan untuk menentukan tutor sebaya. Tutor sebaya biasanya berasal dari kelompok siswa yang lebih pintar yang ditunjuk oleh guru untuk memimpin berguru sahabat sebayanya yang belum menguasai materi.

Tutor sebaya akan menunjukkan imbas psikologis lantaran yang menunjukkan materi pelengkap berasal dari sahabat seusianya. Kecenderungan siswa yang belum berani mengungkapkan pertanyaan kepada guru akan lebih berani mereka ungkapkan kepada tutor sebaya. Karena kedekatan emosional usia juga menjadi alasan mengapa guru kelas 6 sanggup menentukan taktik ini dalam menunjukkan pelayanan pendidikan.




Namun, tutor sebaya tidak dilepas guru begitu saja. Tutor sebaya akan terus diawasi oleh guru selama menunjukkan pembelajaran kepada temannya. Guru membimbing dan memfasilator terhadap kesulitan berguru yang dialami oleh siswa-siswanya. Termasuk kepada tutor sebaya yang telah ditunjuknya.

4.    Membuat media pembelajaran yang lebih menciptakan siswa memahami materi


Media pembelajar pun turut menjadi pendukung keberhasilan guru dalam memantapkan materi. Media visual ataupun audio-visual menunjukkan bantuan yang positif untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa.

Media pembelajaran visual bisa dibentuk oleh guru maupun alat peraga yang sudah tersedia di sekolah. Guru kelas 6 seyogianya memanfaatkan proyektor sebagai alat pembelajaran wajib setiap kali melaksanakan aktivitas pembelajaran.  Slide yang berisi ringkasan materi maupun gambar pendukung akan menunjukkan penguatan terhadap ingatan siswa melalui pengalaman berguru ini. Oleh karenanya, guru kelas 6 cenderung harus menguasai tehnologi guna mengupdate pengetahuan terkini semoga proses pembelajaran semakin menarik bagi siswa.

Media audio-visual pun akan menarik fokus siswa terhadap materi pembelajaran. Metode ceramah sering mereka alami sejak kelas 1. Melalui media audi-visual, siswa akan merasa bahwa mereka sedang mencari hiburan yang kontennya merupakan informasi materi ujian.


5.    Menyusun banyak sekali macam soal latihan Sesuai dengan kisi-kisi terbaru (Misalnya: Kisi-kisi USBN SD 2019)


Soal-soal latihan merupakan bab terpenting dalam menyukseskan pemantapan materi ujian nasional. Kumpulan beberapa soal ujian nasional dari tahun-tahun sebelumnya menjadi referensi latihan siswa kelas 6.

Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru kelas 6. Kumpulan soal-soal latihan yang merujuk dari pola soal latihan tahun sebelumnya harus diubahsuaikan dengan kisi-kisi Ujian Nasional terkini.

Terkadang, ada beberapa guru yang masih tetap memakai latihan soal-soal tahun sebelumnya yang tidak ada di dalam kisi-kisi Ujian Nasional tahun sekarang.  Latihan soal yang dikerjakan oleh siswa haruslah fokus semoga siswa bisa mengerjakan ragam soal yang tetap mengacu pada kisi-kisi soal ujian nasional tahun sekarang. Tujuannya yaitu semoga siswa lebih fokus memecahkan materi yang diprediksi sebagian besar muncul.

Kisi-kisi ujian nasional hampir tiap tahun mengalami perubahan. Setiap tahunnya guru harus jeli terhadap perubahan kisi-kisi ujian nasional. Guru juga harus mempunyai kemampuan menyusun soal sendiri. Caranya yaitu dengan menciptakan prediksi soal dengan mengacu pada kisi-kisi.

Jika guru hanya mengacu pada pola soal-soal latihan tahun sebelumnya, maka guru tersebut belum bisa memodifikasi kebutuhan soal latihan dengan kemampuan yang dibutuhkan dalam menguasai kompetensi yang akan diujikan.

Maka dari itu, untuk menyusun soal latihan guru harus mempunyai kumpulan soal latihan hasil karyanya semoga sanggup membantu pemahaman siswa lebih optimal.


Mungkin itu saja cukup mewakili semoga siswa kita sanggup lebih mantap dan yakin dalam menghadapi soal-soal Ujian Nasional.

Sebelumnya saya sudah membahas dalam postingan terdahulu, bahwa dalam mengasah keterampilan menulis dibutuhkan tiga tahapan penting. Yaitu:

Tahap Prapenulisan
Tahap Penulisan
Tahap Pascapenulisan

 Sebelumnya saya sudah membahas dalam postingan terdahulu Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Penulisan


Sekadar mereviu pembahasan sebelumnya pada tahap prapenulisan, bahwa sebelum kita menuliskan gagasan-gagasan dalam bentuk karangan utuh kita disarankan melaksanakan tahap persiapan. Beberapa tahapan ini dijelaskan dalam tahap prapnulisan.

Diantara tahapan tersebut diantaranya ialah memilih topik dan tujuan karangan, mengumpulkan informasi, dan menciptakan kerangka karangan. Di dalam kerangka karangan terdapat tiga bab penting yaitu bab awal, bab tengah, dan bab akhir. Pada kerangka inilah tahap penulisan mulai dikembangkan.

Baca juga: Tahapan dalam Keterampilan Menulis: Tahap Prapenulisan

Tahap Penulisan


Proses penulisan bermuara pada kerangka karangan. Proses ini sanggup dikerjakan dengan menyebarkan bagian-bagian kerangka karangan. Ingat, bahwa kerangka karangan  sanggup dibagi-bagikan kedalam tiga bagian. Yaitu bab awal, tengah, dan akhir.

Tahap Penulisan pada Bagaian Awal Kerangka Karangan

Pada bab awal kerangka karangan terdapat gagasan-gagasan yang berfungsi mengenalkan dan sekaligus menggiring pembaca untuk melanjutkan seluruh karangan. Menurut beberapa penulis, disinilah letak seni penulisan teruji.

Setiap penulis yang menciptakan goresan pena awal semenarik mungkin, menciptakan orang ingin tau untuk melahap habis tulisan, serta karangan yang bisa menciptakan pembaca terusik untuk membacanya ialah tehnik yang sering dilakukan dalam tahapan penulisan di bab awal ini.

Pada bab awal kerangka karangan, kita dituntut untuk menciptakan goresan pena menurut gagasan-gagasan pembuka dan penggiringan opini pembaca kepada tujuan penulisan tersebut. Penulis dituntut untuk selalu bisa menciptakan goresan pena yang berkesan kepada pembacanya.

Beberapa penulis yang sudah melalang buana dan sudah terkenal, sering menunjukkan rumusan baku dalam menciptakan goresan pena di awal karangan. Di antaranya:
- Menggunakan konsep piramida terbalik
- Menggunakan kata spekulatif
- Menggunakan tehnik paradoks
- dan lain-lain.

Mengenai rumusan baku tersebut bahwasanya tetap pada kejelian dari penulis itu sendiri dimana memposisikan pembaca ialah senyaman mungkin. Maksudnya, dalam goresan pena itu penulis mencoba memposisikan diri bukan sebagai bab diluar pembaca. Akan tetapi berusaha memahami pembacanya. Dan yang lebih penting lagi, untuk bisa menciptakan goresan pena yang menciptakan terkesan dibutuhkan jam terbang yang cukup tinggi dalam menulis.

Tahap Penulisan pada bab Tangah atau isi karangan


Isi karangan menyajikan bahasan topik atau wangsit utama karangan. Di sini semua hal-hal yang berkaitan dengan warta yang telah dikumpulkan dalam tahap prapenulisan dikembangkan.

Ketika menyebarkan gagasan dalam isi karangan, penulis dituntut untuk mengambil keputusan mengenai kedalaman dan keluasan isi karangan, jenis warta yang disajikan, teladan organisasi karangan termasuk di dalamnya teknik pengembangan alenia, serta gaya dan cara pembahasan.

Pengambilan keputasan itu tetap harus mengacu dan mengimbangi atau menyelaraskan dengan topik, tujuan, corak karangan, dan sasaran pembaca. Selain itu, dalam prosesnya penulis mesti mempunyai kesadaran bahwa dalam menulis ini memang merupakan suatu proses yang terus berulang-ulang. Sehingga dibutuhkan kesabaran dalam melatih dan menumbuhkan huruf goresan pena diri penulis.


Tahap Penulisan pada bab Akhir kerangka karangan


Bagian Akhir pada kerangka karangan berfungsi untuk mengembalikan pembaca pada ide-ide inti karangan melalui perangkuman atau penekanan-penekanan ide-ide penting. Biasanya dalam bab selesai ini berisi simpulan, rekomendasi, saran, dan epilog lainnya.


Sebelumnya saya sudah membahas dalam postingan terdahulu, bahwa dalam mengasah keterampilan menulis dibutuhkan tiga tahapan penting. Yaitu:

Tahap Prapenulisan
Tahap Penulisan
Tahap Pascapenulisan

 Sebelumnya saya sudah membahas dalam postingan terdahulu Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Penulisan


Sekadar mereviu pembahasan sebelumnya pada tahap prapenulisan, bahwa sebelum kita menuliskan gagasan-gagasan dalam bentuk karangan utuh kita disarankan melaksanakan tahap persiapan. Beberapa tahapan ini dijelaskan dalam tahap prapnulisan.

Diantara tahapan tersebut diantaranya ialah memilih topik dan tujuan karangan, mengumpulkan informasi, dan menciptakan kerangka karangan. Di dalam kerangka karangan terdapat tiga bab penting yaitu bab awal, bab tengah, dan bab akhir. Pada kerangka inilah tahap penulisan mulai dikembangkan.

Baca juga: Tahapan dalam Keterampilan Menulis: Tahap Prapenulisan

Tahap Penulisan


Proses penulisan bermuara pada kerangka karangan. Proses ini sanggup dikerjakan dengan menyebarkan bagian-bagian kerangka karangan. Ingat, bahwa kerangka karangan  sanggup dibagi-bagikan kedalam tiga bagian. Yaitu bab awal, tengah, dan akhir.

Tahap Penulisan pada Bagaian Awal Kerangka Karangan

Pada bab awal kerangka karangan terdapat gagasan-gagasan yang berfungsi mengenalkan dan sekaligus menggiring pembaca untuk melanjutkan seluruh karangan. Menurut beberapa penulis, disinilah letak seni penulisan teruji.

Setiap penulis yang menciptakan goresan pena awal semenarik mungkin, menciptakan orang ingin tau untuk melahap habis tulisan, serta karangan yang bisa menciptakan pembaca terusik untuk membacanya ialah tehnik yang sering dilakukan dalam tahapan penulisan di bab awal ini.

Pada bab awal kerangka karangan, kita dituntut untuk menciptakan goresan pena menurut gagasan-gagasan pembuka dan penggiringan opini pembaca kepada tujuan penulisan tersebut. Penulis dituntut untuk selalu bisa menciptakan goresan pena yang berkesan kepada pembacanya.

Beberapa penulis yang sudah melalang buana dan sudah terkenal, sering menunjukkan rumusan baku dalam menciptakan goresan pena di awal karangan. Di antaranya:
- Menggunakan konsep piramida terbalik
- Menggunakan kata spekulatif
- Menggunakan tehnik paradoks
- dan lain-lain.

Mengenai rumusan baku tersebut bahwasanya tetap pada kejelian dari penulis itu sendiri dimana memposisikan pembaca ialah senyaman mungkin. Maksudnya, dalam goresan pena itu penulis mencoba memposisikan diri bukan sebagai bab diluar pembaca. Akan tetapi berusaha memahami pembacanya. Dan yang lebih penting lagi, untuk bisa menciptakan goresan pena yang menciptakan terkesan dibutuhkan jam terbang yang cukup tinggi dalam menulis.

Tahap Penulisan pada bab Tangah atau isi karangan


Isi karangan menyajikan bahasan topik atau wangsit utama karangan. Di sini semua hal-hal yang berkaitan dengan warta yang telah dikumpulkan dalam tahap prapenulisan dikembangkan.

Ketika menyebarkan gagasan dalam isi karangan, penulis dituntut untuk mengambil keputusan mengenai kedalaman dan keluasan isi karangan, jenis warta yang disajikan, teladan organisasi karangan termasuk di dalamnya teknik pengembangan alenia, serta gaya dan cara pembahasan.

Pengambilan keputasan itu tetap harus mengacu dan mengimbangi atau menyelaraskan dengan topik, tujuan, corak karangan, dan sasaran pembaca. Selain itu, dalam prosesnya penulis mesti mempunyai kesadaran bahwa dalam menulis ini memang merupakan suatu proses yang terus berulang-ulang. Sehingga dibutuhkan kesabaran dalam melatih dan menumbuhkan huruf goresan pena diri penulis.


Tahap Penulisan pada bab Akhir kerangka karangan


Bagian Akhir pada kerangka karangan berfungsi untuk mengembalikan pembaca pada ide-ide inti karangan melalui perangkuman atau penekanan-penekanan ide-ide penting. Biasanya dalam bab selesai ini berisi simpulan, rekomendasi, saran, dan epilog lainnya.


Assalamualaikum,

Sebagian mitra blogger mungkin menulis yaitu hal yang lumrah. Sesuatu yang biasa dilakukan untuk menghidupkan blognya.

 Sebagian mitra blogger mungkin menulis yaitu hal yang lumrah Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Prapenulisan


Menulis merupakan keterampilan dimana seseorang mempunyai keterampilan dalam menuangkan gagasan-gagasan dikepalanya untuk disampaikan kepada orang lain dalam bentuk simbol-simbol tulisan. Di dalam keterampilan sendiri akan ada seni dalam merangkaikan kata sehingga pembaca akan memahami gagasan yang disampaikan.

Sebagaimana suatu keterampilan pada umumnya, keterampilan membutuhkan suatu keberlanjutan atau kekontinuitas dalam melakukannya. Maka, menulis pun membutuhkan suatu latihan dalam merangkaikan gagasan. Oleh lantaran itu, keterampilan menulis membutuhkan upaya yang sangat gigih semoga tulisannya bermutu dan berkualitas.

Sayangnya, dari banyak yang enggan berjuang dalam melatih keterampilan ini. Terutama blogger ecek-ecek yang dengan sengaja tanpa aib meng-copy goresan pena orang lain untuk diakui sebagai tulisannya. Entah apa yang ada di benak tipe blogger ini, apakah tujuan bloggingnya itu sebatas untuk eksis saja atau malah menciptakan dirinya menjadi kerdil.

Untuk mengasah keterampilan menulis, maka perhatikan pula bagaimana kita menjadi mahir dan terampil dalam menguraikang gagasan dalam tulisan. Setidaknya, ada tiga tahapan dalam menulis yang harus kita pahami. Meski tidak harus demikian namun ketiga tahapan ini akan membantu penulis terampil dalam menguraikan gagasannya. Tahapan itu yaitu tahapan prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap pascapenulisan.

Tahap Prapenulisan


Dikatakan sebagai tahapan prapenulisan lantaran pada tahap ini merupakan fase persiapan dalam menulis. Kebanyakan dari penulis, kadang merasa mempunyai berjuta-juta gagasan di kepala. Akan tetapi, ketika akan memulai menuliskannya malah ia bingung. Sekalinya sudah bisa memulainya pun, gres beberapa alenia inspirasi itu serasa habis.

Sebenarnya, pedoman menyerupai di atas disebabkan lantaran penulis tersebut tidak pernah mempunyai inspirasi yang benar-benar lengkap, siap, dan tersusun sistematis. Mengapa demikian, lantaran inspirasi dasar kemunculan-kemunculan gagasan tersebut hanya muncul ketika 'napsu' keinginan menulis muncul begitu saja tanpa ada kesiapan sama sekali.

Baca juga seluruh materi Bahasa Indonesia di blog ini

Oleh lantaran itu, tahap prapenulisan ini akan mendorong kita mempersiapkan segala bentuk isu dari gagasan yang kita punya semoga menjadi inspirasi yang lengkap, siap, dan sistematis.

Pada tahap prapenulisan ini, kita harus merinci bebrapa hal berikut:


a. Menentukan topik


Menentukan topik merupakan hal yang paling utama yang harus dilakukan. Mengapa? Karena dalam topik goresan pena akan membahas persoalan-persoalan yang menjiwai seluruh karangan.

Mungkin bagi penulis yang sudah terlatih dalam menentukan topik ini tidak mesti ditulis atau diuraikan dalam lembar kerja. Mereka akan menyimpannya di otak mereka. Tapi ini tidak akan berlaku bagi penulis pemula atau penulis yang tidak terbiasa (jika tidak dikatakan mahir atau terampil)

Ada beberapa tips dalam menentukan topik, diantaranya:

1) seseorang mempunyai banyak topik yang dipilih, semua topik sangat menarik dan cukup dikenali. Maka pilihlah topik yang paling sesuai dengan maksud dan tujuan kita menulis. Berbeda jikalau seseorang mempunyai topik yang banyak dan semuanya menarik, tetapi pengetahuan wacana topik tersebut sangat minim dan beresiko akan menjadikan salah tafsir. Maka, pilihlah topik yang memang benar-benar kita kuasai.

2) Kita menentukan suatu topik, tetapi tidak ada inspirasi sama sekali wacana topik tersebut. Biasanya ini terjadi lantaran topik yang dipilih terlalu umum atau mungkin topik yang dipilih trlalu sempit sehingga kesulitan dalam mnari arah atau fokus dari id kita itu. Untuk mengatasinya, kita perlu berdiskusi atau meminta saran dari orang lain, membaca refrensi (buku, artikel, laporan penelitian, dll), melaksanakan refleksi atau pengamtan.

3) Terlalu ambisius dalam menentukan topik sehingga topik yang dipilih terlalu luas. Begitu banyak yang ingin ditulis dan dikupas dalam goresan pena dalam tulisannya sementara pengetahuan, waktu, dan rfrnsi sangat terbatas. Disini pnulis harus pandai-pandai dalam mengdalikan diri.


b.  Mempertimbangkan maksud dan tujuan penulisan


Tujuan penulisan mengarah pada corak (genre) dan bentuk karangan, gaya penyampaian, serta tingkat kerincian isi karangan. Tujuan penulisan berbeda dengan manfaat mengarang.

Misalnya begini: Seorang mahasiswa yang akan mengarang menentukan topiknya  Dampak negatif sajian televisi dan cara mengatasinya. Ketika ditanya apa tujuan mengarang dengan topik tersebut beliau mengatakan, "Agar belum dewasa terhindar dari dampak negatif program-program yang ditayangkan di televisi."

Rumusan tujuan karangan tersebut terasa aneh. Mustahil sebuah karangan sanggup menjaga belum dewasa dari dampak negatif tayangan televisi. Iya Nggak? Munculnya rumusan tersebut muncul lantaran penulis belum memahami dalam membedakan antara impian atau manfaat karangan dengan tujuan mengarangnya. Dalam hal ini tujuan penulisan karangan tersebut.

Tujuan penulisan dalam konteks ini yaitu tujuan mengarang. Seperti menghibur, memberi tahu atau menginformasikan, mngklarifikasi atau membuktikan, atau membujuk (persuasif). Di sinilah tujuan penulisan tersebut akan mengarah pada corak (genre) dan bentuk karangan.

Ditelisik dari permasalahan masalah penulis mahasiswa tersebut, tujuan penulisan dari topik yang beliau pilih kemunkinan tujuannya yaitu menunjukan atau menginformasikan kepada pembaca mengenai dampak negatif tayangan televisi terhadap sikap anak-anak. Dari tujuan penulisan ini maka corak karangan yang sesuai yaitu eksposisi dengahan gaya pemapaparan (prosa ekspositoris).


c.  Memperhatikan sasaran karangan (Sasaran pembaca)


Agar goresan pena itu hingga kepada pembaca, kita harus memperhatikan dan menyesuaikan goresan pena kita dengan level sosial, tingkat pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan kebutuhan pembaca. Terkesan deskiriminatif memang, tapi memang menyerupai itulah kenyataannya.

Tidak mungkin juga kan seorang dokter menulis ilmu kedokterannya, dengan memaparkan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh akademisi kedokteran, kemudian goresan pena tersbut disajikan kepada pembaca umum? Yang terjadi, isu yang disampaikan penulis melalui goresan pena tersebut tidak akan tercapai lantaran pemahamannya belum hingga kesitu.

Seorang hebat menyatakan bahwa keberhasilan menulis dipengaruhi oleh ketepatan pemahaman penulis terhadap pembaca tulisannya. Kemampuan ini memungkinkan kita sebagai penulis menentukan isu serta penyajian yang sesuai. Alasan ini pula yang kerap mendorong seorang penulis berulang-ulang membaca atau meminta orang lain membaca goresan pena kita, dan memperbaikinya.


d.  Mengumpulkan isu pendukung


Anda mungkin pernah membaca artikel bagus, tulisannya panjang dengan kupasan yang dalam, luas, dan kaya. Anda mungkin akan bertanya, darimana penulis tersebut mengumpulkan isu dari banyak sekali sumber, mengaitkan begitu banyak isu menjadi satu ksatuan utuh yang saling mendukung dan berhubungan, serta menyajikannya dengan enak?

Jawaban pastinya, yaitu lantaran penulis tersebut tidak terburu-buru menuliskan gagasannya menjadi bentuk karangan utuh yang dipublikasikan sebelum semua isu yang terkumpulkannya itu banyak dan saling berkaitan.

Pengumpulan isu sanggup dilakukan sebelum, sewaktu menulis, atau sesudah menulis. Namun, banyak pembinaan penulisan-penulisan ilmiah menyarankan proses pengumpulan isu ini dilakukan sebelum proses penulisan, yakni pada tahap prapenulisan ini. Tujuannya yaitu semoga proses penulisan tidak mengalami gangguan lantaran isu yang diperlukan telah terkumpul secukupnya. Meski begitu, ketika penulisan pun terkadang muncul kebutuhan akan isu tambahan, pencarian isu tambahan ini akan lebih gampang lantaran kita tahu persis apa yang kita perlukan.


e. Mengorganisasikan ide/gagasan


Kalau Anda sering mengalami kondisi dimana Anda begitu menggebu ingin menulis lantaran ide-ide di kepala begitu hebat, akan tetapi ketika Anda menuliskannya Anda galau mulai dari mana. Atau bisa jadi ketika Anda sudah menuliskan beberapa gagasan Anda namun hanya selesai pada beberapa alenia saja.

Mengatasi permasalahan ini, kita memerlukan kerangka karangan semoga semua inspirasi atau gagasan terjaring. Dari karangan tersebut kita akan menentukan gagasan-gagasan mana yang harus dimunculkan pertama, tengah, hingga akhiran.

Kerangka karangan merupakan suatau rencana kerja yang memuat garis-garis besar karangan yang akan ditulis. Sederhananya, kerangka karangan merupakan panduan seseorang dalam menulis ketika membuatkan suatu karangan.

Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kerangka karangan tidaklah selalu sanggup sekali jadi. Bisa berkali-kali, ditulis, dikaji ulang, dan diperbaiki lagi. Perbaikan itu tidak hanya berlaku sebelum menulis, bahkan ketika berada di tengah-tengah proses penyusunan kerangka karangan.

Refrensi:
  • Suparno., Yunus, Mohamad. 2009. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka
  • Tompkins, G.E. dan Hoskisson E. (1995). Language Arts: Content and Teaching Strategies. Colombus, OH: Prentice Hall
  • Keraf, G. (1984). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende-Flores: Nusa Indah

Assalamualaikum,

Sebagian mitra blogger mungkin menulis yaitu hal yang lumrah. Sesuatu yang biasa dilakukan untuk menghidupkan blognya.

 Sebagian mitra blogger mungkin menulis yaitu hal yang lumrah Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Prapenulisan


Menulis merupakan keterampilan dimana seseorang mempunyai keterampilan dalam menuangkan gagasan-gagasan dikepalanya untuk disampaikan kepada orang lain dalam bentuk simbol-simbol tulisan. Di dalam keterampilan sendiri akan ada seni dalam merangkaikan kata sehingga pembaca akan memahami gagasan yang disampaikan.

Sebagaimana suatu keterampilan pada umumnya, keterampilan membutuhkan suatu keberlanjutan atau kekontinuitas dalam melakukannya. Maka, menulis pun membutuhkan suatu latihan dalam merangkaikan gagasan. Oleh lantaran itu, keterampilan menulis membutuhkan upaya yang sangat gigih semoga tulisannya bermutu dan berkualitas.

Sayangnya, dari banyak yang enggan berjuang dalam melatih keterampilan ini. Terutama blogger ecek-ecek yang dengan sengaja tanpa aib meng-copy goresan pena orang lain untuk diakui sebagai tulisannya. Entah apa yang ada di benak tipe blogger ini, apakah tujuan bloggingnya itu sebatas untuk eksis saja atau malah menciptakan dirinya menjadi kerdil.

Untuk mengasah keterampilan menulis, maka perhatikan pula bagaimana kita menjadi mahir dan terampil dalam menguraikang gagasan dalam tulisan. Setidaknya, ada tiga tahapan dalam menulis yang harus kita pahami. Meski tidak harus demikian namun ketiga tahapan ini akan membantu penulis terampil dalam menguraikan gagasannya. Tahapan itu yaitu tahapan prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap pascapenulisan.

Tahap Prapenulisan


Dikatakan sebagai tahapan prapenulisan lantaran pada tahap ini merupakan fase persiapan dalam menulis. Kebanyakan dari penulis, kadang merasa mempunyai berjuta-juta gagasan di kepala. Akan tetapi, ketika akan memulai menuliskannya malah ia bingung. Sekalinya sudah bisa memulainya pun, gres beberapa alenia inspirasi itu serasa habis.

Sebenarnya, pedoman menyerupai di atas disebabkan lantaran penulis tersebut tidak pernah mempunyai inspirasi yang benar-benar lengkap, siap, dan tersusun sistematis. Mengapa demikian, lantaran inspirasi dasar kemunculan-kemunculan gagasan tersebut hanya muncul ketika 'napsu' keinginan menulis muncul begitu saja tanpa ada kesiapan sama sekali.

Baca juga seluruh materi Bahasa Indonesia di blog ini

Oleh lantaran itu, tahap prapenulisan ini akan mendorong kita mempersiapkan segala bentuk isu dari gagasan yang kita punya semoga menjadi inspirasi yang lengkap, siap, dan sistematis.

Pada tahap prapenulisan ini, kita harus merinci bebrapa hal berikut:


a. Menentukan topik


Menentukan topik merupakan hal yang paling utama yang harus dilakukan. Mengapa? Karena dalam topik goresan pena akan membahas persoalan-persoalan yang menjiwai seluruh karangan.

Mungkin bagi penulis yang sudah terlatih dalam menentukan topik ini tidak mesti ditulis atau diuraikan dalam lembar kerja. Mereka akan menyimpannya di otak mereka. Tapi ini tidak akan berlaku bagi penulis pemula atau penulis yang tidak terbiasa (jika tidak dikatakan mahir atau terampil)

Ada beberapa tips dalam menentukan topik, diantaranya:

1) seseorang mempunyai banyak topik yang dipilih, semua topik sangat menarik dan cukup dikenali. Maka pilihlah topik yang paling sesuai dengan maksud dan tujuan kita menulis. Berbeda jikalau seseorang mempunyai topik yang banyak dan semuanya menarik, tetapi pengetahuan wacana topik tersebut sangat minim dan beresiko akan menjadikan salah tafsir. Maka, pilihlah topik yang memang benar-benar kita kuasai.

2) Kita menentukan suatu topik, tetapi tidak ada inspirasi sama sekali wacana topik tersebut. Biasanya ini terjadi lantaran topik yang dipilih terlalu umum atau mungkin topik yang dipilih trlalu sempit sehingga kesulitan dalam mnari arah atau fokus dari id kita itu. Untuk mengatasinya, kita perlu berdiskusi atau meminta saran dari orang lain, membaca refrensi (buku, artikel, laporan penelitian, dll), melaksanakan refleksi atau pengamtan.

3) Terlalu ambisius dalam menentukan topik sehingga topik yang dipilih terlalu luas. Begitu banyak yang ingin ditulis dan dikupas dalam goresan pena dalam tulisannya sementara pengetahuan, waktu, dan rfrnsi sangat terbatas. Disini pnulis harus pandai-pandai dalam mengdalikan diri.


b.  Mempertimbangkan maksud dan tujuan penulisan


Tujuan penulisan mengarah pada corak (genre) dan bentuk karangan, gaya penyampaian, serta tingkat kerincian isi karangan. Tujuan penulisan berbeda dengan manfaat mengarang.

Misalnya begini: Seorang mahasiswa yang akan mengarang menentukan topiknya  Dampak negatif sajian televisi dan cara mengatasinya. Ketika ditanya apa tujuan mengarang dengan topik tersebut beliau mengatakan, "Agar belum dewasa terhindar dari dampak negatif program-program yang ditayangkan di televisi."

Rumusan tujuan karangan tersebut terasa aneh. Mustahil sebuah karangan sanggup menjaga belum dewasa dari dampak negatif tayangan televisi. Iya Nggak? Munculnya rumusan tersebut muncul lantaran penulis belum memahami dalam membedakan antara impian atau manfaat karangan dengan tujuan mengarangnya. Dalam hal ini tujuan penulisan karangan tersebut.

Tujuan penulisan dalam konteks ini yaitu tujuan mengarang. Seperti menghibur, memberi tahu atau menginformasikan, mngklarifikasi atau membuktikan, atau membujuk (persuasif). Di sinilah tujuan penulisan tersebut akan mengarah pada corak (genre) dan bentuk karangan.

Ditelisik dari permasalahan masalah penulis mahasiswa tersebut, tujuan penulisan dari topik yang beliau pilih kemunkinan tujuannya yaitu menunjukan atau menginformasikan kepada pembaca mengenai dampak negatif tayangan televisi terhadap sikap anak-anak. Dari tujuan penulisan ini maka corak karangan yang sesuai yaitu eksposisi dengahan gaya pemapaparan (prosa ekspositoris).


c.  Memperhatikan sasaran karangan (Sasaran pembaca)


Agar goresan pena itu hingga kepada pembaca, kita harus memperhatikan dan menyesuaikan goresan pena kita dengan level sosial, tingkat pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan kebutuhan pembaca. Terkesan deskiriminatif memang, tapi memang menyerupai itulah kenyataannya.

Tidak mungkin juga kan seorang dokter menulis ilmu kedokterannya, dengan memaparkan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh akademisi kedokteran, kemudian goresan pena tersbut disajikan kepada pembaca umum? Yang terjadi, isu yang disampaikan penulis melalui goresan pena tersebut tidak akan tercapai lantaran pemahamannya belum hingga kesitu.

Seorang hebat menyatakan bahwa keberhasilan menulis dipengaruhi oleh ketepatan pemahaman penulis terhadap pembaca tulisannya. Kemampuan ini memungkinkan kita sebagai penulis menentukan isu serta penyajian yang sesuai. Alasan ini pula yang kerap mendorong seorang penulis berulang-ulang membaca atau meminta orang lain membaca goresan pena kita, dan memperbaikinya.


d.  Mengumpulkan isu pendukung


Anda mungkin pernah membaca artikel bagus, tulisannya panjang dengan kupasan yang dalam, luas, dan kaya. Anda mungkin akan bertanya, darimana penulis tersebut mengumpulkan isu dari banyak sekali sumber, mengaitkan begitu banyak isu menjadi satu ksatuan utuh yang saling mendukung dan berhubungan, serta menyajikannya dengan enak?

Jawaban pastinya, yaitu lantaran penulis tersebut tidak terburu-buru menuliskan gagasannya menjadi bentuk karangan utuh yang dipublikasikan sebelum semua isu yang terkumpulkannya itu banyak dan saling berkaitan.

Pengumpulan isu sanggup dilakukan sebelum, sewaktu menulis, atau sesudah menulis. Namun, banyak pembinaan penulisan-penulisan ilmiah menyarankan proses pengumpulan isu ini dilakukan sebelum proses penulisan, yakni pada tahap prapenulisan ini. Tujuannya yaitu semoga proses penulisan tidak mengalami gangguan lantaran isu yang diperlukan telah terkumpul secukupnya. Meski begitu, ketika penulisan pun terkadang muncul kebutuhan akan isu tambahan, pencarian isu tambahan ini akan lebih gampang lantaran kita tahu persis apa yang kita perlukan.


e. Mengorganisasikan ide/gagasan


Kalau Anda sering mengalami kondisi dimana Anda begitu menggebu ingin menulis lantaran ide-ide di kepala begitu hebat, akan tetapi ketika Anda menuliskannya Anda galau mulai dari mana. Atau bisa jadi ketika Anda sudah menuliskan beberapa gagasan Anda namun hanya selesai pada beberapa alenia saja.

Mengatasi permasalahan ini, kita memerlukan kerangka karangan semoga semua inspirasi atau gagasan terjaring. Dari karangan tersebut kita akan menentukan gagasan-gagasan mana yang harus dimunculkan pertama, tengah, hingga akhiran.

Kerangka karangan merupakan suatau rencana kerja yang memuat garis-garis besar karangan yang akan ditulis. Sederhananya, kerangka karangan merupakan panduan seseorang dalam menulis ketika membuatkan suatu karangan.

Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kerangka karangan tidaklah selalu sanggup sekali jadi. Bisa berkali-kali, ditulis, dikaji ulang, dan diperbaiki lagi. Perbaikan itu tidak hanya berlaku sebelum menulis, bahkan ketika berada di tengah-tengah proses penyusunan kerangka karangan.

Refrensi:
  • Suparno., Yunus, Mohamad. 2009. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka
  • Tompkins, G.E. dan Hoskisson E. (1995). Language Arts: Content and Teaching Strategies. Colombus, OH: Prentice Hall
  • Keraf, G. (1984). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende-Flores: Nusa Indah

Postingan ini merupakan seri terakhir dari tahapan dalam mengasah keterampilan menulis. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan penting yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan kini tahap pascapenulisan.


 Postingan ini merupakan seri terakhir dari tahapan dalam mengasah keterampilan menulis Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Pascapenulisan

Saya menyarankan untuk membaca postingan sebelumnya biar pemahaman ihwal tahapan dalam mengasah keterampilan menulis. Pada tahapan ini ada dua acara yang harus dilakukan. Yaitu Penyuntingan dan Revisi.

Tahapan Penyuntingan dan Revisi suatu naskah


Kegiatan penyuntingan dan revisi mempunyai acara yang berbeda. Penyuntingan (editing) mempunyai makna investigasi dan perbaikan unsur mekanik karangan menyerupai ejaan, pengtuasi, dan konvensi penulisan lainnya. Sedangkan revisi atau perbaikan mengarah kepada investigasi dan perbaikan isi karangan.

Kegiatan penyuntingan merupakan acara membaca ulang suatu draft karangan dengan tujuan untuk merasakan, menilai, memeriksa, baik unsur mekanik maupun isinya. Tujuannya untuk memperoleh isu ihwal unsur-unsur karangan yang perlu disempurnakan. Kegiatan ini sanggup dilakukan sendiri ataupun orang lain.

Setelah hasil penyuntingana maka kegaitan revisi dilakukan. Kegiatan penambahan, penggantian, penghilangan, pengubahan, atau penyusunan kembali unsur-unsur karangan. Kadar revisi tergantung dari tingkat keperluannya saja. Bila revisi berat,  sanggup juga sedang atau ringan.

Agar lebih memahami, acara penyuntingan dan revisi sanggup dilakukan dengan kegiatan-kegiatan berikut:

1. Membaca keseluruhan karangan


Bacalah karangan beberapa kali biar tujuan penulisan karangan tercapai. Maksudnya, ketika membaca karangan kita sendiri pastikan bahwa segala isu yang ingin Anda sampaikan tersampaikan dengan baik dan jelas. Tidak menjadikan ambigu kepada pembaca karangan kita.
Selain itu, dikala membaca karangan posisikan diri bukan lagi sebagai penulis. Akan tetapi posisikan sebagai pembaca atau sasaran pembaca Anda.

2. Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki atau catatan penting.


Menanda hal-hal yang perlu disini sesudah Anda membaca beberapa kali goresan pena Anda. Disarankan Anda menandai karangan ini sesudah Anda minimal sudah membaca dua kali karangan Anda sendiri. Tujuannya yaitu untuk mengantisipasi subjektivitas diri Anda sebagai penulis.

Hal-hal yang perlu diperbaiki dengan menawarkan tanda atau catatan jika ada yang diganti, ditambahkan, atau disempurnakan pada draft karangan Anda. Setelah menawarkan Tanda, lalu lakukan revisi seperlunya.

3. Melakukan perbaikan sesuai dengan temuan dikala penyuntingan


Setelah membaca karangan secara umum, lalu menandai beberapa kesalahan atau perbaikan yang mesti dilakukan, maka acara selanjutnya yaitu perbaikan atau revisi. Kegiatan ini terus dilakukan bahkan akan mengalami proses penulisan dimana kembali membuatkan gagasan. Kegiatan revisi akan berakhir ketika karangan sudah menjadi karangan yang kita inginkan.

Postingan ini merupakan seri terakhir dari tahapan dalam mengasah keterampilan menulis. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan penting yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan kini tahap pascapenulisan.


 Postingan ini merupakan seri terakhir dari tahapan dalam mengasah keterampilan menulis Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahap Pascapenulisan

Saya menyarankan untuk membaca postingan sebelumnya biar pemahaman ihwal tahapan dalam mengasah keterampilan menulis. Pada tahapan ini ada dua acara yang harus dilakukan. Yaitu Penyuntingan dan Revisi.

Tahapan Penyuntingan dan Revisi suatu naskah


Kegiatan penyuntingan dan revisi mempunyai acara yang berbeda. Penyuntingan (editing) mempunyai makna investigasi dan perbaikan unsur mekanik karangan menyerupai ejaan, pengtuasi, dan konvensi penulisan lainnya. Sedangkan revisi atau perbaikan mengarah kepada investigasi dan perbaikan isi karangan.

Kegiatan penyuntingan merupakan acara membaca ulang suatu draft karangan dengan tujuan untuk merasakan, menilai, memeriksa, baik unsur mekanik maupun isinya. Tujuannya untuk memperoleh isu ihwal unsur-unsur karangan yang perlu disempurnakan. Kegiatan ini sanggup dilakukan sendiri ataupun orang lain.

Setelah hasil penyuntingana maka kegaitan revisi dilakukan. Kegiatan penambahan, penggantian, penghilangan, pengubahan, atau penyusunan kembali unsur-unsur karangan. Kadar revisi tergantung dari tingkat keperluannya saja. Bila revisi berat,  sanggup juga sedang atau ringan.

Agar lebih memahami, acara penyuntingan dan revisi sanggup dilakukan dengan kegiatan-kegiatan berikut:

1. Membaca keseluruhan karangan


Bacalah karangan beberapa kali biar tujuan penulisan karangan tercapai. Maksudnya, ketika membaca karangan kita sendiri pastikan bahwa segala isu yang ingin Anda sampaikan tersampaikan dengan baik dan jelas. Tidak menjadikan ambigu kepada pembaca karangan kita.
Selain itu, dikala membaca karangan posisikan diri bukan lagi sebagai penulis. Akan tetapi posisikan sebagai pembaca atau sasaran pembaca Anda.

2. Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki atau catatan penting.


Menanda hal-hal yang perlu disini sesudah Anda membaca beberapa kali goresan pena Anda. Disarankan Anda menandai karangan ini sesudah Anda minimal sudah membaca dua kali karangan Anda sendiri. Tujuannya yaitu untuk mengantisipasi subjektivitas diri Anda sebagai penulis.

Hal-hal yang perlu diperbaiki dengan menawarkan tanda atau catatan jika ada yang diganti, ditambahkan, atau disempurnakan pada draft karangan Anda. Setelah menawarkan Tanda, lalu lakukan revisi seperlunya.

3. Melakukan perbaikan sesuai dengan temuan dikala penyuntingan


Setelah membaca karangan secara umum, lalu menandai beberapa kesalahan atau perbaikan yang mesti dilakukan, maka acara selanjutnya yaitu perbaikan atau revisi. Kegiatan ini terus dilakukan bahkan akan mengalami proses penulisan dimana kembali membuatkan gagasan. Kegiatan revisi akan berakhir ketika karangan sudah menjadi karangan yang kita inginkan.

Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Seseorang enggan menulis sebab tidak tahu untuk apa yang ia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana menulis. Ketidaksukaan menulis tidak lepas dari imbas lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat menulis.

 Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Pengalaman menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil dalam menulis dan mengajarkannya. sebab itu, untuk menutupi keadaan yang sebetulnya muncullah banyak sekali mitos atau pendapat yang keliru perihal menulis dan pembelajarannya.

Di antara mitos tersebut adalah:

1. Menulis itu Mudah


Teori menulis atau mengarang memang mudah. Gampang sekali dihafal. Tetapi menulis atau mengarang bukanlah sekadar teori, melainkan keterampilan. Bahkan ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang.

Sebagai analog, kita rasanya setuju bahwa mengendarai kendaraan itu bukan hanya teori. Sehebat apapun penguasaan teorinya tak akan sanggup menjadi pengandara yang baik. Dia akan arif mengendarai sehabis berlatih, beruji coba, serta mengasah keberanian dan kepekaan.

Begitu pula dengan menulis. Tanpa melibatkan pribadi dalam acara dan latihan menulis, seseorang tidak akan pernah bisa menulis dengan baik. Dia harus mencoba dan berlatih brulang kali: menentukan topik, menentukan tujuan, mengenali pembaca, mencari gosip pendukung, menyusun kerangka karangan, serta menata dan menuangkan ide-idenya. Secara runtut dan tuntas dalam racikan bahasa yang terpahami.

2. Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan Merupakan Inti dari Menulis


Unsur Mekanik ibarat penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengaleniaan, dan pewacanaan tidaklah cukup. Karangan harus mengandung sesuatu isi yang disampaikan. Isi itu berupa ide, gagasan, perasaan, atau gosip yang akan diungkapkan penulis kepada orang lain atau pembaca. Unsur mekanik hanyalah sebagai alat yang dipakai untuk mengemas dan menyajikan isi karangan biar sanggup dipahami dengan baik oleh pembacanya.


3. Menulis itu Harus Sekali Jadi


Menulis dengan sekali jadi sering menciptakan penulisnya tidak puas. Orang yang meyakini bahwa menulis itu harus sekali jadi akan pribadi meremas kertas atau men-delete-nya sebelum goresan pena itu dipublis. Bisa jadi goresan pena itu sudah terpublis atau dianggap selesai, kita akan menemukan celah kekurangan. Misalnya goresan pena itu perlu diperbaiki, ditulis lagi, hingga kita anggap selesai.

Tidak banyak orang yang sanggup menulis sekali jadi. Bahkan penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta pascapenulisan: penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.

4. Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah menulis Dapat Mengajarkan Menulis


Ini yang lebih bahaya. Semisal kita ambil analogi si pengendara kendaraan beroda empat tadi. Mungkinkah orang yang tidak suka dan tidak pernah mengendarai sanggup mengajarkan mengendarai kendaraan beroda empat kepada orang lain. Tentu jawabannya mustahil bisa. Sama halnya dengan mengarang, siapapun yang mengajar mengarang ia harus menyukai dan mempunyai pengalaman dan keterampilan mengarang. Mengapa? Dia harus sanggup menentukan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya mengarang. Sulit membayangkan seorang guru yang takut dan tidak suka menulis sanggup melaksanakan hal itu. Padahal, minat dan kemampuan siswa berguru menulis tak terlepas dari apa yang terjadi pada diri guru dan bagaimana ia mengajarkannya.

Itulah mitos-mitos dalam menulis. Intinya dalam menulis itu merupakan suatu proses yang harus dilalui. Mitos ini biasanya hinggap di antara para penulis pemula atau mereka yang ingin menjadi penulis.
Update: Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahapan Prapenulis

Informasi mengenai gosip mitos dalam menulis ini diajarkan dalam Keterampilan Dasar Menulis. Sumber artikel ini merupakan ringkasan modul PGSD UT. Semoga bermanfaat.

Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Seseorang enggan menulis sebab tidak tahu untuk apa yang ia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana menulis. Ketidaksukaan menulis tidak lepas dari imbas lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat menulis.

 Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Pengalaman menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil dalam menulis dan mengajarkannya. sebab itu, untuk menutupi keadaan yang sebetulnya muncullah banyak sekali mitos atau pendapat yang keliru perihal menulis dan pembelajarannya.

Di antara mitos tersebut adalah:

1. Menulis itu Mudah


Teori menulis atau mengarang memang mudah. Gampang sekali dihafal. Tetapi menulis atau mengarang bukanlah sekadar teori, melainkan keterampilan. Bahkan ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang.

Sebagai analog, kita rasanya setuju bahwa mengendarai kendaraan itu bukan hanya teori. Sehebat apapun penguasaan teorinya tak akan sanggup menjadi pengandara yang baik. Dia akan arif mengendarai sehabis berlatih, beruji coba, serta mengasah keberanian dan kepekaan.

Begitu pula dengan menulis. Tanpa melibatkan pribadi dalam acara dan latihan menulis, seseorang tidak akan pernah bisa menulis dengan baik. Dia harus mencoba dan berlatih brulang kali: menentukan topik, menentukan tujuan, mengenali pembaca, mencari gosip pendukung, menyusun kerangka karangan, serta menata dan menuangkan ide-idenya. Secara runtut dan tuntas dalam racikan bahasa yang terpahami.

2. Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan Merupakan Inti dari Menulis


Unsur Mekanik ibarat penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengaleniaan, dan pewacanaan tidaklah cukup. Karangan harus mengandung sesuatu isi yang disampaikan. Isi itu berupa ide, gagasan, perasaan, atau gosip yang akan diungkapkan penulis kepada orang lain atau pembaca. Unsur mekanik hanyalah sebagai alat yang dipakai untuk mengemas dan menyajikan isi karangan biar sanggup dipahami dengan baik oleh pembacanya.


3. Menulis itu Harus Sekali Jadi


Menulis dengan sekali jadi sering menciptakan penulisnya tidak puas. Orang yang meyakini bahwa menulis itu harus sekali jadi akan pribadi meremas kertas atau men-delete-nya sebelum goresan pena itu dipublis. Bisa jadi goresan pena itu sudah terpublis atau dianggap selesai, kita akan menemukan celah kekurangan. Misalnya goresan pena itu perlu diperbaiki, ditulis lagi, hingga kita anggap selesai.

Tidak banyak orang yang sanggup menulis sekali jadi. Bahkan penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta pascapenulisan: penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.

4. Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah menulis Dapat Mengajarkan Menulis


Ini yang lebih bahaya. Semisal kita ambil analogi si pengendara kendaraan beroda empat tadi. Mungkinkah orang yang tidak suka dan tidak pernah mengendarai sanggup mengajarkan mengendarai kendaraan beroda empat kepada orang lain. Tentu jawabannya mustahil bisa. Sama halnya dengan mengarang, siapapun yang mengajar mengarang ia harus menyukai dan mempunyai pengalaman dan keterampilan mengarang. Mengapa? Dia harus sanggup menentukan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya mengarang. Sulit membayangkan seorang guru yang takut dan tidak suka menulis sanggup melaksanakan hal itu. Padahal, minat dan kemampuan siswa berguru menulis tak terlepas dari apa yang terjadi pada diri guru dan bagaimana ia mengajarkannya.

Itulah mitos-mitos dalam menulis. Intinya dalam menulis itu merupakan suatu proses yang harus dilalui. Mitos ini biasanya hinggap di antara para penulis pemula atau mereka yang ingin menjadi penulis.
Update: Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahapan Prapenulis

Informasi mengenai gosip mitos dalam menulis ini diajarkan dalam Keterampilan Dasar Menulis. Sumber artikel ini merupakan ringkasan modul PGSD UT. Semoga bermanfaat.



Barangkali hampir semua guru ingin menimbulkan seorang guru yang profesional. Keinginannya untuk memenuhi sasaran ketercapaian prestasi di dalam kelas maupun secara administrasi. Kemampuannya mencakup segala hal yang dibutuhkan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Ada beberapa ukuran yang menimbulkan seorang guru disebut guru profesional. Disamping menguasai beberapa teknik dan teori berguru juga beberapa psikologis pribadi guru yang menuntutnya menjadi insan yang layak digugu dan ditiru.

Guru profesional merupakan predikat yang tanpa sengaja mengotak-kotakan puluhan ribu guru di Indonesia. Bagi guru yang belum memenuhi syarat sebagai guru profesional dianggap belum layak menyandang guru. Meskipun anak didik yang telah diasuhnya telah menerangkan hal lain yang tidak terbaca oleh segala bentuk indikator profesional.

Sebelum menjadi guru, seorang guru mengenyam pendidikan yang membekali dirinya bersentuhan eksklusif dengan anak murid. Pengalaman demi pengalaman selama mengajar membentuk insan guru kaya akan pengetahuan psikologis anak. Akan tetapi, pengalaman yang tidakmembelajarkan seorang guru untuk terus menunjukkan bantuan aktual kepada anak murid dianggap sebagai hal yang general. Padahal, oleh beberapa oknum guru, semua guru dianggap perlu untuk membina puluhan guru menjadi guru profesional.

Memang alasan pemerintah menaikan taraf hidup penghidupan guru yakni sebagai bentuk tanggung jawab negara membangun bangsa yang beradab. Menjadikan guru lebih terhormat, berkompeten, dan berkecukupan akan mendatangkan rasa gembira menjadi seorang pendidik.

Sejarah menerangkan, kehidupan guru selama ini sungguh memprihatinkan. Sebelum adanya sertifikasi, sebelum adanya kelayakan honor guru, guru menjadi pekerjaan yang tidak dicita-citakan oleh kebanyakan orang. Hampri tidak semua ingin menjadi seorang guru sebab kehidupan guru tidak sanggup mensejahterakan kehidupan turunannya.

Dulu guru sering mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menjadi tukang ojeg sehabis mengajar, kuli, atau kerja serabutan menjadi hal biasa bagi kehidupan guru. Kehidupan guru menyerupai ini begitu memilukan. Guru yang sejatinya membentuk orang-orang pintar, sukses, terpelajar, terpandang, terhormat, malah kehidupannya pribadinya sungguh memilukan. Tak sebanding dengan jasa-jasa membuat generasi bangsa yang lebih beruntung perekonomian.

Oleh sebab itu, semenjak digulirkan sertifikasi guru, insan guru terasa bahagia. Guru tidak lagi harus memikirkan bagaimana mendapat penghasilan tambahan di luar tugasnya mengajar. Guru tidak lagi berurusan dengan segala macam kebutuhan yang harus dicari pemenuhannya. Guru benar-benar dipikirkan kesejahteraannya.

Sayangnya, pemenuhan kesejahteraan tersebut diiringi dengan tugas-tugas manajemen yang membingungkan. Tugas mengajar dan mendidik saja belumlah cukup untuk mendapat kesejahteraan tersebut. Guru sekarang dibebankan dengan kiprah lain untuk meyakinkan pemerintah telah melakukan tanggung jawabnya. Padahal, tanpa diminta untuk bertanggung jawab secara manajemen pun guru telah menimbulkan tanggung jawab mengajar dan mendidik yakni kiprah moral yang berhadapan eksklusif dengan Tuhan yang Maha Esa.

Saya rasa itu masuk akal terjadi. Mengingat puluhan guru tidak semuanya guru yang mempunyai niat lilhhi ta’ala. Tidak semua guru ingin mendidik anak didiknya menjadi insan beriman dan bertakwa saja. Kesejahteraan yang digariskan pemerintah tersebut malah sering dijadikan tumbal alasan bagi rasa kekurangan bagi guru. Tolak ukur kesejahteraan pun menjadi sesuatu yang tak bisa mensejahterakan guru.
 Baca juga: Bacalah buku sehabis mengaji (Membaca Al-quran)
Memang insan selalu merasa tidak merasa berkecupan. Beberapa oknum guru sering kali bandel tetap mencari sampingan pekerjaan. Padahal oknum guru tersebut sudah mendapat sertifikasi dan layak sebagai guru profesional. Rasa cukup tersebut kembali diukur oleh kebutuhan keseharian oknum guru yang merasa belum puas terhadap apa-apa yang telah didapatkan.

Ah, tidak. Saya rasa di hati yang paling dalam, setiap guru mempunyai pribadi yang lapang dada untuk mengajar dan mendidik anak murid sampai pintar. Segala faktor yang melencengkan tugasnya itu sering menimbulkan niat awal melenceng jauh. Keadaan dan situasi terkadang belum bisa disikapi oleh semua guru. Karena ini menyangkut tabiat dan aksara guru sebagai insan biasa.

Apapun itu saya rasa menjadi guru profesional yakni suatu kewajiban mutlak. Sering memperbaiki diri dan terus meningkatkan kualitas diri dihadapan manuisa dan Tuhan yakni sesuatu kebutuhan rohani setiap guru. Semua itu semoga niat awal mendidik dan mengajar tetap terjaga. Sebab insan guru yakni insan yang terpilih menjadi hamba Tuhan untuk memberikan kebenaran yang bersumber dari Tuhan yang maha Esa.

Kualitas guru untuk memperbaiki diri dari segala bidang kehidupan. Mulai dari sisi religiusitasnya terhadap Tuhan sampai sosialisasi terhadap kehidupan masyarakat menjadi salah satu contoh pokok yang diinginkan pemerintah dalam menimbulkan tolak ukur ‘guru profesional’. Pemerintah melalui lembaganya benar-benar mengkaji setiap unsur yang diperlukan dari insan guru. Pemerintah tahu, tentu ada beberapa oknum dari kaum guru sendiri yang mencoreng martabatnya. Meski berimbas pada tuntutan, pemerintah berharap tuntutan yang digariskan pemerintah dalam menimbulkan guru profesional bukan dijadikan tuntutan. Namun semangat memperbaiki kualitas kehidupan seorang guru.



Barangkali hampir semua guru ingin menimbulkan seorang guru yang profesional. Keinginannya untuk memenuhi sasaran ketercapaian prestasi di dalam kelas maupun secara administrasi. Kemampuannya mencakup segala hal yang dibutuhkan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Ada beberapa ukuran yang menimbulkan seorang guru disebut guru profesional. Disamping menguasai beberapa teknik dan teori berguru juga beberapa psikologis pribadi guru yang menuntutnya menjadi insan yang layak digugu dan ditiru.

Guru profesional merupakan predikat yang tanpa sengaja mengotak-kotakan puluhan ribu guru di Indonesia. Bagi guru yang belum memenuhi syarat sebagai guru profesional dianggap belum layak menyandang guru. Meskipun anak didik yang telah diasuhnya telah menerangkan hal lain yang tidak terbaca oleh segala bentuk indikator profesional.

Sebelum menjadi guru, seorang guru mengenyam pendidikan yang membekali dirinya bersentuhan eksklusif dengan anak murid. Pengalaman demi pengalaman selama mengajar membentuk insan guru kaya akan pengetahuan psikologis anak. Akan tetapi, pengalaman yang tidakmembelajarkan seorang guru untuk terus menunjukkan bantuan aktual kepada anak murid dianggap sebagai hal yang general. Padahal, oleh beberapa oknum guru, semua guru dianggap perlu untuk membina puluhan guru menjadi guru profesional.

Memang alasan pemerintah menaikan taraf hidup penghidupan guru yakni sebagai bentuk tanggung jawab negara membangun bangsa yang beradab. Menjadikan guru lebih terhormat, berkompeten, dan berkecukupan akan mendatangkan rasa gembira menjadi seorang pendidik.

Sejarah menerangkan, kehidupan guru selama ini sungguh memprihatinkan. Sebelum adanya sertifikasi, sebelum adanya kelayakan honor guru, guru menjadi pekerjaan yang tidak dicita-citakan oleh kebanyakan orang. Hampri tidak semua ingin menjadi seorang guru sebab kehidupan guru tidak sanggup mensejahterakan kehidupan turunannya.

Dulu guru sering mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menjadi tukang ojeg sehabis mengajar, kuli, atau kerja serabutan menjadi hal biasa bagi kehidupan guru. Kehidupan guru menyerupai ini begitu memilukan. Guru yang sejatinya membentuk orang-orang pintar, sukses, terpelajar, terpandang, terhormat, malah kehidupannya pribadinya sungguh memilukan. Tak sebanding dengan jasa-jasa membuat generasi bangsa yang lebih beruntung perekonomian.

Oleh sebab itu, semenjak digulirkan sertifikasi guru, insan guru terasa bahagia. Guru tidak lagi harus memikirkan bagaimana mendapat penghasilan tambahan di luar tugasnya mengajar. Guru tidak lagi berurusan dengan segala macam kebutuhan yang harus dicari pemenuhannya. Guru benar-benar dipikirkan kesejahteraannya.

Sayangnya, pemenuhan kesejahteraan tersebut diiringi dengan tugas-tugas manajemen yang membingungkan. Tugas mengajar dan mendidik saja belumlah cukup untuk mendapat kesejahteraan tersebut. Guru sekarang dibebankan dengan kiprah lain untuk meyakinkan pemerintah telah melakukan tanggung jawabnya. Padahal, tanpa diminta untuk bertanggung jawab secara manajemen pun guru telah menimbulkan tanggung jawab mengajar dan mendidik yakni kiprah moral yang berhadapan eksklusif dengan Tuhan yang Maha Esa.

Saya rasa itu masuk akal terjadi. Mengingat puluhan guru tidak semuanya guru yang mempunyai niat lilhhi ta’ala. Tidak semua guru ingin mendidik anak didiknya menjadi insan beriman dan bertakwa saja. Kesejahteraan yang digariskan pemerintah tersebut malah sering dijadikan tumbal alasan bagi rasa kekurangan bagi guru. Tolak ukur kesejahteraan pun menjadi sesuatu yang tak bisa mensejahterakan guru.
 Baca juga: Bacalah buku sehabis mengaji (Membaca Al-quran)
Memang insan selalu merasa tidak merasa berkecupan. Beberapa oknum guru sering kali bandel tetap mencari sampingan pekerjaan. Padahal oknum guru tersebut sudah mendapat sertifikasi dan layak sebagai guru profesional. Rasa cukup tersebut kembali diukur oleh kebutuhan keseharian oknum guru yang merasa belum puas terhadap apa-apa yang telah didapatkan.

Ah, tidak. Saya rasa di hati yang paling dalam, setiap guru mempunyai pribadi yang lapang dada untuk mengajar dan mendidik anak murid sampai pintar. Segala faktor yang melencengkan tugasnya itu sering menimbulkan niat awal melenceng jauh. Keadaan dan situasi terkadang belum bisa disikapi oleh semua guru. Karena ini menyangkut tabiat dan aksara guru sebagai insan biasa.

Apapun itu saya rasa menjadi guru profesional yakni suatu kewajiban mutlak. Sering memperbaiki diri dan terus meningkatkan kualitas diri dihadapan manuisa dan Tuhan yakni sesuatu kebutuhan rohani setiap guru. Semua itu semoga niat awal mendidik dan mengajar tetap terjaga. Sebab insan guru yakni insan yang terpilih menjadi hamba Tuhan untuk memberikan kebenaran yang bersumber dari Tuhan yang maha Esa.

Kualitas guru untuk memperbaiki diri dari segala bidang kehidupan. Mulai dari sisi religiusitasnya terhadap Tuhan sampai sosialisasi terhadap kehidupan masyarakat menjadi salah satu contoh pokok yang diinginkan pemerintah dalam menimbulkan tolak ukur ‘guru profesional’. Pemerintah melalui lembaganya benar-benar mengkaji setiap unsur yang diperlukan dari insan guru. Pemerintah tahu, tentu ada beberapa oknum dari kaum guru sendiri yang mencoreng martabatnya. Meski berimbas pada tuntutan, pemerintah berharap tuntutan yang digariskan pemerintah dalam menimbulkan guru profesional bukan dijadikan tuntutan. Namun semangat memperbaiki kualitas kehidupan seorang guru.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget