Halloween Costume ideas 2015
Articles by "Cerpen"
Adsense ANEKA AYAM ANEKA BUBUR KOLAK ANEKA CAMILAN ANEKA DAGING ANEKA ES ANEKA GORENGAN ANEKA IKAN SEAFOOD ANEKA JAJANAN ANEKA KUE ANEKA KUE BASAH ANEKA KUE KERING ANEKA MAKANAN BAYI ANEKA MIE PASTA ANEKA MINUMAN ANEKA NASI ANEKA PUDING ANEKA ROTI ANEKA SAMBAL ANEKA SAYUR MAYUR ANEKA SUP SOTO ANEKA TAHU TEMPE ANEKA TELUR Bahasa Indonesia baju Blogging Catatan Guru SD Cerpen Css/Javascript Designs harga souvenir pernikahan murah bekasi harga souvenir pernikahan murah bogor harga souvenir pernikahan murah depok harga souvenir pernikahan murah jakarta harga souvenir pernikahan murah tangerang How To Informasi Informasi Pendidikan Informasi Umum Internet IPA jual souvenir pernikahan berkualitas bali jual souvenir pernikahan berkualitas bandung jual souvenir pernikahan berkualitas banjarmasin jual souvenir pernikahan berkualitas batam jual souvenir pernikahan berkualitas bekasi jual souvenir pernikahan berkualitas bogor jual souvenir pernikahan berkualitas depok jual souvenir pernikahan berkualitas jakarta jual souvenir pernikahan berkualitas medan jual souvenir pernikahan berkualitas palembang jual souvenir pernikahan berkualitas tangerang jual souvenir pernikahan lucu bali jual souvenir pernikahan lucu bandung jual souvenir pernikahan lucu banjarmasin jual souvenir pernikahan lucu batam jual souvenir pernikahan lucu bekasi jual souvenir pernikahan lucu bogor jual souvenir pernikahan lucu depok jual souvenir pernikahan lucu jakarta jual souvenir pernikahan lucu medan jual souvenir pernikahan lucu palembang jual souvenir pernikahan lucu tangerang jual souvenir pernikahan murah bali jual souvenir pernikahan murah bandung jual souvenir pernikahan murah banjarmasin jual souvenir pernikahan murah batam jual souvenir pernikahan murah bekasi jual souvenir pernikahan murah bogor jual souvenir pernikahan murah depok jual souvenir pernikahan murah medan jual souvenir pernikahan murah palembang jual souvenir pernikahan murah tangerang jual souvenir pernikahan rekomended bali jual souvenir pernikahan rekomended bandung jual souvenir pernikahan rekomended banjarmasin jual souvenir pernikahan rekomended batam jual souvenir pernikahan rekomended bekasi jual souvenir pernikahan rekomended bogor jual souvenir pernikahan rekomended depok jual souvenir pernikahan rekomended jakarta jual souvenir pernikahan rekomended medan jual souvenir pernikahan rekomended palembang jual souvenir pernikahan rekomended tangerang jual souvenir pernikahan terlaris bali jual souvenir pernikahan terlaris bandung jual souvenir pernikahan terlaris banjarmasin jual souvenir pernikahan terlaris batam jual souvenir pernikahan terlaris bekasi jual souvenir pernikahan terlaris bogor jual souvenir pernikahan terlaris depok jual souvenir pernikahan terlaris jakarta jual souvenir pernikahan terlaris medan jual souvenir pernikahan terlaris palembang jual souvenir pernikahan terlaris tangerang jual souvenir pernikahan termurah bali jual souvenir pernikahan termurah bandung jual souvenir pernikahan termurah banjarmasin jual souvenir pernikahan termurah batam jual souvenir pernikahan termurah bekasi jual souvenir pernikahan termurah bogor jual souvenir pernikahan termurah depok jual souvenir pernikahan termurah medan jual souvenir pernikahan termurah palembang jual souvenir pernikahan termurah tangerang jual souvenir pernikahan terpercaya bali jual souvenir pernikahan terpercaya bandung jual souvenir pernikahan terpercaya banjarmasin jual souvenir pernikahan terpercaya batam jual souvenir pernikahan terpercaya bekasi jual souvenir pernikahan terpercaya bogor jual souvenir pernikahan terpercaya depok jual souvenir pernikahan terpercaya jakarta jual souvenir pernikahan terpercaya medan jual souvenir pernikahan terpercaya palembang jual souvenir pernikahan terpercaya tangerang jual souvenir pernikahan unik bali jual souvenir pernikahan unik bandung jual souvenir pernikahan unik banjarmasin jual souvenir pernikahan unik batam jual souvenir pernikahan unik bekasi jual souvenir pernikahan unik bogor jual souvenir pernikahan unik depok jual souvenir pernikahan unik jakarta jual souvenir pernikahan unik medan jual souvenir pernikahan unik palembang jual souvenir pernikahan unik tangerang Kisi-kisi Soal Komputer Label Based Sitemap Themes lainnya Matematika Materi Ajar Multimedia Opini Otak-atik Blog Pages Pedagogis Pendidikan Posts SEO Settings Sitemap Themes Tips TIPS DAN INFO Tools Tutorial Tutorial Ms. Excel Tutorial Print Widgets

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Cara ini bersama-sama pernah saya terapkan dikala aktif dalam lembaga penulis cerpen tahun 2013-an.  Catatan ini juga udah pernah saya bahas dalam grup Facebook saya dengan judul "Caraku Memanggil Gagasan".



 Cara ini bersama-sama pernah saya terapkan dikala aktif dalam lembaga penulis cerpen tahun  Cara Mengatasi Kebuntuan dalam Menulis Cerpen


Oke, beberapa cerpen yang baru-baru ini saya buat dengan menerapkan tehnik berikut. Tehnik yang saya analisa dan saya hipotesiskan sebagai suatu cara yang cocok untuk saya terapkan sendiri.

Pengalaman pertama, cerpen yang berjudul “Panggung Kenyataan di Ruang Tamu.” Cerpen ini bermula dari keniatanku menceritakan wacana seorang istri yang dilukai suaminya. Karma jadi ending niat titik puncak penuntasan ceritaku.


Mulanya saya buntu. Bingung akan memulai dari mana. Aku mencoba menghipotesis dengan menerapkan training Ideom Spontan. Sekalian dengan menerapkan bagan VOKAG, saya menentukan kata-kata yang masih mempunyai keterkaitan dengan teladan dongeng yang akan saya ceritakan.

Dari kumpulan kata-kata itu, saya berusaha mengoptimalkan otak kanan biar terjalin kalimat-kalimat yang bisa menempatkan semua kata-kata yang saya susun itu. Alhasil, saya ternyata begitu lanyah menuliskan gagasanku itu.


Pengalaman kedua, judul cerpen "Permintaan Ibu" mulanya gagasan dasarnya itu yaitu kerinduan sang ibu pada anaknya untuk pulang. Cuman itu. Tapi saya galau sendiri anaknya pergi kemana sehingga ibu itu harus merindukannya. Aku akan menciptakan kejutan macam apa dari gagasan baku tersebut. Kadang terbesit dongeng seorang istri yang patuh pada perintah suaminya bahwa dihentikan keluar rumah meski ibunya meninggal dunia. Tapi rasanya itu terlalu umum. Bagaimana kalau saya buat si anaknya itu pergi dengan merahasiakan pekerjaannya, berbohong demi menyenangkan hatinya. Sampai janjkematian sang ibu, si anak belum juga berani pulang karena merasa aib alasannya pekerjaan sang anak yaitu seorang pelacur.

Aku berpikir inilah caraku melancarkan energi tulisanku. Aku ingin terus menerus menulis dengan ada atau tidak adanya materi untuk kuceritakan. Kadang sesudah menyusun kata-kata yang sudah saya kumpulkan, imajinasiku menyentuh untuk segera bergesekan untuk segera menuliskan wacananya.

Aku ibarat terbesit gagasan cemerlang untuk memberikan sesuatu yang mengagumkan. Aku meyakini bahwa dengan ini menjadi salah satu penawar writerblock kala kubuntu.

Dari situ, saya menarik sesimpulan. Ternyata saya bisa menerapkan metode berikut dalam memancing ilham untuk menuliskan sesuatu.

1.    Apa yang ingin kau ceritakan? Tentukan!


Kalau dalam unsur interinsik prosa, langkah awal ini bisa saya sejajarkan dengan Tema. Tema apa yang ingin saya sampaikan kepada pembaca, itulah tema yang sedang saya akan sajikan kepada pembaca. Semisal begini, ada rasa yang menggebu-gebu kita diri ini ingin menuliskan sesuatu. 

Seperti cerpen yang kusebutkan tadi. Maka boleh kusebutkan bahwa saya ingin menuliskan sebuah dongeng yang berkaitan dengan keadaan istri dikala dilukai suaminya. Sebenarnya, saya bertanya apa penyebab yang cocok untuk saya jelaskan nantinya. Saat itu saya menemukan gagasan bahwa kelak suaminya itu akan mendapatkan karma.

2.    Biar merasa terpancing, saya susun kata-kata yang berklasifikasi VOKAG.


Kata-kata tersebut saya sengaja mendekati hal-hal yang berkaitan dengan dongeng yang saya buat. Semisal saya menentukan perih, lebam, jerit, kasar, manis. Kata tersebut sangat bersahabat dengan dongeng istri yang dilukai.

3.    Aku menuliskan menurut beberapa patokan kata tersebut.


Bila alur dan bahasan tulisanku separuh jalan. Aku mengatur budi supaya tidak terbentur kerancuan.

4.    Bila saya buntu di tengah jalan, sementara gagasan sudah tahu akan diapakan goresan pena ini. Aku mendaftarkan ulang-kata-kata yang bersinggungan dengan gagasan itu.

 

5.    Ulangi kebuntuan ini dengan cara-cara sebelumnya.


Kelebihan mendaftarkan kata-kata tersebut sebelum menulis yaitu mengurangi kadar kebuntuan ide. Bahkan, cara ini bisa memancing ending akan diapakan goresan pena ini.

Kelemahan dari cara ini yaitu kita mengesampingkan alur budi demi sebuah gagasan yang belum tersusun. Alhasil, masih banyak ketimpangan-ketimpangan logis sesudah rampung semua goresan pena dibuat.

Cara ini bersama-sama pernah saya terapkan dikala aktif dalam lembaga penulis cerpen tahun 2013-an.  Catatan ini juga udah pernah saya bahas dalam grup Facebook saya dengan judul "Caraku Memanggil Gagasan".



 Cara ini bersama-sama pernah saya terapkan dikala aktif dalam lembaga penulis cerpen tahun  Cara Mengatasi Kebuntuan dalam Menulis Cerpen


Oke, beberapa cerpen yang baru-baru ini saya buat dengan menerapkan tehnik berikut. Tehnik yang saya analisa dan saya hipotesiskan sebagai suatu cara yang cocok untuk saya terapkan sendiri.

Pengalaman pertama, cerpen yang berjudul “Panggung Kenyataan di Ruang Tamu.” Cerpen ini bermula dari keniatanku menceritakan wacana seorang istri yang dilukai suaminya. Karma jadi ending niat titik puncak penuntasan ceritaku.


Mulanya saya buntu. Bingung akan memulai dari mana. Aku mencoba menghipotesis dengan menerapkan training Ideom Spontan. Sekalian dengan menerapkan bagan VOKAG, saya menentukan kata-kata yang masih mempunyai keterkaitan dengan teladan dongeng yang akan saya ceritakan.

Dari kumpulan kata-kata itu, saya berusaha mengoptimalkan otak kanan biar terjalin kalimat-kalimat yang bisa menempatkan semua kata-kata yang saya susun itu. Alhasil, saya ternyata begitu lanyah menuliskan gagasanku itu.


Pengalaman kedua, judul cerpen "Permintaan Ibu" mulanya gagasan dasarnya itu yaitu kerinduan sang ibu pada anaknya untuk pulang. Cuman itu. Tapi saya galau sendiri anaknya pergi kemana sehingga ibu itu harus merindukannya. Aku akan menciptakan kejutan macam apa dari gagasan baku tersebut. Kadang terbesit dongeng seorang istri yang patuh pada perintah suaminya bahwa dihentikan keluar rumah meski ibunya meninggal dunia. Tapi rasanya itu terlalu umum. Bagaimana kalau saya buat si anaknya itu pergi dengan merahasiakan pekerjaannya, berbohong demi menyenangkan hatinya. Sampai janjkematian sang ibu, si anak belum juga berani pulang karena merasa aib alasannya pekerjaan sang anak yaitu seorang pelacur.

Aku berpikir inilah caraku melancarkan energi tulisanku. Aku ingin terus menerus menulis dengan ada atau tidak adanya materi untuk kuceritakan. Kadang sesudah menyusun kata-kata yang sudah saya kumpulkan, imajinasiku menyentuh untuk segera bergesekan untuk segera menuliskan wacananya.

Aku ibarat terbesit gagasan cemerlang untuk memberikan sesuatu yang mengagumkan. Aku meyakini bahwa dengan ini menjadi salah satu penawar writerblock kala kubuntu.

Dari situ, saya menarik sesimpulan. Ternyata saya bisa menerapkan metode berikut dalam memancing ilham untuk menuliskan sesuatu.

1.    Apa yang ingin kau ceritakan? Tentukan!


Kalau dalam unsur interinsik prosa, langkah awal ini bisa saya sejajarkan dengan Tema. Tema apa yang ingin saya sampaikan kepada pembaca, itulah tema yang sedang saya akan sajikan kepada pembaca. Semisal begini, ada rasa yang menggebu-gebu kita diri ini ingin menuliskan sesuatu. 

Seperti cerpen yang kusebutkan tadi. Maka boleh kusebutkan bahwa saya ingin menuliskan sebuah dongeng yang berkaitan dengan keadaan istri dikala dilukai suaminya. Sebenarnya, saya bertanya apa penyebab yang cocok untuk saya jelaskan nantinya. Saat itu saya menemukan gagasan bahwa kelak suaminya itu akan mendapatkan karma.

2.    Biar merasa terpancing, saya susun kata-kata yang berklasifikasi VOKAG.


Kata-kata tersebut saya sengaja mendekati hal-hal yang berkaitan dengan dongeng yang saya buat. Semisal saya menentukan perih, lebam, jerit, kasar, manis. Kata tersebut sangat bersahabat dengan dongeng istri yang dilukai.

3.    Aku menuliskan menurut beberapa patokan kata tersebut.


Bila alur dan bahasan tulisanku separuh jalan. Aku mengatur budi supaya tidak terbentur kerancuan.

4.    Bila saya buntu di tengah jalan, sementara gagasan sudah tahu akan diapakan goresan pena ini. Aku mendaftarkan ulang-kata-kata yang bersinggungan dengan gagasan itu.

 

5.    Ulangi kebuntuan ini dengan cara-cara sebelumnya.


Kelebihan mendaftarkan kata-kata tersebut sebelum menulis yaitu mengurangi kadar kebuntuan ide. Bahkan, cara ini bisa memancing ending akan diapakan goresan pena ini.

Kelemahan dari cara ini yaitu kita mengesampingkan alur budi demi sebuah gagasan yang belum tersusun. Alhasil, masih banyak ketimpangan-ketimpangan logis sesudah rampung semua goresan pena dibuat.

Kita masih menunggu masa baskara terbit di ufuk timur sana. Melepas jerat gelap dari rindu yang membekap. Kita tidak sedang dibui mimpi ataupun harap, tapi kita menunggu ketika tahajud kembali fajar tersibak: kembali menikmati aroma embun pada sepelupuk netra yang masih menggelayut lelap.

Aku mengajakmu bertikai dalam rindu yang berkecamuk selalu. Sekarang ini kita sedang berkisah seru. Ada degap jantung yang bertalu-talu memainkan pertikaiannya sendiri. Silakan dedah biar tak terselip pandangan yang berselimut. Lalu tak tampak kejujuran yang terang. Maka mata batin seakan tajam menyayat. Aku memintamu melerai yang kabut itu. Ubahlah menjadi kedamaian.

Pun bila purnama tak cukup membantu terang, saya pinjami suluh yang terbit dari pencahayaan hati. Terselip di sana ada api dari materi bakar nurani. Mungkin cukup untuk mengantarkan kita menjemput pagi. Mungkin juga akan lekas serap kala api benar-benar membeludak. Kita ciptakan api besar, padahal cukup sekelumit terperinci saja bisa merampok gelap untuk mencari apa yang kita harap. Sebesar beludakan api itu, tersirat pekikan napsu menjerat. Sungguh, saya memiskin diri atas sisa-sisa kekayaan suluhku. Cukup perantaraan itu, saya hendak mengajakmu menandakan segala yang terlelap di rahim gelap hatiku.

Namun sebelum itu, akan saya ceritakan mengapakah sosokmu kuundang dalam kidung kerinduan ini. Jujur, saya tidak pernah mengundang sesiapapun untuk menjadi tamu dalam ruang hatiku. Sebab saya masih tragedi alam dan malu. Betapa malang nasib penyesalan yang telah merundung tangis atas segala nikmat yang belum saya jawab. Dan kehadiranmu bisa menghadirkan tanggapan mantap. Apa hasilnya bila saya tak bersiap menjamu tamu hatiku. Aku kembali dalam ruang dekap, menengadah harap pada malam yang membekap. Bilangan istikharah, malam memilih. Aku membuka ketukan sambutmu. Dan  saya ... mantap menyajikanmu menjadi ratu di singgasana ruang hati.

Maaf, bila pepuji ini terlalu meninggi. Tak bisa kuutarakan yang lebih mantap dari kesederhanaan kata-kata ini. Telah langitkah rasa rindu ini sampai saya harus menggantung bintik-bintik serupa bintang membentuk sabitah rindu. Pijakku di bumi, telah tak cukup menghampar pengertian-pengertian makna rindu. Semuanya tercecar menyemai pandang. Saat itu, maka apa yang terlihat netra serupa adamu. Yang kudengar, bisik sayu mesramu. Yang kusentuh, lembut erat genggammu. Dan segala puji, tak mungkin bersemat dalam diri dan jagat raya ini. Maka, pepuji ini kekumbalikan pada Dzat Segala Maha Puji Rabb-ku. Kalian tahu? Setapak inilah derajatku sungguh mencium kerendahanku sebagai mahluk-Nya.

Kekasih, pernahkah kita mengutip satu lirik milik penyair. Cinta itu ruang dan waktu, katanya. Entah sedang berpuisi atau bertata kata penyair itu; saya tak peduli. Sebatas peduliku menggenggam kecamuk yang ada ketika ini. Saat kita sedang mengecamuk pertikaian rasa di dada kita masing-masing. Kita mafhum, bergotong-royong kita berada di ruang sama dan waktu yang kembar pula. Lantas, mengapa kita mengibarkan pertanyaan jarak yang jauh dan waktu yang lekas luruh? Itikadku, saya sudah memenatkan segala ruang menjadi satu dan waktu menjadi restu pula.

Aku tidak punya serupa makna yang pantas untuk mencari padanan kata yang sederhana dari penyampaian rasa ini kepada pembaca. Sampai pada ketikan alfabetis kata ini pun begitu lekas saja tanpa memikirkan apa dayaku menyajikan ungkapan rasa yang tercipta. Suluhku yang kaugenggam telah menandakan bagaimana usahaku menandakan peradaban restu itu kembali meminang ikatan satu. Tidakkah ini ibarat picisan? Aku tetap tidak peduli. Inilah ungkap yang menimpaku dan sering kambuh menahan rasa ngilu di hatiku. Saat penyematan namamu--saat kumantap nama itu ialah instruksi istikharahku--sungguh saya merasa ada dispensasi dalam mengindap sayat-sayat rindu.

Sungguh, saya tidak punya kemaharian apapun meramu diksi-diksi jentayu. Serupa penyair sastrawan yang melepas ambigu. Rasaku terlalu melebur menjadi kemantapan goresan pena ini. Kala malam menyelimuti kelamnya, cobalah temukan instruksi apa yang tersirat di rahim kata-kataku ini. Melamuni harapku, saya menyarung doa dalam bait renjana.

Tunduklah pada penjerangan takdir ilahiyah kita. Kita hanya sepasang lakon kekasih yang sedang mengutarakan pertikaian makna yang sedang mencebur di samudera hati. Aku tidak menentukan daerah atau ruang mana, pula waktu yang sempurna apa. Aku bergaris pada ikhtiar yang lurus begitu saja. Lurus mantapku membuka buta mata nurani. Ini kisah Rabbku yang melariskan kata-kata syahdu di catatan ini. Siapa yang sedang saya berkelahi untuk membandingkan kata-kata syahdu-Nya? Sementara ini terlalu dini saya ungkap, tapi semuanya terlalu berlari jauh di depan langkahku. Maka, saya hanya butuh kepakan sayap-sayap rindumu untuk menyalip sejajar harapku: padamu.

Ada lamunan panjang yang ingin saya semai di ladang masa datang. Bahwa saya hanya pelaku kezaliman diri. Betapa saya terlalu serakah menungku resah. Padahal mesti, tidaklah ada keragu-raguan hati bila menghadirkan Rabb kita di sisi hati. Rabb kita lebih bersahabat dari kita yang mengeja jarak. Rabb kita lebih lekas dari waktu yang kita sengaja gegas. Bila begini, saya sudah tak tampak kepongahanku. Sebab kutitipkan segala Rahmat-Nya pada peradilan ruang dan waktu-Nya. Aku selalu begitu, kekasih. Maafkan aku. Aku hanya ingin meleburkan hasrat satu itu dalam sesuci malam yang terus memebelenggu.

Jauh dari sini, saya selalu berbisik pada telisik. Kita mantap mengeja sisa malam yang berpamit. Kita akan menyaksikan sendiri baskara yang telah menuntut kita menghirup embun segar pengisi hari-hari. Kala dhuha menyungging terang, kita akan turut menyinggung jerang. Di sanalah ejaan harap mengukir di kanvas ruang serta waktu yang tuang. Apakah kita mampu menuangkan segala yang termaktab di mahabah ridha-Nya atau kita sedang membuang kesempatan yang terlepas dari sematan harap yang kita tunggu masa panennya. Saat itu, saya hanya mengabarkan telah kautemukan apa dari makna yang mantap dari goresan pena ini.

Lalu pada mimpi yang sedang berselimut, biar dia tenang. Sebab pertengahan malam masih menghitung bilangan jam. Ia akan bertemu dan berpamit untuk tiba di restu Rabb untuk kembali bertandang dalam lakon kenyataan kita. Saat itu, kita akan lekas menggenggam syah menyaksikan haru langit yang terbias memesra keadaan kita. Percayalah, ketika itu kita ialah sepasang kekasih yang sedang dimanja nikmat alam.

Terpantik pesan yang tersirat mengacu. Mengusulkan kemantapan syahdu. Bahwa kita sedang mengeja isyarat-isyarat ayat Rabb-ku. Aku pikir ini tidaklah berlebihan, alasannya ialah kita menjerang mula-mula pula menggaris pada pijakan mulia. Meski ada kecam, saya tegaskan lantang: Kita mengerat dalam nasihat-menasihati kebenaran juga kesabaran kita. Pula bila khianat, lekas buru dan bunuh sifat khianatnya. Itu prolog yang mesti kita hapus kala kita akan melanjutkan kisah yang terus melajukan arah kita meluruh.

Dan jangan mengira, meski bungkam tiada kata-kata, saya tidak memungut potongan pesan yang tersirat dari bergemingnya suara. Selama itikad itu melekat, pastilah mana dongeng bisa menyebabkan ibrah bagi kita yang menetap jarang nasihat. Maaf, bila kucuri setiap kebaikanmu semoga turut bersemat di tingkah lampahku. Maaf!

Inilah kerinduanku pada pagi yang ingin menjemputmu. Lekas pada tatapan adu, apakah kita lulus menguji ruang dan waktu. Serta memantap istikharah yang sedang kita aju. sebetapapun kelak itu, saya memasrahkan segalanya pada jalinan waktu yang memintal kisah kita. Dan aku, meyakini Rabbku menyaksikan ini. Serupa saya menyaksikan doaku mengiringi kisah kita tetap berpadu. Melesatkan segala arah yang tuju, tetap Rabb kita menjadi arah muara kita melarungkan waktu. Di situlah ruang yang kita tuju sebagai persinggahan mengisi detik sejarah syahdu.

Cukup! Aku tidak mau kata-kata ini meracuni bilangan kaku. Sebab goresan pena ini mungkin kita saja yang bisa memahaminya. Biar yang tersurat adanya kalimat ambigu, kelak akan menuangkan ceritanya sendiri. Itulah evaluasi mereka, alasannya ialah apapun, penilian kita hanya berstandar dari restu yang mengeja kemaharupaan rahmat-Nya yang berlaku: Untuk kita sudah niscaya tentu.

Kita masih menunggu masa baskara terbit di ufuk timur sana. Melepas jerat gelap dari rindu yang membekap. Kita tidak sedang dibui mimpi ataupun harap, tapi kita menunggu ketika tahajud kembali fajar tersibak: kembali menikmati aroma embun pada sepelupuk netra yang masih menggelayut lelap.

Aku mengajakmu bertikai dalam rindu yang berkecamuk selalu. Sekarang ini kita sedang berkisah seru. Ada degap jantung yang bertalu-talu memainkan pertikaiannya sendiri. Silakan dedah biar tak terselip pandangan yang berselimut. Lalu tak tampak kejujuran yang terang. Maka mata batin seakan tajam menyayat. Aku memintamu melerai yang kabut itu. Ubahlah menjadi kedamaian.

Pun bila purnama tak cukup membantu terang, saya pinjami suluh yang terbit dari pencahayaan hati. Terselip di sana ada api dari materi bakar nurani. Mungkin cukup untuk mengantarkan kita menjemput pagi. Mungkin juga akan lekas serap kala api benar-benar membeludak. Kita ciptakan api besar, padahal cukup sekelumit terperinci saja bisa merampok gelap untuk mencari apa yang kita harap. Sebesar beludakan api itu, tersirat pekikan napsu menjerat. Sungguh, saya memiskin diri atas sisa-sisa kekayaan suluhku. Cukup perantaraan itu, saya hendak mengajakmu menandakan segala yang terlelap di rahim gelap hatiku.

Namun sebelum itu, akan saya ceritakan mengapakah sosokmu kuundang dalam kidung kerinduan ini. Jujur, saya tidak pernah mengundang sesiapapun untuk menjadi tamu dalam ruang hatiku. Sebab saya masih tragedi alam dan malu. Betapa malang nasib penyesalan yang telah merundung tangis atas segala nikmat yang belum saya jawab. Dan kehadiranmu bisa menghadirkan tanggapan mantap. Apa hasilnya bila saya tak bersiap menjamu tamu hatiku. Aku kembali dalam ruang dekap, menengadah harap pada malam yang membekap. Bilangan istikharah, malam memilih. Aku membuka ketukan sambutmu. Dan  saya ... mantap menyajikanmu menjadi ratu di singgasana ruang hati.

Maaf, bila pepuji ini terlalu meninggi. Tak bisa kuutarakan yang lebih mantap dari kesederhanaan kata-kata ini. Telah langitkah rasa rindu ini sampai saya harus menggantung bintik-bintik serupa bintang membentuk sabitah rindu. Pijakku di bumi, telah tak cukup menghampar pengertian-pengertian makna rindu. Semuanya tercecar menyemai pandang. Saat itu, maka apa yang terlihat netra serupa adamu. Yang kudengar, bisik sayu mesramu. Yang kusentuh, lembut erat genggammu. Dan segala puji, tak mungkin bersemat dalam diri dan jagat raya ini. Maka, pepuji ini kekumbalikan pada Dzat Segala Maha Puji Rabb-ku. Kalian tahu? Setapak inilah derajatku sungguh mencium kerendahanku sebagai mahluk-Nya.

Kekasih, pernahkah kita mengutip satu lirik milik penyair. Cinta itu ruang dan waktu, katanya. Entah sedang berpuisi atau bertata kata penyair itu; saya tak peduli. Sebatas peduliku menggenggam kecamuk yang ada ketika ini. Saat kita sedang mengecamuk pertikaian rasa di dada kita masing-masing. Kita mafhum, bergotong-royong kita berada di ruang sama dan waktu yang kembar pula. Lantas, mengapa kita mengibarkan pertanyaan jarak yang jauh dan waktu yang lekas luruh? Itikadku, saya sudah memenatkan segala ruang menjadi satu dan waktu menjadi restu pula.

Aku tidak punya serupa makna yang pantas untuk mencari padanan kata yang sederhana dari penyampaian rasa ini kepada pembaca. Sampai pada ketikan alfabetis kata ini pun begitu lekas saja tanpa memikirkan apa dayaku menyajikan ungkapan rasa yang tercipta. Suluhku yang kaugenggam telah menandakan bagaimana usahaku menandakan peradaban restu itu kembali meminang ikatan satu. Tidakkah ini ibarat picisan? Aku tetap tidak peduli. Inilah ungkap yang menimpaku dan sering kambuh menahan rasa ngilu di hatiku. Saat penyematan namamu--saat kumantap nama itu ialah instruksi istikharahku--sungguh saya merasa ada dispensasi dalam mengindap sayat-sayat rindu.

Sungguh, saya tidak punya kemaharian apapun meramu diksi-diksi jentayu. Serupa penyair sastrawan yang melepas ambigu. Rasaku terlalu melebur menjadi kemantapan goresan pena ini. Kala malam menyelimuti kelamnya, cobalah temukan instruksi apa yang tersirat di rahim kata-kataku ini. Melamuni harapku, saya menyarung doa dalam bait renjana.

Tunduklah pada penjerangan takdir ilahiyah kita. Kita hanya sepasang lakon kekasih yang sedang mengutarakan pertikaian makna yang sedang mencebur di samudera hati. Aku tidak menentukan daerah atau ruang mana, pula waktu yang sempurna apa. Aku bergaris pada ikhtiar yang lurus begitu saja. Lurus mantapku membuka buta mata nurani. Ini kisah Rabbku yang melariskan kata-kata syahdu di catatan ini. Siapa yang sedang saya berkelahi untuk membandingkan kata-kata syahdu-Nya? Sementara ini terlalu dini saya ungkap, tapi semuanya terlalu berlari jauh di depan langkahku. Maka, saya hanya butuh kepakan sayap-sayap rindumu untuk menyalip sejajar harapku: padamu.

Ada lamunan panjang yang ingin saya semai di ladang masa datang. Bahwa saya hanya pelaku kezaliman diri. Betapa saya terlalu serakah menungku resah. Padahal mesti, tidaklah ada keragu-raguan hati bila menghadirkan Rabb kita di sisi hati. Rabb kita lebih bersahabat dari kita yang mengeja jarak. Rabb kita lebih lekas dari waktu yang kita sengaja gegas. Bila begini, saya sudah tak tampak kepongahanku. Sebab kutitipkan segala Rahmat-Nya pada peradilan ruang dan waktu-Nya. Aku selalu begitu, kekasih. Maafkan aku. Aku hanya ingin meleburkan hasrat satu itu dalam sesuci malam yang terus memebelenggu.

Jauh dari sini, saya selalu berbisik pada telisik. Kita mantap mengeja sisa malam yang berpamit. Kita akan menyaksikan sendiri baskara yang telah menuntut kita menghirup embun segar pengisi hari-hari. Kala dhuha menyungging terang, kita akan turut menyinggung jerang. Di sanalah ejaan harap mengukir di kanvas ruang serta waktu yang tuang. Apakah kita mampu menuangkan segala yang termaktab di mahabah ridha-Nya atau kita sedang membuang kesempatan yang terlepas dari sematan harap yang kita tunggu masa panennya. Saat itu, saya hanya mengabarkan telah kautemukan apa dari makna yang mantap dari goresan pena ini.

Lalu pada mimpi yang sedang berselimut, biar dia tenang. Sebab pertengahan malam masih menghitung bilangan jam. Ia akan bertemu dan berpamit untuk tiba di restu Rabb untuk kembali bertandang dalam lakon kenyataan kita. Saat itu, kita akan lekas menggenggam syah menyaksikan haru langit yang terbias memesra keadaan kita. Percayalah, ketika itu kita ialah sepasang kekasih yang sedang dimanja nikmat alam.

Terpantik pesan yang tersirat mengacu. Mengusulkan kemantapan syahdu. Bahwa kita sedang mengeja isyarat-isyarat ayat Rabb-ku. Aku pikir ini tidaklah berlebihan, alasannya ialah kita menjerang mula-mula pula menggaris pada pijakan mulia. Meski ada kecam, saya tegaskan lantang: Kita mengerat dalam nasihat-menasihati kebenaran juga kesabaran kita. Pula bila khianat, lekas buru dan bunuh sifat khianatnya. Itu prolog yang mesti kita hapus kala kita akan melanjutkan kisah yang terus melajukan arah kita meluruh.

Dan jangan mengira, meski bungkam tiada kata-kata, saya tidak memungut potongan pesan yang tersirat dari bergemingnya suara. Selama itikad itu melekat, pastilah mana dongeng bisa menyebabkan ibrah bagi kita yang menetap jarang nasihat. Maaf, bila kucuri setiap kebaikanmu semoga turut bersemat di tingkah lampahku. Maaf!

Inilah kerinduanku pada pagi yang ingin menjemputmu. Lekas pada tatapan adu, apakah kita lulus menguji ruang dan waktu. Serta memantap istikharah yang sedang kita aju. sebetapapun kelak itu, saya memasrahkan segalanya pada jalinan waktu yang memintal kisah kita. Dan aku, meyakini Rabbku menyaksikan ini. Serupa saya menyaksikan doaku mengiringi kisah kita tetap berpadu. Melesatkan segala arah yang tuju, tetap Rabb kita menjadi arah muara kita melarungkan waktu. Di situlah ruang yang kita tuju sebagai persinggahan mengisi detik sejarah syahdu.

Cukup! Aku tidak mau kata-kata ini meracuni bilangan kaku. Sebab goresan pena ini mungkin kita saja yang bisa memahaminya. Biar yang tersurat adanya kalimat ambigu, kelak akan menuangkan ceritanya sendiri. Itulah evaluasi mereka, alasannya ialah apapun, penilian kita hanya berstandar dari restu yang mengeja kemaharupaan rahmat-Nya yang berlaku: Untuk kita sudah niscaya tentu.

Proses kreatif seorang penulis begitu beragam. Kadang ada yang membaca beberapa karya seseorang penulis ternama, kemudian berhasrat ingin memulai kreatifnya membuat karya yang serupa. Mungkin tidak serupa persis namun dalam gaya dan contoh yang sama.

 Proses kreatif seorang penulis begitu bermacam-macam Epigonis Bagi Seorang yang Memulai Ingin Menjadi Penulis


Kadang juga penulis menemukan kesan yang teramat dalam batinnya kemudian memulai untuk menjerang kata-katanya membentuk wacana. Ada juga dari sering berkorespondensi dengan beberapa teman, meminta saran dan kritik, serta memintakan pendapat perihal apa-apa yang ditulisnya juga merupakan arah yang mantap dari karakter tulisannya.

Baca juga: Hakikat Menulis Cerpen Untuk Surat Kabar

Proses menulis sendiri bagi diri penulis merupakan proses yang amat panjang. Butuh waktu untuk memahaminya untuk bisa ia jelaskan dengan gampang oleh pikirannya sendiri.

Kadang pula, pemahaman pada proses kepenulisan membuatnya semakin mantap bahwa kenyataannya pemahaman perihal proses menulis itu sendiri justru tiba seiring munculnya gagasan untuk segera ia tuliskan.

Membaca dan membandingkan beberapa karya untuk bisa dijadikan refrensi dasar bagi penulis pemula sering dilakukan. Membaca karya sobat lain, yang lebih mantap dalam berkarya tulis akan mengakibatkan dirinya termotivasi bahwa apa yang berhasil temannya tulis itu memantik kesadaran bahwa ia pun bisa untuk menuliskannya. Pemikiran susah untuk bisa menuliskan hal yang sejenis ini pun menjadikannya bertanya-tanya. Apa dan bagaimana menulis menyerupai yang temannya tulis itu?

Kegiatan membandingkan beberapa karya biar sanggup mencicipi gagasan-gagasan apa yang bisa ia ramu kembali membentuk wacana yang ia inginkan sudah tercetak dalam gambarannya. Ide-ide bergeliat di kepala, seakan memaksa keluar dan harus dituliskan. Pemikiran untuk menuliskannya dalam ragam bentuk goresan pena membuat ia merasa sedikit gelimpungan. Alih-alih ingin mementaskan aksara-aksara itu mewakilkan gagasan-gagasan yang berkelindan di kepalanya, ia merasa tersekat kesulitan alasannya ialah apa yang ia tulis tidak sepadan dengan apa yang ia pikirkan. Malah, lebih jelek dari apa yang ia gambarkan. Setelah itu ia kembali melongok dan membaca karya-karya yang sudah ia baca.

Apakah dan bagaiamana menuliskan gagasan yang punya taraf asosiasif serupa bisa dikancah dengan cara yang sama. Namun beda dan belum ia pahami prosesnya.

Epigonis dalam sebuah karya ialah sebuah proses peniruan gaya, cara, dan contoh dalam berkarya. Gaya yang sering ia baca akan kentara bisa terlihat bagaimana mereka berkarya. Cara penyampaian menyerupai apa juga akan terasa penulis pemula ikuti. Di mulai dari alur pemaparan hingga dengan ending yang mengejutkan menyerupai apa yang ia inginkan menyerupai materi bacaannya. Pola-pola dasar kepenulisan yang ia baca ia asumsikan sendiri untuk ia kembali susun, dijadikan amunisinya dalam meramu gagasan itu menjadi satu bentukan wacana sesuai karakternya.

Namun, sesekali lagi. Pemilihan proses kreatif penulis ternyata memang mengalami tahapan fase ini. Mengikuti beberapa gaya dari penulis lain dan kemudian berupaya melepaskan dari jeratan imbas penulis yang ia pernah titi dan gugu karyanya.

Menjadi seorang penulis pemula dengan karakter menyerupai penulis senior memang bukan hal yang haram. Bahkan legalisasi penulis sendiri sering pula mengikuti proses kreatif semacam ini. Sekaliber Putu Wijaya pun pernah mengaku pernah mengekor pada penulis favoritnya.

Namun, yang menjadi batasan bagi penulis yang mengalami fase ini ialah seberapa usang ia terus menerus mengekor gaya penulis yang ia ikuti itu. Jika terus-menerus mengekor pada karyanya, dan tidak berusaha mengeksplorasi gaya sesuai dengan karakternya akan membuatnya terjebak sendiri. Apakah ia benar-benar seorang penulis dengan karakternya sendiri ataukah ia mengingkan terperangkap oleh imbas penulis-penulis yang ia kagumi saja.

Perkembangan dunia literasi, khususnya dunia sastra semakin terus meningkat. Beberapa nama penulis pemula semakin mewarnai kancah kesustraan di negeri ini. Pun, beberapa penulis yang sudah usang menduduki dan terus keberadaan dalam berkarya pun turut senang.

Namun, ada beberapa yang mengkhawatirkan mengenai perkembangan sastra itu sendiri. S Prasetyo Utomo pernah menuliskan bahwa cerpenis sanggup dikategorikan dalam 3 karakter. Salah satu karakter yang sanggup membawa perkembangan cerpen di masa mendatang ialah "cerpenis yang ingin mencipta cerpen yang mencitrakan gelora eksplorasi  struktur narasi dan tema, dengan kegigihan untuk menemukan gaya  bercerita yang berbeda dari para cerpenis ternama. Cerpen-cerpen serupa  ini, tentu, memberi keinginan akan perkembangan cerpen di masa mendatang,  dengan kekuatan obsesi akan lahirnya generasi gres cerpenis Indonesia.  Kekuatan fantasi, kehendak untuk membongkar struktur cerita, menyajikan  kisah yang memperkaya batin pembaca, menjadi obsesi penciptaan cerpenis." (Suara Merdeka, 26 Mei 2013).

Gelora dalam bereksplorasi struktur narasi dan tema, dengan kegigihan membuat gaya bercerita yang berbeda dari para cerepnis ternama ialah salah satu kunci yang diberikan gejala oleh seorang dosen IKIP UNNES tersebut.

Penilaian ini memang sarat manfaat bagi penulis pemula. Meramu pengetahuan dari apa yang ia ikuti dari penulis-penulis ternama akan membawa diri karakter tulisannya untuk menghasilkan hal-hal yang gres dalam dunia sastra, khususnya prosa cerpen.

Lantas, menyerupai apakah mengeksplorasi struktur narasi dan tema dan tema menyerupai yang dituliskan S. Prasetyo Utomo tersebut?

Inilah yang menjadi PR bagi para penulis pemula bahwa balasan itu sanggup ditemukan sendiri oleh para penulis. Gaya dalam bahasa terutama dalam memaparkan gagasan di kepalanya dalam bentuk goresan pena tentu menjadi sesuatu hal yang unik. Mengingat setiap individu penulis mempunyai karkaternya dalam berkarya. Proses menulis inilah yang akan menjerang pemahamannya selama ia sanggup memahami bahwa struktur goresan pena yang ia kembangkan sendiri akan semakin membuatnya mantap, namun itu akan disadari sebagai sebuah yang membuatnya tersadarkan.

Kesadaran untuk mengukur kemampuan dalam mengeksplorasi struktur narasi untuk menghasilkan eksistensinya dalam berkarya. Bahkan, ketika  keberadaan pecahan dari karya. Maka bersama-sama kita telah menciptakan  diri sendiri. Namun, cara yang sempurna untuk mengetahui kapasitas diri,  ternyata bukan mengukur kemampuan, melainkan sejauh mana kebodohan dalam  diri kita. *)

*Di ambil dari banyak sekali sumber
*Catatan ini pernah dipublikasikan di Catatan Facebook eksklusif dengan judul: Epigonis Bagi Seorang yang Memulai Memijakkan Kakinya pada Tangga Penulis. Dipublish tanggal 27 Mei 2013

Proses kreatif seorang penulis begitu beragam. Kadang ada yang membaca beberapa karya seseorang penulis ternama, kemudian berhasrat ingin memulai kreatifnya membuat karya yang serupa. Mungkin tidak serupa persis namun dalam gaya dan contoh yang sama.

 Proses kreatif seorang penulis begitu bermacam-macam Epigonis Bagi Seorang yang Memulai Ingin Menjadi Penulis


Kadang juga penulis menemukan kesan yang teramat dalam batinnya kemudian memulai untuk menjerang kata-katanya membentuk wacana. Ada juga dari sering berkorespondensi dengan beberapa teman, meminta saran dan kritik, serta memintakan pendapat perihal apa-apa yang ditulisnya juga merupakan arah yang mantap dari karakter tulisannya.

Baca juga: Hakikat Menulis Cerpen Untuk Surat Kabar

Proses menulis sendiri bagi diri penulis merupakan proses yang amat panjang. Butuh waktu untuk memahaminya untuk bisa ia jelaskan dengan gampang oleh pikirannya sendiri.

Kadang pula, pemahaman pada proses kepenulisan membuatnya semakin mantap bahwa kenyataannya pemahaman perihal proses menulis itu sendiri justru tiba seiring munculnya gagasan untuk segera ia tuliskan.

Membaca dan membandingkan beberapa karya untuk bisa dijadikan refrensi dasar bagi penulis pemula sering dilakukan. Membaca karya sobat lain, yang lebih mantap dalam berkarya tulis akan mengakibatkan dirinya termotivasi bahwa apa yang berhasil temannya tulis itu memantik kesadaran bahwa ia pun bisa untuk menuliskannya. Pemikiran susah untuk bisa menuliskan hal yang sejenis ini pun menjadikannya bertanya-tanya. Apa dan bagaimana menulis menyerupai yang temannya tulis itu?

Kegiatan membandingkan beberapa karya biar sanggup mencicipi gagasan-gagasan apa yang bisa ia ramu kembali membentuk wacana yang ia inginkan sudah tercetak dalam gambarannya. Ide-ide bergeliat di kepala, seakan memaksa keluar dan harus dituliskan. Pemikiran untuk menuliskannya dalam ragam bentuk goresan pena membuat ia merasa sedikit gelimpungan. Alih-alih ingin mementaskan aksara-aksara itu mewakilkan gagasan-gagasan yang berkelindan di kepalanya, ia merasa tersekat kesulitan alasannya ialah apa yang ia tulis tidak sepadan dengan apa yang ia pikirkan. Malah, lebih jelek dari apa yang ia gambarkan. Setelah itu ia kembali melongok dan membaca karya-karya yang sudah ia baca.

Apakah dan bagaiamana menuliskan gagasan yang punya taraf asosiasif serupa bisa dikancah dengan cara yang sama. Namun beda dan belum ia pahami prosesnya.

Epigonis dalam sebuah karya ialah sebuah proses peniruan gaya, cara, dan contoh dalam berkarya. Gaya yang sering ia baca akan kentara bisa terlihat bagaimana mereka berkarya. Cara penyampaian menyerupai apa juga akan terasa penulis pemula ikuti. Di mulai dari alur pemaparan hingga dengan ending yang mengejutkan menyerupai apa yang ia inginkan menyerupai materi bacaannya. Pola-pola dasar kepenulisan yang ia baca ia asumsikan sendiri untuk ia kembali susun, dijadikan amunisinya dalam meramu gagasan itu menjadi satu bentukan wacana sesuai karakternya.

Namun, sesekali lagi. Pemilihan proses kreatif penulis ternyata memang mengalami tahapan fase ini. Mengikuti beberapa gaya dari penulis lain dan kemudian berupaya melepaskan dari jeratan imbas penulis yang ia pernah titi dan gugu karyanya.

Menjadi seorang penulis pemula dengan karakter menyerupai penulis senior memang bukan hal yang haram. Bahkan legalisasi penulis sendiri sering pula mengikuti proses kreatif semacam ini. Sekaliber Putu Wijaya pun pernah mengaku pernah mengekor pada penulis favoritnya.

Namun, yang menjadi batasan bagi penulis yang mengalami fase ini ialah seberapa usang ia terus menerus mengekor gaya penulis yang ia ikuti itu. Jika terus-menerus mengekor pada karyanya, dan tidak berusaha mengeksplorasi gaya sesuai dengan karakternya akan membuatnya terjebak sendiri. Apakah ia benar-benar seorang penulis dengan karakternya sendiri ataukah ia mengingkan terperangkap oleh imbas penulis-penulis yang ia kagumi saja.

Perkembangan dunia literasi, khususnya dunia sastra semakin terus meningkat. Beberapa nama penulis pemula semakin mewarnai kancah kesustraan di negeri ini. Pun, beberapa penulis yang sudah usang menduduki dan terus keberadaan dalam berkarya pun turut senang.

Namun, ada beberapa yang mengkhawatirkan mengenai perkembangan sastra itu sendiri. S Prasetyo Utomo pernah menuliskan bahwa cerpenis sanggup dikategorikan dalam 3 karakter. Salah satu karakter yang sanggup membawa perkembangan cerpen di masa mendatang ialah "cerpenis yang ingin mencipta cerpen yang mencitrakan gelora eksplorasi  struktur narasi dan tema, dengan kegigihan untuk menemukan gaya  bercerita yang berbeda dari para cerpenis ternama. Cerpen-cerpen serupa  ini, tentu, memberi keinginan akan perkembangan cerpen di masa mendatang,  dengan kekuatan obsesi akan lahirnya generasi gres cerpenis Indonesia.  Kekuatan fantasi, kehendak untuk membongkar struktur cerita, menyajikan  kisah yang memperkaya batin pembaca, menjadi obsesi penciptaan cerpenis." (Suara Merdeka, 26 Mei 2013).

Gelora dalam bereksplorasi struktur narasi dan tema, dengan kegigihan membuat gaya bercerita yang berbeda dari para cerepnis ternama ialah salah satu kunci yang diberikan gejala oleh seorang dosen IKIP UNNES tersebut.

Penilaian ini memang sarat manfaat bagi penulis pemula. Meramu pengetahuan dari apa yang ia ikuti dari penulis-penulis ternama akan membawa diri karakter tulisannya untuk menghasilkan hal-hal yang gres dalam dunia sastra, khususnya prosa cerpen.

Lantas, menyerupai apakah mengeksplorasi struktur narasi dan tema dan tema menyerupai yang dituliskan S. Prasetyo Utomo tersebut?

Inilah yang menjadi PR bagi para penulis pemula bahwa balasan itu sanggup ditemukan sendiri oleh para penulis. Gaya dalam bahasa terutama dalam memaparkan gagasan di kepalanya dalam bentuk goresan pena tentu menjadi sesuatu hal yang unik. Mengingat setiap individu penulis mempunyai karkaternya dalam berkarya. Proses menulis inilah yang akan menjerang pemahamannya selama ia sanggup memahami bahwa struktur goresan pena yang ia kembangkan sendiri akan semakin membuatnya mantap, namun itu akan disadari sebagai sebuah yang membuatnya tersadarkan.

Kesadaran untuk mengukur kemampuan dalam mengeksplorasi struktur narasi untuk menghasilkan eksistensinya dalam berkarya. Bahkan, ketika  keberadaan pecahan dari karya. Maka bersama-sama kita telah menciptakan  diri sendiri. Namun, cara yang sempurna untuk mengetahui kapasitas diri,  ternyata bukan mengukur kemampuan, melainkan sejauh mana kebodohan dalam  diri kita. *)

*Di ambil dari banyak sekali sumber
*Catatan ini pernah dipublikasikan di Catatan Facebook eksklusif dengan judul: Epigonis Bagi Seorang yang Memulai Memijakkan Kakinya pada Tangga Penulis. Dipublish tanggal 27 Mei 2013

Aku turun selepas sambutan yang saya bawa sebagai perwakilan wisuda. Seragam melekat pada kebesaran badan kami yang telah rampungkan masa-masa berguru di sekolah tinggi. Aku dan beberapa temanku sering melempar harapan di manakah nantinya kita akan bertemu kembali. Jawabannya dengan beberapa pengharapan supaya suatu masa kami sanggup bertemu dan mengenang masa-masa kuliah di sini.

 Aku turun selepas sambutan yang saya bawa sebagai perwakilan wisuda Cerpen: Saksikanlah aku, Bu! Aku bangun di sini dengan seragam togaku


Namun, di samping harapan yang selalu kami jajakan kepada teman-temanku yang entah terwujud kapan, saya menunggu ibuku tiba menjemputku kemudian bangun di sampingku dan mengabadikannya dalam bingkaian jepertan tustel. Foto  itu nantinya akan kami pajang besar-besar melengkapi foto keluarga di kamar tamu rumahku. Sayangnya, hampir program ini rampung, ibuku belum hadir juga.

Aku  ingat ketika dia melepaskan saya untuk pertama kalinya. Senang bercampur sedih ketika mengantarkan saya keluar rumah. Katanya, "Kamu harus benar-benar serius mengejar cita-citamu itu, Nak. Jangan pikirkan ibu nanti ketika Kau menuntut ilmu." Maka sederati butiran air mata haru melinang di pipi ibu. Aku  ingin memeluknya ketika itu, sayangnya dia menapik. Ibu minta saya bersegara berangkat sebab kereta yang saya tumpangi itu bisa terlambat.

Aku  tahu saya begitu terlambat memberi kabar ibu bawa saya sudah lulus dari universitas favoritku. Cita-cita yang selalu saya ingin buktikan tatkala orang lain begitu gagu untuk mewujudkannya. Bagiamanapun saya tidak mau teracuni anutan ndeso bahwa ijazah kuliah tidak menjamin kehidupan mapan seorang anak. Lebih-lebih, ibuku hanya seorang penjual jamu gendong. Cibiran dan sindiran bisa saja menciptakan hidup ibu sepeninggalku di kampung putus asa. Dan itu terbukti, ketika dia sering kali memintaku pulang ketika telpon mengabarinya tidak bisa memberiku biaya hidup di Jakarta.

Sungguhpun saya tidak ingin membebani ibu. Aku  meyakini usahaku yang jerih. Aku tidak peduli pada harga diri yang seriing mencerca bahwa saya ini yaitu mahasiswa. Demi menyambung hidup dan mimpi, saya sudi memungut sampah dan mengumpulkannya menjadi barang jadi yang entah didaur ulang menjadi apa. Aku hanya pemulung yang kemudian dijual perkilonya dengan upah yang kubutuhkan menyambung hidup. Kadang pula saya mencuci pakaian teman-teman demi upah sesuap nasi bungkus yang saya makan menambal rasa lapar setiap saat. Tapi, semua yang saya lakukan itu, ibu tidak pernah tahu dan saya tidak mau hingga ibu mengetahuinya.

Kami berdiri, menanti urutan nama kami dipanggil rektor. Menyaksikan anaknya ini disebut ke depan pada ritual pemindahan bandul di topi toga: Tentu menjadi syarat haru. Aku masih menunggu ibu. Aku tahu ibu niscaya datang, saya minta Awang—pamanku-- supaya mengantar ibu hingga ketempat wisuda. Biaya ibu nanti saya ganti di sini, yang penting bagiku yaitu kehadirannya di sini. Begituulah mintaku pada Awang seminggu sebelum program ini tergelar

Nama-nama lulusan dibacakan dengan lantang. Sepertinya formasi nama yang disebut itu dari fakultas lain. Aku kenal Rahmadi Jayadhipa, nama yang gres saja disebut. Disusul temannya, yang juga saya kenal sering bersama Rahmadi. Nama selanjutnya memang dari teman-teman fakultas Rahmadi. Aku sering melongok ke pintu masuk, mungkinkah ada orang yang saya kenal darikampung. Awang, atau siapalah yang mengantarkan ibu menyaksikan namaku disebut ke depan podium.

Setengah jam kemudian, nama dari temanku yang satu fakultas disebut. Degup jantungku mengencang. Keringatku memeras. Seorang sahabat menyadarkanku, “Kamu kenapa Riyan? Kamu gugup?”

Aku menggeleng, tertunduk, kemudian mengatur ketenanganku supaya tak terbaca kegelisahanku. Sesekali saya melongok pintu itu. Tidak ada wajah yang saya kenal. Aku lempar senyum kepada temanku itu. “Kamu tiba bersama keluargamu?”

Dia pun tersenyum, dia menunjukkan ke arah orang tuanya. Di sana ada senyum senang dari seseorang yang duduk di barisan orang tua. Aku begitu senang padanya. Sungguh, jikalau ibu pun duduk di sana, bersama orang bau tanah kami. Aku sungguh merasa duniaku penuh dengan rasa bangga. Sayangnya, hingga lima belas menit berlalu tidak ada ssama sekali wajah yang saya kenal dari kampung.

Mungkin saya harus merelakan bahwa program yang sungguh membuatku merasa mempunyai sejarah ini tidak dihadiri oleh ibuku. Aku hanya ingin pertanda bahwa keinginan almarhum ayah terwujud di sini. Di kawasan ini. Meski kadang ibu selalu menggeleng-gelengkan kepala bercampur tangisnya mengenang almarhum. Kuyakinakn itu bahwa saya sanggup membuatnya tersenyum melihat anaknya sanggup menyemat gelar keserjanaan. Dan itu, kuyakinkan ibu sebelum keberangkatanku.

Sebentar lagi namaku disebut. Aku harus bersiap-siap. Berdiri, kemudian menanti giliranku. Aku yakinkan bahwa ibu memang tidak bisa menghadiri. Kuyakinkan pula bahwa saya harus tersenyum, mungkin saja ibu berhalangan. Maka keberanianku, kegelishanku, saya hampas pada setarikan napas. Meski rasa rindu pada ibu itu menggelayuti, saya yakinkan itu.

“Riyan Sutama!”

Namaku menggema, bunyi yang didengunakan pengeras bunyi itu memanggilku. Aku tegarkan. Aku yakinkan. Aku yakin ibu menyaksikan saya disebut. Entah pada kawasan mana dia berada. Entah kekuatan apa yang menyengatku, saya menyaksikan ayahku berada di pojokan ruangan itu. Pun ibuku, orang tuaku melempar senyum. Mereka tersenyum, wajahnya begitu hening dan senang. Kenapa ada bayangan ayah bersama ibu?

Aku berhenti melangkah, saya memastikan kehadiran ayah dan ibuku. Di pojok ruangan itu. Benar-benar mereka berdua hadir.

“Riyan Sutama!”

Buyar lamunanku melanjutkan langkahku. Menyalami rektor dan mendapatkan segulung ijazah, kemudian bandul toga dipindahkan. Aku sbahagia alhasil ibu datang, meski hal lain menjanggal di hati.

Aku keluar dari ruang itu kemudian mencari sosok ibu. Bersama ayah? Tidak mungkin. Aku cari hingga kupastikan wajah-wajah yang selalu kucurigai itu ibu. Nihil. Tak ada sosok ibu. Belum yakin, saya menyerupai kecemasan sendiri. Berlari ke sana ke mari mencari sosoknya. Entah berapa usang saya mengitari ruang program ini. Aku tak dapati siapapun hingga saya lemah, saya pasrah. Tubuhku saya sandarkan pada kursi yang tergelatk di ruangan sana.

“Riyan!”

Suara itu ...

“Awang?”

Awang datang. Tapi mengapa seorang diri? Dia tersenyum mendekati aku. Lalu duduk, sembari menepuk pundakku.

“Kamu ahli Awang. Ibumu niscaya bangga. Maaf, Ibumu tidak bisa menengokmu pada hari bersejarahmu itu. Dia hanya menitipkan surat ini untuk saya antar ketika program wisudamu berlangsung.”
Surat itu saya gelar lekas-lekas. Mungkinkah ibu ...

-------------------------------------------------
Riyan ...
Ibu tahu kau niscaya bisa meyakinkan dunia bahwa kau mampu. Ibu tahu kau niscaya sanggup pertanda cita-citamu dan pertanda bahwa pesan ayahmu sanggup.
Namun, maaf, Nak. Seandainya surat ini hingga kepadamu, Berarti ibu belum sembuh juga dari sakit ibu. Atau mungkin ..., ibu akan menyusul ayahmu.
Semalam ibu bermimpi, ayahmu menjemput ibu. Ibu kangen sama ayahmu, Nak. Ibu sampaikan salammu dan harapanmu bahwa kau sungguh-sungguh mewujudkan cita-citamu. Dan itu ibu saya minta Awang menuliskannya.
Ibu besar hati padamu, Nak... Selalu bangga!
---------------------------------------------- --


Aku melipat kertas itu, Menatap tajam kepada Awang, “Di mana ibu, Awang? Di mana?”

“Maaf, Yan. Ibumu ... “

“Apa, Awang!? Ibu kenapa?”

“Sehari sebelum kepulangannya, ibumu memintaku untuk menuliskan surat ini untukmu. Aku sempat menolak dan berharap ibumu saja yang menyampaikannya. Tapi ia memaksa. Aku menuliskan surat ini di samping bangsalnya. Sehari kemudian, ibumu ...,” Isakan Awan melahirkan lelehan mata di pipiku. Aku ...

Duniaku tertutup awan sedih di hari yang cerah. Ibu, saya tahu saya terlambat menyampaikannya. Bahwa saya telah lulus menjadi orang yang pertama. Aku Cummlaude, Bu. Aku orang yang telah berhasil mempunyai nilai tinggi, dan itu saya ingin ibu menyaksikan aku—anakmu.

Awan cerah bagiku gelap, mendungku pecah. Ditipkan mata yang mengalir gerimis. Merindukan ibu di sini.

Indramayu, 16 Maret 2013

Aku turun selepas sambutan yang saya bawa sebagai perwakilan wisuda. Seragam melekat pada kebesaran badan kami yang telah rampungkan masa-masa berguru di sekolah tinggi. Aku dan beberapa temanku sering melempar harapan di manakah nantinya kita akan bertemu kembali. Jawabannya dengan beberapa pengharapan supaya suatu masa kami sanggup bertemu dan mengenang masa-masa kuliah di sini.

 Aku turun selepas sambutan yang saya bawa sebagai perwakilan wisuda Cerpen: Saksikanlah aku, Bu! Aku bangun di sini dengan seragam togaku


Namun, di samping harapan yang selalu kami jajakan kepada teman-temanku yang entah terwujud kapan, saya menunggu ibuku tiba menjemputku kemudian bangun di sampingku dan mengabadikannya dalam bingkaian jepertan tustel. Foto  itu nantinya akan kami pajang besar-besar melengkapi foto keluarga di kamar tamu rumahku. Sayangnya, hampir program ini rampung, ibuku belum hadir juga.

Aku  ingat ketika dia melepaskan saya untuk pertama kalinya. Senang bercampur sedih ketika mengantarkan saya keluar rumah. Katanya, "Kamu harus benar-benar serius mengejar cita-citamu itu, Nak. Jangan pikirkan ibu nanti ketika Kau menuntut ilmu." Maka sederati butiran air mata haru melinang di pipi ibu. Aku  ingin memeluknya ketika itu, sayangnya dia menapik. Ibu minta saya bersegara berangkat sebab kereta yang saya tumpangi itu bisa terlambat.

Aku  tahu saya begitu terlambat memberi kabar ibu bawa saya sudah lulus dari universitas favoritku. Cita-cita yang selalu saya ingin buktikan tatkala orang lain begitu gagu untuk mewujudkannya. Bagiamanapun saya tidak mau teracuni anutan ndeso bahwa ijazah kuliah tidak menjamin kehidupan mapan seorang anak. Lebih-lebih, ibuku hanya seorang penjual jamu gendong. Cibiran dan sindiran bisa saja menciptakan hidup ibu sepeninggalku di kampung putus asa. Dan itu terbukti, ketika dia sering kali memintaku pulang ketika telpon mengabarinya tidak bisa memberiku biaya hidup di Jakarta.

Sungguhpun saya tidak ingin membebani ibu. Aku  meyakini usahaku yang jerih. Aku tidak peduli pada harga diri yang seriing mencerca bahwa saya ini yaitu mahasiswa. Demi menyambung hidup dan mimpi, saya sudi memungut sampah dan mengumpulkannya menjadi barang jadi yang entah didaur ulang menjadi apa. Aku hanya pemulung yang kemudian dijual perkilonya dengan upah yang kubutuhkan menyambung hidup. Kadang pula saya mencuci pakaian teman-teman demi upah sesuap nasi bungkus yang saya makan menambal rasa lapar setiap saat. Tapi, semua yang saya lakukan itu, ibu tidak pernah tahu dan saya tidak mau hingga ibu mengetahuinya.

Kami berdiri, menanti urutan nama kami dipanggil rektor. Menyaksikan anaknya ini disebut ke depan pada ritual pemindahan bandul di topi toga: Tentu menjadi syarat haru. Aku masih menunggu ibu. Aku tahu ibu niscaya datang, saya minta Awang—pamanku-- supaya mengantar ibu hingga ketempat wisuda. Biaya ibu nanti saya ganti di sini, yang penting bagiku yaitu kehadirannya di sini. Begituulah mintaku pada Awang seminggu sebelum program ini tergelar

Nama-nama lulusan dibacakan dengan lantang. Sepertinya formasi nama yang disebut itu dari fakultas lain. Aku kenal Rahmadi Jayadhipa, nama yang gres saja disebut. Disusul temannya, yang juga saya kenal sering bersama Rahmadi. Nama selanjutnya memang dari teman-teman fakultas Rahmadi. Aku sering melongok ke pintu masuk, mungkinkah ada orang yang saya kenal darikampung. Awang, atau siapalah yang mengantarkan ibu menyaksikan namaku disebut ke depan podium.

Setengah jam kemudian, nama dari temanku yang satu fakultas disebut. Degup jantungku mengencang. Keringatku memeras. Seorang sahabat menyadarkanku, “Kamu kenapa Riyan? Kamu gugup?”

Aku menggeleng, tertunduk, kemudian mengatur ketenanganku supaya tak terbaca kegelisahanku. Sesekali saya melongok pintu itu. Tidak ada wajah yang saya kenal. Aku lempar senyum kepada temanku itu. “Kamu tiba bersama keluargamu?”

Dia pun tersenyum, dia menunjukkan ke arah orang tuanya. Di sana ada senyum senang dari seseorang yang duduk di barisan orang tua. Aku begitu senang padanya. Sungguh, jikalau ibu pun duduk di sana, bersama orang bau tanah kami. Aku sungguh merasa duniaku penuh dengan rasa bangga. Sayangnya, hingga lima belas menit berlalu tidak ada ssama sekali wajah yang saya kenal dari kampung.

Mungkin saya harus merelakan bahwa program yang sungguh membuatku merasa mempunyai sejarah ini tidak dihadiri oleh ibuku. Aku hanya ingin pertanda bahwa keinginan almarhum ayah terwujud di sini. Di kawasan ini. Meski kadang ibu selalu menggeleng-gelengkan kepala bercampur tangisnya mengenang almarhum. Kuyakinakn itu bahwa saya sanggup membuatnya tersenyum melihat anaknya sanggup menyemat gelar keserjanaan. Dan itu, kuyakinkan ibu sebelum keberangkatanku.

Sebentar lagi namaku disebut. Aku harus bersiap-siap. Berdiri, kemudian menanti giliranku. Aku yakinkan bahwa ibu memang tidak bisa menghadiri. Kuyakinkan pula bahwa saya harus tersenyum, mungkin saja ibu berhalangan. Maka keberanianku, kegelishanku, saya hampas pada setarikan napas. Meski rasa rindu pada ibu itu menggelayuti, saya yakinkan itu.

“Riyan Sutama!”

Namaku menggema, bunyi yang didengunakan pengeras bunyi itu memanggilku. Aku tegarkan. Aku yakinkan. Aku yakin ibu menyaksikan saya disebut. Entah pada kawasan mana dia berada. Entah kekuatan apa yang menyengatku, saya menyaksikan ayahku berada di pojokan ruangan itu. Pun ibuku, orang tuaku melempar senyum. Mereka tersenyum, wajahnya begitu hening dan senang. Kenapa ada bayangan ayah bersama ibu?

Aku berhenti melangkah, saya memastikan kehadiran ayah dan ibuku. Di pojok ruangan itu. Benar-benar mereka berdua hadir.

“Riyan Sutama!”

Buyar lamunanku melanjutkan langkahku. Menyalami rektor dan mendapatkan segulung ijazah, kemudian bandul toga dipindahkan. Aku sbahagia alhasil ibu datang, meski hal lain menjanggal di hati.

Aku keluar dari ruang itu kemudian mencari sosok ibu. Bersama ayah? Tidak mungkin. Aku cari hingga kupastikan wajah-wajah yang selalu kucurigai itu ibu. Nihil. Tak ada sosok ibu. Belum yakin, saya menyerupai kecemasan sendiri. Berlari ke sana ke mari mencari sosoknya. Entah berapa usang saya mengitari ruang program ini. Aku tak dapati siapapun hingga saya lemah, saya pasrah. Tubuhku saya sandarkan pada kursi yang tergelatk di ruangan sana.

“Riyan!”

Suara itu ...

“Awang?”

Awang datang. Tapi mengapa seorang diri? Dia tersenyum mendekati aku. Lalu duduk, sembari menepuk pundakku.

“Kamu ahli Awang. Ibumu niscaya bangga. Maaf, Ibumu tidak bisa menengokmu pada hari bersejarahmu itu. Dia hanya menitipkan surat ini untuk saya antar ketika program wisudamu berlangsung.”
Surat itu saya gelar lekas-lekas. Mungkinkah ibu ...

-------------------------------------------------
Riyan ...
Ibu tahu kau niscaya bisa meyakinkan dunia bahwa kau mampu. Ibu tahu kau niscaya sanggup pertanda cita-citamu dan pertanda bahwa pesan ayahmu sanggup.
Namun, maaf, Nak. Seandainya surat ini hingga kepadamu, Berarti ibu belum sembuh juga dari sakit ibu. Atau mungkin ..., ibu akan menyusul ayahmu.
Semalam ibu bermimpi, ayahmu menjemput ibu. Ibu kangen sama ayahmu, Nak. Ibu sampaikan salammu dan harapanmu bahwa kau sungguh-sungguh mewujudkan cita-citamu. Dan itu ibu saya minta Awang menuliskannya.
Ibu besar hati padamu, Nak... Selalu bangga!
---------------------------------------------- --


Aku melipat kertas itu, Menatap tajam kepada Awang, “Di mana ibu, Awang? Di mana?”

“Maaf, Yan. Ibumu ... “

“Apa, Awang!? Ibu kenapa?”

“Sehari sebelum kepulangannya, ibumu memintaku untuk menuliskan surat ini untukmu. Aku sempat menolak dan berharap ibumu saja yang menyampaikannya. Tapi ia memaksa. Aku menuliskan surat ini di samping bangsalnya. Sehari kemudian, ibumu ...,” Isakan Awan melahirkan lelehan mata di pipiku. Aku ...

Duniaku tertutup awan sedih di hari yang cerah. Ibu, saya tahu saya terlambat menyampaikannya. Bahwa saya telah lulus menjadi orang yang pertama. Aku Cummlaude, Bu. Aku orang yang telah berhasil mempunyai nilai tinggi, dan itu saya ingin ibu menyaksikan aku—anakmu.

Awan cerah bagiku gelap, mendungku pecah. Ditipkan mata yang mengalir gerimis. Merindukan ibu di sini.

Indramayu, 16 Maret 2013

Mungkin, catatan ini terlalu dini saya buat di sini. Catatan yang menginspirasiku untuk menarikan daya imajinasi menjadi utuh. Tentang potongan dari sastra yang mengumbar estetika dalam berbahasa. Bagaimana menerjemahkan sebuah gelombang impuls syaraf yang kemudian disebut oleh gagasan. Gagasan inilah yang kemudian disebut nyawa dari munculnya kehidupan cerpen yang dibentuk si empunya.

 catatan ini terlalu dini saya buat di sini Hakikat Menulis Cerpen Untuk Surat Kabar


Namun, estetika berbahasa dalam prosa cerpen tidak melulu bagaimana kisah itu punya kemasan indah untuk dibaca. Ada unsur yang lebih universal lagi untuk kita pahami dan kita rasakan. Terlebih, bagi yang ingin benar-benar serius menggeluti pekerjaan menerjemahkan gagasan ini menjadi cerpen.

Baca juga: Epigonis Bagi seseorang  yang Memulai jadi Penulis

Ada ragam abjad goresan pena beberapa pengarang yang saya yakin itu bukan sesuatu yang didapat dari kemahirannya menjeremuskan gagasan berdasarkan aturan-aturan baku. Penilaianku, abjad itu muncul dari kegigihan pengarangnya dalam mengemas sebuah cerita. Di sini abjad itu menyerupai training tabiat yang menganjurkan kepribadian pengarangnya menuliskan jejak-jejak peristiwa. Semakin terasah kemahirannya, semakan tajam pula insting-insting pengarang itu menajamkan naluri berceritanya.

Lalu, mengapa goresan pena ini muncul dan kemudian tidak saya publish ke publik sebagai argumentasi yang mereka perlu juga mengetahui ini?

Jawabanku tidak. Sebab ini bukan sebuah isu yang sanggup saya pertanggungjawabkan. Argumentasi ini perlu saya uji untuk sanggup memperlihatkan jalan atas kehendak menentukan jalan menulis cerpen. Aku menuliskan pendapatku di sini sebagai potongan dari pembuktian pada hakikat menulis cerpen ala gaya dan karakteristikku sendiri.

Sampai di sini, amat terang bahwa saya sedang membaca karakterku sendiri dalam menulis. Karakter yang mengokohkan kekhasanku dalam menuturkan cerita. Bagian dari ciri-ciri menulis yang membedakan saya dengan pengarang-pengarang yang lain.

Kemudian, saya akan membebaskan dan memproklamirkan kemerdekaan diriku melalui karya-karya sebagai wujud diplomasi ke-akuanku dalam bergaya sastra. Meskipun begitu, saya terlalu dini mengakui dan memperkenalkan karakteristikku bersastra.

Karakter dari seorang pengarang bukan dinilai dari evaluasi pengarang itu sendiri. Pengarang hanya membatasi diri dari keingianannya meramu isu di kepalanya, yang berwujud gagasan itu, kemudian melemparkannya kepada pembaca. Apresiasi macam apa yang diterima pembaca setelahnya yakni evaluasi objektif atas suka-tidaknya dengan gaya penuturran-penuturanku bercerita. Dengan begitu, dikala mulai menyadari ada kekhususanku mendikter cerita, mereka juga menyimpan indikator-indikator dari kisah yang saya usung.

***

Seperti hari ini, saya membaca beberapa karya pengarang ternama. Cerpen pertama, kemudian saya jadikan sebagai refrensi karakter,  dari seorang cerpenis wanita, Yetti KA. Cerpennya berjudul "Ia yang menyimpan Api di hatinya" amat meninggalkan bekas sesudah kumembacanya. Mengapa? Karena kisah ini bukan ending yang menjadi tujuan dari cerita. Tapi bagaimana si pengarang meledakkan emosi dari setiap jalinan-jalinan ceritanya. Emosi mengakibatkan kekuatan terbesar pada cerpen ini. Cerpen yang kemudian berlanjut pada pemahaman dan filosofi kehidupan serta pemberontakan emosi yang meluap.

Beralih pada cerpen selanjutnya. Meski sesudah membaca cerpen milik Yetti KA telah membuatku haus pada kisah yang lebih baik darinya, telah membuatku malas melanjutkan baris-baris cerpen selanjutnya yang kubaca. Namun, harapan mengetahui abjad dari cerpen telah meronggotiku untuk mencarinya.

Aku beralih membaca cerpen terbitan Media Indonesia. Aku menentukan Media Indonesia  alasannya yakni redaktur untuk cerpennya yakni Damhuri Muhammad. Seorang cerpenis yang kukenal lewat cerpen "Talang Perindu" di koran lokal daerahku. Aku menghipotesa gaya-gaya Damhuri Muhammad dalam mendapatkan abjad cerpen macam apa yang menarik minatnya untuk mempubllikasi cerpen kontributor.

Aku membaca 2 cerpen terbitan ahad terakhir. Pertama berjudul "Mariantje dan Pasangan Tua" milik Erni Aladjai. Cerpen ini mengisahkan Mariantje  seorang pembantu di rumah pasangan tua--Luna dan Don. Alur kisah ini bekerjsama sederhana, namun pengarangnya memasukan unsur-unsur kehidupan yang lebih padat. Sehingga, kisah ini semakin kenyal dan berisi serta penuturan yang semakin menguji imajinasi.

Cerpen kedua berjudul "Ayat Kedelapan", milik Budi Hatees. Mengisahkan seorang mubaligh yang sering merasa dihantui oleh seorang pembunuh, sementara pembantunya--santri yang sering membantunya, Yusuf--memberikan ending dengan menerangkan bahwa simpulan hidup mestipun tak diminta niscaya akan tiba menjemput siapa saja.

Cerpen dari Media Indonesia ini ternyata lebih mendoktrin wacana nilai-nilai humanitas kemanusiaan. Lebih menyadarkan dan mengutamakan misi pencerahan bagi pembacanya. Aku tidak tahu apakah abjad dari redaktur, Damhuri Muhammad, yakni seorang visonis ataupun bagaimana.

Untuk kedua cerpen ahad terakhir, saya menjawab hipotesas awalku. Bahwa, Damhuri lebih mengutamakan misi penyampaian gagasan-gagasan pencerahan untuk sanggup ia loloskan kepada pembacanya.

Berbeda dengan Media Indonesia dengan Kompas. Seperti cerpen Yetti KA tadi, cerpen yang lebih saya nilai sebagai eksplorasi emosional dibandingkan pencerahan. Tampaknya, Kompas benar-benar lebih mengutamakan abjad dalam cerpen yang akan diterbitkannya. Gaya-gaya cerpen yang saya baca beberapa ahad ini, ternyata lebih mempunyai gaya-gaya yang tidak umum saya temukan di cerpen-cerpen yang seirng saya baca. Gaya yang lebih menohok pada pembagian terstruktur mengenai naluri-naluri cerita, juga alur-alur yang lebih mengedepankan "bagaimana" dibandingkan "mengapa" dalam menjelaskan cerita-cerita. Bagaimana menjelaskan keadaan, bukan menjelaskan alasan-alasan. Alhasil, cerpen kompas menjadi koran yang semakin sulit ditembus dan ditebak minat redakturnya untuk mempublikasikan seluruh karya-karya kontributornya. Meski begitu, nama-nama besar cerpenis yang sering memunculkan karyanya juga sering dikatakan alasan terbesar redaktur meloloskan karya mereka terbit.


Indramayu, 31/05/2013


Opini ini pernah saya arsipkan di tahun 2013. Belum pernah saya publish ke publik dan tersimpan rapih di 'catatan' facebook.

Mungkin, catatan ini terlalu dini saya buat di sini. Catatan yang menginspirasiku untuk menarikan daya imajinasi menjadi utuh. Tentang potongan dari sastra yang mengumbar estetika dalam berbahasa. Bagaimana menerjemahkan sebuah gelombang impuls syaraf yang kemudian disebut oleh gagasan. Gagasan inilah yang kemudian disebut nyawa dari munculnya kehidupan cerpen yang dibentuk si empunya.

 catatan ini terlalu dini saya buat di sini Hakikat Menulis Cerpen Untuk Surat Kabar


Namun, estetika berbahasa dalam prosa cerpen tidak melulu bagaimana kisah itu punya kemasan indah untuk dibaca. Ada unsur yang lebih universal lagi untuk kita pahami dan kita rasakan. Terlebih, bagi yang ingin benar-benar serius menggeluti pekerjaan menerjemahkan gagasan ini menjadi cerpen.

Baca juga: Epigonis Bagi seseorang  yang Memulai jadi Penulis

Ada ragam abjad goresan pena beberapa pengarang yang saya yakin itu bukan sesuatu yang didapat dari kemahirannya menjeremuskan gagasan berdasarkan aturan-aturan baku. Penilaianku, abjad itu muncul dari kegigihan pengarangnya dalam mengemas sebuah cerita. Di sini abjad itu menyerupai training tabiat yang menganjurkan kepribadian pengarangnya menuliskan jejak-jejak peristiwa. Semakin terasah kemahirannya, semakan tajam pula insting-insting pengarang itu menajamkan naluri berceritanya.

Lalu, mengapa goresan pena ini muncul dan kemudian tidak saya publish ke publik sebagai argumentasi yang mereka perlu juga mengetahui ini?

Jawabanku tidak. Sebab ini bukan sebuah isu yang sanggup saya pertanggungjawabkan. Argumentasi ini perlu saya uji untuk sanggup memperlihatkan jalan atas kehendak menentukan jalan menulis cerpen. Aku menuliskan pendapatku di sini sebagai potongan dari pembuktian pada hakikat menulis cerpen ala gaya dan karakteristikku sendiri.

Sampai di sini, amat terang bahwa saya sedang membaca karakterku sendiri dalam menulis. Karakter yang mengokohkan kekhasanku dalam menuturkan cerita. Bagian dari ciri-ciri menulis yang membedakan saya dengan pengarang-pengarang yang lain.

Kemudian, saya akan membebaskan dan memproklamirkan kemerdekaan diriku melalui karya-karya sebagai wujud diplomasi ke-akuanku dalam bergaya sastra. Meskipun begitu, saya terlalu dini mengakui dan memperkenalkan karakteristikku bersastra.

Karakter dari seorang pengarang bukan dinilai dari evaluasi pengarang itu sendiri. Pengarang hanya membatasi diri dari keingianannya meramu isu di kepalanya, yang berwujud gagasan itu, kemudian melemparkannya kepada pembaca. Apresiasi macam apa yang diterima pembaca setelahnya yakni evaluasi objektif atas suka-tidaknya dengan gaya penuturran-penuturanku bercerita. Dengan begitu, dikala mulai menyadari ada kekhususanku mendikter cerita, mereka juga menyimpan indikator-indikator dari kisah yang saya usung.

***

Seperti hari ini, saya membaca beberapa karya pengarang ternama. Cerpen pertama, kemudian saya jadikan sebagai refrensi karakter,  dari seorang cerpenis wanita, Yetti KA. Cerpennya berjudul "Ia yang menyimpan Api di hatinya" amat meninggalkan bekas sesudah kumembacanya. Mengapa? Karena kisah ini bukan ending yang menjadi tujuan dari cerita. Tapi bagaimana si pengarang meledakkan emosi dari setiap jalinan-jalinan ceritanya. Emosi mengakibatkan kekuatan terbesar pada cerpen ini. Cerpen yang kemudian berlanjut pada pemahaman dan filosofi kehidupan serta pemberontakan emosi yang meluap.

Beralih pada cerpen selanjutnya. Meski sesudah membaca cerpen milik Yetti KA telah membuatku haus pada kisah yang lebih baik darinya, telah membuatku malas melanjutkan baris-baris cerpen selanjutnya yang kubaca. Namun, harapan mengetahui abjad dari cerpen telah meronggotiku untuk mencarinya.

Aku beralih membaca cerpen terbitan Media Indonesia. Aku menentukan Media Indonesia  alasannya yakni redaktur untuk cerpennya yakni Damhuri Muhammad. Seorang cerpenis yang kukenal lewat cerpen "Talang Perindu" di koran lokal daerahku. Aku menghipotesa gaya-gaya Damhuri Muhammad dalam mendapatkan abjad cerpen macam apa yang menarik minatnya untuk mempubllikasi cerpen kontributor.

Aku membaca 2 cerpen terbitan ahad terakhir. Pertama berjudul "Mariantje dan Pasangan Tua" milik Erni Aladjai. Cerpen ini mengisahkan Mariantje  seorang pembantu di rumah pasangan tua--Luna dan Don. Alur kisah ini bekerjsama sederhana, namun pengarangnya memasukan unsur-unsur kehidupan yang lebih padat. Sehingga, kisah ini semakin kenyal dan berisi serta penuturan yang semakin menguji imajinasi.

Cerpen kedua berjudul "Ayat Kedelapan", milik Budi Hatees. Mengisahkan seorang mubaligh yang sering merasa dihantui oleh seorang pembunuh, sementara pembantunya--santri yang sering membantunya, Yusuf--memberikan ending dengan menerangkan bahwa simpulan hidup mestipun tak diminta niscaya akan tiba menjemput siapa saja.

Cerpen dari Media Indonesia ini ternyata lebih mendoktrin wacana nilai-nilai humanitas kemanusiaan. Lebih menyadarkan dan mengutamakan misi pencerahan bagi pembacanya. Aku tidak tahu apakah abjad dari redaktur, Damhuri Muhammad, yakni seorang visonis ataupun bagaimana.

Untuk kedua cerpen ahad terakhir, saya menjawab hipotesas awalku. Bahwa, Damhuri lebih mengutamakan misi penyampaian gagasan-gagasan pencerahan untuk sanggup ia loloskan kepada pembacanya.

Berbeda dengan Media Indonesia dengan Kompas. Seperti cerpen Yetti KA tadi, cerpen yang lebih saya nilai sebagai eksplorasi emosional dibandingkan pencerahan. Tampaknya, Kompas benar-benar lebih mengutamakan abjad dalam cerpen yang akan diterbitkannya. Gaya-gaya cerpen yang saya baca beberapa ahad ini, ternyata lebih mempunyai gaya-gaya yang tidak umum saya temukan di cerpen-cerpen yang seirng saya baca. Gaya yang lebih menohok pada pembagian terstruktur mengenai naluri-naluri cerita, juga alur-alur yang lebih mengedepankan "bagaimana" dibandingkan "mengapa" dalam menjelaskan cerita-cerita. Bagaimana menjelaskan keadaan, bukan menjelaskan alasan-alasan. Alhasil, cerpen kompas menjadi koran yang semakin sulit ditembus dan ditebak minat redakturnya untuk mempublikasikan seluruh karya-karya kontributornya. Meski begitu, nama-nama besar cerpenis yang sering memunculkan karyanya juga sering dikatakan alasan terbesar redaktur meloloskan karya mereka terbit.


Indramayu, 31/05/2013


Opini ini pernah saya arsipkan di tahun 2013. Belum pernah saya publish ke publik dan tersimpan rapih di 'catatan' facebook.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget