Halloween Costume ideas 2015

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Catatan Kerinduan (Catatan Sebelum Mengkhitbah Isteriku, Hehehe)

Kita masih menunggu masa baskara terbit di ufuk timur sana. Melepas jerat gelap dari rindu yang membekap. Kita tidak sedang dibui mimpi ataupun harap, tapi kita menunggu ketika tahajud kembali fajar tersibak: kembali menikmati aroma embun pada sepelupuk netra yang masih menggelayut lelap.

Aku mengajakmu bertikai dalam rindu yang berkecamuk selalu. Sekarang ini kita sedang berkisah seru. Ada degap jantung yang bertalu-talu memainkan pertikaiannya sendiri. Silakan dedah biar tak terselip pandangan yang berselimut. Lalu tak tampak kejujuran yang terang. Maka mata batin seakan tajam menyayat. Aku memintamu melerai yang kabut itu. Ubahlah menjadi kedamaian.

Pun bila purnama tak cukup membantu terang, saya pinjami suluh yang terbit dari pencahayaan hati. Terselip di sana ada api dari materi bakar nurani. Mungkin cukup untuk mengantarkan kita menjemput pagi. Mungkin juga akan lekas serap kala api benar-benar membeludak. Kita ciptakan api besar, padahal cukup sekelumit terperinci saja bisa merampok gelap untuk mencari apa yang kita harap. Sebesar beludakan api itu, tersirat pekikan napsu menjerat. Sungguh, saya memiskin diri atas sisa-sisa kekayaan suluhku. Cukup perantaraan itu, saya hendak mengajakmu menandakan segala yang terlelap di rahim gelap hatiku.

Namun sebelum itu, akan saya ceritakan mengapakah sosokmu kuundang dalam kidung kerinduan ini. Jujur, saya tidak pernah mengundang sesiapapun untuk menjadi tamu dalam ruang hatiku. Sebab saya masih tragedi alam dan malu. Betapa malang nasib penyesalan yang telah merundung tangis atas segala nikmat yang belum saya jawab. Dan kehadiranmu bisa menghadirkan tanggapan mantap. Apa hasilnya bila saya tak bersiap menjamu tamu hatiku. Aku kembali dalam ruang dekap, menengadah harap pada malam yang membekap. Bilangan istikharah, malam memilih. Aku membuka ketukan sambutmu. Dan  saya ... mantap menyajikanmu menjadi ratu di singgasana ruang hati.

Maaf, bila pepuji ini terlalu meninggi. Tak bisa kuutarakan yang lebih mantap dari kesederhanaan kata-kata ini. Telah langitkah rasa rindu ini sampai saya harus menggantung bintik-bintik serupa bintang membentuk sabitah rindu. Pijakku di bumi, telah tak cukup menghampar pengertian-pengertian makna rindu. Semuanya tercecar menyemai pandang. Saat itu, maka apa yang terlihat netra serupa adamu. Yang kudengar, bisik sayu mesramu. Yang kusentuh, lembut erat genggammu. Dan segala puji, tak mungkin bersemat dalam diri dan jagat raya ini. Maka, pepuji ini kekumbalikan pada Dzat Segala Maha Puji Rabb-ku. Kalian tahu? Setapak inilah derajatku sungguh mencium kerendahanku sebagai mahluk-Nya.

Kekasih, pernahkah kita mengutip satu lirik milik penyair. Cinta itu ruang dan waktu, katanya. Entah sedang berpuisi atau bertata kata penyair itu; saya tak peduli. Sebatas peduliku menggenggam kecamuk yang ada ketika ini. Saat kita sedang mengecamuk pertikaian rasa di dada kita masing-masing. Kita mafhum, bergotong-royong kita berada di ruang sama dan waktu yang kembar pula. Lantas, mengapa kita mengibarkan pertanyaan jarak yang jauh dan waktu yang lekas luruh? Itikadku, saya sudah memenatkan segala ruang menjadi satu dan waktu menjadi restu pula.

Aku tidak punya serupa makna yang pantas untuk mencari padanan kata yang sederhana dari penyampaian rasa ini kepada pembaca. Sampai pada ketikan alfabetis kata ini pun begitu lekas saja tanpa memikirkan apa dayaku menyajikan ungkapan rasa yang tercipta. Suluhku yang kaugenggam telah menandakan bagaimana usahaku menandakan peradaban restu itu kembali meminang ikatan satu. Tidakkah ini ibarat picisan? Aku tetap tidak peduli. Inilah ungkap yang menimpaku dan sering kambuh menahan rasa ngilu di hatiku. Saat penyematan namamu--saat kumantap nama itu ialah instruksi istikharahku--sungguh saya merasa ada dispensasi dalam mengindap sayat-sayat rindu.

Sungguh, saya tidak punya kemaharian apapun meramu diksi-diksi jentayu. Serupa penyair sastrawan yang melepas ambigu. Rasaku terlalu melebur menjadi kemantapan goresan pena ini. Kala malam menyelimuti kelamnya, cobalah temukan instruksi apa yang tersirat di rahim kata-kataku ini. Melamuni harapku, saya menyarung doa dalam bait renjana.

Tunduklah pada penjerangan takdir ilahiyah kita. Kita hanya sepasang lakon kekasih yang sedang mengutarakan pertikaian makna yang sedang mencebur di samudera hati. Aku tidak menentukan daerah atau ruang mana, pula waktu yang sempurna apa. Aku bergaris pada ikhtiar yang lurus begitu saja. Lurus mantapku membuka buta mata nurani. Ini kisah Rabbku yang melariskan kata-kata syahdu di catatan ini. Siapa yang sedang saya berkelahi untuk membandingkan kata-kata syahdu-Nya? Sementara ini terlalu dini saya ungkap, tapi semuanya terlalu berlari jauh di depan langkahku. Maka, saya hanya butuh kepakan sayap-sayap rindumu untuk menyalip sejajar harapku: padamu.

Ada lamunan panjang yang ingin saya semai di ladang masa datang. Bahwa saya hanya pelaku kezaliman diri. Betapa saya terlalu serakah menungku resah. Padahal mesti, tidaklah ada keragu-raguan hati bila menghadirkan Rabb kita di sisi hati. Rabb kita lebih bersahabat dari kita yang mengeja jarak. Rabb kita lebih lekas dari waktu yang kita sengaja gegas. Bila begini, saya sudah tak tampak kepongahanku. Sebab kutitipkan segala Rahmat-Nya pada peradilan ruang dan waktu-Nya. Aku selalu begitu, kekasih. Maafkan aku. Aku hanya ingin meleburkan hasrat satu itu dalam sesuci malam yang terus memebelenggu.

Jauh dari sini, saya selalu berbisik pada telisik. Kita mantap mengeja sisa malam yang berpamit. Kita akan menyaksikan sendiri baskara yang telah menuntut kita menghirup embun segar pengisi hari-hari. Kala dhuha menyungging terang, kita akan turut menyinggung jerang. Di sanalah ejaan harap mengukir di kanvas ruang serta waktu yang tuang. Apakah kita mampu menuangkan segala yang termaktab di mahabah ridha-Nya atau kita sedang membuang kesempatan yang terlepas dari sematan harap yang kita tunggu masa panennya. Saat itu, saya hanya mengabarkan telah kautemukan apa dari makna yang mantap dari goresan pena ini.

Lalu pada mimpi yang sedang berselimut, biar dia tenang. Sebab pertengahan malam masih menghitung bilangan jam. Ia akan bertemu dan berpamit untuk tiba di restu Rabb untuk kembali bertandang dalam lakon kenyataan kita. Saat itu, kita akan lekas menggenggam syah menyaksikan haru langit yang terbias memesra keadaan kita. Percayalah, ketika itu kita ialah sepasang kekasih yang sedang dimanja nikmat alam.

Terpantik pesan yang tersirat mengacu. Mengusulkan kemantapan syahdu. Bahwa kita sedang mengeja isyarat-isyarat ayat Rabb-ku. Aku pikir ini tidaklah berlebihan, alasannya ialah kita menjerang mula-mula pula menggaris pada pijakan mulia. Meski ada kecam, saya tegaskan lantang: Kita mengerat dalam nasihat-menasihati kebenaran juga kesabaran kita. Pula bila khianat, lekas buru dan bunuh sifat khianatnya. Itu prolog yang mesti kita hapus kala kita akan melanjutkan kisah yang terus melajukan arah kita meluruh.

Dan jangan mengira, meski bungkam tiada kata-kata, saya tidak memungut potongan pesan yang tersirat dari bergemingnya suara. Selama itikad itu melekat, pastilah mana dongeng bisa menyebabkan ibrah bagi kita yang menetap jarang nasihat. Maaf, bila kucuri setiap kebaikanmu semoga turut bersemat di tingkah lampahku. Maaf!

Inilah kerinduanku pada pagi yang ingin menjemputmu. Lekas pada tatapan adu, apakah kita lulus menguji ruang dan waktu. Serta memantap istikharah yang sedang kita aju. sebetapapun kelak itu, saya memasrahkan segalanya pada jalinan waktu yang memintal kisah kita. Dan aku, meyakini Rabbku menyaksikan ini. Serupa saya menyaksikan doaku mengiringi kisah kita tetap berpadu. Melesatkan segala arah yang tuju, tetap Rabb kita menjadi arah muara kita melarungkan waktu. Di situlah ruang yang kita tuju sebagai persinggahan mengisi detik sejarah syahdu.

Cukup! Aku tidak mau kata-kata ini meracuni bilangan kaku. Sebab goresan pena ini mungkin kita saja yang bisa memahaminya. Biar yang tersurat adanya kalimat ambigu, kelak akan menuangkan ceritanya sendiri. Itulah evaluasi mereka, alasannya ialah apapun, penilian kita hanya berstandar dari restu yang mengeja kemaharupaan rahmat-Nya yang berlaku: Untuk kita sudah niscaya tentu.

Labels:

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget