Epigonis Bagi Seorang Yang Memulai Ingin Menjadi Penulis
Proses kreatif seorang penulis begitu beragam. Kadang ada yang membaca beberapa karya seseorang penulis ternama, kemudian berhasrat ingin memulai kreatifnya membuat karya yang serupa. Mungkin tidak serupa persis namun dalam gaya dan contoh yang sama.
Kadang juga penulis menemukan kesan yang teramat dalam batinnya kemudian memulai untuk menjerang kata-katanya membentuk wacana. Ada juga dari sering berkorespondensi dengan beberapa teman, meminta saran dan kritik, serta memintakan pendapat perihal apa-apa yang ditulisnya juga merupakan arah yang mantap dari karakter tulisannya.
Proses menulis sendiri bagi diri penulis merupakan proses yang amat panjang. Butuh waktu untuk memahaminya untuk bisa ia jelaskan dengan gampang oleh pikirannya sendiri.
Kadang pula, pemahaman pada proses kepenulisan membuatnya semakin mantap bahwa kenyataannya pemahaman perihal proses menulis itu sendiri justru tiba seiring munculnya gagasan untuk segera ia tuliskan.
Membaca dan membandingkan beberapa karya untuk bisa dijadikan refrensi dasar bagi penulis pemula sering dilakukan. Membaca karya sobat lain, yang lebih mantap dalam berkarya tulis akan mengakibatkan dirinya termotivasi bahwa apa yang berhasil temannya tulis itu memantik kesadaran bahwa ia pun bisa untuk menuliskannya. Pemikiran susah untuk bisa menuliskan hal yang sejenis ini pun menjadikannya bertanya-tanya. Apa dan bagaimana menulis menyerupai yang temannya tulis itu?
Kegiatan membandingkan beberapa karya biar sanggup mencicipi gagasan-gagasan apa yang bisa ia ramu kembali membentuk wacana yang ia inginkan sudah tercetak dalam gambarannya. Ide-ide bergeliat di kepala, seakan memaksa keluar dan harus dituliskan. Pemikiran untuk menuliskannya dalam ragam bentuk goresan pena membuat ia merasa sedikit gelimpungan. Alih-alih ingin mementaskan aksara-aksara itu mewakilkan gagasan-gagasan yang berkelindan di kepalanya, ia merasa tersekat kesulitan alasannya ialah apa yang ia tulis tidak sepadan dengan apa yang ia pikirkan. Malah, lebih jelek dari apa yang ia gambarkan. Setelah itu ia kembali melongok dan membaca karya-karya yang sudah ia baca.
Apakah dan bagaiamana menuliskan gagasan yang punya taraf asosiasif serupa bisa dikancah dengan cara yang sama. Namun beda dan belum ia pahami prosesnya.
Epigonis dalam sebuah karya ialah sebuah proses peniruan gaya, cara, dan contoh dalam berkarya. Gaya yang sering ia baca akan kentara bisa terlihat bagaimana mereka berkarya. Cara penyampaian menyerupai apa juga akan terasa penulis pemula ikuti. Di mulai dari alur pemaparan hingga dengan ending yang mengejutkan menyerupai apa yang ia inginkan menyerupai materi bacaannya. Pola-pola dasar kepenulisan yang ia baca ia asumsikan sendiri untuk ia kembali susun, dijadikan amunisinya dalam meramu gagasan itu menjadi satu bentukan wacana sesuai karakternya.
Namun, sesekali lagi. Pemilihan proses kreatif penulis ternyata memang mengalami tahapan fase ini. Mengikuti beberapa gaya dari penulis lain dan kemudian berupaya melepaskan dari jeratan imbas penulis yang ia pernah titi dan gugu karyanya.
Menjadi seorang penulis pemula dengan karakter menyerupai penulis senior memang bukan hal yang haram. Bahkan legalisasi penulis sendiri sering pula mengikuti proses kreatif semacam ini. Sekaliber Putu Wijaya pun pernah mengaku pernah mengekor pada penulis favoritnya.
Namun, yang menjadi batasan bagi penulis yang mengalami fase ini ialah seberapa usang ia terus menerus mengekor gaya penulis yang ia ikuti itu. Jika terus-menerus mengekor pada karyanya, dan tidak berusaha mengeksplorasi gaya sesuai dengan karakternya akan membuatnya terjebak sendiri. Apakah ia benar-benar seorang penulis dengan karakternya sendiri ataukah ia mengingkan terperangkap oleh imbas penulis-penulis yang ia kagumi saja.
Perkembangan dunia literasi, khususnya dunia sastra semakin terus meningkat. Beberapa nama penulis pemula semakin mewarnai kancah kesustraan di negeri ini. Pun, beberapa penulis yang sudah usang menduduki dan terus keberadaan dalam berkarya pun turut senang.
Namun, ada beberapa yang mengkhawatirkan mengenai perkembangan sastra itu sendiri. S Prasetyo Utomo pernah menuliskan bahwa cerpenis sanggup dikategorikan dalam 3 karakter. Salah satu karakter yang sanggup membawa perkembangan cerpen di masa mendatang ialah "cerpenis yang ingin mencipta cerpen yang mencitrakan gelora eksplorasi struktur narasi dan tema, dengan kegigihan untuk menemukan gaya bercerita yang berbeda dari para cerpenis ternama. Cerpen-cerpen serupa ini, tentu, memberi keinginan akan perkembangan cerpen di masa mendatang, dengan kekuatan obsesi akan lahirnya generasi gres cerpenis Indonesia. Kekuatan fantasi, kehendak untuk membongkar struktur cerita, menyajikan kisah yang memperkaya batin pembaca, menjadi obsesi penciptaan cerpenis." (Suara Merdeka, 26 Mei 2013).
Gelora dalam bereksplorasi struktur narasi dan tema, dengan kegigihan membuat gaya bercerita yang berbeda dari para cerepnis ternama ialah salah satu kunci yang diberikan gejala oleh seorang dosen IKIP UNNES tersebut.
Penilaian ini memang sarat manfaat bagi penulis pemula. Meramu pengetahuan dari apa yang ia ikuti dari penulis-penulis ternama akan membawa diri karakter tulisannya untuk menghasilkan hal-hal yang gres dalam dunia sastra, khususnya prosa cerpen.
Lantas, menyerupai apakah mengeksplorasi struktur narasi dan tema dan tema menyerupai yang dituliskan S. Prasetyo Utomo tersebut?
Inilah yang menjadi PR bagi para penulis pemula bahwa balasan itu sanggup ditemukan sendiri oleh para penulis. Gaya dalam bahasa terutama dalam memaparkan gagasan di kepalanya dalam bentuk goresan pena tentu menjadi sesuatu hal yang unik. Mengingat setiap individu penulis mempunyai karkaternya dalam berkarya. Proses menulis inilah yang akan menjerang pemahamannya selama ia sanggup memahami bahwa struktur goresan pena yang ia kembangkan sendiri akan semakin membuatnya mantap, namun itu akan disadari sebagai sebuah yang membuatnya tersadarkan.
Kesadaran untuk mengukur kemampuan dalam mengeksplorasi struktur narasi untuk menghasilkan eksistensinya dalam berkarya. Bahkan, ketika keberadaan pecahan dari karya. Maka bersama-sama kita telah menciptakan diri sendiri. Namun, cara yang sempurna untuk mengetahui kapasitas diri, ternyata bukan mengukur kemampuan, melainkan sejauh mana kebodohan dalam diri kita. *)
*Di ambil dari banyak sekali sumber
*Catatan ini pernah dipublikasikan di Catatan Facebook eksklusif dengan judul: Epigonis Bagi Seorang yang Memulai Memijakkan Kakinya pada Tangga Penulis. Dipublish tanggal 27 Mei 2013
Kadang juga penulis menemukan kesan yang teramat dalam batinnya kemudian memulai untuk menjerang kata-katanya membentuk wacana. Ada juga dari sering berkorespondensi dengan beberapa teman, meminta saran dan kritik, serta memintakan pendapat perihal apa-apa yang ditulisnya juga merupakan arah yang mantap dari karakter tulisannya.
Baca juga: Hakikat Menulis Cerpen Untuk Surat Kabar
Proses menulis sendiri bagi diri penulis merupakan proses yang amat panjang. Butuh waktu untuk memahaminya untuk bisa ia jelaskan dengan gampang oleh pikirannya sendiri.
Kadang pula, pemahaman pada proses kepenulisan membuatnya semakin mantap bahwa kenyataannya pemahaman perihal proses menulis itu sendiri justru tiba seiring munculnya gagasan untuk segera ia tuliskan.
Membaca dan membandingkan beberapa karya untuk bisa dijadikan refrensi dasar bagi penulis pemula sering dilakukan. Membaca karya sobat lain, yang lebih mantap dalam berkarya tulis akan mengakibatkan dirinya termotivasi bahwa apa yang berhasil temannya tulis itu memantik kesadaran bahwa ia pun bisa untuk menuliskannya. Pemikiran susah untuk bisa menuliskan hal yang sejenis ini pun menjadikannya bertanya-tanya. Apa dan bagaimana menulis menyerupai yang temannya tulis itu?
Kegiatan membandingkan beberapa karya biar sanggup mencicipi gagasan-gagasan apa yang bisa ia ramu kembali membentuk wacana yang ia inginkan sudah tercetak dalam gambarannya. Ide-ide bergeliat di kepala, seakan memaksa keluar dan harus dituliskan. Pemikiran untuk menuliskannya dalam ragam bentuk goresan pena membuat ia merasa sedikit gelimpungan. Alih-alih ingin mementaskan aksara-aksara itu mewakilkan gagasan-gagasan yang berkelindan di kepalanya, ia merasa tersekat kesulitan alasannya ialah apa yang ia tulis tidak sepadan dengan apa yang ia pikirkan. Malah, lebih jelek dari apa yang ia gambarkan. Setelah itu ia kembali melongok dan membaca karya-karya yang sudah ia baca.
Apakah dan bagaiamana menuliskan gagasan yang punya taraf asosiasif serupa bisa dikancah dengan cara yang sama. Namun beda dan belum ia pahami prosesnya.
Epigonis dalam sebuah karya ialah sebuah proses peniruan gaya, cara, dan contoh dalam berkarya. Gaya yang sering ia baca akan kentara bisa terlihat bagaimana mereka berkarya. Cara penyampaian menyerupai apa juga akan terasa penulis pemula ikuti. Di mulai dari alur pemaparan hingga dengan ending yang mengejutkan menyerupai apa yang ia inginkan menyerupai materi bacaannya. Pola-pola dasar kepenulisan yang ia baca ia asumsikan sendiri untuk ia kembali susun, dijadikan amunisinya dalam meramu gagasan itu menjadi satu bentukan wacana sesuai karakternya.
Namun, sesekali lagi. Pemilihan proses kreatif penulis ternyata memang mengalami tahapan fase ini. Mengikuti beberapa gaya dari penulis lain dan kemudian berupaya melepaskan dari jeratan imbas penulis yang ia pernah titi dan gugu karyanya.
Menjadi seorang penulis pemula dengan karakter menyerupai penulis senior memang bukan hal yang haram. Bahkan legalisasi penulis sendiri sering pula mengikuti proses kreatif semacam ini. Sekaliber Putu Wijaya pun pernah mengaku pernah mengekor pada penulis favoritnya.
Namun, yang menjadi batasan bagi penulis yang mengalami fase ini ialah seberapa usang ia terus menerus mengekor gaya penulis yang ia ikuti itu. Jika terus-menerus mengekor pada karyanya, dan tidak berusaha mengeksplorasi gaya sesuai dengan karakternya akan membuatnya terjebak sendiri. Apakah ia benar-benar seorang penulis dengan karakternya sendiri ataukah ia mengingkan terperangkap oleh imbas penulis-penulis yang ia kagumi saja.
Perkembangan dunia literasi, khususnya dunia sastra semakin terus meningkat. Beberapa nama penulis pemula semakin mewarnai kancah kesustraan di negeri ini. Pun, beberapa penulis yang sudah usang menduduki dan terus keberadaan dalam berkarya pun turut senang.
Namun, ada beberapa yang mengkhawatirkan mengenai perkembangan sastra itu sendiri. S Prasetyo Utomo pernah menuliskan bahwa cerpenis sanggup dikategorikan dalam 3 karakter. Salah satu karakter yang sanggup membawa perkembangan cerpen di masa mendatang ialah "cerpenis yang ingin mencipta cerpen yang mencitrakan gelora eksplorasi struktur narasi dan tema, dengan kegigihan untuk menemukan gaya bercerita yang berbeda dari para cerpenis ternama. Cerpen-cerpen serupa ini, tentu, memberi keinginan akan perkembangan cerpen di masa mendatang, dengan kekuatan obsesi akan lahirnya generasi gres cerpenis Indonesia. Kekuatan fantasi, kehendak untuk membongkar struktur cerita, menyajikan kisah yang memperkaya batin pembaca, menjadi obsesi penciptaan cerpenis." (Suara Merdeka, 26 Mei 2013).
Gelora dalam bereksplorasi struktur narasi dan tema, dengan kegigihan membuat gaya bercerita yang berbeda dari para cerepnis ternama ialah salah satu kunci yang diberikan gejala oleh seorang dosen IKIP UNNES tersebut.
Penilaian ini memang sarat manfaat bagi penulis pemula. Meramu pengetahuan dari apa yang ia ikuti dari penulis-penulis ternama akan membawa diri karakter tulisannya untuk menghasilkan hal-hal yang gres dalam dunia sastra, khususnya prosa cerpen.
Lantas, menyerupai apakah mengeksplorasi struktur narasi dan tema dan tema menyerupai yang dituliskan S. Prasetyo Utomo tersebut?
Inilah yang menjadi PR bagi para penulis pemula bahwa balasan itu sanggup ditemukan sendiri oleh para penulis. Gaya dalam bahasa terutama dalam memaparkan gagasan di kepalanya dalam bentuk goresan pena tentu menjadi sesuatu hal yang unik. Mengingat setiap individu penulis mempunyai karkaternya dalam berkarya. Proses menulis inilah yang akan menjerang pemahamannya selama ia sanggup memahami bahwa struktur goresan pena yang ia kembangkan sendiri akan semakin membuatnya mantap, namun itu akan disadari sebagai sebuah yang membuatnya tersadarkan.
Kesadaran untuk mengukur kemampuan dalam mengeksplorasi struktur narasi untuk menghasilkan eksistensinya dalam berkarya. Bahkan, ketika keberadaan pecahan dari karya. Maka bersama-sama kita telah menciptakan diri sendiri. Namun, cara yang sempurna untuk mengetahui kapasitas diri, ternyata bukan mengukur kemampuan, melainkan sejauh mana kebodohan dalam diri kita. *)
*Di ambil dari banyak sekali sumber
*Catatan ini pernah dipublikasikan di Catatan Facebook eksklusif dengan judul: Epigonis Bagi Seorang yang Memulai Memijakkan Kakinya pada Tangga Penulis. Dipublish tanggal 27 Mei 2013







