Halloween Costume ideas 2015

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Alasan Mengapa Orang Malas



Malas atau istilah kekiniannya 'mager', malas gerak, sering melanda setiap orang. Pelaku bergotong-royong mengetahui betul bahwa malas itu akan menghambat tujuan dari keinginannya terwujud. Sayangnya, rasa malas sudah merupakan pilihan bagi pelaku lantaran sudah berada dalam zona nyaman.

Bukan siapa-siapa, saya sendiri sering mengalami fase malas ini. Berasa pada zona nyaman sering terbuai dan otak berpikir bahwa apa yang sedang dikerjakan dikala ini lebih mengasyikan dibandingkan dengan pekerjaan yang terbayang menumpuknya.

 Pelaku bergotong-royong mengetahui betul bahwa malas itu akan menghambat tujuan dari keinginann Alasan Mengapa Orang Malas


Rasa malas merupakan kegiatan psikologis seseorang dimana syaraf/otak kita merespon kenyamanan lebih penting daripada apa-apa yang dianggap penting dan seharusnya dilakukan. Hal ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh seorang motivator sekaligus penulis produktif best seller "RESEP CESPLENG MENULIS BUKU BESTSELLER", Edy Zaques. Beliau menyampaikan bahwa rasa malas ialah keengganan seseorang untuk melaksanakan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya ia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas ialah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll.

Sudah terperinci bahwa malas merupakan sikap negatif yang merugikan. Pasalnya, ini akan menghambat bahkan menghalangi produktivitas seseorang dalam bekerja. Kita semua niscaya mencicipi imbas dari malas ini. Kegagalan yang kita alami salah satunya akhir dari rasa malas.
Namun tidak sedikit kegagalan itu lantaran faktor keberuntungan. Akan tetapi, faktor keberuntungan dengan faktor kemalasan akan memperlihatkan imbas 'kaduhung'/menyesal yang berbeda. Jika lantaran keberuntungan, maka orang tersebut akan menerimanya lantaran faktor yang disebabkan di luar darinya. Jika lantaran kemalasan ini akan menghukum diri secara psikologis mengapa seharusnya kita dilarang malas.

Nah, untuk mengetahui alasan lebih lanjut mengapa seseorang berperilaku malas, berikut saya rangkum beberapa alasannya.

1. Faktor Kecerdasan Afektif yang salah

Setiap orang mempunyai tiga kecerdasan utama dalam dirinya. Yaitu kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotor. Afek kognitif berkaitan dengan kecerdasan berpikir seseorang. Afektif berkaitan dengan pengolahan perasaan seseorang. Sedangkan psikomotor berkaitan dengan keterampilan seseorang.

Hubungan rasa malas dengan kecerdasan afektif ialah lantaran faktor rasa nyaman yang menghinggapinya. Sebagaimana yang saya sebutkan tadi, perasaan nyaman pada sikap malas ini lebih mengalahkan kecerdasan bernalarnya dalam mempertimbangkan imbas negatif dari malas. Si pemalas akan lebih menentukan kenyamanan dengan sikap malasnya dibanding dengan pikirannya bahwa malas itu mempunyai dampak negatif di kemudian hari.

Perlu diketahui bahwa dalam ranah afektif terdapat beberapa aspek yang melingkupinya. Yaitu:

a. Receiveing (penerimaan)
b. Responding (Respon)
c. Valuing (penilaian)
d. Organization (pengorganisasian)
e. Characterization (karakter)

Kelima aspek tersebut sanggup dipersingkat dengan 3 aspek yaitu minat, sikap, dan nilai.

Penjelasannya ibarat ini:

Ketika seseorang dalam fase malas akan mendapatkan 'kenyamanan' untuk tidak melaksanakan apapun. Kenyamanan ini ia terima sebagai perasaan yang menyenangkan (zona nyaman) dalam perasaan. Penerimaan (Recieving) ini menjadikan penyadaran (awareness) yang salah dimana akan sikap atau sikap kita merespon (responding) untuk menolak logika (pikiran) bahwa malas itu bergotong-royong akan merugikan dirinya.

Setelah merespon kenyamanan yang salah tersebut, pelaku akan menilai dengan segudang alasan bahwa pekerjaan yang seharusnya dilakukan itu akan mempunyai toleransi. Maksudnya, ia akan bisa beralasan bahwa pekerjaan yang seharusnya dilakukan dikala ini sanggup dikerjakan nanti. Penilaian ini justru akan menjadikan kekacauan dalam kerangka berpikirnya kelak. Setelah Pengorganisasian (organization) perasaan ketika ia melaksanakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan jauh-jauh hari dengan pekerjaan dikala itu juga. Pelaku akan merasa terpaksa untuk melakukannya padahal itu merupakan sesuatu yang semesti dilakukannya.

Belum lagi ketika pelaku kemalasan telah mengalami ambang batas kesadarannya. Ketika kegagalan itu ia alami sebagai suatu konsekuensi dari penerimaan zona nyaman. Hal itu akan menjadikan huruf negatif yang terus terbentuk pada diri seseorang.

2. Faktor biologis

Banyak yang tidak menyadari bahwa faktor biologis juga mensugesti seseorang mengalami rasa malas. Kelelahan, banyak mengkonsumsi makanan, serta sistem syaraf (otak) yang meliputinya pun turut menjadi faktor ini.

Kelelahan mungkin bisa diterima ketika seseorang merasa malas untuk melaksanakan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Kondisi dimana sesorang tidak mempunyai tenaga dan merasa lemas untuk beraktifitas akan menjadikan rasa malas. Sayangnya, rasa malas itu merupakan suatu tindakan negatif dimana kondisi dalam keadaan sehat atau tidak menglami gangguan apapun. Sehingga, faktor kelelahan tersebut masih belum bisa dikategorikan sebagai alasan utama rasa malas.

Kemudian kondisi dimana seseorang merasa kekenyangan. Dimana sikap malas akhir rasa malas ini menciptakan kondisi badan merasa perlu untuk mengistirahatkan sebagaian tubuhnya untuk membiarkan badan memproses masakan menjadi sumber tenaga. Dan ini masih bisa tertolerir sebagai suatu yang bukan alasan khusus yang menjadikan kemalasan.

Alasan mengapa saya memasukan sebagai alasan mengapa faktor biologis sebagai alasan kemalasan seseorang ialah lantaran faktor pencegahannya. Kita harus bisa mencegah badan kita semoga malas sekaligus menghindari masakan berlebih semoga tidak terjangkiti rasa malas.

Dalam kitab Ta'lim Muta'alim, ada panduan dimana masakan berlebih memang menjadi faktor utama sebagai kemalasan dalam beribadah. Beberapa kitab kuning menyebutkan bahwa kekenyangan akan menciptakan orang malas untuk beribadah. Di sinilah alasan ini dibentuk lantaran faktor biologis juga mensugesti sikap malas itu sendiri.

Belum lagi, beberapa evaluasi menyebutkan bahwa kemalasan seseorang sanggup terdeteksi oleh peneliti di bidang kedokteran. Melalui alat MRI (Magnetic Resonance Imaging). Para peneliti telah melaksanakan pemindaian dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk meneliti motivasi dan rasa malas. Hasil scan memperlihatkan bahwa ketika orang memutuskan untuk melaksanakan sesuatu, korteks pra-motor pada otaknya cenderung menyala sesaat sebelum titik lain di otak yang mengendalikan gerakan menjadi aktif.


 Pelaku bergotong-royong mengetahui betul bahwa malas itu akan menghambat tujuan dari keinginann Alasan Mengapa Orang Malas


Namun pada orang yang malas, korteks pra-motor ini justru tidak menyala lantaran koneksinya terputus. Peneliti menduga bahwa koneksi otak yang menghubungkan “keputusan untuk melaksanakan sesuatu” menjadi tindakan aktual menjadi kurang efektif pada orang yang malas. Akibatnya, otak mereka harus melaksanakan upaya yang lebih keras untuk mengubah keputusan yang diambil otak menjadi tindakan agresi yang nyata.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cerebral Cortex pada tahun 2012 menemukan bahwa tingkat dopamin di otak juga sanggup berdampak pada motivasi seseorang dalam melaksanakan sesuatu. Tingkat dopamin akan memperlihatkan dampak yang berbeda di aneka macam area otak. Peneliti menemukan bahwa para pekerja keras mempunyai dopamin paling banyak di dua area otak yang memainkan kiprah penting dalam penghargaan dan motivasi; namun mempunyai tingkat dopamin yang rendah di insula anterior, wilayah yang terkait dengan penurunan motivasi dan persepsi. (sumber: https://www.msn.com/id-id/gayahidup/hidup-pintar/rasa-malas-ternyata-disebabkan-gangguan-di-otak-bagaimana-mengatasinya/ar-AApB4qA)

Jadi jelaslah faktor biologis juga sanggup mensugesti kemalasan seseorang

3. Kecerdasan spritual seseorang (Lemah dogma atau dalam keadaan futur)

Selain pengklasifikasian ketiga kecerdasan di atas, kecerdasan juga sanggup dikelompokkan menjadi tiga yaiut IQ (Intelectual Quostiont), EQ (Emotional Quotiont), dan SQ (Spiritual Quotiont). Ketiga kecerdasan di sini yang akan saya bahas ialah SQ.


 Pelaku bergotong-royong mengetahui betul bahwa malas itu akan menghambat tujuan dari keinginann Alasan Mengapa Orang Malas


Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, Kecerdasan Spiritual sesuatu yang kita akai untuk berbagi kemampuan dan kerinduan kita akan makna, visi, dan nilai. Kecerdasan ini memungkinkan kita untuk bermimpi dan berjuang. Dia mendasari hal-hal yang kita percayai dan kiprah yang dimainkan oleh kepercayaan maupun nilai-nilai dalam tindakan yang kita ambil.

Kecerdasan sosial berkaitan dengan keyakinan. Orang malas mempunyai tingkat keimanan yang rendah dimana ia akan melalaikan kewajiban sebagai perangkat keimanan. Agama mengatur umatnya untuk selalu berbuat baik bagi kehidupannya. Dengan meyakini dan mengimani segala perintah dan laranganNya maka segala sifat malas berusaha akan selalu dihindarinya.

Orang malas sering tidak mengetahui makna hidupnya. Sebab yang ia lakukan belum mempunyai arti apa-apapun bagi kehidupannya.

Ada dongeng menarik ketika Einstein ditanya, pertanyaan apa yang akan ia olok-olokan kepada Tuhan kalau ia sanggup bertanya. Einstein menjawab, "Bagaimana awal mula jagad raya ini? Karena segala sesuatu sesudahnya hanya problem Matematika." Tetapi, setelah berpikir sesaat. Einstein mengubah pikirannya kemudian bilang, "Bukan itu. Saya yang akan bertanya, 'Kenapa dunia ini diciptakan?' Karena dengan demikian saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri."

Bayangkan, seorang Einstein yang mempunyai IQ tinggi saja masih memikirkan makna hidupnya.

Sebenarnya masih banyak faktor-faktor yang menciptakan malas seseorang. Namun, apapun alasan faktornya kemalasan tetaplah sikap atau sikap negatif yang dilarang tertolerir.



Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget