Halloween Costume ideas 2015

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Menjadi Guru Profesional Yaitu Keinginan Wajib Dikala Ini



Barangkali hampir semua guru ingin menimbulkan seorang guru yang profesional. Keinginannya untuk memenuhi sasaran ketercapaian prestasi di dalam kelas maupun secara administrasi. Kemampuannya mencakup segala hal yang dibutuhkan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Ada beberapa ukuran yang menimbulkan seorang guru disebut guru profesional. Disamping menguasai beberapa teknik dan teori berguru juga beberapa psikologis pribadi guru yang menuntutnya menjadi insan yang layak digugu dan ditiru.

Guru profesional merupakan predikat yang tanpa sengaja mengotak-kotakan puluhan ribu guru di Indonesia. Bagi guru yang belum memenuhi syarat sebagai guru profesional dianggap belum layak menyandang guru. Meskipun anak didik yang telah diasuhnya telah menerangkan hal lain yang tidak terbaca oleh segala bentuk indikator profesional.

Sebelum menjadi guru, seorang guru mengenyam pendidikan yang membekali dirinya bersentuhan eksklusif dengan anak murid. Pengalaman demi pengalaman selama mengajar membentuk insan guru kaya akan pengetahuan psikologis anak. Akan tetapi, pengalaman yang tidakmembelajarkan seorang guru untuk terus menunjukkan bantuan aktual kepada anak murid dianggap sebagai hal yang general. Padahal, oleh beberapa oknum guru, semua guru dianggap perlu untuk membina puluhan guru menjadi guru profesional.

Memang alasan pemerintah menaikan taraf hidup penghidupan guru yakni sebagai bentuk tanggung jawab negara membangun bangsa yang beradab. Menjadikan guru lebih terhormat, berkompeten, dan berkecukupan akan mendatangkan rasa gembira menjadi seorang pendidik.

Sejarah menerangkan, kehidupan guru selama ini sungguh memprihatinkan. Sebelum adanya sertifikasi, sebelum adanya kelayakan honor guru, guru menjadi pekerjaan yang tidak dicita-citakan oleh kebanyakan orang. Hampri tidak semua ingin menjadi seorang guru sebab kehidupan guru tidak sanggup mensejahterakan kehidupan turunannya.

Dulu guru sering mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menjadi tukang ojeg sehabis mengajar, kuli, atau kerja serabutan menjadi hal biasa bagi kehidupan guru. Kehidupan guru menyerupai ini begitu memilukan. Guru yang sejatinya membentuk orang-orang pintar, sukses, terpelajar, terpandang, terhormat, malah kehidupannya pribadinya sungguh memilukan. Tak sebanding dengan jasa-jasa membuat generasi bangsa yang lebih beruntung perekonomian.

Oleh sebab itu, semenjak digulirkan sertifikasi guru, insan guru terasa bahagia. Guru tidak lagi harus memikirkan bagaimana mendapat penghasilan tambahan di luar tugasnya mengajar. Guru tidak lagi berurusan dengan segala macam kebutuhan yang harus dicari pemenuhannya. Guru benar-benar dipikirkan kesejahteraannya.

Sayangnya, pemenuhan kesejahteraan tersebut diiringi dengan tugas-tugas manajemen yang membingungkan. Tugas mengajar dan mendidik saja belumlah cukup untuk mendapat kesejahteraan tersebut. Guru sekarang dibebankan dengan kiprah lain untuk meyakinkan pemerintah telah melakukan tanggung jawabnya. Padahal, tanpa diminta untuk bertanggung jawab secara manajemen pun guru telah menimbulkan tanggung jawab mengajar dan mendidik yakni kiprah moral yang berhadapan eksklusif dengan Tuhan yang Maha Esa.

Saya rasa itu masuk akal terjadi. Mengingat puluhan guru tidak semuanya guru yang mempunyai niat lilhhi ta’ala. Tidak semua guru ingin mendidik anak didiknya menjadi insan beriman dan bertakwa saja. Kesejahteraan yang digariskan pemerintah tersebut malah sering dijadikan tumbal alasan bagi rasa kekurangan bagi guru. Tolak ukur kesejahteraan pun menjadi sesuatu yang tak bisa mensejahterakan guru.
 Baca juga: Bacalah buku sehabis mengaji (Membaca Al-quran)
Memang insan selalu merasa tidak merasa berkecupan. Beberapa oknum guru sering kali bandel tetap mencari sampingan pekerjaan. Padahal oknum guru tersebut sudah mendapat sertifikasi dan layak sebagai guru profesional. Rasa cukup tersebut kembali diukur oleh kebutuhan keseharian oknum guru yang merasa belum puas terhadap apa-apa yang telah didapatkan.

Ah, tidak. Saya rasa di hati yang paling dalam, setiap guru mempunyai pribadi yang lapang dada untuk mengajar dan mendidik anak murid sampai pintar. Segala faktor yang melencengkan tugasnya itu sering menimbulkan niat awal melenceng jauh. Keadaan dan situasi terkadang belum bisa disikapi oleh semua guru. Karena ini menyangkut tabiat dan aksara guru sebagai insan biasa.

Apapun itu saya rasa menjadi guru profesional yakni suatu kewajiban mutlak. Sering memperbaiki diri dan terus meningkatkan kualitas diri dihadapan manuisa dan Tuhan yakni sesuatu kebutuhan rohani setiap guru. Semua itu semoga niat awal mendidik dan mengajar tetap terjaga. Sebab insan guru yakni insan yang terpilih menjadi hamba Tuhan untuk memberikan kebenaran yang bersumber dari Tuhan yang maha Esa.

Kualitas guru untuk memperbaiki diri dari segala bidang kehidupan. Mulai dari sisi religiusitasnya terhadap Tuhan sampai sosialisasi terhadap kehidupan masyarakat menjadi salah satu contoh pokok yang diinginkan pemerintah dalam menimbulkan tolak ukur ‘guru profesional’. Pemerintah melalui lembaganya benar-benar mengkaji setiap unsur yang diperlukan dari insan guru. Pemerintah tahu, tentu ada beberapa oknum dari kaum guru sendiri yang mencoreng martabatnya. Meski berimbas pada tuntutan, pemerintah berharap tuntutan yang digariskan pemerintah dalam menimbulkan guru profesional bukan dijadikan tuntutan. Namun semangat memperbaiki kualitas kehidupan seorang guru.

Post a Comment

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget