Assalamualaikum ...,
Beberapa hari terakhir ini kita dikagetkan dengan beredarnya video viral mengenai telur palsu. Video tersebur menyebar begitu cepat sampai menjadikan banyak pihak dirugikan.
Beredarnya video viral di media umum menciptakan masyarakat khawatir mengkonsumsi jenia protein binatang ini. Pasalnya, kalau benar-benar info ini benar maka kesehatan anggota keluarganya akan terganggu.
Tidak hanya itu, pedagang telur pun dilaporkan mengalami kerugian. Omset penjualan mereka menurun drastis alasannya masyarakat mulai percaya.
Beredarnya video palsu bermula dengan adanya sebuah produksi telur mainan di Korea. Video ini menjelaskan bagaimana proses produksi menciptakan mainan berupa telur palsu.
Sayangnya, video ini masuk ke Indonesia dengan ragam persepsi. Apalagi kini isu sara begitu sensitif menjangkiti masyarakat kita. Ada oknum yang memuat ulang video pembuatan telur mainan itu dengan judul yang spekulatif.
Akibatnya, isu ini pun menyerempet pada salah satu ras yang ada di Indonesia. Mereka menganggap orang Cina ingin merusak bangsa Indonesia dengan produk telur palsu. Video pun beredar oleh oknum yang memang tidak suka dan anti terhadap mereka. Akhirnya viral-lah video tersebut dengan judul dan deskripsi yang salah.
Setelah beredar video viral telur palsu (video bekerjsama yakni video produksi mainan berupa telur dari Korea), ada salah satu warga mendemonstrasikan apa yang ia pahami dari video tersebut. Dia menciptakan video ulang dengan merekam video sendiri dari ponselnya dan memperlihatkan judul "Cara membedakan Telur Palsu."
Video ala Syahroni pun menjadi viral. Banyak masyarakat percaya pada video buatan Syahroni ini. Masyarakat pun terus menerus membagikan konten video tersebut ke banyak orang lain. Maka, masyarakat semakin percaya bahwa ada telur palsu yang beredar di pasaran.
Sebenarnya, niat Syahroni sudah benar. Ingin membagikan informasi kepada masyarakat supaya tidak mengkonsumsi barang berbahaya. Bahkan diberitakan di media-media online, Syahroni sempat melaporkan telur (yang ia anggap palsu) ditarik dari peredaran.
Untungnya, kepolisian bergerak cepat. Komisaris Besar Pol Asep Safrudin, Kepala Subdit II Direktorat Tindak Pidana Bareskrim, berafiliasi dengan Dinas KPKP, Dinas Peternakan dan Food Station, menyatakan bahwa telur yang dideskripsikan Syahroni tidak benar.
Dalam video Syahroni menyebutkan telur yang beredar di Pasar Johar Baru yakni palsu. Namun, isu ini ditampik oleh penelusuran polisi. Mereka menyampaikan bahwa telur yang beredar si Pasar Johar Baru yakni tidak palsu. Bahkan telur tersebut siap dikonsumi (sumber: viva.co.id).
Setelah beredarnya video tersebut dan konfirmasi dari dinas terkait, balasannya Syahroni meminta maaf. Dia menyampaikan bahwa apa yang didemonstrasikannya yakni salah besar.
Syahroni mengakui bahwa ia tidak mempunyai pengetahuan yang dalam untuk membedakan telur palsu. Dia hanya mempraktekkan informasi dari Whatsapp dan meyakini asumsinya ini. Sayangnya, keyakinan tersebut dipatahkan saja melalui penelitian dari dinas terkait.
Boleh jadi dengan pesatnya perkembangan teknologi semua orang begitu gampang mendapat informasi aktual. Namun, informasi yang beredar tersebut belum cukup dikatakan benar-benar fakta. Butuh pembuktian mendalam supaya informasi tersebut diterima dengan yakin.
Beberapa hari terakhir ini kita dikagetkan dengan beredarnya video viral mengenai telur palsu. Video tersebur menyebar begitu cepat sampai menjadikan banyak pihak dirugikan.
![]() |
| Sumber gambar: rri.co.id |
Beredarnya video viral di media umum menciptakan masyarakat khawatir mengkonsumsi jenia protein binatang ini. Pasalnya, kalau benar-benar info ini benar maka kesehatan anggota keluarganya akan terganggu.
Tidak hanya itu, pedagang telur pun dilaporkan mengalami kerugian. Omset penjualan mereka menurun drastis alasannya masyarakat mulai percaya.
Awal dongeng Video Palsu
Beredarnya video palsu bermula dengan adanya sebuah produksi telur mainan di Korea. Video ini menjelaskan bagaimana proses produksi menciptakan mainan berupa telur palsu.
Sayangnya, video ini masuk ke Indonesia dengan ragam persepsi. Apalagi kini isu sara begitu sensitif menjangkiti masyarakat kita. Ada oknum yang memuat ulang video pembuatan telur mainan itu dengan judul yang spekulatif.
Akibatnya, isu ini pun menyerempet pada salah satu ras yang ada di Indonesia. Mereka menganggap orang Cina ingin merusak bangsa Indonesia dengan produk telur palsu. Video pun beredar oleh oknum yang memang tidak suka dan anti terhadap mereka. Akhirnya viral-lah video tersebut dengan judul dan deskripsi yang salah.
Kisah Syahroni Si Pembuat Video Palsu Ala Indonesia
Setelah beredar video viral telur palsu (video bekerjsama yakni video produksi mainan berupa telur dari Korea), ada salah satu warga mendemonstrasikan apa yang ia pahami dari video tersebut. Dia menciptakan video ulang dengan merekam video sendiri dari ponselnya dan memperlihatkan judul "Cara membedakan Telur Palsu."
Video ala Syahroni pun menjadi viral. Banyak masyarakat percaya pada video buatan Syahroni ini. Masyarakat pun terus menerus membagikan konten video tersebut ke banyak orang lain. Maka, masyarakat semakin percaya bahwa ada telur palsu yang beredar di pasaran.
Sebenarnya, niat Syahroni sudah benar. Ingin membagikan informasi kepada masyarakat supaya tidak mengkonsumsi barang berbahaya. Bahkan diberitakan di media-media online, Syahroni sempat melaporkan telur (yang ia anggap palsu) ditarik dari peredaran.
Pemerintah Mereduksi Kekhawatiran Telur Palsu
Untungnya, kepolisian bergerak cepat. Komisaris Besar Pol Asep Safrudin, Kepala Subdit II Direktorat Tindak Pidana Bareskrim, berafiliasi dengan Dinas KPKP, Dinas Peternakan dan Food Station, menyatakan bahwa telur yang dideskripsikan Syahroni tidak benar.
Dalam video Syahroni menyebutkan telur yang beredar di Pasar Johar Baru yakni palsu. Namun, isu ini ditampik oleh penelusuran polisi. Mereka menyampaikan bahwa telur yang beredar si Pasar Johar Baru yakni tidak palsu. Bahkan telur tersebut siap dikonsumi (sumber: viva.co.id).
Syahroni Meminta Maaf
Setelah beredarnya video tersebut dan konfirmasi dari dinas terkait, balasannya Syahroni meminta maaf. Dia menyampaikan bahwa apa yang didemonstrasikannya yakni salah besar.
Syahroni mengakui bahwa ia tidak mempunyai pengetahuan yang dalam untuk membedakan telur palsu. Dia hanya mempraktekkan informasi dari Whatsapp dan meyakini asumsinya ini. Sayangnya, keyakinan tersebut dipatahkan saja melalui penelitian dari dinas terkait.
Kesimpulan:
Boleh jadi dengan pesatnya perkembangan teknologi semua orang begitu gampang mendapat informasi aktual. Namun, informasi yang beredar tersebut belum cukup dikatakan benar-benar fakta. Butuh pembuktian mendalam supaya informasi tersebut diterima dengan yakin.

Post a Comment