Halloween Costume ideas 2015
Latest Post
Adsense ANEKA AYAM ANEKA BUBUR KOLAK ANEKA CAMILAN ANEKA DAGING ANEKA ES ANEKA GORENGAN ANEKA IKAN SEAFOOD ANEKA JAJANAN ANEKA KUE ANEKA KUE BASAH ANEKA KUE KERING ANEKA MAKANAN BAYI ANEKA MIE PASTA ANEKA MINUMAN ANEKA NASI ANEKA PUDING ANEKA ROTI ANEKA SAMBAL ANEKA SAYUR MAYUR ANEKA SUP SOTO ANEKA TAHU TEMPE ANEKA TELUR Bahasa Indonesia baju Blogging Catatan Guru SD Cerpen Css/Javascript Designs harga souvenir pernikahan murah bekasi harga souvenir pernikahan murah bogor harga souvenir pernikahan murah depok harga souvenir pernikahan murah jakarta harga souvenir pernikahan murah tangerang How To Informasi Informasi Pendidikan Informasi Umum Internet IPA jual souvenir pernikahan berkualitas bali jual souvenir pernikahan berkualitas bandung jual souvenir pernikahan berkualitas banjarmasin jual souvenir pernikahan berkualitas batam jual souvenir pernikahan berkualitas bekasi jual souvenir pernikahan berkualitas bogor jual souvenir pernikahan berkualitas depok jual souvenir pernikahan berkualitas jakarta jual souvenir pernikahan berkualitas medan jual souvenir pernikahan berkualitas palembang jual souvenir pernikahan berkualitas tangerang jual souvenir pernikahan lucu bali jual souvenir pernikahan lucu bandung jual souvenir pernikahan lucu banjarmasin jual souvenir pernikahan lucu batam jual souvenir pernikahan lucu bekasi jual souvenir pernikahan lucu bogor jual souvenir pernikahan lucu depok jual souvenir pernikahan lucu jakarta jual souvenir pernikahan lucu medan jual souvenir pernikahan lucu palembang jual souvenir pernikahan lucu tangerang jual souvenir pernikahan murah bali jual souvenir pernikahan murah bandung jual souvenir pernikahan murah banjarmasin jual souvenir pernikahan murah batam jual souvenir pernikahan murah bekasi jual souvenir pernikahan murah bogor jual souvenir pernikahan murah depok jual souvenir pernikahan murah medan jual souvenir pernikahan murah palembang jual souvenir pernikahan murah tangerang jual souvenir pernikahan rekomended bali jual souvenir pernikahan rekomended bandung jual souvenir pernikahan rekomended banjarmasin jual souvenir pernikahan rekomended batam jual souvenir pernikahan rekomended bekasi jual souvenir pernikahan rekomended bogor jual souvenir pernikahan rekomended depok jual souvenir pernikahan rekomended jakarta jual souvenir pernikahan rekomended medan jual souvenir pernikahan rekomended palembang jual souvenir pernikahan rekomended tangerang jual souvenir pernikahan terlaris bali jual souvenir pernikahan terlaris bandung jual souvenir pernikahan terlaris banjarmasin jual souvenir pernikahan terlaris batam jual souvenir pernikahan terlaris bekasi jual souvenir pernikahan terlaris bogor jual souvenir pernikahan terlaris depok jual souvenir pernikahan terlaris jakarta jual souvenir pernikahan terlaris medan jual souvenir pernikahan terlaris palembang jual souvenir pernikahan terlaris tangerang jual souvenir pernikahan termurah bali jual souvenir pernikahan termurah bandung jual souvenir pernikahan termurah banjarmasin jual souvenir pernikahan termurah batam jual souvenir pernikahan termurah bekasi jual souvenir pernikahan termurah bogor jual souvenir pernikahan termurah depok jual souvenir pernikahan termurah medan jual souvenir pernikahan termurah palembang jual souvenir pernikahan termurah tangerang jual souvenir pernikahan terpercaya bali jual souvenir pernikahan terpercaya bandung jual souvenir pernikahan terpercaya banjarmasin jual souvenir pernikahan terpercaya batam jual souvenir pernikahan terpercaya bekasi jual souvenir pernikahan terpercaya bogor jual souvenir pernikahan terpercaya depok jual souvenir pernikahan terpercaya jakarta jual souvenir pernikahan terpercaya medan jual souvenir pernikahan terpercaya palembang jual souvenir pernikahan terpercaya tangerang jual souvenir pernikahan unik bali jual souvenir pernikahan unik bandung jual souvenir pernikahan unik banjarmasin jual souvenir pernikahan unik batam jual souvenir pernikahan unik bekasi jual souvenir pernikahan unik bogor jual souvenir pernikahan unik depok jual souvenir pernikahan unik jakarta jual souvenir pernikahan unik medan jual souvenir pernikahan unik palembang jual souvenir pernikahan unik tangerang Kisi-kisi Soal Komputer Label Based Sitemap Themes lainnya Matematika Materi Ajar Multimedia Opini Otak-atik Blog Pages Pedagogis Pendidikan Posts SEO Settings Sitemap Themes Tips TIPS DAN INFO Tools Tutorial Tutorial Ms. Excel Tutorial Print Widgets

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Seseorang enggan menulis sebab tidak tahu untuk apa yang ia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana menulis. Ketidaksukaan menulis tidak lepas dari imbas lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat menulis.

 Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Pengalaman menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil dalam menulis dan mengajarkannya. sebab itu, untuk menutupi keadaan yang sebetulnya muncullah banyak sekali mitos atau pendapat yang keliru perihal menulis dan pembelajarannya.

Di antara mitos tersebut adalah:

1. Menulis itu Mudah


Teori menulis atau mengarang memang mudah. Gampang sekali dihafal. Tetapi menulis atau mengarang bukanlah sekadar teori, melainkan keterampilan. Bahkan ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang.

Sebagai analog, kita rasanya setuju bahwa mengendarai kendaraan itu bukan hanya teori. Sehebat apapun penguasaan teorinya tak akan sanggup menjadi pengandara yang baik. Dia akan arif mengendarai sehabis berlatih, beruji coba, serta mengasah keberanian dan kepekaan.

Begitu pula dengan menulis. Tanpa melibatkan pribadi dalam acara dan latihan menulis, seseorang tidak akan pernah bisa menulis dengan baik. Dia harus mencoba dan berlatih brulang kali: menentukan topik, menentukan tujuan, mengenali pembaca, mencari gosip pendukung, menyusun kerangka karangan, serta menata dan menuangkan ide-idenya. Secara runtut dan tuntas dalam racikan bahasa yang terpahami.

2. Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan Merupakan Inti dari Menulis


Unsur Mekanik ibarat penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengaleniaan, dan pewacanaan tidaklah cukup. Karangan harus mengandung sesuatu isi yang disampaikan. Isi itu berupa ide, gagasan, perasaan, atau gosip yang akan diungkapkan penulis kepada orang lain atau pembaca. Unsur mekanik hanyalah sebagai alat yang dipakai untuk mengemas dan menyajikan isi karangan biar sanggup dipahami dengan baik oleh pembacanya.


3. Menulis itu Harus Sekali Jadi


Menulis dengan sekali jadi sering menciptakan penulisnya tidak puas. Orang yang meyakini bahwa menulis itu harus sekali jadi akan pribadi meremas kertas atau men-delete-nya sebelum goresan pena itu dipublis. Bisa jadi goresan pena itu sudah terpublis atau dianggap selesai, kita akan menemukan celah kekurangan. Misalnya goresan pena itu perlu diperbaiki, ditulis lagi, hingga kita anggap selesai.

Tidak banyak orang yang sanggup menulis sekali jadi. Bahkan penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta pascapenulisan: penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.

4. Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah menulis Dapat Mengajarkan Menulis


Ini yang lebih bahaya. Semisal kita ambil analogi si pengendara kendaraan beroda empat tadi. Mungkinkah orang yang tidak suka dan tidak pernah mengendarai sanggup mengajarkan mengendarai kendaraan beroda empat kepada orang lain. Tentu jawabannya mustahil bisa. Sama halnya dengan mengarang, siapapun yang mengajar mengarang ia harus menyukai dan mempunyai pengalaman dan keterampilan mengarang. Mengapa? Dia harus sanggup menentukan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya mengarang. Sulit membayangkan seorang guru yang takut dan tidak suka menulis sanggup melaksanakan hal itu. Padahal, minat dan kemampuan siswa berguru menulis tak terlepas dari apa yang terjadi pada diri guru dan bagaimana ia mengajarkannya.

Itulah mitos-mitos dalam menulis. Intinya dalam menulis itu merupakan suatu proses yang harus dilalui. Mitos ini biasanya hinggap di antara para penulis pemula atau mereka yang ingin menjadi penulis.
Update: Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahapan Prapenulis

Informasi mengenai gosip mitos dalam menulis ini diajarkan dalam Keterampilan Dasar Menulis. Sumber artikel ini merupakan ringkasan modul PGSD UT. Semoga bermanfaat.

Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Seseorang enggan menulis sebab tidak tahu untuk apa yang ia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana menulis. Ketidaksukaan menulis tidak lepas dari imbas lingkungan keluarga dan masyarakatnya, serta pengalaman pembelajaran menulis atau mengarang di sekolah yang kurang memotivasi dan merangsang minat menulis.

 Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya Mitos atau Pendapat Yang Keliru perihal Menulis dan Pembelajarannya


Pengalaman menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil dalam menulis dan mengajarkannya. sebab itu, untuk menutupi keadaan yang sebetulnya muncullah banyak sekali mitos atau pendapat yang keliru perihal menulis dan pembelajarannya.

Di antara mitos tersebut adalah:

1. Menulis itu Mudah


Teori menulis atau mengarang memang mudah. Gampang sekali dihafal. Tetapi menulis atau mengarang bukanlah sekadar teori, melainkan keterampilan. Bahkan ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang.

Sebagai analog, kita rasanya setuju bahwa mengendarai kendaraan itu bukan hanya teori. Sehebat apapun penguasaan teorinya tak akan sanggup menjadi pengandara yang baik. Dia akan arif mengendarai sehabis berlatih, beruji coba, serta mengasah keberanian dan kepekaan.

Begitu pula dengan menulis. Tanpa melibatkan pribadi dalam acara dan latihan menulis, seseorang tidak akan pernah bisa menulis dengan baik. Dia harus mencoba dan berlatih brulang kali: menentukan topik, menentukan tujuan, mengenali pembaca, mencari gosip pendukung, menyusun kerangka karangan, serta menata dan menuangkan ide-idenya. Secara runtut dan tuntas dalam racikan bahasa yang terpahami.

2. Kemampuan Menggunakan Unsur Mekanik Tulisan Merupakan Inti dari Menulis


Unsur Mekanik ibarat penggunaan ejaan, pemilihan kata, pengkalimatan, pengaleniaan, dan pewacanaan tidaklah cukup. Karangan harus mengandung sesuatu isi yang disampaikan. Isi itu berupa ide, gagasan, perasaan, atau gosip yang akan diungkapkan penulis kepada orang lain atau pembaca. Unsur mekanik hanyalah sebagai alat yang dipakai untuk mengemas dan menyajikan isi karangan biar sanggup dipahami dengan baik oleh pembacanya.


3. Menulis itu Harus Sekali Jadi


Menulis dengan sekali jadi sering menciptakan penulisnya tidak puas. Orang yang meyakini bahwa menulis itu harus sekali jadi akan pribadi meremas kertas atau men-delete-nya sebelum goresan pena itu dipublis. Bisa jadi goresan pena itu sudah terpublis atau dianggap selesai, kita akan menemukan celah kekurangan. Misalnya goresan pena itu perlu diperbaiki, ditulis lagi, hingga kita anggap selesai.

Tidak banyak orang yang sanggup menulis sekali jadi. Bahkan penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta pascapenulisan: penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.

4. Orang yang Tidak Menyukai dan Tidak Pernah menulis Dapat Mengajarkan Menulis


Ini yang lebih bahaya. Semisal kita ambil analogi si pengendara kendaraan beroda empat tadi. Mungkinkah orang yang tidak suka dan tidak pernah mengendarai sanggup mengajarkan mengendarai kendaraan beroda empat kepada orang lain. Tentu jawabannya mustahil bisa. Sama halnya dengan mengarang, siapapun yang mengajar mengarang ia harus menyukai dan mempunyai pengalaman dan keterampilan mengarang. Mengapa? Dia harus sanggup menentukan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya mengarang. Sulit membayangkan seorang guru yang takut dan tidak suka menulis sanggup melaksanakan hal itu. Padahal, minat dan kemampuan siswa berguru menulis tak terlepas dari apa yang terjadi pada diri guru dan bagaimana ia mengajarkannya.

Itulah mitos-mitos dalam menulis. Intinya dalam menulis itu merupakan suatu proses yang harus dilalui. Mitos ini biasanya hinggap di antara para penulis pemula atau mereka yang ingin menjadi penulis.
Update: Tahapan Dalam Mengasah Keterampilan Menulis: Tahapan Prapenulis

Informasi mengenai gosip mitos dalam menulis ini diajarkan dalam Keterampilan Dasar Menulis. Sumber artikel ini merupakan ringkasan modul PGSD UT. Semoga bermanfaat.

VBA atau Visual Basic for Applications untuk Microsoft Excel ini merupakan bahasa pemograman yang gampang diterapkan dalam mengoperasikan di Excel. Sudah banyak pengguna Excel yang menerapkan isyarat ini untuk aneka macam keperluan.

Sebagaimana yang sudah diketahui, Excel mempunyai formula untuk memudahkan penggunanya dalam mengoperasikan angka-angka atau data. Selain formula, hampir semua aplikasi microsoft didukung oleh pemograman visual basic ini.

Baca juga: Semua tutorial microsoft Excel yang ada di blog ini

Oleh alasannya yakni itu, sedikit aku beberkan informasi mengenai salah satu isyarat dalam pembuatan kalender dengan memakai visual basic di microsoft excel. Kode ini aku terapkan di aplikasi excel buatan aku yang berbasis vba.

 VBA atau Visual Basic for Applications untuk Microsoft Excel ini merupakan bahasa pemogra VBA Excel: Kode VBA sebaran tanggal kalender dan pewarnaannya


Asumsikan bahwa pola bulan pada tiap kolom kalender itu ada di sel K5. Kemudian sebaran tanggalnya berada pada sel J7:P12, Koding pemanggilnya adalah:

    Call sebarinTgl(Range("K5"), Range("J7:P12"))

Koding ini ditaruh pada module

    Sub sebarinTgl(julidate As Range, AreaYgDiwarnai As Range)
    Dim csheet As Worksheet
    Dim rng As Range
    Dim firstKol, firstrow As String
    Dim fTgl, lTgl, PtkTgl As Date
    Dim julcol, julrow, firstT As String
    Dim fjul, ljul As Date
    Dim x As Integer
   
    Set csheet = ThisWorkbook.ActiveSheet

    AreaYgDiwarnai.ClearContents
    AreaYgDiwarnai.Borders.LineStyle = xlNone
    AreaYgDiwarnai.Interior.Color = xlNone

    If Weekday(julidate) = 1 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(1).Column
    If Weekday(julidate) = 2 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(2).Column
    If Weekday(julidate) = 3 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(3).Column
    If Weekday(julidate) = 4 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(4).Column
    If Weekday(julidate) = 5 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(5).Column
    If Weekday(julidate) = 6 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(6).Column
    If Weekday(julidate) = 7 Then firstKol = AreaYgDiwarnai(7).Column

    fjul = DateSerial(Year(julidate), Month(julidate), 1)
    ljul = CDate(Application.WorksheetFunction.EoMonth(julidate, 0))

    julrow = AreaYgDiwarnai.Row

    If Weekday(fjul) = 1 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(1).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 2 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(2).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 3 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(3).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 4 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(4).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 5 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(5).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 6 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(6).Column
    ElseIf Weekday(fjul) = 7 Then
        julcol = AreaYgDiwarnai(7).Column
    End If
    

    For x = 1 To Day(ljul)
        If firstT = Empty Then
            csheet.cells(julrow, julcol) = fjul
            firstT = 1
            csheet.cells(julrow, julcol).NumberFormat = "[$-421] d"
            csheet.cells(julrow, julcol).Borders.LineStyle = xlContinuous
        Else
            fjul = fjul + 1
            csheet.cells(julrow, julcol) = fjul
            csheet.cells(julrow, julcol).NumberFormat = "[$-421] d"
            csheet.cells(julrow, julcol).Borders.LineStyle = xlContinuous
            End If

        If julcol = AreaYgDiwarnai(7).Column Then
            julcol = AreaYgDiwarnai(1).Column
            julrow = julrow + 1
        Else
            julcol = julcol + 1
        End If
    Next x
    End Sub

Sedangkan untuk menandai warna sesuai tanggalnya, Silakan sesuaikan formatnya menyerupai ini:

 VBA atau Visual Basic for Applications untuk Microsoft Excel ini merupakan bahasa pemogra VBA Excel: Kode VBA sebaran tanggal kalender dan pewarnaannya


Penjelasannya: Kolom yang berisi keterangan, kolom tanggal "dari Tanggal", hingga kolom "sampai tanggal" menerangkan berapa banyak hari libur tersebut. Pada kolom warna akan, nantinya tanggal yang sama dari tanggal hingga hingga tanggal pada isian ini akan otomatis berwarna menyerupai warna pada kolom "tanda warna".

Koding pemanggilnya:

    Call TandaWarna(Range("C6:C50"), Range("D6:D50"), Range("F6:F50"), Range("J7:AN12"))

    


Berikut isyarat yag ditaruh di module:

    Sub TandaWarna(TglAwal As Range, TglAkhir As Range, KolomWarna As Range, AreaYgDiwarnai As Range)
    Dim rng As Range
    Dim lAkhir As Long
    Dim lanjut As Label

    'hapus dulu warna yang ada
    AreaYgDiwarnai.Interior.Color = xlNone

    For Each rng In AreaYgDiwarnai
        For i = 1 To TglAwal.Rows.Count
            If TglAwal(i) = "" Then GoTo lanjut
             If TglAkhir(i) <> "" Then
                lAkhir = TglAkhir(i)
            Else
                lAkhir = TglAwal(i)
            End If

            For l = TglAwal(i) To lAkhir
                If rng.Value = l Then
                    rng.Interior.Color = KolomWarna(i).Interior.Color
                End If

            Next l

    lanjut:
        Next i
        If Weekday(rng) = 1 Then rng.Interior.Color = vbRed
        If rng = Empty Then rng.Interior.ColorIndex = Range("w3").Interior.ColorIndex
    Next rng
    
    End Sub

Itulah beberapa isyarat VBA untuk pembuatan kalender. Semoga bermanfaat.


"Betapa bayak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga." Ini ialah salah satu hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam seputar puasa yang demikian lekat di memori kita, namun segelintir muslim saja yang sanggup menunaikannya. Semoga kita termasuk di dalamnya.



 Ini ialah salah satu hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam seputar puasa yang demi Puasa Lahir dan Puasa Batin: Meraih Pahala Puasa, Menyelami Jiwa Kembali


Hadits di atas selayaknya menjadi misi utama setiap muslim dikala berpuasa. Perlu digaris bawahi dari hadits di atas pada 'mendapatkan apa-apa' itu merupakan tujuan yang selama ini kita akrabi sebagai: kesepakatan pahala berlipat ganda, limpahan maghfirah, rahmat dan berkah Allah, derajat insan takwa, serta segenap kebaikan lainnya yang mnjadi misteri ilahi.

Untuk 'mendapatkan apa-apa' itu kita butuh latihan ruhani,  riyadhah ruhani. Tidak hanya jasmani saja yang perlu latihan, ruhani pun perlu latihan semoga terbiasa dan membentuk aksara berupa katakwaan.

Adapun riyadhah ruhani tersebut sanggup dilakukan dengan melaksanakan berikut:

Puasa lahir dan puasa batin


Anda berangkali sanggup lulus dalam puasa lahir alias puasa syariat yang memang harus menahan lapar, dahaga, dan kenikmatan seks semenjak fajar menyingsing sampai matahari terbenam. Namun, anda belum tentu lulus melalui puasa batin.

Dan puasa batin ini, menurut Syekh Qadir Al Jailani, puasa batin ialah menjaga semua indera dan pikiran dari sgala yang diharamkan. Ia merupakan laris meninggalkan ketidakselarasan baik lahir maupun batin.

Dalam tasawuf, puasa batin itu menahan 10 indera manusia, yaitu lima indera yang nampak:
  • pembicaraan
  • pendengaran
  • penglihatan
  • penyentuhan
  • penciuman
kelima indera lagi ialah lima indera yang tidak tampak. Yaitu:
  • pikiran
  • khayalan
  • rasa
  • malu
  • indra yang menggabungkannya

Sepuluh indera itu diibaratkan mirip kuda liar yang menarik kereta kencana dengan ruh insan sebagai pengendali kuda atau saisnya. Bila si Sais sukar mengendalikan salah satu dari kudanya, sudah niscaya kereta tidak akan berjalan seimbang. dan jikalau harus dipaksakan berjalan, ia kana melaju tanpa arah yang jelas.

ketika berpuasa dalam definisi puasa batin, misalnya, maka kita harus menjinakkan 'kuda' berjulukan pembicaraan kita untuk tidak menggunjing [gosip], tidak berdusta, tidak memfitnah, dan kata-kata lain yang memang tidak perlu  dan sia-sia.

kita harus menenangkan 'kuda' berjulukan indera pendengaran untuk tidak mendengar perbincangan yang membual; perkataan-perkatan yang tidak bermanfaat. kita harus menentramkan 'kuda' penglihatan kita dari segalah tontonan yang diharamkan Allah. Segala cuplikan atau tayangan yang merusak puasa. Jinakkan pula, misalnya, 'kuda' pikiran dan indra rasa Anda dari pemikiran-pemikiran negatif, dari perasaan-perasaan yang melemahkan jiwa, sampai prasangka-prasangka jelek lainnya.

Bila kita mrasa begitu berat melalui puasa batin itu semua, belajarlah menjinakannya secara bertahap. Anda, misalnya, sanggup mengawali dengan menundukkan satu 'kuda' berjulukan verbal terlebih dahulu dalam satu hari puasa, gres kemudian menjinakan 'kuda-kuda' lainnya di lain hari. Buatlah ia menjadi resolusi wajib Anda dikala Anda melafalkan niat puasa di malam harinya. Atau barangkali untuk lebih memudahkan melatih puasa batin ini, Anda sanggup mmulai dengan menjinakkan  sifat atau aksara jelek Anda sendiri yang selama ini Anda ingin hempaskan.  Sebab, segala sifat dan aksara jelek yang dalam al-Quran disebut sebagai al-nafs al-ammarah itu sejatinya kuda-kuda liara yang paling intim di dalam keseharian kita.

Puasa lahir itu terikat oleh waktu, sedang puasa batin itu selama-lamanya. Maka berguru puasa batin dari momen puasa lahir di bulan Ramadhan ini menjadi penting dan utama. Sebab puasa inilah hakekatnya padalah puasa sejati.

Rasulullah bersabda, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, satu kegembiraan dikala berbuka (puasa) dan kegembiraan lainnya dikala melihat Allah.” Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani, kata melihat di sini ialah kenikmatan nirwana dan perjumpaan dengan Allah SWT kelak. Untuk itulah satu kegembiraan pertama dalam hadits tersebut ialah kegembiraan orang yang puasa lahir. Sementara kegembiraan kedua ialah kegembiraan orang yang puasa batin.

Belajar puasa batin ialah prosesi menempuh jalan menuju jalan menuju rumah yang di dalamnya ada sang kekasih pujaan hati, sementara laris puasa lahir ialah prosesi menempuh jalan menjuju rumah yang di dalamnya tidak ada siapapun yang kita cintai. Rumah yang kosong. Dmikain perbandingan puasa lahir dan puasa batin.


"Betapa bayak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga." Ini ialah salah satu hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam seputar puasa yang demikian lekat di memori kita, namun segelintir muslim saja yang sanggup menunaikannya. Semoga kita termasuk di dalamnya.



 Ini ialah salah satu hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam seputar puasa yang demi Puasa Lahir dan Puasa Batin: Meraih Pahala Puasa, Menyelami Jiwa Kembali


Hadits di atas selayaknya menjadi misi utama setiap muslim dikala berpuasa. Perlu digaris bawahi dari hadits di atas pada 'mendapatkan apa-apa' itu merupakan tujuan yang selama ini kita akrabi sebagai: kesepakatan pahala berlipat ganda, limpahan maghfirah, rahmat dan berkah Allah, derajat insan takwa, serta segenap kebaikan lainnya yang mnjadi misteri ilahi.

Untuk 'mendapatkan apa-apa' itu kita butuh latihan ruhani,  riyadhah ruhani. Tidak hanya jasmani saja yang perlu latihan, ruhani pun perlu latihan semoga terbiasa dan membentuk aksara berupa katakwaan.

Adapun riyadhah ruhani tersebut sanggup dilakukan dengan melaksanakan berikut:

Puasa lahir dan puasa batin


Anda berangkali sanggup lulus dalam puasa lahir alias puasa syariat yang memang harus menahan lapar, dahaga, dan kenikmatan seks semenjak fajar menyingsing sampai matahari terbenam. Namun, anda belum tentu lulus melalui puasa batin.

Dan puasa batin ini, menurut Syekh Qadir Al Jailani, puasa batin ialah menjaga semua indera dan pikiran dari sgala yang diharamkan. Ia merupakan laris meninggalkan ketidakselarasan baik lahir maupun batin.

Dalam tasawuf, puasa batin itu menahan 10 indera manusia, yaitu lima indera yang nampak:
  • pembicaraan
  • pendengaran
  • penglihatan
  • penyentuhan
  • penciuman
kelima indera lagi ialah lima indera yang tidak tampak. Yaitu:
  • pikiran
  • khayalan
  • rasa
  • malu
  • indra yang menggabungkannya

Sepuluh indera itu diibaratkan mirip kuda liar yang menarik kereta kencana dengan ruh insan sebagai pengendali kuda atau saisnya. Bila si Sais sukar mengendalikan salah satu dari kudanya, sudah niscaya kereta tidak akan berjalan seimbang. dan jikalau harus dipaksakan berjalan, ia kana melaju tanpa arah yang jelas.

ketika berpuasa dalam definisi puasa batin, misalnya, maka kita harus menjinakkan 'kuda' berjulukan pembicaraan kita untuk tidak menggunjing [gosip], tidak berdusta, tidak memfitnah, dan kata-kata lain yang memang tidak perlu  dan sia-sia.

kita harus menenangkan 'kuda' berjulukan indera pendengaran untuk tidak mendengar perbincangan yang membual; perkataan-perkatan yang tidak bermanfaat. kita harus menentramkan 'kuda' penglihatan kita dari segalah tontonan yang diharamkan Allah. Segala cuplikan atau tayangan yang merusak puasa. Jinakkan pula, misalnya, 'kuda' pikiran dan indra rasa Anda dari pemikiran-pemikiran negatif, dari perasaan-perasaan yang melemahkan jiwa, sampai prasangka-prasangka jelek lainnya.

Bila kita mrasa begitu berat melalui puasa batin itu semua, belajarlah menjinakannya secara bertahap. Anda, misalnya, sanggup mengawali dengan menundukkan satu 'kuda' berjulukan verbal terlebih dahulu dalam satu hari puasa, gres kemudian menjinakan 'kuda-kuda' lainnya di lain hari. Buatlah ia menjadi resolusi wajib Anda dikala Anda melafalkan niat puasa di malam harinya. Atau barangkali untuk lebih memudahkan melatih puasa batin ini, Anda sanggup mmulai dengan menjinakkan  sifat atau aksara jelek Anda sendiri yang selama ini Anda ingin hempaskan.  Sebab, segala sifat dan aksara jelek yang dalam al-Quran disebut sebagai al-nafs al-ammarah itu sejatinya kuda-kuda liara yang paling intim di dalam keseharian kita.

Puasa lahir itu terikat oleh waktu, sedang puasa batin itu selama-lamanya. Maka berguru puasa batin dari momen puasa lahir di bulan Ramadhan ini menjadi penting dan utama. Sebab puasa inilah hakekatnya padalah puasa sejati.

Rasulullah bersabda, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, satu kegembiraan dikala berbuka (puasa) dan kegembiraan lainnya dikala melihat Allah.” Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani, kata melihat di sini ialah kenikmatan nirwana dan perjumpaan dengan Allah SWT kelak. Untuk itulah satu kegembiraan pertama dalam hadits tersebut ialah kegembiraan orang yang puasa lahir. Sementara kegembiraan kedua ialah kegembiraan orang yang puasa batin.

Belajar puasa batin ialah prosesi menempuh jalan menuju jalan menuju rumah yang di dalamnya ada sang kekasih pujaan hati, sementara laris puasa lahir ialah prosesi menempuh jalan menjuju rumah yang di dalamnya tidak ada siapapun yang kita cintai. Rumah yang kosong. Dmikain perbandingan puasa lahir dan puasa batin.

Kita masih menunggu masa baskara terbit di ufuk timur sana. Melepas jerat gelap dari rindu yang membekap. Kita tidak sedang dibui mimpi ataupun harap, tapi kita menunggu ketika tahajud kembali fajar tersibak: kembali menikmati aroma embun pada sepelupuk netra yang masih menggelayut lelap.

Aku mengajakmu bertikai dalam rindu yang berkecamuk selalu. Sekarang ini kita sedang berkisah seru. Ada degap jantung yang bertalu-talu memainkan pertikaiannya sendiri. Silakan dedah biar tak terselip pandangan yang berselimut. Lalu tak tampak kejujuran yang terang. Maka mata batin seakan tajam menyayat. Aku memintamu melerai yang kabut itu. Ubahlah menjadi kedamaian.

Pun bila purnama tak cukup membantu terang, saya pinjami suluh yang terbit dari pencahayaan hati. Terselip di sana ada api dari materi bakar nurani. Mungkin cukup untuk mengantarkan kita menjemput pagi. Mungkin juga akan lekas serap kala api benar-benar membeludak. Kita ciptakan api besar, padahal cukup sekelumit terperinci saja bisa merampok gelap untuk mencari apa yang kita harap. Sebesar beludakan api itu, tersirat pekikan napsu menjerat. Sungguh, saya memiskin diri atas sisa-sisa kekayaan suluhku. Cukup perantaraan itu, saya hendak mengajakmu menandakan segala yang terlelap di rahim gelap hatiku.

Namun sebelum itu, akan saya ceritakan mengapakah sosokmu kuundang dalam kidung kerinduan ini. Jujur, saya tidak pernah mengundang sesiapapun untuk menjadi tamu dalam ruang hatiku. Sebab saya masih tragedi alam dan malu. Betapa malang nasib penyesalan yang telah merundung tangis atas segala nikmat yang belum saya jawab. Dan kehadiranmu bisa menghadirkan tanggapan mantap. Apa hasilnya bila saya tak bersiap menjamu tamu hatiku. Aku kembali dalam ruang dekap, menengadah harap pada malam yang membekap. Bilangan istikharah, malam memilih. Aku membuka ketukan sambutmu. Dan  saya ... mantap menyajikanmu menjadi ratu di singgasana ruang hati.

Maaf, bila pepuji ini terlalu meninggi. Tak bisa kuutarakan yang lebih mantap dari kesederhanaan kata-kata ini. Telah langitkah rasa rindu ini sampai saya harus menggantung bintik-bintik serupa bintang membentuk sabitah rindu. Pijakku di bumi, telah tak cukup menghampar pengertian-pengertian makna rindu. Semuanya tercecar menyemai pandang. Saat itu, maka apa yang terlihat netra serupa adamu. Yang kudengar, bisik sayu mesramu. Yang kusentuh, lembut erat genggammu. Dan segala puji, tak mungkin bersemat dalam diri dan jagat raya ini. Maka, pepuji ini kekumbalikan pada Dzat Segala Maha Puji Rabb-ku. Kalian tahu? Setapak inilah derajatku sungguh mencium kerendahanku sebagai mahluk-Nya.

Kekasih, pernahkah kita mengutip satu lirik milik penyair. Cinta itu ruang dan waktu, katanya. Entah sedang berpuisi atau bertata kata penyair itu; saya tak peduli. Sebatas peduliku menggenggam kecamuk yang ada ketika ini. Saat kita sedang mengecamuk pertikaian rasa di dada kita masing-masing. Kita mafhum, bergotong-royong kita berada di ruang sama dan waktu yang kembar pula. Lantas, mengapa kita mengibarkan pertanyaan jarak yang jauh dan waktu yang lekas luruh? Itikadku, saya sudah memenatkan segala ruang menjadi satu dan waktu menjadi restu pula.

Aku tidak punya serupa makna yang pantas untuk mencari padanan kata yang sederhana dari penyampaian rasa ini kepada pembaca. Sampai pada ketikan alfabetis kata ini pun begitu lekas saja tanpa memikirkan apa dayaku menyajikan ungkapan rasa yang tercipta. Suluhku yang kaugenggam telah menandakan bagaimana usahaku menandakan peradaban restu itu kembali meminang ikatan satu. Tidakkah ini ibarat picisan? Aku tetap tidak peduli. Inilah ungkap yang menimpaku dan sering kambuh menahan rasa ngilu di hatiku. Saat penyematan namamu--saat kumantap nama itu ialah instruksi istikharahku--sungguh saya merasa ada dispensasi dalam mengindap sayat-sayat rindu.

Sungguh, saya tidak punya kemaharian apapun meramu diksi-diksi jentayu. Serupa penyair sastrawan yang melepas ambigu. Rasaku terlalu melebur menjadi kemantapan goresan pena ini. Kala malam menyelimuti kelamnya, cobalah temukan instruksi apa yang tersirat di rahim kata-kataku ini. Melamuni harapku, saya menyarung doa dalam bait renjana.

Tunduklah pada penjerangan takdir ilahiyah kita. Kita hanya sepasang lakon kekasih yang sedang mengutarakan pertikaian makna yang sedang mencebur di samudera hati. Aku tidak menentukan daerah atau ruang mana, pula waktu yang sempurna apa. Aku bergaris pada ikhtiar yang lurus begitu saja. Lurus mantapku membuka buta mata nurani. Ini kisah Rabbku yang melariskan kata-kata syahdu di catatan ini. Siapa yang sedang saya berkelahi untuk membandingkan kata-kata syahdu-Nya? Sementara ini terlalu dini saya ungkap, tapi semuanya terlalu berlari jauh di depan langkahku. Maka, saya hanya butuh kepakan sayap-sayap rindumu untuk menyalip sejajar harapku: padamu.

Ada lamunan panjang yang ingin saya semai di ladang masa datang. Bahwa saya hanya pelaku kezaliman diri. Betapa saya terlalu serakah menungku resah. Padahal mesti, tidaklah ada keragu-raguan hati bila menghadirkan Rabb kita di sisi hati. Rabb kita lebih bersahabat dari kita yang mengeja jarak. Rabb kita lebih lekas dari waktu yang kita sengaja gegas. Bila begini, saya sudah tak tampak kepongahanku. Sebab kutitipkan segala Rahmat-Nya pada peradilan ruang dan waktu-Nya. Aku selalu begitu, kekasih. Maafkan aku. Aku hanya ingin meleburkan hasrat satu itu dalam sesuci malam yang terus memebelenggu.

Jauh dari sini, saya selalu berbisik pada telisik. Kita mantap mengeja sisa malam yang berpamit. Kita akan menyaksikan sendiri baskara yang telah menuntut kita menghirup embun segar pengisi hari-hari. Kala dhuha menyungging terang, kita akan turut menyinggung jerang. Di sanalah ejaan harap mengukir di kanvas ruang serta waktu yang tuang. Apakah kita mampu menuangkan segala yang termaktab di mahabah ridha-Nya atau kita sedang membuang kesempatan yang terlepas dari sematan harap yang kita tunggu masa panennya. Saat itu, saya hanya mengabarkan telah kautemukan apa dari makna yang mantap dari goresan pena ini.

Lalu pada mimpi yang sedang berselimut, biar dia tenang. Sebab pertengahan malam masih menghitung bilangan jam. Ia akan bertemu dan berpamit untuk tiba di restu Rabb untuk kembali bertandang dalam lakon kenyataan kita. Saat itu, kita akan lekas menggenggam syah menyaksikan haru langit yang terbias memesra keadaan kita. Percayalah, ketika itu kita ialah sepasang kekasih yang sedang dimanja nikmat alam.

Terpantik pesan yang tersirat mengacu. Mengusulkan kemantapan syahdu. Bahwa kita sedang mengeja isyarat-isyarat ayat Rabb-ku. Aku pikir ini tidaklah berlebihan, alasannya ialah kita menjerang mula-mula pula menggaris pada pijakan mulia. Meski ada kecam, saya tegaskan lantang: Kita mengerat dalam nasihat-menasihati kebenaran juga kesabaran kita. Pula bila khianat, lekas buru dan bunuh sifat khianatnya. Itu prolog yang mesti kita hapus kala kita akan melanjutkan kisah yang terus melajukan arah kita meluruh.

Dan jangan mengira, meski bungkam tiada kata-kata, saya tidak memungut potongan pesan yang tersirat dari bergemingnya suara. Selama itikad itu melekat, pastilah mana dongeng bisa menyebabkan ibrah bagi kita yang menetap jarang nasihat. Maaf, bila kucuri setiap kebaikanmu semoga turut bersemat di tingkah lampahku. Maaf!

Inilah kerinduanku pada pagi yang ingin menjemputmu. Lekas pada tatapan adu, apakah kita lulus menguji ruang dan waktu. Serta memantap istikharah yang sedang kita aju. sebetapapun kelak itu, saya memasrahkan segalanya pada jalinan waktu yang memintal kisah kita. Dan aku, meyakini Rabbku menyaksikan ini. Serupa saya menyaksikan doaku mengiringi kisah kita tetap berpadu. Melesatkan segala arah yang tuju, tetap Rabb kita menjadi arah muara kita melarungkan waktu. Di situlah ruang yang kita tuju sebagai persinggahan mengisi detik sejarah syahdu.

Cukup! Aku tidak mau kata-kata ini meracuni bilangan kaku. Sebab goresan pena ini mungkin kita saja yang bisa memahaminya. Biar yang tersurat adanya kalimat ambigu, kelak akan menuangkan ceritanya sendiri. Itulah evaluasi mereka, alasannya ialah apapun, penilian kita hanya berstandar dari restu yang mengeja kemaharupaan rahmat-Nya yang berlaku: Untuk kita sudah niscaya tentu.

Kita masih menunggu masa baskara terbit di ufuk timur sana. Melepas jerat gelap dari rindu yang membekap. Kita tidak sedang dibui mimpi ataupun harap, tapi kita menunggu ketika tahajud kembali fajar tersibak: kembali menikmati aroma embun pada sepelupuk netra yang masih menggelayut lelap.

Aku mengajakmu bertikai dalam rindu yang berkecamuk selalu. Sekarang ini kita sedang berkisah seru. Ada degap jantung yang bertalu-talu memainkan pertikaiannya sendiri. Silakan dedah biar tak terselip pandangan yang berselimut. Lalu tak tampak kejujuran yang terang. Maka mata batin seakan tajam menyayat. Aku memintamu melerai yang kabut itu. Ubahlah menjadi kedamaian.

Pun bila purnama tak cukup membantu terang, saya pinjami suluh yang terbit dari pencahayaan hati. Terselip di sana ada api dari materi bakar nurani. Mungkin cukup untuk mengantarkan kita menjemput pagi. Mungkin juga akan lekas serap kala api benar-benar membeludak. Kita ciptakan api besar, padahal cukup sekelumit terperinci saja bisa merampok gelap untuk mencari apa yang kita harap. Sebesar beludakan api itu, tersirat pekikan napsu menjerat. Sungguh, saya memiskin diri atas sisa-sisa kekayaan suluhku. Cukup perantaraan itu, saya hendak mengajakmu menandakan segala yang terlelap di rahim gelap hatiku.

Namun sebelum itu, akan saya ceritakan mengapakah sosokmu kuundang dalam kidung kerinduan ini. Jujur, saya tidak pernah mengundang sesiapapun untuk menjadi tamu dalam ruang hatiku. Sebab saya masih tragedi alam dan malu. Betapa malang nasib penyesalan yang telah merundung tangis atas segala nikmat yang belum saya jawab. Dan kehadiranmu bisa menghadirkan tanggapan mantap. Apa hasilnya bila saya tak bersiap menjamu tamu hatiku. Aku kembali dalam ruang dekap, menengadah harap pada malam yang membekap. Bilangan istikharah, malam memilih. Aku membuka ketukan sambutmu. Dan  saya ... mantap menyajikanmu menjadi ratu di singgasana ruang hati.

Maaf, bila pepuji ini terlalu meninggi. Tak bisa kuutarakan yang lebih mantap dari kesederhanaan kata-kata ini. Telah langitkah rasa rindu ini sampai saya harus menggantung bintik-bintik serupa bintang membentuk sabitah rindu. Pijakku di bumi, telah tak cukup menghampar pengertian-pengertian makna rindu. Semuanya tercecar menyemai pandang. Saat itu, maka apa yang terlihat netra serupa adamu. Yang kudengar, bisik sayu mesramu. Yang kusentuh, lembut erat genggammu. Dan segala puji, tak mungkin bersemat dalam diri dan jagat raya ini. Maka, pepuji ini kekumbalikan pada Dzat Segala Maha Puji Rabb-ku. Kalian tahu? Setapak inilah derajatku sungguh mencium kerendahanku sebagai mahluk-Nya.

Kekasih, pernahkah kita mengutip satu lirik milik penyair. Cinta itu ruang dan waktu, katanya. Entah sedang berpuisi atau bertata kata penyair itu; saya tak peduli. Sebatas peduliku menggenggam kecamuk yang ada ketika ini. Saat kita sedang mengecamuk pertikaian rasa di dada kita masing-masing. Kita mafhum, bergotong-royong kita berada di ruang sama dan waktu yang kembar pula. Lantas, mengapa kita mengibarkan pertanyaan jarak yang jauh dan waktu yang lekas luruh? Itikadku, saya sudah memenatkan segala ruang menjadi satu dan waktu menjadi restu pula.

Aku tidak punya serupa makna yang pantas untuk mencari padanan kata yang sederhana dari penyampaian rasa ini kepada pembaca. Sampai pada ketikan alfabetis kata ini pun begitu lekas saja tanpa memikirkan apa dayaku menyajikan ungkapan rasa yang tercipta. Suluhku yang kaugenggam telah menandakan bagaimana usahaku menandakan peradaban restu itu kembali meminang ikatan satu. Tidakkah ini ibarat picisan? Aku tetap tidak peduli. Inilah ungkap yang menimpaku dan sering kambuh menahan rasa ngilu di hatiku. Saat penyematan namamu--saat kumantap nama itu ialah instruksi istikharahku--sungguh saya merasa ada dispensasi dalam mengindap sayat-sayat rindu.

Sungguh, saya tidak punya kemaharian apapun meramu diksi-diksi jentayu. Serupa penyair sastrawan yang melepas ambigu. Rasaku terlalu melebur menjadi kemantapan goresan pena ini. Kala malam menyelimuti kelamnya, cobalah temukan instruksi apa yang tersirat di rahim kata-kataku ini. Melamuni harapku, saya menyarung doa dalam bait renjana.

Tunduklah pada penjerangan takdir ilahiyah kita. Kita hanya sepasang lakon kekasih yang sedang mengutarakan pertikaian makna yang sedang mencebur di samudera hati. Aku tidak menentukan daerah atau ruang mana, pula waktu yang sempurna apa. Aku bergaris pada ikhtiar yang lurus begitu saja. Lurus mantapku membuka buta mata nurani. Ini kisah Rabbku yang melariskan kata-kata syahdu di catatan ini. Siapa yang sedang saya berkelahi untuk membandingkan kata-kata syahdu-Nya? Sementara ini terlalu dini saya ungkap, tapi semuanya terlalu berlari jauh di depan langkahku. Maka, saya hanya butuh kepakan sayap-sayap rindumu untuk menyalip sejajar harapku: padamu.

Ada lamunan panjang yang ingin saya semai di ladang masa datang. Bahwa saya hanya pelaku kezaliman diri. Betapa saya terlalu serakah menungku resah. Padahal mesti, tidaklah ada keragu-raguan hati bila menghadirkan Rabb kita di sisi hati. Rabb kita lebih bersahabat dari kita yang mengeja jarak. Rabb kita lebih lekas dari waktu yang kita sengaja gegas. Bila begini, saya sudah tak tampak kepongahanku. Sebab kutitipkan segala Rahmat-Nya pada peradilan ruang dan waktu-Nya. Aku selalu begitu, kekasih. Maafkan aku. Aku hanya ingin meleburkan hasrat satu itu dalam sesuci malam yang terus memebelenggu.

Jauh dari sini, saya selalu berbisik pada telisik. Kita mantap mengeja sisa malam yang berpamit. Kita akan menyaksikan sendiri baskara yang telah menuntut kita menghirup embun segar pengisi hari-hari. Kala dhuha menyungging terang, kita akan turut menyinggung jerang. Di sanalah ejaan harap mengukir di kanvas ruang serta waktu yang tuang. Apakah kita mampu menuangkan segala yang termaktab di mahabah ridha-Nya atau kita sedang membuang kesempatan yang terlepas dari sematan harap yang kita tunggu masa panennya. Saat itu, saya hanya mengabarkan telah kautemukan apa dari makna yang mantap dari goresan pena ini.

Lalu pada mimpi yang sedang berselimut, biar dia tenang. Sebab pertengahan malam masih menghitung bilangan jam. Ia akan bertemu dan berpamit untuk tiba di restu Rabb untuk kembali bertandang dalam lakon kenyataan kita. Saat itu, kita akan lekas menggenggam syah menyaksikan haru langit yang terbias memesra keadaan kita. Percayalah, ketika itu kita ialah sepasang kekasih yang sedang dimanja nikmat alam.

Terpantik pesan yang tersirat mengacu. Mengusulkan kemantapan syahdu. Bahwa kita sedang mengeja isyarat-isyarat ayat Rabb-ku. Aku pikir ini tidaklah berlebihan, alasannya ialah kita menjerang mula-mula pula menggaris pada pijakan mulia. Meski ada kecam, saya tegaskan lantang: Kita mengerat dalam nasihat-menasihati kebenaran juga kesabaran kita. Pula bila khianat, lekas buru dan bunuh sifat khianatnya. Itu prolog yang mesti kita hapus kala kita akan melanjutkan kisah yang terus melajukan arah kita meluruh.

Dan jangan mengira, meski bungkam tiada kata-kata, saya tidak memungut potongan pesan yang tersirat dari bergemingnya suara. Selama itikad itu melekat, pastilah mana dongeng bisa menyebabkan ibrah bagi kita yang menetap jarang nasihat. Maaf, bila kucuri setiap kebaikanmu semoga turut bersemat di tingkah lampahku. Maaf!

Inilah kerinduanku pada pagi yang ingin menjemputmu. Lekas pada tatapan adu, apakah kita lulus menguji ruang dan waktu. Serta memantap istikharah yang sedang kita aju. sebetapapun kelak itu, saya memasrahkan segalanya pada jalinan waktu yang memintal kisah kita. Dan aku, meyakini Rabbku menyaksikan ini. Serupa saya menyaksikan doaku mengiringi kisah kita tetap berpadu. Melesatkan segala arah yang tuju, tetap Rabb kita menjadi arah muara kita melarungkan waktu. Di situlah ruang yang kita tuju sebagai persinggahan mengisi detik sejarah syahdu.

Cukup! Aku tidak mau kata-kata ini meracuni bilangan kaku. Sebab goresan pena ini mungkin kita saja yang bisa memahaminya. Biar yang tersurat adanya kalimat ambigu, kelak akan menuangkan ceritanya sendiri. Itulah evaluasi mereka, alasannya ialah apapun, penilian kita hanya berstandar dari restu yang mengeja kemaharupaan rahmat-Nya yang berlaku: Untuk kita sudah niscaya tentu.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget